Navigation Menu

Showing posts with label Travel. Show all posts

Berkat Paralayang di Kampung Toga, Sumedang Semakin Mendunia


Siapa yang tak ingat Drama Korea berjudul Crash Landing On You dengan genre romantis komedi yang baru tamat awal bulan februari kemarin? Bagi pecinta drakor seperti saya, drama yang dibintangi Hyun Bin bersama Son Ye-Jin yang amat sangat menggemaskan lakonannya di setiap episod ini seakan membekas di hati para penontonnya. 

Apalagi mengingat tragedi Paralayang dengan angin puting beliung yang menyebabkan mereka pada akhirnya dipertemukan kembali oleh takdir, membuat saya senyum-senyum sendiri dan bertanya, kapan ya saya bisa main Paralayang juga seperti Yoon Se-Ri (diperankan oleh Son Ye-Jin)? Kali aja tiba-tiba ketemu jodoh di sana. Ehem, saya langsung terbangun dari bayang-bayang yang belum tentu terjadi di dunia nyata itu.

Sumedang punya Kampung Toga untuk para pecinta Paralayang

Saya baru tahu bahwa Indonesia punya banyak sekali tempat untuk merealisasikan mimpi saya, salah satunya ya ada di Kabupaten Sumedang ini, yakni di Kampung Toga. Ya, seriously. Sumedang ternyata juga punya loh tempat terbaik untuk olahraga Paralayang.


Kampung Toga. Salah satu tempat terbaik di Sumedang yang berupa dataran tinggi perbukitan hijau, yang lokasinya ada di dekat pusat kota Sumedang dan memiliki suasana yang amat sejuk dibanding kota Sumedang yang lain. Selain memiliki suasana sejuk dan lokasinya yang dekat dengan pusat kota, Kampung Toga juga merupakan kawasan wisata. Banyak fasilitas yang menunjang seperti villa, kolam renang, tempat makan (kuliner), ojek (transportasi) dan lain sebagainya. 

Nah. untuk menjalankan aktifitas Paralayang sendiri kita bisa mengunjungi Bukit Toga yang mana ketika kita naik dan mulai terbang dengan parasut angin yang kita pakai, kita bisa melihat pemandangan hamparan pesawahan luas yang memanjakan mata, merasakan hembusan angin, dan menghirup udara segar dari oksigen-oksigen yang diproduksi oleh pepohonan yang ada di sana. Duh, kebayang kan betapa relaxnya kita ketika bisa meluangkan waktu untuk berlibur ke sana. Berasa banget surga dunianya.

Sumedang Semakin Mendunia Berkat Pekan Olahraga Paralayang


Sumedang yang kita tahu selama ini hanyalah kuliner Tahu dan Ubi Cilembunya saja. Padahal ya, kalau kita mau jelajah, Sumedang tuh punya banyak banget tempat wisata yang bisa mereboot kembali badan kita secara lahir batin. Disamping suasananya yang sejuk karena rata-rata berada di dataran tinggi, Sumedang juga punya Kampung Toga yang bisa dipakai para wisatawan untuk bermain Paralayang. Olahraga lumayan ekstrim yang menguji adrenalin sekaligus merefresh kondisi tubuh yang mungkin sedang menanggung banyak beban kepenatan dan pikiran akibat stress kerja.

Pada hari biasa (bukan hari libur), biasanya menjelang sore hari di bukit Toga ini selalu berdatangan pengunjung untuk menikmati pemandangan kota Sumedang, Apalagi saat musim liburan tiba, lokasi wisata ini ramai di kunjungi. Yang mau nyoba Paralayang juga sudah disediakan tiketnya. Mau nyari lokasinya juga gampang, berjarak sekitar 2 km dari alun-alun Sumedang dan kita hanya perlu waktu 10 menit untuk menempuh perjalanan.

Piagam penghargaan Musium Rekor Dunia Indonesia untuk Sumedang

Terlebih ketika Sumedang dinobatkan sebagai tuan rumah acara besar-besaran seluruh dunia yaitu Event International West Java Paragliding World Championship and Culture Festival tahun 2019 kemarin, Sumedang bagaikan artis pembaharu yang sedang melambung namanya. Festival kejuaraan Paralayang yang diikuti 23 negara dan 160 Atlet di antaranya ada Australia, Belgia, Jepang, Hungaria, Rusia, Switzerland, Turki dan Venezuela, Bulgaria, China, Cekoslavia, Indonesia, Korea Selatan, Malaysia, Philipina, Spanyol, Inggris, dan Vietnam membuat Sumedang meraih "Piagam Penghargaan dari Musium Rekor Dunia Indonesia atas rekor paralayang terbang bersama atlet terbanyak sejumlah 150 pilot".


