Showing posts with label Thoughts. Show all posts

Ketika Allah Mulai Jatuh Cinta; Valentine 2019 Part 1

Tidakkah kau renungkan bahwa segala cobaan dan masalah yang terjadi dalam hidup hingga memaksa kita untuk meneteskan air mata adalah suatu pertanda. Fikri
Mungkin bagi sebagian orang, menangis adalah hal yang memuakkan. Macam tak ada jalan keluar saja kau ini. Lebay sekali. Ya, mungkin bisa dibilang lebay (dibuat-buat untuk mencari perhatian). Tapi bagi kebanyakan orang, menangis menjadi suatu ungkapan bahwa kejadian yang telah dialami seseorang dalam hidupnya telah mengalami fluktuasi di suatu masa. I think, ini terdengar lebih baik. Ada saatnya kebahagiaan dan kekecewaan harus diungkapkan melalui air mata, sehingga tidak ada lagi penyakit kronis menyoal perasaan yang membengkak dalam hati dan pikiran seseorang, termasuk saya.

kesempatan adalah peluang


Ketika harapan kita di masa lalu tiba-tiba dicolek oleh kehidupan nyata di masa depan tepat di mana kita sedang memperjuangkan harapan hidup yang lainnya dengan semangat, rasanya ingin ku bertanya, apakah ini pertanda? Bukankah saya sendiri juga sudah lupa? Whatever, yang pasti kehidupan masa kini jauh lebih sok sibuk dibanding dulu. Jadi, kalau memang terjadi pencolekan untuk menyibukkan diri lagi di masa kini, ya sah-sah saja toh. Mungkin Tuhan lebih percaya, kalau saya ternyata masih sanggup, untuk jadi orang sibuk.

Tepat bulan Januari di awal tahun 2019 kemarin saya mendapatkan broadcast message dari sesama teman blogger perihal program "Apple Developer Academy". Awalnya saya bertanya-tanya, "iki program opo seh? Kok sawangane berat ngene". Tanpa babibu, karena saya sudah tau (setelah searching kilat di mbah google), akhirnya saya memberanikan diri untuk "mencoba". Ya, siapa tau bisa jadi profesi kan nantinya. Segala sesuatu memang perlu dicoba, tapi bukan asal coba-coba. Apa saja ikhtiyar musti dilakoni semaksimal mungkin, ngomongin hasil akhir itu urusan nanti. Mumpung ada kesempatan, manusia berhak mengambil peluang, termasuk saya. Kebut-kebutan ngisi formulir.

UC Apple Academy 2019

Setelah lumayan lama menanti, kira-kira diapprove apa nggak formulir menjadi public participant nya tadi, akhirnya datang juga whatsapp dari Ms. Yenny (contact person program ini). Disitu tertulis bahwa saya harus menyiapkan curriculum vitae lengkap juga membuat video motivasi mengikuti program ini (durasi video: 60 detik) yang harus diupload ke youtube dan linknya disubmit lagi di form lanjutan. Beginilah hasilnya.

The story is begin.
Sebenarnya dari awal sudah mulai drama. Lagi-lagi drama, mungkinkah ini pertanda? Saya pasrah.

Saat itu, saat di mana Ms. Yenny mengirimkan broadcast message berupa himbauan untuk submit dokumen pada tanggal 11 Januari, saya sedang tidak memiliki paket data internet. Jadi, sewaktu pesan itu dikirimkan, saya tidak me-reply dan saya merasa selow saja karena saya memang sedang tidak online.

Baru pagi harinya di tanggal 12 Januari saya mendapati pesan itu dan buru-buru saya balas untuk menanyakan, apakah dokumen masih bisa submit lewat deadline. Puji syukur, jawabannya adalah nevermind. Oke, saya langsung kebut pada hari itu juga, and i think "gue nggak boleh ngecewain, kalau bisa harus submit sebelum jam 10 biar terhitung masih tanggal 11 (apa-apaan ini?) dan semoga masih diberi kesempatan". Ya, lagi-lagi saya harus mepet alias lenjeh pada kesempatan. Untung saja saya sudah pernah membuat ceve untuk melamar pekerjaan beberapa waktu lalu, jadi tinggal edit videonya saja.

Persaingan secara sehat itu harus

Setelah video saya share di youtube dan instagram, rupanya banyak sekali teman yang support dan turut mendo'akan. Dilihat dari beberapa reply dan komentar di sana, i think mereka juga turut bangga dan bahagia. Dan saya selalu yakin sih, campur tangan Allah itu pasti ada. Jadi, segala sesuatu yang diusahakan manusia maybe menjadi pertimbangan atas takdir yang telah Allah digariskan. Netizen aja bangga masa Allah enggak? Who knows sih. Kemungkinan walau 1% itu pasti ada.

tak apalah ada numbernya, soalnya dipublik juga sih di sosmed buat contact person
Tanpa saya sadari, ternyata ada dua teman blogger yang juga ikutan submit. Yang satu namanya mbak Heni Prasetyo Rini, sang presiden dari komunitas Coding Mum Surabaya. Satu lagi namanya badai, dia blogger juga seperti saya, tapi ada kemungkinan juga dia adalah seorang programmer. Ya siapa tau dong ya, kan yang selama ini saya tahu, program Apple Developer Academy ini lebih menarik perhatian para programer (seperti saya yang cuma remahan keripik singkong). Jadi ada kemungkinan juga kalau hanya saya lah sang mantan mahasiswa filsafat (no no coding-coding) yang memberanikan diri untuk bersaing secara sehat bersama para programmer keren di luar sana (mungkin loh ya, bisa jadi juga bukan hanya saya). Ya bersaing dengan para programmer, designer, juga calon entrepreneur (pebisnis) mendunia. Saya jadi minder lagi, kayaknya saya bakal tumbang kalau lawannya mereka. I said dalam hati saja.

Drama kedua kalinya mulai menjadi pertanda. Saya kelabakan karena di tanggal 13 Januari, informasi terkait tes potensi akademiknya tak kunjung mendarat di whatsapp. Padahal saat saya submit dokumen dan video, saya memilih untuk mengikuti tes di tanggal 15 Januari. Ah, mungkin saya nggak lolos seleksi berkas nih. Pasti gara-gara ceve saya yang kurang meyakinkan. Saya jadi perang sama diri saya sendiri. Akhirnya saya masih ingin berfikir positif, mungkin saja masih esok hari tanggal 14. Badai pun akhirnya bilang bahwa mbak Heni saja sudah dapat jadwal tes sejak tanggal 11 kemarin. Haduh, saya jadi makin minder dan hampir teriak "yasudahlah". Ya, bersaing yang seperti ini terkadang membuat mental jadi sedikit lemah. Tapi, yang namanya persaingan sehat itu ya harus dan kudu dilakoni secara waras. Cause we don't know Allah akan berkata apa. Jadi, kemungkinan berhasil itu pasti ada.

Akhirnya ikut test juga

Setelah amnesia pernah submit program UC Apple Academy 2019 di bulan Januari, saya dikagetkan dengan sebuah pesan yang menyatakan bahwa saya harus tes pada tanggal 13 Februari 2019. Jantung seketika berdetak kencang dan berkeringat dingin. Apakah ini pertanda? Lagi-lagi saya meyakinkan diri, bahwa mungkin ini jalan yang diberikan Allah untuk mengangkat derajat orang tua saya (especially my mother, perempuan mandiri sang pejuang kehidupan). Ada beberapa alasan yang tak bisa saya sebutkan di sini. Akhirnya saya tergerak untuk melangkah. Bodo amat sama hasilnya, yang penting saya berperang dulu. WAJIB!


// life motto
if (sad() === true) {
sad ().stop();
beAwesome();
}

Saya pun bergegas mempersiapkan diri. Karena mbak Heni masa itu sudah tes di bulan Januari, saya pun menanyakan sedikit bocoran soal apa saja yang telah dikerjakan kemarin. Akhirnya beliau memberi tahu bahwa soal dibagi menjadi beberapa kategori. Dan dari situlah saya mulai belajar ngebut menyoal coding juga teori-teori dari beberapa kategori yang dimaksudkan tadi, supaya score yang saya dapat bisa masuk kriteria a public participant nantinya.

Karena awal tahun 2019 ini saya targetkan untuk ikut lomba blog pada awalnya, alhasil belajar untuk tesnya hanya beberapa hari saja. Maaf, anda telat memperebutkan jadwal jadi orang sibuk. Sekali lagi maaf, koding-kodingan! Setelah posting beberapa artikel lomba yang sudah ngantri jadwal publikasinya. Sejak tanggal 9 Februari akhirnya saya mulai berperang dengan berbagai macam teori. Dimulai dari tes skolastik, teori desain, bisnis, dan java string (yang asli gila parah, tapi penasaran), semua bikin mata saya hampir melek selama 24 jam non stop sampai siwer. Maklum saja, kuliah saya tak ada sangkut pautnya dengan kode-kodean. Hanya dengan bismillah dan modal pernah edit-edit html blogger templates saja, akhirnya saya bodo amat sama resiko mata jereng. Yang penting kebut, jangan sampai benjut.

