Sebut Saja Delima


Sudah lama, si bunga layu dari tangkainya. Tak mungkin pula ia terbetahkan oleh panasnya api matahari yang terus-menerus menyulut dari sudut ke sudut merata, tanpa guyuran air walau seteguk. Sama halnya, tak mungkin pula ia terbetahkan oleh genangan air yang membanjir tanpa ada terpaan si dia, sang pemanas bumi abadi.

Hidup di salah satu musim yang berkepanjangan tidak menjadikan rasa bisa bergelut dengan bahagia. Semua butuh perbedaan yang saling melengkapi. Entah darimana asal-usulnya, manusia sanggup berfikir bagaimana cara agar dirinya mampu melengkapi dan menjadi pelengkap bersama alam yang terurai.

Sebut saja si "delima".

Delima, si perempuan tawar tak berbumbu asin, manis, dan asam kehidupan tiba-tiba dijatuhi pahit yang tak terduga. Ia pun terkejutnya setengah mati sebab baru pertama kali ia merasa satu macam rasa yang begitu aneh. Namun, betapa bahagianya karena sejak itu ia lebih bersahabat dengan suatu rasa yang bernama pahit tersebut.

Suatu ketika, si delima punya teman bernama "orange". Orange adalah sosok laki-laki yang hampir setiap hari dibumbuhi asam manis kehidupan. Laki-laki itu sama sekali belum pernah merasakan bahkan tidak tahu apa dan bagaimana rasa pahit itu. Delima pun mengajak orange ke suatu tempat dimana delima tidak bisa melakukan suatu hal apapun kecuali zuhud.

Betapa terkejutnya si orange yang tak tahu menahu soal delima, tiba-tiba disodorkan oleh sebuah kehampaan, kekosongan, ketiadaan, dan terkecuali sebuah aliran air yang mengalir jernih nan deras. Si orange pun dengan perlahan mulai bertanya, "Kamu hidup disini, sendirian?". Delima mengangguk berkali-kali, berharap tidak ada pertanyaan kedua yang harus dijawab dengan jawaban yang sama seperti "iya" atau sekedar anggukan sekali.

Dengan pelan si orange pun melontarkan pertanyaan kembali, "Apa kamu tak menginginkan untuk segera pindah dari sini?", dan kali ini si delima pun menggeleng. "Kamu, makan apa disini? Kamu pernah ke pasar? atau kamu?" Delima menggeleng berkali-kali, seperti jawaban awal kali, berharap tidak ada pertanyaan kedua yang harus dijawab dengan jawaban yang sama seperti "tidak" atau sekedar gelengen sekali.

Orange pun penasaran. Selama ini, mana betah ada seorang perempuan hidup sebatang kara dengan kondisi hampa, tak bergantung siapa-siapa. Apa si delima hanya sekedar cari muka, ataukah benar-benar perempuan ajaib?

"De-li-ma", katanya mengeja. "Mari ikut saya ke kota, biar hidupmu tak sebegini kosongnya. Saya akan mencarikanmu tempat tinggal dan pekerjaan." Dari lubuk hati yang paling dalam, si delima sebenar-benarnya ingin pergi dan tinggal di keramaian, ingin tahu ada rasa apa lagi selain rasa pahit kehidupan. Apa mungkin lebih aneh untuk dirasakan? Namun secepat kilat kepalanya merunduk, ia terdiam seribu bahasa. Kemudian meneteskan air mata.

Orange pun semakin bingung, dan entah harus berkata lain apa. Jangan-jangan delima menyesali pertanyaan yang harus dijawabnya dengan anggukan dan gelengan berkali-kali tadi. Entah mengapa, tiba-tiba delima menangis sesenggukan. "Oke, kalau kamu menangis begini. Saya anggap kamu setuju dengan tawaran saya, mari ikut saya ke kota." Orange pun menggeret tangannya yang beku. Sekuat tenaga ia menarik dan hampir napasnya tewas sebab lupa menyeruput oksigen kembali, sia-sia tak sedikit pun delima tak menggerakkan badan.

"Kamu masih nggak percaya revolusi? Hidup ini berputar, Ma. Jangan anggap kamu akan selalu berurusan dengan kehampaan begini. Semua akan berubah, dan pada menit ini, detik ini, kesempatan itu milik kamu. Tinggal kamu nya aja yang siap menerima atau tidak? Setelah ini, terserah kamu mau ngapain. Yang penting accept dulu kesempatan ini. Kalo nggak, kamu nggak akan tahu apa rasa selain rasa pahit yang kamu rasa selama ini." Orange meyakinkan sambil menepuk-nepuk telapak tangan yang digenggamnya.

Setelah mengusap butiran air mata yang menetes terakhir, delima mengangguk pelan. Pelukan seketika meluncur ke bentangan dada si orange. Anggukan yang berulang dan mungkin berarti "Yah, hidupku harus berubah" atau mungkin, "Yah, aku tak bisa hidup tanpamu. Karena kamulah satu-satunya orang yang berani membuatku menerima kenyataan bahwa hidup harus berevolusi."

bersambung...
Delima Episode 2

Ikutan Mudik Gratis, Kece Nggak Sih?

Lebaraaaan. . . Horeee. . . Lebaraaan. . .!!
Pulang woy, pulaang!

Kisah "Saya" di Pertengahan Bulan Ramadhan, Menjelang Lebaran...

Sudah lama rasanya saya membaur dengan kota yang sering disumpah-sumpah dengan kemacetan, banjir, metropolitan, gaul, sumpek, sesak napas, ibukota kejam dan lain tetek mbengeknya yang masih muntah-muntah kalo kita ngedengerin (asli, parah jeleknya). Tiada lain kecuali menuntut ilmu disini. Ciputat, kota yang masih berbau dan bernuansa islam ini menjadi saksi bisu dimana saya dan teman-teman sering menjadi pasukan yang hobi kocak bareng, belanja ke pasar bareng, hang out bareng, gila bareng, belajar bareng, cari pacar bareng, dan semua-muanya serba bareng. Tak luput, cari barang gratisan pun bareng. Haha. .

Selama bulan ramadhan ini, kami selalu membiasakan sholat berjama'ah bareng, tadarus bareng (meski banyak yang ngantuk), buka bersama bareng, dan sahur bareng di asrama tercinta kami yang amat sangat eksklusif (hanya dihuni sebelas orang kurang satu) dan not expensive (hanya dua ratus ribu per bulan dengan include yang sangat luar biasa. Read: Fasilitasnya). Dan yang menjadikan saya amat sangat terkesan dengan kebersamaan kami di bulan ramadhan ini adalah mereka sangat mempercayakan saya sebagai 'chef' di setiap menjelang buka puasa ataupun menjelang sahur. (beileh, bangga amat :p) Lho ya? Saya ini pinter masak opo? Akhirnya, tuntutan untuk membuat menu ala kadarnya alias coba-coba, alhamdulillah hasilnya lumayan memuaskan (ada yang mendelik entah kekurangan garam atau sedang ketelan apa tau, ada juga yang senyum-senyum entah beneran enak atau cuma nyindir, ada juga yang manggut-manggut entah pasrah atau memang doyan), aku selalu percaya diri. Pokok'e makan! Hahaha. . Mereka pun tak pernah berkomentar. Katanya, "alhamdulillah kita masih bisa makan, di syukuri aja. ." Nah lo?