Keren banget deh bisa lihat Sumedang meraih Piagam penghargaan yang diserahkan langsung oleh Djoko Bisowarno dari PB FASI kepada Bupati Sumedang H. Dony Ahmad Munir pada pembukaan ajang Internasional West Java Paragliding World Championship and Culture Festival 2019 kemarin di Alun-Alun Sumedang. Rasanya ingin segera ku resmikan wisata Paralayang Crash Landing on You di sana.

Warna-warni parasut para atlet Dunia paralayang yang berlaga pada West Java Paragliding World Championship and Culture Festival 2019 jelas menjadi hiasan tersendiri sekaligus hiburan bagi warga di kabupaten Sumedang. Sehingga dengan adanya kejuaraan paralayang yang telah diselenggarakan tahun 2019 kemarin bisa menjadi triger untuk memperkenalkan destinasi wisata yang ada di Kabupaten Sumedang menjadi media untuk menyejahterakan masyarakat Sumedang. Jadi, kita semua patut bersyukur deh ya bahwa berkat adanya Paralayang di Kampung Toga, wisata di kota Sumedang Semakin Mendunia.


Jangan membayangkan bagaimana Yoon Se-Ri bisa jatuh hati kepada Kapten Ri Jeong-Hyuk. Yang jelas, ikuti saja dulu skenario seperti drama yang sudah mereka mainkan. Kalau perlu, kita jelajah Sumedang bareng-bareng demi memperingati drama korea Crash Landing on You sekaligus menguji adrenalin kita dengan mencoba olahraga Paralayang juga. Siapa tahu kan, jodoh menjemputmu di sana seperti kisah Yoon Se-Ri. Kalau di Sumedang saja ada, tak perlu jauh kita mencari di mana Paralayang itu berada.

Fasilitas di Kampung Toga

Kampung Toga beralamatkan di Jalan Makam Cut Nyak Dien, Gunung Puyuh, Desa Sukajaya, Sumedang. Tempat ini berada di atas lahan seluas 16,25 meter persegi dan masih searah dengan kompleks pemakaman leluhur Sumedang, yakni Gunung Puyuh, yang salah satunya terdapat makam pahlawan nasional, Cut Nyak Dien. Sudah pada kenal bukan pahlawan yang satu ini?

Ngomongin fasilitas, ada satu yang paling aku suka, yaitu kolam renang. Ada beberapa kolam renang di kampung Toga yang dibangun dalam lahan bertrap-trap di tiap bukit. Kolam renang di tempat ini juga dibedakan untuk wisatawan anak-anak dan wisatawan dewasa, dengan harga tiket masuk cukup terjangkau. Kolam rekreasi memiliki papan seluncur sepanjang 160 meter dengan situasi luncuran dari Bukit Toga. Bisa kalian bayangkan dong, setelah kita mencoba olahraga paralayang terus berenang tuh berasa stres hilang seketika. Kalau saya sih. Hehe.


Kemudian, tempat makan. Di Kampung Toga sudah tersedia beberapa warung dan resto yang menyajikan aneka makanan dan minuman, umumnya khas Sunda, dan disajikan di saung lesehan dengan nuansa alam terbuka. Menu-menu yang ditawarkan antara lain nasi liwet komplet gurami bakar, nasi timbel komplet karedok dan balado terung, ayam goreng, tahu, tempe, sambal gepuk, lalap, sayur lodeh, ikan asin, bajigur, bandrek, cente manis, talam, bugis, lontong isi, lumpia, opak, keripik, acar nila, pepes tahu, dan lain-lain. Buat yang doyan makan kayak saya, wajib banget deh nyobain kuliner khas Sumedang ini. Biar makin semangat setelah liburannya.

Fyi, karena di Kampung Toga ini suasananya benar-benar sejuk dan asri. Plis banget mari kita budayakan membuang sampah pada tempatnya ya. Karena saya sempat sedih mendengar teman-teman yang sudah pernah jelajah di Sumedang sebelumnya. Mereka menemukan sampah berceceran dan membuat pemandangan jadi sedikit keruh. Jadi, mulai sekarang mari menjaga kebersihan dan kelestarian alam bersama.


Jadi, jika kalian masih penasaran di mana bisa menemukan Paralayang seperti Yoon Se-Ri menemukan takdir jodohnya, jelajahilah kota Sumedang biar kisah cintamu makin terkenang! Siapa tahu dia sedang bermain Paralayang juga bukan?

Andaikan nanti sudah banyak yang jelajah dan berbagi terkait destinasi wisata Paralayang di Sumedang sampai ke manca negara, bisa jadi kan destinasi Wisata di Sumedang semakin dikenal dan mendunia.