(bersambung...)

Thoughts: Ingin Punya Rumah Sendiri


Sebelumnya, saya ucapkan Selamat datang Tahun keberuntunganku, 2019. Shio Monyet akan bernasib lebih beruntung dari shio-shio yang lain, dan siapa saja para anggota Shio Monyet yang menikah dengan orang setengah baya di tahun ini maka nasibnya akan lebih berjaya. Aamiin. Itu menurut ramalan tanggalan china sih, mau percaya apa enggak, semua bergantung dengan ikhtiyar. Seberapa dekat kita dengan Tuhan, sampai Dia rela memberikan keberuntungan yang begitu banyak kepada manusianya. Semoga ramalan itu benar diberikan Allah kepada seluruh makhluknya, tak terkecuali saya. Dan semoga ibadah ini makin bertambah dan makin dekat dengan-Nya. Bukan kembali ke Rahmatullah loh ya, belum siap saya-nya, plis. Urusan Utang Piutang dan tanggung jawab saya sebagai seorang manusia penghuni jannatullah belum semuanya terlunasi dengan baik. Semangaaaat! Saya adalah salah satu dari jutaan manusia yang masuk kategori Shio Monyet, katanya.

Uang telah memotivasi orang untuk beribadah

Jujur, saya selama ini hidup cuma numpang di negara orang, di tanah orang, dan di rumah orang. I know, semua harta benda di dunia ini (dunia dan seisinya) adalah milik Allah, tapi kalau lagi hidup di dunia macam sekarang kan semuanya serba diakui sama manusia. Jangankan sepetak rumah, hutan pun terkadang masih ada saja yang mengakui bahwa itu miliknya. Begitulah dilema yang sedang mengarungi batin saya. Jaman sekarang, tidak ada lagi yang sanggup tidur di bawah pohon atau rumah kayu yang masih bocor. Semua orang berusaha keras untuk bisa hidup layak. Saling memaksa diri untuk bisa mendapatkan apa yang diinginkan, termasuk saya. 

Dari pagi sampai malam, sampai adzan shubuh lagi, masih berusaha untuk tetap menghasilkan pundi-pundi rupiah. Kenapa? Karena untuk beribadah sekecil apapun saja sekarang harus dimotivasi sama uang. Kerja adalah ibadah, kerja menghasilkan uang, uang telah memotivasi orang untuk beribadah. Betul? Oh bukan ya. Lalu bagaimana? Kita kerja mendapatkan uang, uang untuk hidup, dan hidup untuk beribadah kepada-Nya. Sudahkah saya beribadah? Saya pun masih menghitung-hitung, sambil merogoh diri ini. Intinya, hari ini dan seterusnya, uang itu dibutuhkan.

Back to the topic, jaman now jangan disamakan dengan jaman dulu. Dulu, orang masih bisa makan walaupun tak punya uang, dulu orang masih bisa kemana-mana walaupun tak punya uang, dulu orang masih dihargai walaupun tak punya uang, dulu orang tetap berkarya walaupun tak punya uang, dan dulu orang masih ikhlas membantu walaupun tak punya uang. Sekarang? Silakan dijabarkan sendiri. Pulsa saja masih dibeli pakai uang kok. Voucher? Nilainya uang juga kan. Beli rumah? Apalagi!

Rumah kita adalah Surga yang kita punya



Sebagai orang yang tak mengharapkan sepeserpun, bahkan memang tidak ada jatahnya untuk menerima warisan dari manapun (baik nenek, nyokap maupun bokap, karena mereka semua miskin secara materi, warisan saja tidak ada, bayangkan!), saya dituntut untuk bekerja keras lebih dari orang kebanyakan. Kadang saya merasa lelah juga, tapi mau bagaimana. Segala sesuatu katanya butuh perjuangan dan pegorbanan, butuh usaha lebih untuk mendapatkan yang lebih. Sedangkan ijazah perguruan tinggi saja saya tidak punya. Saya hanya perempuan biasa saja. Masih ndeso dan hanya punya bonus pengalaman yang bejibun.

Dari dulu, saya masukin rumah sebagai wishlist di setiap tahun. Supaya apa? Supaya saya ingat, ternyata saya, nyokap dan nenek membutuhkan itu semua. Ternyata saya masih hidup dalam bayang-bayang santet rumah tua yang hampir setiap hari meneror segala aktifitas yang ada di rumah. Kalau dibiarkan begini terus bagaimana saya bisa jadi manusia yang attitude dan segala keberuntungannya lebih maju dan berkembang? Saya rasa tidak ada sama sekali.

Di usia nenek dan nyokap yang semakin menua, saya hanya ingin merealisasikan impian kita bersama. Memiliki rumah yang layak untuk dihuni. Karena sesungguhnya rumah kita adalah surga yang kita punya.

Konsep rumah yang saya inginkan

Sebenarnya saya bukan tipe orang yang neko-neko. Cukup rumah panggung dengan taman yang luas juga tetangga yang baik hati seperti rumah-rumah yang disajikan dalam drama-drama Malaysia, rasanya sudah cukup. Tapi hidup di Indonesia menjadikan saya lebih serakah. Saya ingin punya rumah agak gedongan, karena saya sudah lelah dengan segala remehan manusia ketika tahu, oh jadi itu rumah kamu. Gubuk derita ya? Fine.


Saya jadi pengen punya rumah sendiri, pengen beli dengan hasil kerja keras sendiri, pengen punya rumah dengan konsep perumahan gitu tapi saya tidak pengen tinggal di perumahan. Entahlah, ada yang kurang menurut saya. Mungkin kurang bisa interaksi dengan tetangga macam drama-drama melayu yang asyik. Mungkin, tapi saya juga belum tahu takdir berbicara seperti apa nantinya.

Daridulu, saya lebih suka konsep rumah yang asri. Ada taman di depan, di samping dan di belakang. Saya pun tidak menginginkan rumah dua lantai kecuali memang lahannya kecil. Saya lebih suka konsep rumah yang lebar. Bukan berarti sok kaya mau beli tanah bermilyar hektar. Emang mau bangun perkampungan? Saya cuma pengen yang sesuai sama hati nurani. Karena ini rumah, untuk ditinggali, bukan satu atau dua kali tapi untuk selamanya sampai akhir hayat nanti. Makanya saya ingin konsep yang pas dan sreg dengan permintaan hati. Biar mood bagus, kerja dan beribadah lainnya makin sigap dan semangat. Orang lain yang datang pun merasa nyaman. Itu yang saya pengen.

Punya pagar rumah kayu yang gede dan shabby chic desain interiornya

Untuk tampilan sendiri, saya ingin memiliki rumah yang pagarnya tinggi gede. Selain untuk menjaga keamanan, saya juga ingin memiliki kenyamanan dalam membina rumah tangga, terlebih soal privacy. Entahlah, saya orangnya lebih suka yang tertutup gitu. Ditambah pengalaman mengerikan pernah terjadi dalam rumah lama, rasa-rasanya saya semakin semangat merealisasikan rumah baru yang berpagar gede tinggi.


Untuk desain sendiri saya ingin dekorasi cat gaya Swedia dari abad 18, Chateau di Perancis, serta Shakers di Amerika yang mementingkan kesederhanaan dan kepolosan pada desain. Warna putih cream untuk dinding rumahnya, shabby chic ala-ala segala furniturnya. Sofanya gede empuk bukan berarti yang keras busanya. Saya pengen itu semua. Supaya apa? Supaya rasa nyaman berkeluarga bisa saya rasakan. Sudah cukup penderitaan yang selama ini saya hirup layaknya oksigen. Keluar masuk tidak jelas, bikin ibadah maju mundur berputar-putar seperti gangsing.

Ya, semoga Allah tetap memeluk harapan ini sampai tiba waktunya. Semoga tidak sampai setua perkiraan. Deadlinenya tidak lama lagi, jadi harus kuat ibadah dan cari rejekinya. Mangatse! Menjemput rizqi di tahun 2019. Semoga rumah ini bisa direalisasikan di tahun ini. Aamiin. Bi ridlaallah.

NB: mohon maaf kalau ada tulisan yang kurang berkenan di hati anda, sesungguhnya ini bukan untuk dibagikan, tapi hanya sebagai catatan dan history perjalanan hidup yang saya capai. tidak ada salahnya, bukan? sekali lagi mohon maaf. 

Tabik,

Rindu Emak

rin·du a 1 sangat ingin dan berharap benar terhadap sesuatu: memiliki keinginan yg kuat untuk bertemu (hendak pulang ke kampung halaman) ke·rin·du·an n perihal rindu; keinginan dan harapan (akan bertemu), begitulah kiranya makna rindu dalam KBBI. 