Oke, hari-hari berlalu dengan tawa yang sumringah, mereka saling memamerkan baju baru.

"Eh bro, gue abis beli baju di ITC Cempaka Mas loh. Ajib maaan. Muahal banget. Sumpah, gue nyeseeel." sambil nelen keringet.

Kalo ada yang bilang begitu, kami semua tergelak sampai perut mules. Kenapa? Tiada lain yang berduka (karena menyesal) semacam itu, selain Mpok Ujoh semata. Hahaha *Peace ya, Mpok :D*
Kami berbeda-beda tetapi tetap satu keluarga kok.
Habis ngetawain, kami minta ma'af dong! Hehe.

"Cor, lu jadinya pulang kampung tanggal berapa?" salah satu anggota 'aspibellek' sedang mengintrogasi saya.
"Emm, belum tau sih. Masih betah disini. He-he. ."
"Gila lu, kasian lah emak lu di rumah sendirian. Masa lebaran lu kagak mau pulang berooo?"

"Mau sih mau brooo, tapi gue belum pegang tiket buat pulkam ini. . Mau naik kereta, semua-muanya udah ludes, mau naik bus mahalnya gak sesuai budget, mau naik pesawat innalillah kebangetan mahalnya. Ah, belum tau lah. . nunggu takdir saja lah. ."
Sekali-kalinya, saya dialog pake bahasa "Lu-Gua, Lu-Gue"
"A-e-laah Coor! lu mah gitu orangnya. . ."
"Iya, emang begini adanya. Kenapa? Nggak suka?"
Mulai ribut. Adu bacot. Lebih bijak yang mana? Saya atau dia?

Oke, ribut dibatalkan sebab sedang menjalankan puasa.
"Bukan gitu berooo, gue cuman ngasih tau. Lu usaha kek buat dapet tiket pulang kampung. ."
"Iyee Selaaaw broo, gue masih ada kerjaan nih. ." Ups, yang cuma berstatus freelancer lagi pamer.
"Beileh, lu lebih mentingin kerjaan daripada orang tua? Setahun sekali Cor, pikirin!"

Saya tergelak. "Oke, gue udah mikir mateng-mateng sampek otak gue angus. Gue bakal pulkam naik bus gratis. Puaaaaass?"
"Whaaaats?"
"Eleeh. . . biasa aja kelees. ."
"Emang ada ya naik bus gratis? Ngacoo lu Cor!"
"Emm-beer, gue lagi ngaco! Ya ada lah. Jangankan bus, kereta aja gratis maan."
*rasanya pengen gue tabok tuh muka. Hahaha. Ngeselin banget* Bercanda, maan!!
"Terus?"
"Iya, nanti gue ke Jasa Raharja, kalo nggak ya ke PBNU, kalo nggak ya ke PAN kek, PKB kek. Bisa lah pokoknya. Selaw. . ."

Empat superhero yang selama ini saya jadikan list menjelang lebaran memang sangat-sangat useful. Teringat saat itu, waktu pertama kali saya mengantri demi mendapatkan selembar tiket mudik gratis di kantor Partai Amanat Nasional, TB Simatupang. Semua makhluk tuhan yang bernama manusia baik dari semua kalangan dengan berbagai macam rupa rela berkumpul, mengantri, desak-desakan demi bisa mengikuti 'mudik gratis'.

"Cor, jadinya lu naik apa besok?"
"Kemana? pulkam?"
"Iyaa."
"Bus lah."
"Mudik gratis lagi?"
"Iya lah, mumpung masih ada. Why not?"
"Gak sumpek apa, ikutan mudik gratis begitu? campur baur dan nggak terjamin."

"Eh eh eh, kata siapa nggak terjamin? Sama aja kok. Bedanya cuman bayar atau enggaknya aja. Jangankan naik bus, kalau udah waktunya mudik begini naik pesawat berbaur sama siapa pun, oke aja tuh. Apalagi gratis, bro!"

(mulai kehabisan bahan tulisan, dan artinya cerita konyol ini cukup sampai disini, hahaha)

Hari ini, saya merasa sedikit ganjal. Mungkin karena penghuni asrama semakin berkurang. Kemarin tanggal 05 Juli, si Wira kembali ke kampung halaman bersama adik lelakinya ke kota Bungo, Jambi. Disusul si Ala, tanggal 07 Juli balik ke kampung halaman ke Lampung. Sekarang hanya tinggal kami ber-enam di asrama, ada Ujoh (Bekasi), Yani (Sukabumi), Yeyet (Serang), Anzu (Pemalang), Umi (Gresik), dan saya. Kangen kebersamaan kami selama bulan ramadhan ini. Huhu. . .

So, buat kalian yang suka memburu tiket 'mudik gratis' menjelang lebaran, nggak usah malu-malu deh buat ngungkapin jawaban saat ditanya "Mau mudik naik apa?".

Ngapain sih pake malu kalau dapat gratisan. Mudik gratis? Oke-oke aja tuh. . .
*coretan gendeng di tengah pikiran lagi gendeng, hufft-

Coretan Kecil Sebelum Masuk WC


Tiada bahagia tanpa rasa. Mematikan rasa sama halnya menolak kebahagiaan yang telah tuhan berikan. Aku paham bahwa rasa kasihmu telah kau simpan dalam-dalam demi menguapkan semua rasa gengsimu. Hari ini aku bersaksi bahwa tiada rasa selain pahit yang kau berikan untuk seorang perempuan yang sedang memperjuangkan hidupnya, mempertahankan keimanannya, mengkokohkan kembali puing-puing kehancuran dalam structural keluarga yang begitu jahat mempermainkan hidupnya. Rasamu begitu mati dan tak pernah kau hidupkan kembali untuk orang sepertiku.

Aku berjalan diatas pisau kalimatmu yang begitu tajam. Rasanya perih saat telinga mempertahankan gelombang suara untuk kupersilahkan masuk dan bergumam. Berfikir diatas kesadaran yang penuh batasan. Aku ingin kamu mengerti. Tapi rasanya sulit jika air berbaur dengan minyak yang menginginkan untuk bersatu. Tiada hasil dari keduanya kecuali bersama bersanding tanpa kata. Aku bukan gadis idaman jika kau lihat dari segala sandang, pangan, dan papanku. Aku tak memiliki apa-apa sedang kau segalanya kau punya sampai kau muntahkan tanpa arah. Tiada yang bisa menguatkan hati selain diri yang kau sepelekan begitu saja tanpa kau gali dalam-dalam apa yang sudah ku perjuangkan.