Tabik.
Disclaimer: artikel ini diikutsertakan lomba Writingthon Jelajahi Sumedang 2020
Referensi:
- http://indofakta.com/news_18069.html
- https://www.wisataidn.com/tempat-wisata-di-sumedang/
- https://www.travelblog.id/menikmati-pemandangan-kota-sumedang-dari-ketinggian-bukit-toga/

Galeri Musik Dunia Jawa Timur Park Tiga Malang


Tanggal 24 Desember kemarin, Gue, Ella, Tata, Najwa, dan Fery liburan ke Jawa Timur Park Tiga, Batu, Malang. Puju syukur alhamdulillah, gue bisa beli 5 tiket terusan di Traveloka Xperience berkat voucher #XperienceSeru senilai 1,000,000 (Satu Juta) yang diberikan traveloka bulan lalu. Gue memilih paket terusan Dino Park - The Legend Star - Galeri Musik Dunia seharga IDR 194,000 per orang. Jadi totalnya cuma IDR 970,000. Padahal ya, kalau beli on the spot harganya bisa lebih mahal antara 200,000 Rupiah sampai 250,000 Rupiah. Bersyukur pake traveloka xperience, jadi bisa lebih hemat liburannya.


Oiya, buat kalian yang mau ke Jatim Park 3 pakai Traveloka Xperience, jangan lupa tukarkan voucher tiketnya di booth traveloka xperience di samping pintu masuk (dari parkir) depan boothnya kopi Lain Hati. Kita tinggal nunjukin barcode yang sudah dikirimkan melalui email. Lalu petugasnya bakal ngasih kita tiket tempel untuk dijadikan gelang.

Setelah puas keliling Dino Park dan The Legend Star Park, akhirnya kita berlima menuntaskan wahana terakhir Jatim Park 3 di Galeri Musik Dunia. Lokasinya ada di lantai dua dekat dengan kafe-kafe dan resto. Karena kita liburan di akhir tahun, jangan tanya lagi seberapa rame pengunjung yang datang. Super penuh kayak dawet cendol.

Masuk Galeri Musik Dunia

Di galeri musik dunia ini, kita bisa ngeliat banyak banget alat musik dari mulai yang tradisional sampai yang kekinian. Ada juga patung lilin para superstar mendunia yang super real banget bentukannya. Dari pintu masuk galeri, kita langsung menemukan patung lilin The King of Pop, Michael Jackson. Yang di belakangnya ada banyak alat musik modern yang bisa kita lihat langsung dan beberapa ada juga yang bisa kita coba mainkan.


Alat musiknya benar-benar lengkap banget. Sesuai dengan namanya, di galeri musik dunia ini bahkan kita bisa melihat alat musik tradisional dari belahan dunia mana saja termasuk korea, seperti Gayageum dan Sohaegeum. Tak lupa juga, ada patung lilin para superstar Indonesia seperti Yuni Shara dan Krisdayanti. Gue dan Najwa mengabadikan momen di sini, ya meskipun ekspektasi awalnya adalah bisa foto bareng personil Blackpink, tapi ternyata nihil kan ya. Jadi foto bareng KD juga tak apalah.


Sebenarnya, galeri musik dunia ini punya tiga lantai yang bisa diexplore. Wahananya luas banget sampai gue sendiri sanggup nggak sanggup buat ngexplore sampai habis. Secara, ini wahana terakhir yang kita kunjungi selama liburan di Jatim Park 3 kemarin. Kondisi fisik sudah lumayan lelah dan terkuras habis tenaganya. Kita pun belum makan berat sama sekali, jadi untuk mengeksplore galeri musik dunia ini sebenarnya harus siap secara fisik biar kaki nggak gempor (capek sangat-sangat).










Banyak edukasi yang bisa diambil dari wahana ini. Terutama bagi penggemar musik dan segala hiruk pikuknya. Macam-macam alat musik dengan berbagai sejarahnya bisa kita pelajari di sini. Sayang sekali, kemarin kita berkunjung dengan keterbatasan waktu. Pas banget kok ya waktunya sudah malam dan badan sudah lumayan remmeck, jadi ada banyak pelajaran musik yang terlewatkan. 

  
Oiya, buat kalian yang nanya berapa tiket reguler untuk bisa menikmati wahana Galeri Musik Dunia di Jatim Park 3 ini? Harganya cuma Rp. 50,000 saja. Lebih hemat pakai traveloka xperience sih, cuma Rp. 48,500. Hehe.

Mengulik Sejarah Klenteng Sanggar Agung Surabaya


Kalian tahu kan, patung naga lengkap dengan Dewi Kwan Im raksasa di atasnya ini lokasinya di mana? Exactly! Patung ini terletak di tepi laut Pantai Kenjeran, Surabaya, Jawa Timur. Tepatnya di belakang bagian dalam Klenteng Sanggar Agung (Hong San Tang). Patung setinggi 20 meter membelakangi laut ini dibangun dua tahun setelah klenteng Sanggar Agung berdiri.