Lebaran tahun kemarin, aku masih bisa menginjakkan kaki di rumah yang penuh dengan gumpalan tanah liat itu. Aku masih bisa mencicipi buah labu kuning yang menggelantung di bawah rimbunnya dedaunan yang berduri tipis di belakang rumah. Aku masih bisa menikmati gulai bebek yang disembelih sendiri. Dan aku masih bisa memeluk dua pahlawanku, ibu dan emak. 

Dulu waktu aku masih kecil, aku sering mendengarkan dongeng sebelum tidur; menceritakan hidup di zaman penjajahan, menikah di masa pra-kemerdekaan, bertani di bawah tekanan yang mengasyikkan, semua terdengar haru dan senang. Aku memeluk tubuh emak yang gembul. Lalu tertidur dengan posisi bibir yang masih tersenyum. 

Kulit emak lebih bersih dan putih. Kuning langsat macam buah timun suri. Bening berkilau, tapi sayangnya dia pernah terkena penyakit kulit yang namanya pathek, hingga akhirnya membekas di tangan dan kaki macam buah keriput. Hidung mancungnya terkena penyakit polip, oleh karenanya sampai sekarang batang hidung dia tak nampak (kecuali ujungnya) karena keropos dan menghilang. 

Emak, ingat sekali waktu dia memasak sayur. Bumbu rempahnya lengkap sekali, sampai aku pun tergila-gila makan dua tiga kali. Dia ketawa sambil tersenyum, mengharap aku lebih cepat besar. Karena ia ingin melihatku jalan berdua dengan ibu. Serasa ia melahirkan dua kali, dan aku menjadi anak bungsu kesayangannya. 

Tiap kali ibu melarang membeli es krim, dengan hati-hati emak keluar lalu masuk lagi dengan membawa tiga es krim untuk kami. Aku sedih ketika emak mulai tak suka dengan ibu. Aku menangis ketika emak membentak ibu, tapi aku lebih sedih lagi ketika ibu juga tak suka emak, dan mulai marah-marah dengan emak. Serasa tak pantas dipertontonkan di depanku.


Emak berhati lembut selembut sutera. Ibu berhati keras sekeras batu. Tapi di suatu hari, mereka menjadi pelengkap kebahagiaanku di saat aku mulai merasa sedih dengan hal lain. Mereka memperhatikanku, seolah mereka adalah ayah dan ibu. Yang satu bekerja keras demi menghidupi kami bertiga dan yang satu lagi berperan sebagai ibu yang selalu mengayomi. 

Emak tak pernah belajar agama secara formal, pendidikan umumnya pun tak pernah ia sentuh. Ia cacat sejak muda. Ia anak paling bungsu yang paling menderita. Kakak-kakaknya semua sukses menjadi pilot, pedagang, pebisnis dan guru. Hanya karena sakit, ia tak pernah berkesempatan mendalami ilmu umum maupun agama. Ilmu agama yang ia tahu hanya sebatas yang ia pahami dari orang tuanya, pengajian di masjid, dan praktikum secara sosial dan kemanusiaan. Hanya keturunannya lah yang bisa ia andalkan. Termasuk aku. 

Hari ini, aku merasa lelah sekali. Perjalananku ternyata jauh juga. Aku mencoba berdiri sekuat tenaga, menggerakkan kaki untuk berjalan, aku terbujur kaku. Aku rindu pelukan emak, aku rindu menyaksikan perjuangan ibu. Aku rindu rumah kecilku, aku rindu semuanya. Rindu masa di mana aku masih menjadi anak kecil yang tak tahu apa-apa dan ingin tahu segalanya. 

Emak, semoga engkau diberikan kesehatan. Semoga Allah memberikan umur yang panjang, supaya engkau bahagia melihat cucu dan anakmu bahagia. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, dan semoga kita bertemu lagi nanti di surga. Aku rindu memelukmu, dan sungguh aku sangat rindu. 

Salam hangat dari cucu cantikmu, 
29/06/18 Cory.

Kejahatan Menjelang Bulan Ramadhan

Sumber: kaskus.
Pembunuhan, pengeboman, pemerkosaan, kemalingan, kecopetan, kerampokan, semuanya sedang berlangsung dengan noraknya di akhir bulan menjelang Ramadhan ini. Sumpah sakit hati pakai banget kalau harus berulang kali mengingat kejadian yang tidak memanusiakan manusia semacam ini.

Bagaimana tidak? Orang yang tak tahu menahu bahkan tidak berdosa dijadikan korban aksi kejahatan mereka dengan seenak jidatnya. Dan mereka pikir itu semua "halal" demi niat yang saya nggak tahu lah otak mereka itu isinya apa. Jancuk! 

Entah kenapa saya sampai mengeluarkan kata kasar. "Ingin ku berkata lebih kasar, tapi ku ingat bahwa diriku tak serendah mereka, jadi calm down beibeeh." Mohon maaf ya gaes, kalau sebelumnya saya sempat misuh. Hehehe.

Ya, tebakan anda benar. Saya habis kena musibah. KECOPETAN. Agar lebih dramatis lagi, saya harus capslock + bold. "GUE KECOPETAN GAEESS". Entah saya yang terlalu drama atau ya whatever lah. Harga/nilainya nggak seberapa. Tapi perjuangannya terus menjadi kenangan.

Mau lanjut baca cerita saya nggak? Oke, lanjut ya..

Jadi gini. Tadi pagi, sekitar pukul 09.00, saya naik kereta dari Lenteng Agung, karena kebetulan saya lepas nginep di Ciganjur, rumah kakak kelas, senior sekaligus dulur dewe (nganggapnya gitu). Niatnya biar nggak kejauhan (kalau dari Ciputat) dan memilih untuk lebih irit. Ya, biasa lah. Itung-itung bisa beli ini itu pas di rumah. Oh iya lupa belum ngasih tau. Saya mau pulkam gaess, ke Surabaya. Naik kereta dari Stasiun Senen, dan dijadwalkan berangkat pukul 02.00 siang. Jadilah saya berangkat naik gojek dari lokasi ke stasiun lenteng agung, dan dari lenteng agung turun Manggarai. Abis Manggarai transit ke Jatinegara. Nah pas di Jatinegara ini saya sempat buka hape, karena harus balas whatsapp dari keluarga dan soal kerjaan.

Fyi, saya pakai sling bag yang berisi hape+powerbank+uang, dan perintilan kecil (semacam obat-obatan), bawa ransel di punggung, bawa tentengan buat ibu di tangan kanan, dan laptop di tangan kiri. Bayangkan, betapa rempongnya saya. Tadinya tak ingin ku membawa apa-apa biar nggak berat. Tapi saya udah terlanjur ada janji meetup dan gathering nantinya (besok tanggal 18 Mei). Jadilah saya bawa perlengkapan baju+makeup+dll. Ini yang sebenarnya bikin rempong. Laptop berat, tapi mau tak mau karena menyoal kerjaan jadi harus dibawa. #beratbebanhayati

Asli, nggak ada ragu atau apasih dari awal. Fine-fine aja, tidak ada firasat apa-apa. Hanya pas mau turun di stasiun Senen, saya merasa ada bapak-bapak yang kurus tua, berpakaian putih lusuh mendekat ke belakang saya. Saya pikir dia mesum. Akhirnya saya menoleh ke belakang dan saya pelototin mukanya. Wallahi, ya Allah sedih banget gue. Saya benar-benar nggak su'udzon maling sama sekali ke itu bapak. Karena posisi juga kan lagi padat penumpang, jadi saya anggap ya wajarlah.

Saya yang rempong dengan segala benda yang melekat di tubuh ini keluar dengan semangatnya, karena sudah satu tahun saya nggak pernah ketemu ibu dan nenek, jadi yang kebayang di pikiran saya adalah rumah. Lagi-lagi rumah, rumah dan rumah. Ya, karena rindu dalam diri ini sudah sangat tidak bisa ditahan, jadi suntikan semangatnya ya harus pulang kampung.

Setelah keluar, akhirnya saya menuju ke lokasi mesin cetak tiket. (Sebelumnya saya memesan via tiket.com jadi alhamdulillah cepat banget konfirmasinya). Di sinilah saya baru sadar bahwa handphone beserta uang saya hilang. Nothing,, nothing,, nothing.. Berulang kali saya cek tas, ransel, semuanya. Hasilnya nihil. Astaghfirullah, saya mengucap istighfar banyak-banyak. Saya ambil hape nokia kecil, saya belikan pulsa 30,000 di indomaret, lalu saya nelpon teman dekat saya yang alhamdulillah ada di kontak handphone yang sudah lama tidak beroperasi itu. Ya, Annabella. Thanks bel udah sangat-sangat membantu.