Begitu banyak kisah tentangku yang kau tahu. Tak pernah segores pun kau hargai tetesan keringat dan darah yang ku kucurkan untuk hidupku, hidupmu, dan hidup mereka. Senyumku malam ini bagai bulan sabit mentereng kemudian kau tiup keras-keras awan hitam lalu menutupiku.

Kesunyian 2015,

Sakinah, Masihkah Kau Sanggup?

 

“Bawa ibumu pergi dari rumah itu, sejauh mungkin! Sudah keterlaluan mereka, sungguh biadab, seperti orang tak beragama. Berikan jamu ini pada ibumu, minumkanlah setiap pagi dan sore, oleskanlah setiap malam ke sekujur tubuhnya. Insyaallah, secepatnya membaik. Tak usah kau pikirkan soal biaya, saya ikhlas lillahi ta’ala. Berjuanglah demi masa depan kalian! Ibumu sangat menyayangimu. Ini modal untuk membayar hutang kalian, pergunakanlah sebaik mungkin.” Tungkasnya. 
 
Rumah kecil hasil penjualan keringat sembilan belas tahun yang lalu masih kokoh, tak ada yang berubah. Tak berlapis semen ataupun pasir. Balok-balok ris (batu) putih mengkilat tak bosan dihajar panasnya serngenge. Butir-butir kapurnya semakin rapuh dan rontok. Semua terlihat jelas sejak tak ada lagi rumah berdinding jati ataupun rotan di sekitarnya. Semua serba modern namun rumahnya masih sebegitu rupa. Beralaskan hitam pekatnya tanah ditengah modernisasi kehidupan. Dihuni tiga perempuan yang berupa-rupa watak.

Yang paling tua tak mau kalah membesarkan ego. Perempuan berusia hampir tujuh puluh tahun itu, Emak Rojo namanya. Jikalau angkat bicara semau-maunya, tak berperasaan. Bangga dengan dirinya yang sedari kecil tak berpendidikan. Anaknya begitu cerdas namun ia benci bahkan tak dianggapnya sebagai anak. Dalil yang dimuntahkan selalu sama, hidup perempuan tiada fungsi kecuali sebatas memiliki keturunan. Apalagi kaum miskin sepertinya, tiada guna selain menjadi babu kaum bangsawan. Hidupnya digantungkan pada orang kaya. Tak mau menyibukkan diri dengan usaha sendiri. Kekolotan membuat hidupnya panjang menerima kesengsaraan bahkan menjadi lupa diri.

Anaknya bernama Sakinah, menanggung beban pekerjaan sejak lulus madrasah ibtidaiyah (sekolah dasar). Mengusung padi, upah (hasil) pengerjaan sawah milik tetangga desa. Dipikulnya ngos-ngosan, berjalan mengarungi jarak berkilo-kilo meter. Macam pekerja rodi dari jajahan ibu kandungnya sendiri. Bertahun-tahun hidupnya sebegitu rupa. Trauma, stress, frustasi, dan pada akhirnya membulatkan tekat merantau ke kota dengan bekal otak dan semangat. Lima tahun kemudian ia pulang dengan membawa perubahan nasib. Dibangunnya rumah berdinding balok, putih mengkilat. Semua warga terkagum melihat kegigihan si bunga desa itu.


Yang paling muda, sebutlah Mulyana. Bernasib baik namun tak sebaik sinetron. Ayahnya kawin lagi, serupa dengan kakeknya. Kakeknya merupakan suami Emak, yang tiba-tiba mengaku trauma dengan kekolotan istrinya setelah sembilan tahun menikah. Seisi rumah serasa kena kutukan. Janda, lagi-lagi janda. Neneknya, Emak Rojo janda beranak tunggal, ibunya janda beranak tunggal. tak inginkan dirinya menjadi janda beranak tunggal seperti mereka.

***

Emak Rojo semakin hari semakin menjadi, tak beradab. Muka dan kupingnya setebal panci kuningan. Tak tanggung-tanggung jika ia menjelekkan anak sendiri. Sejak anaknya masih perawan, ia berani mempermalukannya didepan sanak sodara, handa tolan, tetangga kanan kiri hingga ke penjuru desa. Serupa musuh bebuyutan. Ada apa gerangan? Sungguh tak berperasaan. Memang sudah tabiatnya. Sejak kecil ia tak berpendidikan. Belajar agama pun malas. Merendahkan dirinya sendiri, sengaja meminta belas kasihan. Mungkin itulah satu-satunya alasan mengapa kupingnya begitu tebal ketika orang lain melontarkan petuah. Ajal pun tak berani mendekat, meski usianya hampir seabad.

Anaknya semakin membatin, cucunya kecipratan benih sengsara. Emak Rojo tak mau tahu. Tak sedikit pun ia menginginkan sendirinya tersiksa. Bak memakan gaji buta. Anaknya kerja mati-matian, ia hanya lontang-lantung menginginkan ini dan itu, mengobral cerita palsu. “Siapa yang membiayai sekolah anaknya, yang memberikan uang belanja, kalau bukan uang saya hasil pemberian mereka yang mengasihani saya,” umbarnya dari mulut ke mulut. Batin semakin teriris. Kalau bukan ibu kandung sendiri, mungkin Sakinah sudah berteriak, “Itu Fitnah! Selama ini, hanya saya yang bekerja keras demi satu-satunya ibu dan anak, demi dia dan cucunya. Bukan hasil mencuri, menipu, ataupun pekerjaan gelap, apalagi belas kasihan. Selama saya masih punya harga diri, saya menjual tenaga saya sendiri, tak sudi saya menghidupi keluarga juga menyekolahkan anak hasil belas kasihan!”

Sepetak rumah Sakinah tlah menjadi saksi bisu kehidupannya yang penuh drama. Penuh skenario tuhan yang mengejutkan. Eksotis, penuh makna. Baik buruk terangkum jelas. Sakinah masih bersyukur bisa berteduh, meski sesungguhnya ia menginginkan untuk segera pindah. Hijrah dari rumah terkutuk sejauh-jauhnya. Tak inginkan diri dan anaknya sengsara. Namun serba salah. Tetangga mulai ikut-ikutan mencampuri urusan. Sanak keluarga menyumpah serapah. Mereka semakin berani melempar fitnah ke tubuh Sakinah. Menjadikan kambing hitam bahkan menambahkan dirinya ke dalam daftar, musuh bebuyutan. Sakinah masih mengkokohkan diri. Menjual tetesan keringat hingga tubuhnya kurus kering. Ia berusaha membuktikan bahwa dirinya bukan serendah apa yang mereka ucapkan. Namun usahanya sia-sia. Emak Rojo semakin berusaha meyakinkan mereka bahwa dirinya lah yang paling benar. Anaknya, bukan anaknya.