Bermula dari kisah seorang karyawan Sanggar Agung yang melihat sekelebat sosok wanita berjubah putih berjalan di atas air pada saat ia sedang menutup Klenteng di malam hari, yang akhirnya penampakan tersebut dipercaya sebagai penampakan Dewi Kwan Im dan diabadikan kisahnya dengan dibangunnya patung Dewi Kwan Im raksasa di belakang klenteng ini.

Klenteng Hong San Tang sendiri dibangun pada tanggal 15 bulan 8 Imlek tahun 1978, dengan berbagai cerita yang katanya berpindah-pindah lokasi yang pada akhirnya ditetapkan di Kenjeran Park dan resmi dibuka sebagai tempat peribadatan juga wisata budaya pada tahun 1999. Pembangunan klenteng ini sekaligus bertepatan dengan Festival Bulan Purnama (Tahun Baru Imlek) oleh keluarga Soetiadji Yudho.

credit: rappler.com

Tujuan dibangunnya klenteng ini sebenarnya adalah membawa semangat spiritual umat Tridharma sekaligus harapan bisa menampilkan sebuah ikon bagi Kota Surabaya. Menurut Freddy H. Istanto, Dekan Fakultas Teknologi dan Design Universitas Ciputra, kompleks peribadatan di Sanggar Agung sangat menarik untuk dikaji karena design eksteriornya memiliki muatan multi kultur yang unik.

Dari atapnya, klenteng Sanggar Agung menggunakan perpaduan gaya Jawa yang cukup kuat meskipun secara umum bangunannya bercorak Bali. Menurutnya, terdapat kesan desain yang sengaja membawa image rumah tradisional Indonesia agar tak terjebak pada gaya klenteng, vihara, atau kuil kebanyakan, apalagi terjebak pada arsitektur negara China. 

Kendati demikian, tradisi kuil China masih tampak di klenteng ini, misalnya pada bulatan di pagarnya. Bisa dikatakan bahwa klenteng Sanggar Agung ini boleh disebut sebagai "representasi harmoni kondisi psikologi dan budaya dari masyarakat setempat dengan umat Tri Dharma".

credit: rappler.com
Klenteng Sanggar Agung ini sebenarnya difungsikan sebagai tempat ibadah bagi umat Tridharma, yaitu agama Konghucu, agama Buddha, dan Taoisme. Nah, karena lokasinya tepat di bibir laut, Klenteng Sanggar Agung sering menjadi tempat rujukan bagi keluarga yang hendak nyekar leluhur mereka, terutama yang dikremasi.

Kerennya lagi, pekerja dan pengurus dari klenteng ini tak hanya dari agama Tridharma saja, namun juga berasal dari umat Islam dan Kristen. Jadi, keharmonisan dalam keberagaman di klenteng ini sangatlah terasa.

Untuk menuju patung raksasa Dewi Kwan Im, baik umat Tridharma yang beribadah di klenteng maupun wisatawan (turis asing) sebenarnya harus masuk melalui klenteng dulu, karena lokasi patungnya berada di halaman belakang kelenteng. Tapi sejak tahun 2015, jalan lewat samping klenteng (ruang pengelola) untuk menuju halaman belakang bagi wisatawan (non Tridharma) sudah disediakan, sehingga umat yang beribadah di dalam klenteng tidak merasa terganggu oleh lalu-lalang turis menuju halaman belakang.




Secara resmi, Sanggar Agung menyatakan bahwa tinggi patung raksasa Kwan Im ini adalah 18 meter, namun banyak yang menyebutkan bahwa tingginya sekitar 20 meter. Patung tersebut dikawal oleh dua penjaga Shan Nan dan Tong Nu serta 4 Maharaja Langit pelindung empat penjuru dunia.

Gerbang langit di bawah kaki patung Kwan Im dijaga oleh sepasang Naga Surgawi yang masing-masing memiliki panjang 6 meter. Dan ternyata, pengunjung bisa melihat Jembatan Suramadu dari kejauhan loh, jika berdiri di bawah gerbang tersebut. Keren banget, sumpah. Sayangnya, ketika saya mengunjungi klenteng ini kemarin, laut lagi surut dan kelihatan kering kerontang sekali.

Di depan patung raksasa Dewi Kwan Im ini, tepat di luar pintu halaman belakang kelenteng terdapat hiolo menghadap ke arah patung dan laut. Biasanya ada sesajen berupa buah-buahan seperti jeruk manis dan bunga yang ditaruh di sekitar hiolo. Jadi, mungkin ada beberapa umat Konghucu yang menghormati keberadaan Dewi Kwan Im di belakang. Bau dupa atau kemenyannya lumayan menyengat. Bagi yang kurang suka, bisa duduk di bangku yang ada di dekat klenteng saja.