Saya nangis sesenggukan, nggak peduli sebanyak apa orang ngeliat. Yang ada dalam bayangan, pikiran saya adalah perjuangan beli hapenya. Terus baru-baru ini hape saya juga habis ganti LCD 350,000, ganti baterai 150,000, ganti lubang konektor charger 50,000, beli powerbank dan seperangkatnya 200,000. Ya Allah, shock banget rasanya.


Inilah penampakan hape gue yg hilang karena dicopet:(
Saya kuliah pagi sampai sore, kerja di event BBW jam 22.00 malam sampai 06 pagi selama 2 minggu, yang gajiannya juga telat 1 bulan setelah event. Demi bisa bayar kosan, beli makan, sama beli hape. Rasanya pengen meledakkan jantung. Tapi lagi musim teroris jadi saya nggak mau jadi teroris untuk diri saya sendiri. Saya mencoba untuk sabar, alhamdulillah lumayan. Akhirnya saya makan 1 buah pear untuk membasahi kerongkongan yang sedari tadi udah kering. 

Berkali-kali nelpon Annabel untuk segera dipesankan grab car/ go car. Saya ingin kembali ke Ciputat, ingin merebahkan diri pada kasur lusuh kosan, ingin bercengkerama dengan Allah. Ingin mengadu, mungkin bapak itu lebih butuh daripada saya. Hatiku nangis sekencang-kencangnya. Semua hal yang saya dapat selama ini benar-benar butuh perjuangan ekstra, hal sekecil apapun itu. Makanya, kalau kehilangan rasanya pengen nangis. Ya, nangis aja. Intropeksi, mungkin ada yang salah dalam diri saya, makanya Allah mengambil nikmat-Nya untuk saya.

Dari sini, saya langsung mikir ke rumah. Bayangan saya ada di depan ibu, nenek, yang sedang sakit merindu, sakit jasmani dan rohaninya, yang udah renta, yang sudah lama menanti anak, cucunya. Tapi apa, saya gagal pulang kampung. Mau saya ubah jadwal kepulangannya tapi waktu tidak mendukung, saya sudah terlambat. Astaghfirullah, lagi-lagi saya istighfar.

Akhirnya saya memutuskan untuk naik grab car, dari stasiun senen ke ciputat. Sebisa mungkin saya harus berusaha ketemu teman-teman saya agar saya bisa semangat. Dan alhamdulillah, akhirnya saya bisa nulis postingan ini sampai tuntas di asrama yang penuh cerita ini.

Pelajaran yang saya dapat, begini rasanya kehilangan sesuatu yang amat berharga, penuh perjuangan, jadi banyak hal yang perlu diqiyaskan, agar tidak ada lagi diri dan orang lain yang tersakiti karena merasa kehilangan.

Welcome, Ramadhan!
Semoga Allah selalu mengampuni dosa-dosa kita, memberikan segala rahmat-Nya, menyertakan pertolongan juga perlindungan untuk kita semua. Selalu menguatkan iman kita, meneguhkan rasa kemanusiaan dan kebajikan kita, hingga kita meninggal dalam keadaan khusnul khotimah. Amin Amin, Ya Robbal 'alamin.

Di bulan yang penuh berkah barokah ini, marilah sama-sama menggali amal kebajikan, bukan keburukan. Yakin, bahwa Allah selalu ada untuk kita. Seberat apapun cobaan yang diberikan, semua pasti ada solusinya. Pilih solusi yang baik, agar membuahkan hasil yang baik pula. Allah, rasanya deg-degan campur shock. Kenapa menjelang bulan yang penuh ampunan ini masih ada saja orang yang berani berbuat jahat kepada sesama? Sedih rasanya.

Susahnya Mengendalikan Emosi dan Akibatnya

Source pict: merdeka.com
Emosi, emosi, dikit-dikit emosi. . .
Jadi stress nggak sih? Bangeeeet!

Pernahkah kalian merasa bahwa emosi kalian sedang tak terkendali? Atau pernahkah kalian melihat teman kalian yang emosinya meluap-luap macam tsunami? Kalau tidak pernah sama sekali berarti kalian beserta lingkungan adalah  sekumpulan orang-orang yang hebat. 

Jika kalian merasa pernah meluapkan emosi kalian, atau pernah melihat teman kalian sedang emosi, apa yang kalian rasakan? Sebenarnya, kenapa sih manusia itu butuh emosi? Haruskah emosi itu ada?

Listen, menurut buku psikologi yang saya baca, perbedaan antara perasaan dan emosi sangatlah besar. Ya, memang beda. Perasaan sendiri merupakan suatu keadaan di mana manusia itu menganggap ada sesuatu yang bersifat rohani dalam jiwa mereka, yang menimbulkan adanya "rasa". Itu secara universal. Sedang emosi adalah rasa yang tengah diekspresikan dengan sikap yang masih berhubungan dengan sebuah gelombang otak dan hal-hal biologis lainnya. Jadi, kalian sudah tau kan perbedaannya?

Emosi bikin sakit hati.

Pernah nggak sih kalian merasa bahwa setelah meluapkan emosi yang begitu menyeramkan seketika malu dan menyesal? Kalau saya sih yess! Memang, suatu keadaan di depan mata yang mana jika tidak sesuai dengan persepsi benar menurut kita bisa jadi menyebabkan emosi. Tapi, tidakkah bisa dikendalikan dengan hal-hal baik lainnya? Ya, cukup ngomong di hati saja misalnya.

Seperti contoh kecil:
Ketika saya pulang kerja part time, menjelang tengah malam, saya mendapati alat mandi saya hilang tanpa bekas. Tak lama kemudian muncullah wajah teman saya dengan wajah murung, lalu tanpa basa-basi sedikit pun dia menaruh alat mandi saya di depan kamar lalu meninggalkannya tanpa ada sepatah kata pun yang terucap dan tetap memperlihatkan wajah murung. Setelah saya mandi, saya mendapati shampoo saya yang habis, sabun mandi yang baru saya isi full ternyata tinggal setengah, sabun muka hilang dan tutup sikat giginya entah kemana. Tanpa basa-basi juga pun saya langsung misuh. "Cuk. .i. . mbok pikir aku babu mu opo, mbok pinteri sak karepmu." Tapi cuma dalam hati. Ya, begitulah emosi. Dicipta seketika saat diri ini merasa dikecawakan atau tersakiti.

Waktu itu, bisa jadi saya misuh di depan dia, memaki-maki dia, sebab mendapati hal-hal yang tidak saya inginkan, apalagi saya dalam kondisi lelah lalu seketika mendapatkan jamuan yang tidak mengenakkan. Tapi ternyata saya bisa sedikit mengendalikan emosi, ya meski dengan cara yang sedikit nyelekit, yaitu dikeluarkan dalam hati. Lagi-lagi, tetap saja ini emosi.

Bayangkan saja jika sampai terlontar dari mulut jahat saya, "Sudah minta tanpa izin, tidak minta maaf, dan tidak bilang terima kasih lagi. Mbok pikir aku supermarket gratisan?" Lalu adu bacot dan mungkin adu kekuatan fisik. Bisa saja saya melakukan hal itu. Tapi apa untungnya? Toh, emosi juga malah bikin kita sakit hati berlebih. Lelah hati, lelah pikiran, dan lelah fisik. Nggak enak toh? Rugi malu sudah dilihat sama teman-teman yang lain dan rugi juga sudah bikin sakit hati orang lain. Ya, akhirnya jadi sakit hati.

Mengendalikan emosi memang tidaklah gampang. Apalagi buat yang sudah terbiasa emosi, baginya mungkin sudah menjadi kebutuhan. Apa memang dibutuhkan? Ya, buat yang sudah terlatih emosi alias harus meluapkan segala amarahnya saat dirinya merasa tersakiti, saya rasa emosi memang dibutuhkan. Ibarat makan, jika sudah terbiasa makan nasi, ketika lapar; makan roti gandum yang lebih mengenyangkan pun tidak membuat dirinya merasa kenyang. Begitu pula emosi, jika belum diluapkan keseluruhan, rasanya masih ada yang kurang.

Jadilah kesedihan-kesedihan yang diakibatkan oleh emosinya, misal:

Ada satu kejadian di mana si A sebagai kakak kelas dan si B sebagai adik kelas. Nah si A ini (secara umur) bisa dibilang sudah dewasa, jauh lebih dewasa dari si B. Tapi karena si A sedang menjalankan peran sebagai kakak kelas yang ingin membaur di semua kalangan adik kelas, maka si A menyarankan si B untuk memanggil "nama" si A tanpa embel-embel kak. Bukan hanya untuk si B saja, melainkan ke semua adek-adek kelasnya. 

