Showing posts with label Tangerang. Show all posts

Mencicip Semalam Hotel Nunia Inn Bandara Soetta


Siapa yang doyan staycation di hotel? Atau yang suka nginep di hotel dekat bandara karena merasa capek habis berpergian naik pesawat dan terlalu jauh pulang ke rumah? Tos, sama seperti saya. Melihat kasur kosan yang super keras busanya di daerah Tangerang Selatan, rasanya capek kalau harus banting stir dari bandara ke kosan, sementara saya lepas berpergian dari luar negeri (misalnya) dan sampai di bandara dini hari. Mending saya nginep dulu di hotel di dekat bandara, baru besok paginya lanjut perjalanan ke kosan untuk persiapan next project lagi. Jadi, sampai kosan badan sudah fresh tanpa beban.

Misalnya kemarin, saat selesai mengikuti acara Fam Trip Jelajah Kota Tangerang bareng Travel Blogger Jabodetabek. Karena besok siangnya saya harus balik lagi ke Surabaya naik kereta, akhirnya saya memutuskan untuk nginep di salah satu Hotel milik Aeropolis, samping Bandara Soekarno Hatta, yaitu Hotel Nunia Inn Bandara. Daripada saya harus pulang ke kosan di Ciputat, yang dari stasiun keberangkatan besok paginya (Stasiun Senen) saja jauh.


Kalau kalian tahu dan kenal Aeropolis, pasti kalian tahu juga kalau di kawasan Aeropolis ini tidak hanya ada hotel, tapi juga hunian yang lain seperti apartemen dan perumahan. Disana juga banyak banget ruko atau bisa kalian sebut kawasan komersial lah. Isinya bisnis semua. Benar-benar kaya raya yess? Kawasannya gede buanget. Saya saja sampai pusing pas kali pertama masuk naik mobil, banyak banget pintu masuk yang ditandai dengan portal bertarif. Dikit-dikit harus mencet tombol buat bayar karcis. Mana hotel Nunia Inn ini berada di paling ujung lagi tempatnya. Sabar.

Sesampainya di hotel, saya langsung diberi pemandangan meja biru resepsionis beserta mural peta yang lumayan gede. Masuk hotelnya pun berliku-liku. Lumayan ngeri juga pemandangannya. Kayak samun (surem) gitu loh. You know what i mean kan?

Lorong yang panjang dan Lampu Berkedip

Waktu itu saya bertiga bersama mbak Nuty dari Bekasi dan Marissa dari Serang. Kami bertiga berada di lorong yang sama. Bahkan kamarnya saling berhadapan. Di sepanjang perjalanan ke kamar, ada aja yang bikin horro, entah itu lampunya berkedip lah, entah lorongnya yang begitu serem lah. Berasa ada yang ngikutin aja macam di film-film horror. Mana waktu itu kita baliknya sekitar jam setengah 12 malam kan. Mata udah ngantuk banget dan capek karena seharian ikut acara Festival Budaya Kota Tangerang.


Sesampai kamar, saya pun langsung merebahkan diri di atas kasur. Nyalain AC+TV. Meremin mata, terus bernapas. Sekitar dua menit mata terbelalak lagi. Rencana sih mau mandi, tapi kok ya malas sekali, karena pas banget lagi mau habis masa menstruasi, jadi saya santai saja. Andai waktu itu saya sedang punya tanggungan sholat, mungkin saya langsung mandi, gosok gigi, terus wudhu, terus sholat baru deh tidur. Berhubung saya sedang berhalangan, jadi ya ganti baju aja terus tidur.

Okei, gue mau mulai mereview yess.

Dari segi kamar sih tidak begitu luas, mungkin karena tipenya yang biasa kali ya. Maklum saya hanya penikmat gratisan. Nginep di sini saja dibayarin sama orang kok. Kalau lagi kerja ya gini, ada bonusnya. Hehe. Jadi kamar yang saya pakai ini luasnya sekitar 3x4 gitu, ada duo bed nya. Backpacker dua orang cocok nih nginep di sini. Soalnya hotel ini lokasinya pas banget di samping bandara. Tapi enaknya, kalau sudah di dalam hotel, kita nggak bakal dengar bising-bising suara pesawat landing atau take off, jadi menurut saya ya lumayan recommended lah.


Jadi, tepat di depan bed alias tempat tidur, terpampang ruangan ramping berwarna kuning lengkap dengan wastafel dan seperangkatnya. Dihiasi dengan pintu transparant yang agak bikin saya risih (ma'af saya ndak suka kamar mandi yang terlalu menggoda iman begini, hehe). Di dinding depan kamar mandi, menempel sebuah televisi LCD 32 inch, pesawat telepon, dan Sakelar plus colokan.

Di sampingnya lagi ada kaca besar lengkap dengan meja rias dan free drinks (air kosong, tea and coffee sachet) beserta teko (heater). Entah kenapa, di saat kaca kamar hotel begitu besar, justru saya sedang malas-malasnya memakai skincare dan makeup. Sayang banget yess.



Hampir sampai jam dua pagi saya nggak bisa tidur, padahal mata udah capek banget. TV saya biarkan nyala biar saya ada teman tidur. Oiya lupa ngasih tau, saya memang sekamar dengan Marissa, tapi waktu itu Marissa pergi lagi buat nongkrong sama kakak panitia sampai jam tiga atau empat pagi( saya nggak sadar), jadi saya berasa sendirian.