Lokasi Klenteng Sanggar Agung

Karena klenteng ini ada di dalam lokasi Kenjeran Park, kalian bisa masuk dengan membayar loket sebesar 20,000 buat yang membawa mobil (maksimal 2 orang). Kalau orangnya lebih dari dua maka selebihnya bayar 5000 per orang. Lokasi klenteng ini lumayan jauh dari loket. Jangan memaksa berjalan kaki kalau tidak mau sempor. Paling tidak harus membawa motor atau naik odong-odong kayak saya kemarin. Cuma 5000 per orang, bolak-balik total 10,000 dan supirnya mau nungguin. Baik banget pokoknya. Selengkapnya bisa kalian cek sendiri melalui map di bawah ini.

Mau wisata budaya di Surabaya? Jangan lupa mampir ke Klenteng Sanggar Agung. Dijamin puas memandangi alam yang ada ada di sekitarnya juga suasana klenteng yang begitu kental tradisi konghucunya.

Tabik,


Alamat:
Jl. Sukolilo No. 100, Kenjeran Park, Surabaya Utara, Jawa Timur 60122
(031) 3816133

Kalau Jelajah Kota Surabaya, jangan Lupa Mampir ke Tugu Pahlawan!


Sebagai warga kota Pudak yang sudah hampir sepuluh tahun meninggalkan Provinsi Jawa Timur, rasanya ingin ku rutuki diri sendiri karena belum sempat menjelajah provinsi sendiri malah memilih kuliah di ibukota. Yang artinya bahwa pulang kampung tidak bisa seenak jidat seminggu sekali macam anak Soerabaja pulang ke Gresik pada umumnya. Harus nunggu liburan semester dulu baru bisa jalan-jalan di kota sendiri. Itu pun terbatas, karena sejatinya aku adalah anak omahan yang amat sangat belum terbiasa jika harus berkelana mengelilingi kota. Akhirnya, setelah ku putuskan untuk memilih tinggal dan kembali ke kota kelahiran, baru tahun inilah ku membuka diri dan bisa leluasa berkeliling kota dengan bus dan angkutan umum pastinya.

Bicara soal Surabaya, sedetik pun rasanya sulit untuk melupakan. Mau bagaimana lagi, selain menjadi kota Pahlawan yang amat menohok ingatan juga sanubari tentang perjuangan arek-arek Suroboyo di masa kemerdekaan, sedari kecil hidupku cuma sebatas Gresik Soerabaja saja yang ku tahu. Karena keluarga besar kebanyakan memilih tinggal di Surabaya, jadilah tiap liburan sekolah aku dan ibuku silaturrahim ke Surabaya naik bus Joyoboyo yang kadangkala bikin saya mual karena bau knalpotnya super nggilani mblenekisasi. Stop, tapi itu cerita lama. Masa dimana aku suka nangis minta naik kuda di Kebun Binatang Surabaya. Tapi kini, Surabaya menjadi kota wisata yang ramah karena bersih dan banyak bangunan baru yang super recommended buat siapa saja yang ingin memanjakan dirinya.

Hormat grak di depan Monumen Tugu Pahlawan, seberang Kantor Gubernur Jawa Timur

Pertama kalinya menjelajah di kota Surabaya, yang ku ingat dari kota ini adalah jasa para Pahlawan tanah air Indonesia. Di mana para pejuang tanpa pamrih yang dikenang namanya dengan sebutan "Arek-arek Suroboyo" rela mempertaruhkan nyawanya demi mempertahankan tanah Soerabaja atas kemerdekaan Indonesia yang seutuh-utuhnya. Mari meneteskan air mata bersama, karena sesungguhnya kita hanya numpang eksis di zaman serba modern (era digital) penuh kemudahan dan pembaharuan yang super cepat seperti sekarang ini, tanpa ada perang sejata yang mempertaruhkan nyawa. Aku terenyuh melihat patung Bung Karno beserta Bung Hatta sedang memegang teks proklamasi menyambut dengan gagah di pintu masuk Monumen Tugu Pahlawan Surabaya, seakan mengingatkan betul akan jasa-jasa mereka dan para pahlawannya yang gugur melawan penjajah. Mari kita apresiasi dengan kita menjelajah ke tempat-tempat bersejarah. Setidaknya, dengan cara inilah kita bisa membalas budi jasa-jasa mereka yang tak pernah lupa di mata bangsa.
Surabaya memang banyak meninggalkan kota tua nan bersejarah. Bangunan-bangunan klasik dengan arsitektur yang begitu unik dan menarik, kiranya bisa menjadikan pengetahuan bahwa kota ini telah lama ikut berjuang. Kehadirannya yang sudah beratus-ratus tahun menjadikannya saksi bisu atas peristiwa pertempuran yang begitu mencekam juga turut serta menjadi bagian kehidupan masa lampau yang begitu penuh keterbatasan dan penuh perjuangan. Mari kita menoleh sebentar, mengabadikan momen dengan berswafoto gembira dan membagikannya ke media sosial. Karena dengan inilah kiranya kita bisa terus mengenang dan turut mempromosikan bahwa kota Surabaya ternyata punya banyak tempat untuk dijelajah dan dinikmati bersama. Monumen Tugu Pahlawan misalnya.