Tapi entah kenapa, semenjak B merasa direpotkan si A, akhirnya si B sedikit songong (you know that?) alias ngelunjak nggak sopannya kepada si A. Entah karena temperamennya si B yang memang naik turun ataukah sebab si B nya yang kurang bisa mengendalikan emosi. Jadi setiap kekesalan yang terjadi sama si B secara personal, diungkapkan secara langsung ke sembarang orang, termasuk si A sebagai kakak kelasnya.

Kecewa dong? Pasti!
"Tau gini, tau gitu. . ." banyak yang disesali jadinya.

Begitulah kiranya isi hati emosi yang bisa saya tangkap dari si A. Karena si A ini kecewa, akhirnya si A sedih. Untuk mengetahui isi hati si B saja rasanya sudah gak netral lagi. Bawaannya su'udzon terus. Saya sebagai penulis pun sedikit geram mendengar kisah yang begini. Apalagi pernah suatu kejadian, si B nelpon si A karena kesal dengan masalah pribadinya (soal kerjaan), dia meluapkan amarahnya di telpon, dan memaki-maki si A, sampai si A terdiam dan hanya bisa diam, lalu berkata, iya. . baiklah. .  hati-hati di jalan. . Berasa si A adalah Kebon tempat ia mencurahkan segala bau beraknya yang seabrek.

Maksud saya gini, kenapa si B tidak mencoba intropeksi diri, padahal selama ini banyak teman-temannya sudah memberi masukan agar tidak terlalu emosional, tapi setiap kali si A melihat dengan mata telanjang, ia menjadi pendendam karena ada yang mengkritisi. Padahal semua demi kebaikan dia dan orang lain yang ada disekelilingnya.

Kalau saja emosinya bisa dikendalikan dengan baik, mungkin tiada lagi diri dan orang lain yang tersakiti. Baik yang disengaja maupun tidak. Baik yang terlihat maupun tak kasat mata (dirasa).

Dalam hadist pun sudah dijelaskan:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَوْصِنِيْ ، قَالَ : (( لَا تَغْضَبْ )). فَرَدَّدَ مِرَارًا ؛ قَالَ : (( لَا تَغْضَبْ )). رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa suatu saat ada seorang laki-laki yang datang kepada Rasulullah saw. untuk meminta nasihat. Beliau pun bersabda, “Lâ taghdhab (Jangan marah)!” Ketika pertanyaan itu diulangi, Beliau pun memberikan jawaban yang sama. (HR al-Bukhâri)

Dengan demikian, menahan marah merupakan akhlak terpuji yang diperintahkan. Sebagai balasannya, pelakunya dijanjikan mendapat pahala yang amat besar. Sahal bin Muadz, dari Anas al-Jahni, dari bapaknya, menuturkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:

مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ يَسْتَطِيعُ أَنْ يُنَفِّذَهُ دَعَاهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ فِي أَيِّ الْحُورِ شَاءَ

“Siapa saja yang menahan marah, padahal dia mampu melampiaskannya, maka Allah akan memanggilnya pada Hari Kiamat di atas kepala para makhluk hingga dipilihkan baginya bidadari yang dia sukai." (HR at-Tirmidzi, Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Kesimpulannya adalah, ketika kita merasa kecewa, merasa disakiti sama orang lain, mari mencoba membalas kejahatan orang tersebut dengan kebaikan. Siapa tahu, kebaikan yang kita beri bisa merubah satu tetes kejahatannya menjadi sebuah kebaikan pula (kepada kita dan orang lain). Jangan balas mereka dengan luapan emosi yang menggebu-nggebu, karena tidak akan ada manfaatnya. Coba kita pikir, jika kita emosi, justru malah merugikan diri kita sendiri. Sudah malu, dilabelin pemarah, dan parahnya lagi emosi bisa menjadi kebiasaan bahkan menjadi kebutuhan. Jadi makin susah terkendali. (na'udzubillah min syarri dzalik).

Tambahan Kultum, pelajaran hidup:

Jika kita masih belum mampu merubah diri kita dengan sempurna, cobalah membantu merubah orang lain, siapa tahu Allah akan merubah kejelekan sifat kita menjadi kebaikan yang akan terus bermanfaat bagi sesama.

Selamat menjalankan Ibadah Puasa, dan selamat mencoba mengendalikan emosi kita. Karena satu teriakan mematikan dari mulut kita sama halnya membunuh ribuan manusia tak berdosa. :")

Sebelum kita menyakiti diri dan perasaan orang lain, mari mencoba memposisikan diri kita sebagai mereka. Mungkinkah mereka tak merasa disakiti jika kita secara tidak sengaja menyakiti? #JelasAtiLoro

Ternyata Gue Egois !


Entah udah takdirnya orang introvert atau bagaimana, gue dari kecil udah dibilang judes karena tampang gue yang standar dan jarang senyum. Gue jarang nyontekin orang yang 'bego' (maaf!) saat ujian, karena menurut gue mereka terlalu ngelunjak. Udah nyadar dirinya gak bisa tapi masih dibiarin begitu saja, nggak ada usaha apa-apa. Menurut lo? (kecuali mereka mau belajar bareng sama gue; iya karena gue bukan orang yang pelit soal berbagi ilmu, tapi kalo nyontek? What the?) Iya, dari sini lo bisa nebak kalo gue memang egois.

Tapi gue yakin, setiap orang pasti punya alasan yang kuat kenapa mereka sampai sebegitu egoisnya. Termasuk gue. Salah satu hal yang paling gue gak suka dan bikin gue jadi egois adalah ketika ada orang yang ngetok pintu kamar terus-terusan padahal sebelumnya udah gue bilang kalo gue lagi nutup kamar berarti gue gabisa diganggu, tapi dianya masih terus ketok pintu dan pas gue bukain ternyata cuma bercanda gak jelas. Itu yang paling gak gue suka. Seperti halnya, gue lagi mikir keras buat nulis, lagi serius-seriusnya ngerjain tugas, tiba-tiba ada yang teriak sok asyik sendiri di depan gue, terus ide gue jadi hilang karena gagal fokus. Hal kayak gitu yang kadang bikin gue jadi makhluk egois.

Pernah mikir nggak sih lo, betapa kesalnya orang yang lo ganggu dengan cara yang lo sendiri udah tau dianya bakal kecewa berat, dan lo seneng ngelakuin hal kayak gitu. Wajar, kalo orang yang lo sakitin bakal egois ke lo. Harusnya lo lebih intropeksi diri dibanding men-judge mereka sebagai orang yang egois.

Gue juga kesel ketika ada yang nanya gue, "eh, pram gimana sih cara bikin blog? ajarin dong jangan pelit, masa sama temen sendiri pelit sih, takut kesaingan ya?" Eh, ngapain gue takut kesaingan? Toh ngeblog bukan buat diunggul-unggulkan. Gue nulis apa adanya, apa yang pengen gue tulis ya gue tulis, enggak ya enggak. Kalo ada yang mau baca dan suka ya alhamdulillah, kalo nggak ya terserah. Terus gue juga udah jawab kalo semua tutorial ada di blog gue, link udah gue kasih, dan mereka masih maksa gue buat ngajarin. Eh lo, generasi tutorial masa nggabisa manfaatin tutorial gratis yang ada! Fine, ternyata gue masih ikhlas buat ngajarin offline ke mereka. Tapi, ketika gue tanya keseriusannya, semua menghilang seolah cuman wacana doang. Hello, kayak gini lo bilang gue yang egois, nggak mau ngajarin lo? Hei lo, nyadar? Belajar otodidak nggak mau, mintanya disuapin dan disodorin mulu, tapi bisa-bisanya nge-judge orang dengan sebutan egois. Ngomongin orang itu sampe mulut lo berbusa-busa, padahal orang lain belum tau kebenarannya (antara lo dan dia). Itu yang bikin gue kesel dan kadang menjadikan gue sosok yang egois, yaudahlah ya mending gue ngurusin hidup gue sendiri, daripada ngurusin lo yang ujungnya gue cuman jadi bahan cibiran dan fitnah lo. Sepakat!

Kalo dipikir-pikir, menjadi orang introvert lebih menyenangkan ya dibanding orang yang sok asyik sana-sini tapi secara tidak sadar dia telah nyakitin hati orang. Orang introvert lebih memilih diam ketika dirinya sakit hati, palingan nge-diemin orangnya supaya orang itu intropeksi diri dibanding nerocos sana sini, gibahin orangnya, terus di depan orangnya harus berpura-pura, hi, i'm fine with you karena mau ngambil keuntungan dari orang itu. Hei, menurut lo?

Hari ini mood gue emang lagi nggak bagus. Dibanding gue ngomongin orang ke orang, mending gue nulis di sini. Gue gak nyebut siapa orangnya, siapa pun yang ngerasa pernah nyakitin hati orang, semoga menjadikan tulisan ini sebagai intropeksi diri, ya termasuk buat gue. reminder my self! Semoga kalian paham, orang yang egois itu pasti punya alasan kenapa dia sampai begitu. Kalian setuju dengan statement gue yang begini? Sudahlah, mari kita saling memperbaiki perilaku kita masing-masing, sehingga tidak ada yang egois dan tidak ada yang tersakiti.

xoxo,

Hargai Orang Lain, Jika Ingin Dihargai yang Lain!