“Duh gusti, apa salah hambamu ini? Haruskah hamba menghentikan nafas biar Emak membuka hati, betapa sayangnya hamba pada Emak. Hamba tak pernah dendam atas kegagalan hamba bisa berpendidikan tinggi. Hamba sangat bersyukur atas ilmu agama yang telah hamba peroleh selama ini. Duh gusti, bukakan pintu hati Emak hamba, jadikanlah anak hamba menjadi anak yang sholihah, berbakti pada engkau dan hamba, berbakti untuk agama dan negara. Bermanfaat untuk orang-orang yang ada disekitarnya. Sesuai namanya, semoga menjadi anak yang engkau muliakan. Hamba mohon jagalah dia duh gusti. Jangan biarkan dia merasakan pahitnya apa yang sedang aku rasakan saat ini. Amin,” do’a Sakinah terdengar lirih. Malam yang sunyi, membuatnya larut ke dalam diri sang pencipta. Menyatukan dirinya untuk kesempurnaan. Ia tak pernah takut dibenci orang, selagi dirinya memang berlaku benar. Ia hidup untuk tuhan. Segalanya sudah diatur dalam skenario tuhan. Itu yang menjadi prinsip, mengapa ia masih terus bertahan.

Enam belas tahun ia menjanda, hatinya sudah tak bernafsu. Tak inginkan dirinya menikah lagi. Yang penting, anaknya bisa sekolah. Tak sebodoh dirinya, tak serendah dirinya. Tak inginkan Mulyana tuk menjadi janda sepertinya. Lelaki duda yang telah menikahinya tujuh belas tahun silam diceraikannya setelah dua bulan menikah. Itulah bapak kandung Mulyana. Ia tak pernah menyesali perceraiannya meski dirinya merasa ditipu. Lelaki yang katanya bujang, berperawakan tinggi, berpenghasilan tetap ternyata seorang duda yang ditinggal mati istrinya, berperawakan lebih pendek dari perawakannya, berpenghasilan tidak menentu dengan mengkambing hitamkan urusan agama. Tersebutlah nama lelaki itu dengan sebutan “kiyai” oleh warga sekitar.

Sebetulnya, tak pernah ia permasalahkan siapa suaminya. Lagi-lagi sebab perempuan tua itu. Mencibir, mengolok, mengadu domba. Hingga suaminya sakit hati, “Tak sudi saya punya orang tua sepertimu. Lebih baik saya pulang ke rumah daripada diremehkan seperti ini, saya masih punya harga diri,” teriaknya menuding-nuding. Terkejutlah Sakinah hingga merobohkan tubuhnya di atas tanah. “Beginikah tabiat seorang kiyai? Bukankah ia panutan warga? Betapa malunya jika orang lain menyaksikannya sendiri,” hatinya membolak-balikkan pernyataan. Sejak itu, ia pun semakin yakin untuk menceraikan. Tak perlu lagi menambahkan satu orang bertabiat kotor dirumahnya. Ia trauma, tak inginkan hidup diri dan anaknya semakin sengsara jika keburukan masih dibiarkan terpelihara. Ia pun bersumpah, tak pernah kahwin lagi untuk yang kedua kali. Cukup sekali saja ia bersuami.

Sejak ia mengandung, kehidupannya semakin rumit, namun semakin unik. Setiap masalah yang datang berkelanjutan pasti dikejutkan dengan penyelesaian yang tak terlalu lama menunggu. Ia semakin semangat menjalani hidup. Tak inginkan dirinya pergi dari rumah yang katanya terkutuk itu. Diubahnya pola pekerjaan yang selama ini menggerus otak―dari seorang sekretaris kantor proyek―menjadi pengusaha bubur dan lontong di pelataran rumah. Warga mulai merangkul dan menyadarkan diri. Rumah kecil itu telah berubah menjadi surga. Kutukan seolah hilang dengan sendirinya. Emak Rojo merasa terusik. “Gara-gara kamu jualan bubur, rejeki Emak jadi mampet. Orang-orang sudah tak mau lagi membagikan uangnya, makanannya. Sudah puas kamu merusak hidup Emak, hah? Kualat kamu, durhaka kamu, Sakinah!” teriaknya mencabik-cabik lontong yang baru saja ditiriskan diatas pelanggrangan (simpulan kayu yang telah dibentangkan untuk mengentas lontong yang baru matang).

Sakinah mengucurkan air mata, mengelus-elus perutnya yang mulai membuncit. Berharap buah hati yang masih beberapa bulan di dalam rahim itu tidak mendengar sepatah kata pun dari ocehan buruk neneknya. Suasana cerah tiba-tiba sedikit mendung. Tak henti-hentinya perempuan tua itu mengolok. Tidak sadarkah bahwa orang yang selama ini ia jelek-jelekkan didepan semua orang hingga dibenci adalah darah dagingnya sendiri? Sungguh tak berperasaan.

Beberapa bulan berlalu, Sakinah melahirkan anak perempuan, begitu sempurnanya ia hidup. Betapa bersyukurnya meski hati perempuan tua (Emak Rojo) itu masih membeku. Ia pun tak lagi berjualan karena sudah cukup memiliki tabungan. Hasil penjualan yang selama ini mengalami fluktuasi pembeli, ia simpan baik-baik di kantong. Warga mulai terserang virus. Mempersatukan barisan, mengolok, mencaci, bahkan meluapkan kata-kata yang tak seharusnya diluapkan. Tiada faktor lain kecuali ulah ibunya sendiri. Sengaja berkomplotan dengan keponakan yang ternyata sedari dulu menginginkan Sakinah untuk mati. Anak bak tetangga, bak lawan yang harus ditumbangkan. Disebutkanlah anak durhaka, melawan orang tua, tak tahu diri, tak tahu terima kasih, memeras harta warisan orang tua, dan macam-macam lainnya.

***

Enam belas tahun lamanya sejak anak semata wayangnya dilahirkan, ia menghidupi keluarga dengan berjualan di pasar. Ia sangat bersyukur bisa menyekolahkan anaknya hingga SMA. Berjuang seorang diri melawan virus mematikan yang ternyata ibu kandung dan kemenakannya sendiri menjadi hal yang biasa. Ia tetap kokoh mempertahankan keluarga, hingga dipendamnya rasa sakit yang menyayat. “Sabar, sabar dan sabar!” katanya. Begitu kuat ibu dan kemenakannya itu berkoalisi, saling menjatuhkan Sakinah. Kemenakannya, sebutlah Markati, bersorak-sorai memamerkan hasil konsolidasi bersama Emak Sakinah.

Sedari dulu, Markati menginginkan dirinya untuk bisa berkoalisi dengan Emak Sakinah, menumbangkan si bunga desa. Namun tak kunjung hasil karena dirinya tak punyai apapun untuk menyuap si perempuan tua itu. Sebelum Sakinah mengkokohkan balok putih yang menjadikannya tempat berteduh, ternyata Markati sudah mati-matian membenci bahkan menfitnah Sakinah lebih dulu. Alhasil, usahanya sia-sia sebelum Emak Rojo berani berkoalisi. Setelah keinginan terpenuhi, ia semakin berani meludahi anak bibinya sendiri, “Gak punya malu kamu, masih berani tinggal disini? Mau merampas harta orang tua? Punya orang tua satu saja kamu terlantarkan, berani sekali kau injakkan kakimu di tanah kami. Pergi sana! Minggat yang jauh! Persetan kau bangkai, bawa anak harammu pergi! Susul bapakmu yang sudah membangkai di kuburan!”