Ada banyak spot yang bisa dinikmati selama menjelajah di Monumen Tugu Pahlawan ini, diantaranya adalah taman yang membentang luas, lengkap dengan bangku panjang. Ada juga Museum Sepuluh Nopember bawah tanah dan piramid mini di samping makam bersejarah para pahlawan tanpa tanda jasa dan tanpa nama (rakyat atau pemuda Surabaya yang gugur saat ikut serta dalam pertempuran). Duduk di bangku panjang sambil membaca buku diiringi angin yang semilir rasanya tubuh ini kembali pada Surabaya masa lampau. Di mana ada rasa kenyamanan tersendiri saat memandangi bangunan tua, sang Tugu berdiri kokoh di tengah-tengah taman menjulang tinggi dibalik ramainya pusat kota yang dipenuhi transportasi berlalu-lalang. Sueger tenan cak rasane.






Selain duduk santai di bangku panjang taman yang begitu semeriwing udaranya dikelilingi segala rupa pepohonan hijau sepanjang mata mata memandang, pengunjung diberikan kesempatan untuk melihat secara langsung benda-benda bersejarah pada masa pertempuran Sepuluh Nopember 1945 silam di dalam Museum bawah tanah yang terdiri dari dua lantai. Di sana aku dibuat merinding oleh berbagai macam miniatur lengkap yang menggambarkan jelas bagaimana Surabaya menjadi kota tua masa itu. Ada replika bung Tomo lengkap dengan radio pada masanya. Kita juga bisa mendengar langsung bagaimana bung Tomo berpidato.


Selain itu juga kita bisa berpose ria di samping mobil ikonik milik bung Tomo yang diletakkan tepat di depan museum. Sebagai landmark sekaligus alun-alun di kota Surabaya, Tugu Pahlawan memiliki daya tarik tersendiri sebagai wisata bersejarah. Patung sang plokamator yang didirikan dekat puing-puing pilar gedung Pengadilan Tinggi yang dipakai di zaman kolonial juga bisa menjadi spot tercantik di Tugu Pahlawan ini. Di bawah teriknya matahari, banyak wisatawan yang mengabadikan momen di bawahnya. Seakan berterima kasih bahwa Surabaya memanglah salah satu kota bersejarah di bumi Indonesia. Seperti halnya aku, yang rela lari-larian demi bisa memasang countdown timer pada kamera selfie mumpung lagi sepi.



Untuk menuju lokasi ini pun tidak terlalu rumit. Dari Gresik utara arah Sidayu, aku naik bus antar kota Armada Sakti menuju terminal Oso Wilangun Surabaya, lalu lanjut naik angkutan bemo warna kuning dengan  kode WK arah keputih, dari sini kita bisa langsung bilang ke supirnya minta turun di depan Tugu Pahlawan yang ada di sebelah kiri. Kalau mau naik gojek atau grab bike juga bisa. Masuk ke tempat wisata bersejarah di alun-alun Surabaya ini tidak dipungut biaya sepeser pun. Asal kitanya saja yang kudu tahu diri, menjaga tempatnya agar tetap bersih. Oiya, untuk masuk ke musiumnya sendiri hanya membeli tiket sebesar 5,000 Rupiah saja. Murah kan?

Jelajah kota Pahlawan naik Suroboyo Bus Gratis


Kalau kalian baru pertama kali ke Surabaya, boleh juga loh nyobain naik Suroboyo Bus ini. Hanya bermodalkan botol atau gelas plastik bekas yang ditukar dengan sticker dan tiket, kita bisa keliling Surabaya sepuasnya. Hal ini sekaligus meminimalisir membludaknya sampah plastik yang diduga menjadi penyebab terbesar pencemaran lingkungan. Asik kan.


Untuk penukaran sendiri bisa langsung ke Terminal Purabaya dan Halte Rajawali, atau bisa juga langsung ditukarkan ke petugas pada saat menaiki bus dari halte penjemputan. Gampang banget kan? Jangan lupa lihat video pengalaman aku naik Suroboyo Bus di atas. Uhuy!