Berawal dari tulisannya kak Gitasav yang berjudul "Generasi Tutorial", gue jadi ikutan ngeluarin uneg-uneg. Memang benar, nggak semua orang Indonesia-generasi muda seperti apa yang disebutin kak Gita di sana dan seperti apa yang gue sebutin di sini. Tapi kebanyakan memang begitu adanya. Generasi baru-baru ini; Generasi Tutorial. Setuju! Gimana enggak? Apa-apa yang dulu bisa kita dapat hanya dari legenda, mitos, cerita rakyat, ngumpul bareng keluarga, wejangan orang tua, kini berubah drastis menjadi member google dan om youtube. Bahkan lebih dipersempit lagi, mengandalkan jawaban dari orang random di sosial media. Lo pikir mereka?

Gue juga kadang ngerasa sedikit "ehm" kalo ada pertanyaan-pertanyaan konyol di tahun melek teknologi seperti sekarang ini:

"Cor, kok bisa sih kamu ngedit foto kayak gitu, gimana caranya?"
"Cor, gimana sih cara bikin blog gitu? Susah nggak sih?"
"Cor, lu kok bisa suka nulis sih? Emang suka baca juga?"
dst.. dst..

Omo omo, nggak tau internet ya? Google? Bing? Yahoo? AOL? Ask? KASKUS? 
Nggak tau kak! OMG, Jebakan banget buat gue! Hari gini gitu loh, masa iya masih ada aja yang nggak tau internet. Kecuali bapak-bapak kudet atau nenek-nenek masa kini yang udah lama hidup lebih sebelum Indonesia merdeka, mungkin saja mereka nggak tau apa-apa. Nah kamu itu loh, hidup nggak dikurung di dalam kandang doang kok ya bilang nggak tau internet. Atau mungkin tau tapi nggak ngerti fungsinya? Alah. 

Kadang gue ngerasa bersalah juga ketika ada yang nanya tapi jawaban gue cuma "Cari aja di google". Harusnya lo juga sadar, kalo lo itu bukan kucing, yang harus dikasih ikan karena nggak bisa mancing sendiri di empang. Kalo lo emang sadar bahwa otak lo butuh jawaban atas pertanyaan yang emang lo belum tau, ya lo harusnya nyari, usaha dulu. Setidaknya ada inisiatif 'Oya, cari di google dulu deh, siapa tau ada'. Kalau emang bener nggak ada, baru tuh nanya ke orang yang menurut lo bisa ngejawab pertanyaan yang menurut lo rumit.

Saatnya Perangi Rasa Malas Dengan 5 Hal Menarik

https://corryus.blogspot.com/2016/12/saatnya-perangi-rasa-malas-dengan-5-hal.html

Saatnya Perangi Rasa Malas Dengan 5 Hal Menarik - Hari ini adalah hari berlangsungnya sebuah tragedi besar. Selain sebagai hari persiapan untuk menyambut hari penting "Maulidur Rosul SAW" tanggal 12 Robiul Awwal / 09 Desember 2016 Senin depan dan Hari Ibu tanggal 22 Desember 2016 minggu depan, gue pengen ngasih tau ke kalian bahwa sejak satu hari yang lalu a.k.a kemarin, gue sedang melakukan perang besar kepada sekutu [diri gue sendiri].

Selama ini [for three month], kerjaan gue cuma kuliah pulang [repeated 🔄]. Kebiasaan baca buku gue [novel dan sejenisnya] berkurang, bahkan hampir punah. Jadwal nyuci baju gue tertunda, sholat gue ngaret [you know ngaret kan? Ah, memalukan!], bahkan blog gue yang ini nih cuma jadi pajangan macam souvenir nikahan. Produktifitas gue cuma ngerjain tugas kuliah. Essay, Paper, Slide Share, Videos, Photo Edit. Ah, menggeramkan memang. Gue semacam robot yang di remote sama kegiatan kampus. Terkadang juga bolos kuliah, hanya gara-gara kesal sama diri sendiri. Sepele tapi benar-benar bikin sakit hati.

Mulai kemarin, gue intropeksi diri. Gue ngerasa ada yang nggak beres dengan diri gue sendiri. Apa sih penyebab gue malas selama ini? Jangan bilang ini bawaan dari lahir. Gue gak sejelek itu kok. Dulu gue juga sering memenangkan penghargaan murid paling rajin dan disiplin. Jadi wajar dong kedisiplinan gue sekarang bisa dibilang sudah hampir punah. Ah, bokis dikit nggakpapa kan? Tapi gue nggak sehebat itu juga sih. Hehe 😂 Gue mah, biasa aja. Nah loh? Wajar dong kalau sekarang jadi malas? Bukan, bukan begitu maksudnya. Ah, gimana sih!

Oke, lalu gimana sih caranya agar gue bisa produktif lagi a.k.a no lazy time?

Kalau kalian salah satu dari orang yang tipe nya seperti gue, atau lebih tepatnya sekarang lagi males. Coba deh maping dari sekarang. Hajar dan hayo kita perangi rasa malas yang membandel. Jangan mau kalah sama malas, karena dia bakal bikin kita jadi bangkai hidup. Kalau kata pepatah "La Yamutu wa La Yahya", diplesetin maknanya jadi "badan nggak mati tapi ngabisin biaya". Ngeselin juga kan hidup tak menghasilkan perubahan apa-apa.

So, mari ikut saya ke alam gaib! Wheleh, maksudnya ikuti tips saya. Ini khusus buat kalian yang se-tipe ama saya ya. Yang beda kasta, beda tipe, atau beda tingkatan dilarang baca! Eh, becanda. Kebanyakan ngocolnya juga ya nih orang. Well, begini. Buat kalian yang memang pada dasarnya punya passion, suka [hobi] menulis kemudian secara tiba-tiba terserang penyakit malas dan nggak produktif lagi. Ini dia tipsnya agar kita berhasil memerangi rasa malas:

1. Baca Novel atau Komik

Karena permasalahannya selama ini cuma gara-gara salah fokus a.k.a ngerjain tugas kuliah melulu, mulai sekarang mari ke dunia imajinasi. Dunia di mana kita bisa sepuas-puasnya menikmati kegemberiaan hobi kita yang selama ini terpinggirkan. Belilah novel, kalau memang kalian suka baca novel. Kalau enggak novel ya komik, kalau nggak ya buku apa aja kek [humor atau buku belajar do'a-do'a misalnya], pokoknya tergantung selera dan di luar buku kuliah deh, biar kalian nggak bosan. Karena sesungguhnya kebosanan adalah suatu hal akan memicu lahirnya kemalasan, jadi jangan beli buku yang udah bikin otak kalian bertambah sumpek dan ruwet.

Dan ini menjadi hal yang sangat penting. Kenapa? Karena, dengan membaca tulisan yang ada di dalam buku lalu kita paham atas apa yang kita baca [karena suka], setidaknya kita telah berusaha mengurangi beban kemalasan yang ada dalam diri kita. 

2. Mencuci Baju

Kalau kalian punya pakaian kotor yang numpuk, please deh jangan sok-sokan bawa ke tukang laundry mulu. Kasih kesempatan juga buat mereka biar nggak terlalu berat mengemban beban nyuci-jemur-nyetrika🔄Kalau kalian masih punya tangan sama badan yang fit kenapa harus ke tukang cuci? Nyuci baju sendiri kan bisa. Apalagi di musim hujan begini pasti banyak alasan buat malas-malasan. Pura-pura ngantuk lah, capek lah, gerah lah, mager lah. Ah, nggak nyambung banget. Waktunya nyuci ya nyuci, jangan bilang malas jemur, apalagi bilang bosan. Ah, bener-bener gak rasional. Jadi, dengan memaksa diri untuk mencuci bajulah kita bisa setidaknya mengurangi sedikit rasa malas.

3. Bernyanyi

Nah, buat kalian yang benar-benar memiliki rasa malas yang akut, cobalah mengikuti saran saya. Bernyanyilah untuk memicu meningkatnya mood baik kalian. Karena terkadang, rasa malas itu lahir sewaktu kita sedang mengalami suatu hal yang sangat berat alias sedang 'stress'. Jadi, jika kita mencoba melawan malas dengan bernyanyi, tubuh kita akan melepaskan endorphine sehingga kita akan lebih bersemangat dalam mengerjakan sesuatu.

4. Belajar Menggambar/ Desain

Karena gue adalah tipe orang yang suka seni, dan buat kalian yang setipe sama gue, maka cobalah untuk belajar menggambar atau mendesign dalam memerangi rasa malas kalian. Karena dengan mencoba untuk menjadi orang yang produktif, rasa malas akan menghindar dan menghilang dengan sendirinya.