Markati, orang paling terkenal di desa Tumbuh Ringin. Tiga dusun menyebutnya “si mulut buaya”. Kalimatnya lebih tajam dari terkaman binatang buas, si buaya itu. Dia adalah satu-satunya perempuan yang paling disebut-sebut ganas dan mematikan. Keenam anaknya dehidrasi makanan, kelaparan, meronta-ronta. Mereka hanya bisa makan jikalau suaminya mendapati proyek pekerjaan yang tak berstempel “halal”. Tak cukupkan uang selembar untuk diri dan anak-anaknya. Suami Markati tak pernah mendapati pekerjaan yang cocok, kadang menipu, menggelapkan uang, dan yang paling parah, membantu para dedengkot atau penguasa mengakhiri hidup paksa seseorang yang dianggapnya merusak atau musuh. Mereka sama-sama pemberani, dalam memburukkan tabiat.

Hingga suatu hari, terseranglah penyakit aneh dalam diri Sakinah hingga ia tak sanggup lagi berjualan. Markati tiba-tiba menjadi jutawan, sok dermawan, dan mengambil alih posisi orang-orang kaya di desanya. Rumah dibangunnya megah-megah, mobil di belinya serentak, tak tanggung-tanggung semua perabotan juga perhiasan emas berkilo-kilo gram dipamerkannya jelas-jelas. Pergilah dia dan suaminya mengunjungi ka’bah, katanya mensucikan diri dihadapan tuhan yang dipercayainya. Konon, satu kampung terkejutnya setengah pingsan. Satu per satu menjadi hormat dan tunduk, kemudian menyebutnya “Kaji Loman”. Hanya beberapa warga yang tak menggubris kekayaan yang dianggapnya mencurigakan itu.

Sakinah sakitnya semakin menjadi-jadi. Tubuhnya mengering. Beberapa anggota tubuhnya tak berfungsi. Emak Rojo semakin tak peduli. Ia lebih sering pulang ke rumah keponakannya itu. Fitnah yang diumbarkan semakin merajalela. Kini si Yana, anak Sakinah tumbuh remaja. Cantik seperti ibunya. Markati sakit hati karena anaknya sering dibilang “kemproh” (jorok) oleh teman lelakinya. Sedang Yana seringkali diantar pulang oleh teman lelaki yang prihatin dengan keadaan perempuan yang hanya bisa meneteskan air mata diatas empuknya amben (tempat tidur yang terbuat dari bambu) tua itu.

“Dulu memang bunga desa, sekarang cuma bunga amben. Membangkailah dia! Kualat sama orang tua yang melahirkannya dengan susah payah,” hasut Markati pada orang-orang kampung. Siapa yang tak percaya dengan isu anak durhaka. Emak Rojo memang sudah tua, giginya raib tak membekas, nada bicaranya melas seolah meyakinkan bahwa dirinya memang diterlantarkan anak kandungnya sendiri. “Lebih baik saya hidup sendiri,” lirihnya. Orang kampung menyumpah serapah, “Oh, pantas saja dia penyakitan. Kualat sama orang tua. Semoga saja hidupnya segera berakhir!” Sakinah hanya bisa berharap, Yana mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Berbulan-bulan lamanya Sakinah membusukkan diri diatas amben tua. Segala aktifitas hanya bisa dilakukan ketika anaknya pulang sekolah atau sedang di rumah. Tabungannya habis lantaran proses penyembuhan. Berkali-kali diusungnya ke rumah sakit bahkan berpindah tempat, semua dokter menjawab dengan kalimat yang sama, “Ibu hanya lelah, terlalu banyak pikiran, kurang berolah raga. Semua anggota tubuh berfungsi normal. Tak ada yang perlu dikeluhkan. Silahkan tebus obatnya di kasir!” singkatnya.

***

Sepanjang tahun, penyakit tanpa nama itu diajaknya berteman. Hingga suatu ketika anaknya keluyuran, pergi buta pulang buta. Sesekali menengok ibunya hanya untuk menyuapkan nasi, meminumkan obat. Suara Sakinah yang sudah lama tenggelam kini sedikit bermunculan, “Yana kemana sa.. sa.. ja.. ka.. mu, Nak? Ibu sen.. di.. ri.. an..” kucuran air mata mulai membanjir. Semakin hari semenjak Yana meninggalkan rumah, ia semakin berusaha menggerakkan tubuhnya. Walhasil, tangannya bisa digerakkan, begitu pula kaki dan kepalanya. Betapa terkejutnya, Yana pulang dalam keadaan lusuh melihat ibunya duduk melakukan sembahyang. “Mukjizat Allah, luar biasa!” katanya.

“Ibu, SPP sekolah Yana sudah nunggak selama enam bulan. Besok, sebelum ujian akhir sekolah, ujian akhir nasional, juga kelulusan sekolah semua tunggakan harus dilunasi. Kira-kira ibu masih ada uang untuk itu? untuk membeli obat ibu juga.”

Sakinah terdiam.

“Antar ibu ke rumah umik sekarang, nak.”

Sejak itu, hutang Sakinah semakin membabi buta lantaran penyembuhan diri sekaligus membiayai anaknya hingga lulus sekolah. Mendengar keprihatinan itu, Emak Rojo melolong-lolong, mencari kesempatan mengumbar fitnah bahwa Sakinah telah memeras harta gono-gini bahkan mencuri uang simpanannya. “Sungguh biadab anak itu, kualat dia! Bertahun-tahun menyengsarakan hidup orang tua,” umbarnya.

Semua warga terhasut hingga tak seorang pun mau peduli. “Hutangmu dimana-mana, tak punya malu kau masih meminta pertolongan kesini? Kalau aku pinjamkan, kapan kamu mau bayar? anakmu saja kahwinkan dengan orang kaya, biar hidupmu tidak terlunta seperti ini,” kata seorang warga yang dulunya pernah menjadi sahabat karib saat berjualan di pasar.

Ingin rasanya ia mengakhiri hidup. Sejak kecil nasibnya sebegitu buruk. Selalu ditimpa kegelisahan yang menguras hebat sumber air mata. Ia masih berusaha memulihkan tubuh agar anaknya tak terlunta.

Suatu malam, ia dan anaknya tidur di kamar, tiba-tiba ada yang menggedor pintu keras sekali. Yana berlarian, dilihatnya tak nampak seorang pun di luar sana. “Siapa?” tak seorang pun menjawab. Hening, merinding. Yana kembali ke kamar. Dilihatnya, Sakinah membujur kaku, diam, dan tak bersuara. Betapa paniknya gadis itu. Ia menangis sekeras-kerasnya. Nafas ibunya sekilas menghilang, sekilas nampak. Malam tidak memberikan solusi apapun. Ia menunggu pagi, siapa tahu ada keajaiban.

Berumunan orang mengelilingi tempat tidur Sakinah. Tak lain adalah teman sekolah anaknya. Mereka prihatin kala Yana meliburkan diri dari sekolah.