Infografis by IDN Times

Ayo, siapa yang belum jelajah kota Surabaya macam diriku di masa lalu? Ojo lali mampir ke Tugu Pahlawan ya rek!
Tabik,

Wisata Heritage ke Museum Sepuluh Nopember Surabaya


Sudah lama nggak jalan-jalan ke Surabaya, rasanya semangat sekali kemarin bisa backpackeran di kota Pahlawan yang ada di sebelah kota kelahiranku ini. Mungkin kalian tidak asing lagi dengan nama "Monumen Tugu Pahlawan". Sebuah monumen yang menjadi landmark sekaligus toggak sejarah di kota Surabaya yang dibangun sebagai bentuk penghargaan dalam rangka memperingati peristiwa Pertempuran 10 November 1945 yang berdarah-darah oleh arek-arek Suroboyo berjuang melawan pasukan Sekutu bersama Belanda yang hendak menjajah kembali Indonesia.  


Monumen yang tingginya sekitar 41,15 meter dan berbentuk lingga atau paku terbalik ini memiliki tubuh yang berbentuk canalures atau lengkungan-lengkungan sebanyak 10 lengkungan dan terbagi atas 11 ruas. Tinggi, ruas, dan canaluresnya mengandungi makna tanggal peristiwa pertempuran yang terjadi pada masa itu yaitu tanggal 10, bulan 11, dan tahun 1945. Bagi seluruh rakyat Indonesia, tanggal tersebut menjadi tanggal yang bersejarah, dan monumen Tugu Pahlawan ini menjadi tempat yang amat bersejarah bagi warga kota Surabaya sendiri juga bagi seluruh masyarakat Indonesia.


Bangunan pertama yang akan kalian temui ketika kalian masuk ke area dalam taman Tugu Pahlawan ini adalah Patung Bung Karno dan Bung Hatta (Presiden dan Wakil Presiden RI yang pertama) berdiri tegak di pintu taman seolah sedang memproklamirkan (membaca surat proklamasi) kemerdekaan Indonesia. Dan perlu kaliaan ketahui jika kalian mau foto di sini, alangkah baiknya kalian menunggu sampai matahari lagi terik-teriknya. Karena pengunjung bakal nyari spot yang dingin dan pergi dari patung ini secepat-cepatnya (bilang dong kalau panas banget cuacanya). Kalau nggak, jangan harap bisa foto sendiri seperti foto saya di atas. Ngeblur pulak kan hasilnya, gegara nggak ada yang motoin (cuma swafoto dengan countdown timer).

Museum Sepuluh Nopember 

Nah, kalau kalian berkunjung ke Monumen Tugu Pahlawan yang ada di tengah-tengah kota di jalan Pahlawan Surabaya dan di dekat Kantor Gubernur Jawa Timur ini, kalian pasti tahu dong ya bahwa tempat ini memiliki Museum bersejarah yang ada di bawah tanah sedalam tujuh meter dan menyimpan benda-benda pusaka dari peristiwa Pertempuran 10 Nopember tahun 1945 silam. 

Pintu Masuk Museum setelah melewati lorong tiket
Miniatur Tugu Pahlawan yang ada di depan pintu masuk Museum

Museum Sepuluh Nopember ini didirikan pada tanggal 10 Nopember tahun 1991 guna menunjang keberadaan Monumen Tugu Pahlawan yang telah berdiri sebelumnya, yakni tanggal 10 Nopember 1951. Museum ini resmi dibuka dan dijadikan wisata heritage oleh Presiden Republik Indonesia pada masa itu yaitu KH. Abdul Rahman Wahid (Gus Dur) pada tanggal 19 Februari tahun 2000. 

Di dalam Museum Sepuluh Nopember sendiri tersimpan benda-benda pusaka nan bersejarah yang bersinggungan langsung dengan peristiwa pertempuran Sepuluh Nopember yang pernah terjadi di Surabaya. Di mana banyak pemuda Surabaya yang rela mati demi mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Patung bung tomo yang lengkap dengan radio siaran pidatonya

Koleksi utama dari museum ini adalah suara pidato Bung Tomo (Sosiodrama), radio peninggalan Bung Tomo, Senjata-senjata otomatis (peninggalan peperangan), mobil Bung Tomo, pameran foto dan benda-benda peninggalan H.R Muhammad. 

Museum ini terdiri dari dua lantai, yang mana tiap lantai dibagi menjadi beberapa bagian. Di lantai pertama terdapat beberapa galeri foto juga miniatur lengkap Rumah Sakit Simpang dan sejarahnya, beserta beberapa patung pahlawan 10 Nopember dan orang-orang yang berjasa di dalamnya (seperti nurse, angkatan bersenjata, juru bicara, petani dan sebagainya), sedang di lantai dua lebih didominasi oleh senjata-senjata dan diorama yang berisi miniatur kota Surabaya masa itu lengkap dengan audionya.