5. Menulis di Blog

Buat yang suka baca dan suka sharing kepada orang lain melalui tulisan, maka jangan ragu buat nulis di blog. Karena dengan nge-blog lah kita bisa sharing segala sesuatu yang bermanfaat ke seluruh lapisan masyarakat [yang bisa mengakses internet]. Jadi, dengan nge-blog juga lah kita bisa memerangi rasa malas kita agar bisa lebih produktif.

Dan itulah lima hal menarik yang menurut gue patut untuk diaplikasikan buat kalian yang setipe ama gue. Jadi, buat kalian yang nggak setipe ama gue tapi menurut kalian ini adalah cocok, maka boleh juga kalian aplikasikan ke dalam diri kalian. Karena sesungguhnya kemalasan adalah suatu hal yang patut disingkirkan, biar kita menjadi orang yang produktif dan bermanfaat untuk diri kita sendiri dan orang lain. So, mari kita perangi rasa malas yang ada dalam diri kita! Good luck!

Dulu dan Kini yang Telah Berubah


Adakalanya seseorang berhenti sejenak untuk melepas penat yang diembannya. Seperti kisah seorang teman saya yang kini sudah jauh lebih baik. Dari segi fisik, materi maupun akhlaknya jauh lebih baik sedaripada tiga tahun silam. Masa yang sungguh sangat menyeramkan. Dia bilang ingin mati dengan mudahnya. Dia bilang ingin menggadaikan dirinya sebagai pengorbanan. Dia mengutung-ngutuk orang-orang, bahkan sang penciptanya pun ikut dikutuk. Semua kuping yang ikut menyaksikan rasanya ingin menampar mulutnya yang menjijikkan itu. Tapi, itu dulu dan kini ia telah berubah.

Dulu semenjak ia bergaul dengan saya, ia selalu menghabiskan banyak air mata. Katanya saya ini terlalu beruntung. Masih diberi kekuatan untuk terus bertahan. Saya seringkali melantunkan apa yang sudah tercatat di dalam kitab suci. Seketika ia menangis, berdiam diri. Manatapku bisu, tanpa ada kata lain di hatinya kecuali ingin mendapatkan ketenangan yang serupa. Tapi ia tidak tahu bahwa jauh di lubuk hati saya paling dalam, sedang mengucur kesedihan yang tak terkira. Justru masalah yang harus saya selesaikan jauh lebih berat dibanding apa yang ia alami. Tapi saya berusaha tegar. Dan saya bahagia dengan apa yang telah diberikan tuhan.

Satu Malam Jadi Santri Legal


Dulu, ketika ditanya, "Mau melanjutkan sekolah di mana?"
Dengan serentak kami menjawab, "Di Pesantren, Pak/Bu!". Tanpa basa-basi kami sudah sok tahu bahwa pesantren adalah rumah selanjutnya yang akan kami singgahi setelah enam tahun menggerogoti ilmu di Madrasah Ibtidaiyah. Padahal faktanya belum pasti. Dulu, kami sering ketakutan. Takut azab ilahi, takut siksa neraka, takut semua hal-hal yang berdampak buruk, hingga terciptalah pemikiran kami bahwa pesantren adalah jalan yang tepat untuk penghidupan yang baik selanjutnya. Bisa diqiyaskan secara ugal-ugalan bahwa menjadi santri seperti halnya manusia tanpa dosa yang memiliki buroq (kendaraan nabi Muhammad selama Isra') untuk melanjutkan kehidupan abadinya di surga Allah setelah mengalami fase kehidupan di dunia fana'.

Yah, seperti itulah kiranya pemikiran kami. Tinggal di pesantren setelah lulus Madrasah Ibtidaiyah adalah dambaan setiap siswa yang pengen masuk surga, katanya. Anggap saja, selama belajar di Taman Kanak-kanak dan Madrasah Ibtidayah, kami hanyalah sebatas manusia yang hidup di alam dunia yang isinya penuh perjuangan (baru lahir, belajar ngaji, belajar agama yang cuma seuprit, belajar ini, belajar itu), jadi butuh kendaraan buroq untuk mencapai surga dengan cepat.

Tibalah saatnya saya mengikuti tes ujian masuk Madrasah lanjutan milik salah satu pesantren tersohor di desa seberang. Sebut saja Pondok Pesantren Qomaruddin. Salah satu pesantren yang terkenal salaf juga modern. Semasa itu, pengasuhnya masih Romo Kiyai Ahmad Muhammad al-Hanmad, putera ketiga dari KH. Moh. Sholeh Tsalis (pemangku pondok pesantren Qomaruddin sebelumnya yang memodernisasi sistem pendidikan dengan menawarkan sispen klasikal atau formal). Saya memilih Madrasah Tsanawiyah, karena selain menjadi sekolah menengah unggulan, ibu saya sangat menginginkan agar anak perempuan satu-satunya bisa studi lanjut ke Madrasah (sebelumnya juga dari Madrasah). Alasannya, biar bisa belajar agama secara mendalam. Secara, ibu dan ayah saya adalah orang yang fanatik banget soal keyakinan dan keimanan.

Dag dig dug, seminggu lamanya saya menunggu pengumuman kelolosan seleksi. Alhamdulillah, membuahkan hasil yang menggembirakan. Ibu semakin giat mencari rejeki halal. Saya pun begitu, sebagai siswi madrasah yang takut akan azab ilahi, saya selalu berharap bisa terus belajar di Madrasah agar puting beliung kehidupan buruk tidak akan terjadi. Masih teringat ketika guru madrasah saya bilang, "Adakalanya orang yang nanti hidup abadinya bahagia (di akhirat), bisa dilihat dari hiruk pikuk kehidupannya selama di dunia. Kalau dia hidup dengan kedamaian dan kebahagiaan, insyaallah di akhirat pun semacam itu." Saya sedikit tidak percaya, tapi bisa saja hal itu terjadi. Mungkin saja karena Allah selalu menyayanginya sampai ke akhirat nanti. Seperti halnya orang tua menyayangi anak-anaknya.

Kehidupan selanjutnya dimulai. Saya harus berperang demi pendidikan yang layak. Sekolah saya sudah cukup modern dan tidak terlalu salafi. Saya yakin pendidikan saya di lingkup pesantren akan balance (agama dan pengetahuan umumnya), juga menjadikan diri saya semakin tidak terkutuk seperti api neraka. Setelah beberapa minggu masuk sekolah, timbul pertanyaan dari salah satu teman, "Cory, kamu nggak jadi masuk pesantren?" Baru teringat, saya pernah berkeinginan untuk masuk pesantren tapi terlupakan. Saya terdiam. Selama ini saya asyik menikmati perjalanan angkutan umum dari satu desa ke desa seberang. Ibu pun sedang semangatnya mencari rejeki untuk anak sulung sekaligus bontotnya ini.

Satu semester terlupakan sampai ramadhan menjemput

Keinginan untuk tinggal di pesantren kandas. Ibu seringkali memendam rindu. Ia terlalu sibuk di pasar dan waktu yang diberikan cuma bisa siang sampai shubuh kembali. Terkadang saya pun memendam rasa iba, ingin rasanya membantu ibu berjualan, tapi apa daya saya harus sekolah. Gimana saya bisa tinggal di pesantren, ibu saja sendirian hanya bertemankan nenek yang acuh. Batin saya teriris, sementara saya juga ingin mendapatkan buroq seperti teman-teman saya yang jauh tinggal di pesantren luar daerah. Ku lupakan pertanyaan teman satu kelas saya, toh sama saja di Madrasah Tsanawiyah saya juga mendapat ilmu agama yang lumayan. Jadi kesempatan saya buat jadi hamba yang baik dan mendapatkan buroq masih ada.

Tak terasa, ramadhan tiba-tiba menjemput. Kami selalu riang mengingat kegiatan di sekolah semasa Madrasah Ibtidaiyah. Pesantren Kilat namanya. Kami diberi jadwal mengkaji ilmu agama dengan syarat menginap selama dua minggu di sekolah. Tapi sewaktu berbuka, kami selalu dikunjungi orang tua kami dengan berbagai buah tangan yang tersebut rantang lengkap dengan kurma, kolak, jajanan, nasi, lauk, dan sayurnya. Duh, sungguh nikmat sangat luar biasa. Berawal dari situ pula kami selalu berkeinginan untuk tinggal di pesantren. Alasannya satu, "Biar tahu bagaimana rasa dan nikmatnya merindu!"