“Penyakit ibumu sangat aneh. Bagaimana jika kita bawa saja ke desa seberang, rumah Ki ageng Sapto. Mudah-mudahan ada kesembuhan setelahnya.”

Konon, Ki Ageng Sapto adalah sosok terpandang di seluruh penjuru baik desa maupun kota. Kesaktiannya tak tertandingi. Bukan ilmu hitam, bukan ilmu santet. Semua hasil dari usaha, tarekat, wirid, dan mengamalkan ajaran agama yang dipercayainya. Ia membuka rumah pengobatan. Namun hanya orang-orang tertentu saja yang bisa ia layani. Orang yang benar-benar berhati mulia. Jikalau ada tamu yang berpura-pura merendahkan diri, memuliakan hatinya, tak segan-segan ia menolak sebab ilmunya bisa mengungkap apa yang sedang dipikirkan seseorang.
“Bagaimana bisa, saya tak memiliki sepeser pun uang di kantong. Semua raib karena biaya sekolah. Itu pun hasil dari meminjam, hutang yang sampai sekarang belum terbayarkan. Sebagian lagi saya tukarkan dengan obat jalan.”
“Percayalah, tuhan pasti membantu.”

Berangkatlah mereka pada suatu desa yang sangat jarang sekali penghuni. Jarak dari satu rumah ke rumah lain sangatlah jauh, hingga sampailah pada satu rumah yang bentuknya sangat kuno, masih berbahan dasar rotan di lilit-lilit rumput jepang. Di depan pintu tertulis huruf bergandengan tangan, bertuliskan “Ayatul Kursi”. Jauh sebelum kedatangan mereka, Ki Ageng Sapto sudah tahu bahwa tamu kali ini benar-benar membutuhkan pertolongan.

Saat pintu berdinding bambu itu diketuk, keluarlah sosok laki-laki berjenggot rapi, berperawakan tinggi, bersih, tersenyum ramah, memakai pakaian serba putih dan bersorban.

“Bawa ibumu masuk, ceritakan semuanya di dalam.”

Diceritakanlah panjang lebar apa maksud dan tujuan mereka datang kesitu. Bagaimana penyakit ibunya bermula dan menjamur ditubuhnya. Lelaki itu manggut-manggut. Seolah paham secara runtut apa yang telah terjadi.

“Astaghfirullah, sungguh kejam sekali,” ucapnya sambil menggelengkan kepala. Tangannya bertindak seperti orang yang hendak berkelahi. ‘Wussssshhh...’ Angin berhembus kecil, suasana menjadi mistis. Ibunya masih membeku tak berdaya.

“Bawa ibumu pergi dari rumah itu, sejauh mungkin! Sudah keterlaluan mereka, sungguh biadab, seperti orang tak beragama. Berikan jamu ini pada ibumu, minumkanlah setiap pagi dan sore, oleskanlah setiap malam ke sekujur tubuhnya. Insyaallah, secepatnya membaik. Tak usah kau pikirkan soal biaya, saya ikhlas lillahi ta’ala. Berjuanglah demi masa depan kalian! Ibumu sangat menyayangimu. Ini modal untuk membayar hutang kalian, pergunakanlah sebaik mungkin.” Tungkasnya.

“Kira-kira, apa penyakit yang mengendap di ibu saya Ki?”
“Tumbal, santet. Terkutuk!”
“Astaghfirullah, kira-kira siapa yang tega melakukan semua ini Ki?”
“Kamu sudah tahu jawabannya.”
Yana menangis haru, kemudian kembalilah mereka ke rumah.

***
Sebulan berlalu, keadaan Sakinah benar-benar pulih kembali. Markati dikabarkan sekarat di rumah sakit. Matanya lekas keluar. Tubuhnya kejang-kejang. Hartanya terkuras namun tiada habis. Rumor ‘pesugihan’ tiba-tiba marak. Emak Rojo mendadak lemas, energinya berkurang. Berhari-hari tak keluar kamar.Yana menemuinya sekedar memberikan makanan. Seperti karma, datang tak diundang. Susana berubah total.

Warga terheran-heran, tersadar dari asap penghasutan. Ternyata masih ada dan tega, keluarga yang telah mempermalukan darahnya sendiri, membuang aliran darah yang telah membuatnya hidup. Emak Rojo, sedikit demi sedikit mulai tersadar. Bulan berganti bulan, ia mulai merangkul kembali keluarga kecilnya. Sakinah mulai berjualan sejak tubuhnya mulai membaik. Tak di sangka dendam Markati masih dipegang anaknya, siap di lemparin ke muka Sakinah, tak henti-hentinya mereka berusaha merobohkan keluarga yang sedang berjuang demi penghidupan yang lebih baik itu.

Kepastian yang Bangsat


Hari ini, hari dimana aku menyelesaikan tugasku sebagai pekerja. Memberanikan diri untuk keluar dari kepastian Tuhan bahwa anak kere (miskin) harus bekerja selepas lulus SMA, demi kebahagiaan orang tua. Kadang aku bertanya pada siapapun yang ada dalam ruang kosong pikiranku, apakah seluruh orang miskin di dunia ini harus menanggung beban kepastian dari Tuhan yang begitu menyakitkan dan bikin sakit hati? Punya orang tua tak sempurna, fisik tak sempurna, keadaan ekonomi yang tak sempurna, teman tak sempurna, bahkan kehidupan lain yang jauh dari sempurna. 

Aku ingin meneruskan sekolah, orang lain menolak. Aku dinikahin orang kaya, orang lain berontak. Aku ingin begini, aku ingin begitu, rasanya tak ada satu orang pun yang setuju. Aku ini manusia juga bukan sih? Jangan tanyakan soal keluarga, baru kali ini ku merasakan keluargaku sendiri seperti air dan minyak yang sampai kapan pun tak pernah sependapat juga bersatu menyoal diriku dan bagaimana harusnya aku di masa depan. Kepastian ini menjadi kepastian bangsat bagiku. Merubah nasib satu biji wijen saja sama halnya menaklukkan puncak everest tanpa restu, tanpa persiapan dan tanpa bekal apa-apa. Mati di tengah jalan bisa jadi konsekuensi yang harus diterima dan dibiarkan secara percuma.

Aku benci, sungguh benci kepastian yang harus diterima secara legowo seperti ini. Bukankah tiap manusia punya keistimewaan yang bisa ditukarkan dengan kepastian yang sempurna? Tapi kenapa aku tak punya keistimewaan apapun yang bisa diperjualbelikan untuk meraih kesempurnaan itu? You only live once, so make the most out of it being the best you can be. Semuanya bullshit, karena apa yang aku lakukan selama ini di mata orang lain selalu salah. Kondisi ini sungguh sangat keterlaluan dan membuatku tak bisa berbuat apa-apa selain menerima kepastian yang bangsat. 