Selama masuk ke dalam museum ini, saya berasa kembali pada masa penjajahan dulu. Bulu kuduk merinding, sembari membayangkan betapa hebatnya para pejuang pada masa itu. Dengan tekat kuat dan penuh semangat, kemerdekaan akhirnya bisa diraih bangsa Indonesia sampai saat ini meski harus rela berdarah-darah hingga tinggal kenangan nama dan perjuangannya.

Seperti yang saya jelaskan sebelumnya bahwa di lantai dua museum ini lebih didonimasi oleh senjata-senjata otomatis yang dipakai pertempuran pada masa itu. Bukan hanya golok, berang, pedang saja, tapi juga tombak, pistol, helm besi, slingbag kulit, perisai, botol minum alumunium yang dipakai pada masa itu tersimpan rapi dalam kaca yang disertai dengan keterangan-keterangan tertulis di dalamnya. Ada juga mata uang kertas juga koin yang dipakai pada masa pertempuran yang tertata rapi. Ditambah lagi koleksi perangko juga alat-alat medis seperti suntikan, perban, buku-buku kuno semua terpajang rapi di dalam kaca di sudut-sudut ruangan.


Serius, kalau ke sini dijamin auto pinter sejarah. Ehe. Banyak benda-benda pusaka yang masih membuat kita bertanya-tanya, kok bisa ya orang jaman dulu menang melawan penjajah hanya dengan peralatan sederhana seperti ini saja. Mungkin wirid dan tirakatnya lebih-lebih kali ya. Pendekatan diri kepada Tuhannya saya yakin melebihi manusia biasa pada umumnya. So, jika Tuhan sudah berkehendak menang, mau dikata apa lagi yekan. Meski harus meninggalkan kenangan yang berdarah-darah, tapi perjuangan melawan penjajah tanpa pamrih sungguh membuat kita kadang harus mengintropeksi diri. (jleb)

Fasilitas untuk pengunjung

Hebatnya lagi, fasilitas di dalam museum ini sungguh sangat-sangat membantu semua kalangan termasuk disabilitas dan para lansia. Ada eskalator dan lift yang bisa dipakai juga toilet yang bersih bikin betah wisata heritage di sini. Jadi, tidak hanya anak-anak, remaja, mau dewasa saja yang bisa menikmati dan mengenang tempat juga pahlawan bersejarah kota Surabaya, tapi lansia dan disabilitas juga bisa mengakses dengan mudahnya.

Nah, ngomongin wisata heritage di Surabaya pasti kalian bertanya-tanya dong: di mana tempat yang pas untuk staycation, menginap sekaligus kuliner yang bisa menjangkau lebih dekat dengan Tugu Pahlawan juga wisata lainnya. Jawabannya adalah pesan hotel di Surabaya. Karena lokasi museum juga monumen tugu pahlawan ini ada di tengah kota, jadi banyak pilihan hotel yang bisa kalian tinggali selama menjelajah kota Surabaya ini. Contohnya ya RedDoorz Plus near Marvell City Mall yang ada di Pegi Pegi. Selain harganya yang murah, lokasinya hanya berjarak 461 meter dari Tugu Pahlawan.

 

Enaknya kalau pesan di Pegipegi tuh bisa pilih hotel yang dekat di area mana, seperti yang aku lihatin di atas, kalau kita butuhnya di area Tugu Pahlawan ya kita klik aja opsi dekat dari Tugu Pahlawan. Nanti akan ada urutan hotel yang terdekat apa aja dan harganya berapa aja. Kalau di Pegipegi sih insyaallah murah lah ya, banyak diskon lagi. Lumayan kan, uang lebihnya bisa dipakai buat kulineran.

Untuk kulinernya sendiri, (rekomendasi) kalian bisa meluncur ke Nasi Bebek Tugu Pahlawan yang ada di jalan Tembaan, alun-alun Contong, tepat di seberang taman kota atau taman Tugu Pahlawan ini. Tendanya milik Hajah Minhah yang sudah mulai membuka usahanya itu sejak tahun 1989 silam. Wow, rame banget asli. Jangan lupa, siapkan kesabaran untuk membeli nasi bebek di sini, karena ramai sekali ngantrinya. Fyi, buat yang mau menu favorit ada Paha Super ukuran jumbo yang biasanya setelah pukul 20.00 WIB saja sudah ludes dipesan pelanggan.


Jadi, masih ragu mau wisata heritage di Surabaya?
Sayang banget loh!
Tabik,