Siang itu ibu tiba-tiba absen dari jualan. Alasanya ramadhan kurang satu hari lagi. Jadi ingin bermanja-manjaan dengan saya keluar desa. Akhirnya kami pergi ke Ramayana, anggap saja Mall di tengah-tengah pedesaan. Entah kenapa ibu membeli banyak barang terutama barang kebutuhan saya. Bukan curiga, tapi aneh. Saya hanya manut, toh yang bayarin juga ibu. Saya pikir buat keperluan ramadhan, tapi ngapain jauh-jauh amat? Beli di pasar kan juga bisa. Yasudah, yang penting saya dibelikan cokelat. Selalu begitu!

Sesampai di rumah ibu mengatakan bahwa saya harus tinggal di pesantren, biar selama bulan ramadhan saya bisa melakukan ibadah lebih. Kalau di pesantren semua kegiatan ada yang memandu. Ada juga kegiatan yang berbeda dari kegiatan selama ramadhan di rumah. Nderes kitab kuning, misalnya. Jadi jangan disia-siakan kesempatan ini. Biar dapat buroq, katanya sembari bercerita meyakinkan bahwa saya pasti jadi hamba kesayangan Allah.

Saya menyetujui keputusan ibu. Saya mengangguk. Siang sebelum ramadhan esok hari, tiba-tiba ada mobil sedan warna hitam yang saya kenal. Tenyata benar. Itu mobil milik ayah temanku, Hurriah. Rumahnya ada di dusun sebelah, ternyata sudah kongkalikong sama ibu. Kami diberangkatkan bareng ke pesantren, yang jauhnya cuma naik angkutan umum sekali selama dua puluh menit karena tidak pernah macet. Desa sebelah yang hanya dibatasi oleh aliran Bengawan Solo dengan panjang jembatan satu kilometer. Kali ini tidak akan ada yang muncul tiba-tiba saat berbuka, ini bukan pesantren kilat. Tapi pesantren beneran. Legal oleh pemerintah. Saya dan Hurriah masih riang gembira, karena ini memang keinginan kami sejak dulu, dan sempat terlupakan setelah lolos seleksi kemarin.

Setengah jam sampai di lokasi. Kami masuk asrama pesantren putri. Semua administrasi sudah dilengkapi. Kami mendapat seperangkat buku (termasuk buku nderes/ kitab kuning), formulir pencetakan id card juga seragam pesantren. Duh, nikmatnya benar-benar terasa. Jadi gini ya rasanya jadi santri, baru masuk saja suasananya sudah berubah. Adem ayem di hati. Air mata ibu seolah mengalir deras. Tapi tak setetes pun keluar dari lubangnya. Saya jadi terharu, bisakah ibu hidup tanpa saya selama ramadhan? Kalau nanti betah bisa diteruskan sampai kelas tiga, katanya. Nanti ibu akan sering kesini, sanak famili juga banyak yang bermukim di sini, lanjutnya. Saya mengangguk.

Kamar Sayyidah Siti Khadijah

Setelah orang tua kami resmi melepas dan pulang ke kampung halaman, kami diantar mencari salah satu dari puluhan barisan ruang kamar bertuliskan serba Arab bercampur Inggris. Welcome to Sayyidah Fatimah's Room. Ahlan wa Sahlan (bil 'arabi) dst., dst.,. Begitulah contohnya. Kami ternganga, masih tidak percaya bahwa kami sudah legal menjadi santri. Sudah masuk dan mendapat atribut pesantren bagi kami dan santri seluruhnya adalah legal. Kami senyum-senyum sendiri, sepertinya kami akan betah sampai kelas tiga.

Ada sekitar delapan belas orang penghuni dalam satu kamar. Lemarinya raksasa, ruangannya lumayan luas. Cukuplah buat tidur berdempetan. Saya membawa boneka dari rumah, juga kasur lipat. Kata ibu biar tidak terlalu rindu dengan rumah, makanya diikutsertakan saya nyantri. Kami bersalaman saling menyebut nama. Semua ramah dan asyik. Kami jadi semakin betah. Diantaranya sudah ada yang SMA, kami jadi penasaran kisah apa yang akan diberikan untuk anak Madrasah Tsanawiyah seperti kami berdua. Dan tahukah, nama kamar kami adalah "Sayyidah Siti Khadijah" diambil dari nama zaujah Rasulullah SAW.

Malam pertama sekaligus terakhir

Malam tiba kami bercengkerama. Mempersiapkan sholat tarawih pertama, saya sangat bahagia layaknya sedang di surga. Beginikah rasanya jadi bidadari? Sungguh menyenangkan, hati semakin berbunga-bunga dengan konsep pemikiran semasa Madrasah Ibtidaiyah. Jadi muslimah yang dijanjikan surga. Menjadi santri ternyata lebih-lebih dari apa yang diperkirakan. Seru, punya teman lebih banyak, beragam suku, beragam daerah, beragam bahasa, beragam pengetahuan. Semua berbaur menjadi satu dengan tujuan yang sama. Menkaji pengetahuan agama Islam lebih dalam sekaligus mendapat kesempatan memiliki buroq kelak di hari hisab menuju akhirat.

Sholat tarawih telah lewat, saya dan Hurriah mulai memejamkan mata. Karena ini adalah malam pertama kami, ingin rasanya menikmati tidur bersama belasan santriwati dengan damai. Baru setengah jam menghirup tidur, terdengar suara tangisan yang menyesakkan. Saya terbangun, melihat kanan kiri hampa. Semua terlelap pada kasur lantainya masing-masing. Baru tersadar, Hurriyah tidak ada di samping saya. Dimana? Ternyata di kamar mandi dengan muka sembab menakutkan. Ia ingin pulang, katanya. Hatinya terasa dibolak-balik sejak tidur tadi. Serasa ada yang menghantui. Suara-suara aneh mulai ricuh di telinganya. Ia tidak betah. "Pondok ini ada hantunya!" ungkapnya. Saya jadi ikutan merinding. "Jangan ngomong gitu ah, kamu salah denger kali." Dia semakin berontak, seolah saya menuduhnya berbohong. Jadi serba salah.

Kabur dari pesantren tetap dinyatakan Santri

Maklum saja, dia memang anak orang kaya. Sudah terbiasa hidup bersama dengan adik dan kedua orang tuanya. Yasudah, saya mengalah. Saya cuma bisa mengangguk. "Pokoknya besok aku mau pulang!" sambil terisak-isak dia berteriak. Anehnya tak satu pun penghuni kamar kami terbangun. Entah memang sudah sangat terlelap ataukah memang ada hal lain. Saya ajak dia masuk kedalam kamar. Hurriah akhirnya manut. Setelah lelah menangis dia terlelap duluan. Entah kenapa jadi saya yang gundah, serasa ada yang berdiri di pojok kamar, serasa ada yang berlalu lalang di luar kamar. Saya jadi merinding. Untuk mencegah ketakutan, akhirnya saya memejamkan mata. Biar lupa apa yang barusan terjadi.

Malah saya yang tidak bisa tidur. Ingin rasanya pulang. Teringat ibu yang sedang di rumah, berjualan, siapa yang bantu-bantu? Biasanya saya stay disampingnya selama ramadhan. Sudah terbiasa, saat ramadhan kami selalu bercengkerama bersama. Nenek meninggalkan sikap acuhnya dan kami mulai berbaur dengan rasa kebersamaan. Saya jadi rindu, air mata mulai mengalir sampai ke pilingan. Terbayang air yang tersimpan di wajah ibu siang tadi. Ingin sekali memeluk punggungnya erat-erat. Sambil merem saya menangis. Ingin saya mengucap, "Tak kan pernah ku tinggalkan engkau, wahai ibu! Meski dekat sekalipun."

Hati sudah sedikit tenang, saya terlelap. Saya tinggalkan semua lamunan. Saya tak ingin bermimpi apapun. Sampai shubuh tiba, saya terbangun. Sahur dan sholat berjama'ah. Setelah nderes kitab kuning, saya dan Hurriah diam-diam menyelinap ke pintu samping pesantren lalu pulang ke rumah naik angkutan umum seperti biasanya.

Setelah sampai rumah, ibu tak nampak. Saya pergi ke pasar ternyata tokonya tutup. Saya tanya ke beberapa temannya, ternyata ia pergi ke pesantren. Baru sehari ternyata ibu sudah merindu, hati saya semakin teriris. Begitu kehilangannya ibu selama saya berpergian. Akankah saya tega melihat ibu sebatang kara? Sejak itu, saya tak pernah meninggalkan ibu dalam waktu yang relatif lama. Karena sayalah satu-satunya orang yang bisa membuatnya tetap semangat dan tersenyum.
 
Meski cuma semalam, saya masih bisa disebut santri toh? Kan nama saya sudah terdaftar di buku santriwati pondok pesantren Qomaruddin sejak pendaftaran siang itu. Yah, semoga saja begitu dan berkah ilmunya. Hehe.

Begitulah kisah dan kenangan saya selama "Satu Malam Jadi Santri Legal."
Bagaimana kisah nyantri kalian?