Setelah ibu menderita dan terkapar hanya sebagai boneka yang cuma bisa mengedipkan mata di kamar tidur, aku harus ekstra turun tangan mengurus semuanya sendiri. Belanja ke pasar sendiri, cari uang sendiri, pergi kemana-mana sendiri, sampai menanggung fitnah sendiri yang bahkan sampai saat ini rasanya susah sekali buat dimaafkan. Fitnah yang pernah dilontarkan sahabat masa sekolah dulu, aku dipermalukan didepan satu angkatan yang padahal bukan aku pelakunya tapi seolah alam membenarkannya. what the hell guys,😢😢😢 kenapa aku sebagai orang miskin cuma bisa diam dan hanya bilang, bukan akuuu sambil disumpah di atas al-Qur'an dengan penuh jeritan di dalam hati menyumpah serapah alam bahwa memang bukan aku yang mengambil uang 200ribu yang ada dalam saku Rok panjangnya Halimah. Bangsat untuk yang kedua kalinya.

I dunno mereka semua yang menyaksikan di dalam kelas, apakah mereka menelan mentah-mentah fitnah yang menimpaku ataukah sebaliknya. Mimik mereka bermacam-macam hingga pandanganku berkunang-kunang dan hatiku hanya auto fokus pada Sang Pencipta Alam. Semoga Dia berkenan membalas perbuatan siapapun yang melanggar etika sebagai manusia yang tak memiliki rasa (ber-)peri-kemanusiaan. Sial, kenapa harus aku yang nerima ini semua? Di saat ibu dalam keadaan setengah pulih dari penyakit gilanya (hanya tak diketahui secara medis, bukan penyakit mental), aku begitu diuji dengan kebangsatan yang luar biasa merendahkan martabatku sebagai perempuan baik-baik.

Ditambah lagi lingkungan rumah yang kurang kondusif, menyudutkanku sebagai perempuan yang nggak berpotensi apa-apa. Padahal kalau lagi ikutan lomba mewakili sekolah, aku nggak perlu koar-koar alias pamer kan. Kenapa sih orang-orang begitu jahat? :'(

Kemarin kerja juga difitnah yang enggak-enggak, dibilang aku kerja sampingan jadi pelacur lah, pembokat simpenan lah, bodo amat lah. Terserah kalian semua. Pokoknya, hari ini aku mau mengucapkan selamat datang pada diriku yang baru. Yang nggak mau mikir aneh-aneh dan bodo amat sama ocehan orang. Sekarang bukan waktunya sepakat sama kepastian yang bangsat. Aku yakin masih ada keistimewaan yang aku punya dan aku yakin Tuhan tidak sejahat itu kepadaku juga kepada kehidupanku.

Thanks earth,

Pekerjaan Laknat Membuatku Bejat (Part 1)


"Jangan sekali-kali kau hidupi dirimu dengan uang haram kalau kamu mau hidupmu berkah". Ibuku terbata-bata mengucapkan satu kalimat itu berulang-ulang. Otakku merasa disemprot pestisida karena selama ini sudah berandai-andai mau ikut casting, biar bisa main film di layar lebar atau sekedar ftv bahagia. Bukan, bukan maksudku bekerja sebagai artis adalah haram, tapi yang ditakutkan ibuku adalah ketika aku dholim saat bekerja. Menambah kerja sampingan sebagai yang lain (na'udzubillah: jadi simpanan om om misalnya) karena pergaulan bebas. Mungkin uang yang saya dapat ada kalanya berupa uang haram. Itu yang ditakutkan.

Beberapa bulan yang lalu aku resmi melepas masa es em a, setelah satu tahun penuh yang akhirnya ibu juga resmi melepas jadwal terapinya. Aku bahagia, ibu sudah bisa gerak dan beraktifitas kembali. Ibu udah bisa melaksanakan kewajiban sholat lima waktunya dengan sempurna. Tapi sayangnya, semua harta benda yang kita punya ludes tak bersisa. Itu tandanya aku harus rela bekerja demi lancarnya kehidupan aku juga ibu selanjutnya. 

Sudah tujuh belas tahun kan? Nikahkan saja anakmu, biar tidak merepotkan. Kasian kamu kurus kering begitu. Begitulah kalimat yang seringkali ku dengar dari mulut para bajingan tidak tahu aturan bagaimana orang miskin harus bersikap. Sama-sama miskin tidak usah berkomentar, toh kita sama-sama tahu harapan apa yang sedang kita perjuangkan. Bagi yang kaya, kalimat itu ku jadikan sampah lalu ku bakar hingga menjadi abu. Bodo amat kau berucap sesuka hati kau.

Entah darimana asal-usulnya, tau-tau aku punya pikiran untuk main ke Surabaya, ke rumah Saudara jauh di Sukomanunggal 5 yang sering ku anggap seperti kakak kandungku sendiri. Sungguh berarti, karena dia seakan jadi sponsor utama gaya fashionku tiap kali main ke rumah. Dia selalu membawakanku baju bekas lungsuran dirinya yang masih bagus, t-shirt Ripcurl yang super famous, jaket R&B, slingbag dan totebag yang super keren, minyak wangi bibit yang selalu membuatku menjadi baby━karena bau bayi, dan itu semualah yang membuatku berani pergi ke kota sendiri demi mendapatkan pekerjaan selepas tamat sekolah.

Setelah beberapa hari menginap di sana, lowongan kerja pun berhasil ku dapatkan. Kerja apa saja, yang penting halal, aku oke aja mbak, tegasku. Lalu ku pakai seragam hitam putih ala anak SPG baru dengan rambut terurai sebahu lebih ke bawah sedikit, makeup tipis-tipis, dengan senyum menawan sedikit ku melangkahkan kaki ke salah satu resto di Pakuwon Trade Center alias PTC Surabaya. Tanpa banyak ditanya, aku langsung resmi diterima, oleh Pak Hendrik supervisorku waktu itu.


Besoknya, aku sudah mulai kerja dengan baju yang sama saat interview. Bedanya, kali ini rambutku harus disanggul. Alasannya biar tidak ribet dan tidak berpotensi masuk ke makanan. Karena ini resto milik orang china, takutnya nanti banyak komplainan, karena kata orang juga, punya bos orang china itu cerewet banget. Bisa ganas bisa baik hati sih, tapi pelit dan cerewetnya tak bisa dipisahkan apalagi dinafikan. Ini kata orang loh ya, bukan kata kambing apalagi kedelai eh keledai. Silakan diklarifikasi sendiri benar tidaknya.

Bayangkan saja ya, kerjaku dibagi menjadi dua shift. Ada shift pagi dan shift malam. Karena resto kami ada di dalam mall, jadi kalau shift pagi aku selalu berangkat jam setengah 9 atau jam 9 sebab jam 10 resto sudah harus standby. Aku yang masih berusia 17 tahun harus kerja satu tim sama beberapa orang laki yang sudah om-om semua, kecuali dwi dan kadek. Dan aku baru tahu kalau resto ini menyediakan makanan tidak halal aka menu pork dengan segala macam jenisnya. Oh god, aku langsung teringat satu kalimat yang dilontarkan ibuku waktu itu.

Apakah pekerjaan yang saat ini ku jalani menghasilkan uang haram? Secara, dalam islam, kalau kita terkena najis anjing walau dari air liurnya saja kita harus membasuh tujuh kali biar seluruh tubuh jadi suci, kalau perlu mandi plus keramas sekalian, syahadat lagi dan jangan sampai diulangi secara sengaja. Tapi di sini? Aku harus dihadapkan hukum haram secara tak kasat mata. Dengan rasa hormat aku meminta maaf, daging babi yang diolah menjadi makanan sebenarnya tidak cocok jadi bagian dari pekerjaanku. Kalau saja terkena noda makanan dalam tubuhku, bagaimana sholat lima waktuku?


Tidak lama kemudian, aku mendapat seragam resmi waitress. Mari bertolak dari hukum haram soal daging babi. Aku pikir, kalau saja pekerjaan ini tidak membuatku berbuat melewati batas, sepertinya Allah juga akan memaafkan dan memperbolehkan. Selama aku tidak memasukkan makanan itu ke dalam tubuhku. Baiklah, mari kita lihat kelaknatan apa yang sedang terjadi dalam pekerjaan ini? Soal hukum haram sudahlah ku pertimbangkan.

How old are you? tanya salah seorang om bule yang datang satu rombongan bersama pria china bercelana cingkrang. I'm seventeen yo, jawabku. No, no, no Jackson, pria china itu menyahut dari kejauhan. Dia terlalu muda, jangan cari masalah. Dia pun menghampiri Jackson yang sedang berdiri tepat di depanku. I'm so sorry, but i need so... Jackson memberontak, seolah dia sudah ketemu menu terbaik yang harus dia santap malam itu. 

Happy Birthday to me!


Kelahiran dan pertumbuhanku berlalu begitu cepat. Rasanya baru kemarin aku tumbuh gigi di sebagian gusiku, hari ini belasan tahun telah melewatiku hingga tersebutlah masa remajaku. Aku terkulai karena masih semuda ini aku sudah banyak melakukan kesalahan pada diriku sendiri. Bahkan aku mengecewakan banyak orang yang telah mengharapkanku (menjadi anak yang berbakti dan membanggakan).

Aku cuma gadis yang lemah dan tidak tahu terima kasih. Aku selalu menuntut untuk bahagia di samping remuknya perasaan ibuku. Aku selalu bertanya, kenapa ibu menceraikan ayahku. Andai kejadian menyakitkan itu tidak pernah terjadi, mungkin aku bisa seperti anak-anak normal lainnya. Yang bisa berinteraksi dengan mudahnya dengan siapapun tanpa harus menangis terlebih dahulu, tanpa harus ketakutan dan ragu. Aku seperti menelan panasnya bara api lalu seluruh tubuhku meleleh hingga tak tersisa tulang belulangnya. Sia-sia saja.

Jatuh Cinta

Seperti yang kalian tahu, aku bukanlah wanita cantik (menurut lelaki yang ada di sekelilingku) secara fisik. Warna kulitku sawo matang, bahkan terlihat seperti sawo busuk karena terlalu cokelat. Tetangga bahkan keluargaku sendiri pun sepakat kalau ada yang memanggilku dengan sebutan "oreo atau cokelat". Tinggi badanku tidak semampai seperti anak-anak perempuan lainnya di keluarga ibuku. Itu karena bapakku yang berani menurunkan genetika buruknya (secara umum) kepadaku. Aku sedih ketika ada yang meremehkanku bahwa aku tidak akan laku. Memangnya aku sedang dijual? 

Kalau bicara tentang perasaan, aku lebih sering sakit hati karena sejak aku dilahirkan, tidak ada seorang pun yang pernah memuji kecantikanku, bahkan aku selalu menjadi objek lelucon ketika guru-guru di sekolah sudah mulai bosan mengajar, dan mereka mulai bertanya kepada beberapa teman laki-laki di kelasku, apakah mereka mau memiliki pasangan sepertiku. Sebagian besar kalian sudah pasti tahu jawabannya, mereka menolakku secara kasar dan marah tak terkira sehingga teman-teman yang lainnya menertawakan kami seolah ada pertunjukan sirkus yang menumbalkan monster sepertiku. 

Aku tersenyum simpul dengan aliran darah yang begitu deras dan detang jantung yang begitu cepat. Sebegini hinanya diriku ketika warna kulitku terlihat lebih pekat dari yang mereka miliki? Aku bertanya keras pada perasaanku sendiri, sampai pada akhirnya aku meluapkan seluruh air mata pada ilalang kering yang terseret angin di sepanjang perjalanan pulangku menuju rumah.

Tapi sampai di penghujung kelas enam sekolah dasar, aku sedikit mendapat pujian dari salah satu keluarga ibuku, katanya kalau dilihat lebih dekat lagi, parasku memang manis, semanis senyumku yang diqiyaskan seperti bunga mawar merekah di tengah kemarau panjang. Aku menjadi bahagia, hingga pada akhirnya aku jatuh cinta pada diriku sendiri.

Mencintai Seorang Lelaki

Hari ini, tepatnya di usia yang ke tujuh belas tahun, tiba-tiba aku mengagumi seorang laki-laki. Satu dari milyaran manusia yang tercipta dari segala keajaiban tangan Allah Subhanahu wa Ta'ala dan membuatku gugup saat kali pertama diajaknya ngobrol berdua. Aku sungguh tak berani menatap kedua bola matanya dua kali. Satu kali pandangan saja sudah bikin jantung saya berdetak sangatlah cepat. Aku jadi bertanya sekali lagi pada ruang yang kosong tak berpenghuni, apakah aku masih pantas untuk dicintai seorang laki-laki? Apakah aku akan laku seperti barang dagangan yang disebutkan mereka?

Ternyata sampai hari ini, sejak peristiwa kelulusan masa MTs. ku, banyak yang memuji paras manisku, wajah bersihku, kulit putihku, raut muka baby face ku. Yang semua itu aku dapatkan secara instan dari beberapa produk kosmetik rekomendasi dari teman sekelasku masa sekolah dasar dulu. Aku merasa malu, ternyata menjadi orang berwajah cantik berparas manis seperti kata kebanyakan orang untukku akhir-akhir ini tidak membuatku lupa dengan masa lalu. Masih ada saja yang menghina dan melecehkanku secara terang-terangan.

Akhirnya ku tersadar, bahwa mencintai diri sendiri bukan melulu soal perubahan, tapi mengingat Allah atas segala perkara yang disampaikan melalui jalan kehidupan setiap makhluknya. Ku bersyukur, masih memiliki orang yang masih ku percaya dan mempercayaiku, ibu di segala aspek kasih sayangnya. Happy birthday, kampret. Kamu adalah yang terbaik, meski banyak kejadian buruk yang menimpamu atas kerja kerasmu yang buruk. Berubahlah ke arah yang lebih baik, sehingga tiada lagi ketakutan yang kau sampaikan saat kau terlihat membanggakan di mata orang lain.

Sweet Seventeen,