Padahal rencana awal kalau nggak bisa tidur, saya mau menulis postingan ini. Tapi ketika laptop udah dinyalain, badan mintanya rebahan. Punggung sudah pengen banget diinjek biar lurus. Mata sudah sepet banget. Akhirnya laptop saya tutup lagi dilanjut tiduran sambil ngecharge handphone yang udah amat sangat lowbat. Lama-lama capek juga pegang handphone karena harus tidur miring posisinya. Akhirnya nonton teve lagi. Film nggak ada yang seru. Channelnya pas banget lagi nggak asik. Entah bagaimana bisa saya tiba-tiba tidur nyenyak sampai terbangun lagi buat bukain pintu Marissa. 

No breakfast, no swimming

Karena saya sedang tidak menjalankan ibadah sholat, ketika bangun jam enam saya sengaja tidur lagi sampai merasa mata dan badan udah benar-benar pulih dan fresh lagi. Sekitar jam delapan saya bangun dan langsung beberes. Mengingat siang itu saya harus ke stasiun untuk kembali ke Surabaya, jadi saya harus sedikit sigap. Setelah itu saya mandi, yang mana tidak ada sabun ataupun shampoo di sini. Duh, saya jadi mikir. Ini hotel apa kos-kosan tarif harian ya? Untung saya bawa sabun sendiri, jadi bisa langsung byur byur byur pakai shower. Untung airnya seger banget, jadi nggak begitu krentek. Sayang sih, kamar mandinya sempit banget. Serius deh. Jadi berasa kayak ada yang ngintipin aja pas mandi. Eh ada ding, sabunnya di atas ongkelan shower. Tapi rasanya kayak hand wash gitu tak berbusa, duh berasa daki masih nyatu banget sama badan karena seharian beraktifitas. DItambah lagi nanti di kereta bakal nggak mandi lagi seharian. Ah, sudahlah. Saya pasrah! Yang penting badan sudah keguyur air anget.


Setelah mandi saya merasa lapar. Melihat jam dinding sudah pukul sembilan saja. Untung Marissa ngasih roti yang dibawa dia sepulang acara semalam. Lumayan buat ngeganjal. Mau breakfast tapi sebelumnya lupa nanya sampai jam berapa adanya. Akhirnya saya nanya ke salah satu teman yang juga menginap di situ, ternyata breakfast cuma ada sampai jam delapan pagi. Duh ya, nyessel tadi tidur lagi sebelum sarapan. Yasudah akhirnya saya beberes saja sambil mikir, mending beli makannya pas di dekat stasiun saja. Oke. Akhirnya saya naik gojek ke stasiun Tangerang.

Oiya, untuk minumannya sih saya nggak sempat incip. Entahlah tidak ada yang menarik di situ jadi saya mau bikin kopi atau teh pun jadi malas. Hehe. Jadi begitulah kisahnya saya sewaktu incip sehari nginep di hotel deket bandara.


Kesimpulannya sih: Nunia Inn Hotel ini cocok buat kalian yang kepepet ingin singgah sebentar saja. Karena saya rasa kurang sreg aja kalau harga 200 ribuan tapi fasilitasnya cuman seuprit gini doang. Dan cocok buat kalian yang doyan menyendiri dan sunyi begini, karena di hotel ini suasananya lumayan mencekam sih, tanpa ada pemandangan apa-apa. Jadi, ya recommended buat kalian-kalian yang saya sebutkan barusan. Mungkin buat yang mau skiddipapap juga oyey aja. Hemmb.

Untuk swimming sendiri saya tidak bisa mencicipi, karena harus bayar. Heuheu. Jadi, kalian penasaran sama hotel ini? Kalau dari Bandara Sokarno Hatta, kalian langsung saja naik Grab Car/ Grab Bike tujuan Nunia Inn Bandara Hotel. Atau kalau bawa mobil sendiri ya ikutin peta aja yess.

Alamat: Blok A Aeropolis Complex, Jl. Marsekal Surya Darma No.01, Neglasari, Kota Tangerang, Banten 15129. Telepon: (021) 22252529.

Tabik,

Norak Manjah di Jembatan Berendeng


Setelah kemarin saya posting pengalaman norak jadi selebgram di Kampung Bekelir, hari ini saya akan berbagi pengalaman norak lagi saat mengunjungi salah satu icon wisata Kota Tangerang, yaitu Jembatan Berendeng. Tahukah kalian lokasi jembatan berendeng ini? Ya, betul sekali. Jembatan berwarna tegas dominan merah dan biru ini berada di jalan Dadang Suprapto, Gerendeng, Tangerang  membentang di atas sungai Cisadane, yang lokasinya tak jauh juga dari wisata Kampung Bekelir.

Seperti biasa, saya pergi ke jembatan ini dalam rangka penasaran ingin adu adrenalin karena saya agak takut sama ketinggian, terlebih lagi di bawahnya membentang luas perairan. Jadi, saya sangat penasaran sama dek kaca hits yang ada di samping kanan kiri Jembatan Berendeng ini. Setelah sampai, Omo! Ngeri juga nih kalau tiba-tiba kacah jatuh ke bawah macam film The Final Destination. Saya langsung bertolak ke sudut-sudut yang lain. 

Norak Manjah, foto ala-ala . . .

Jujur, saya norak banget ketika mengunjungi jembatan ini. Maklum lah, selama di Ciputat saya belum pernah jalan-jalan ke landmark yang lucu seperti ini. Jadilah saya kayak orang kesetanan, loncat sana loncat sini, pose sana pose sini, duh haduh malu maluin. Untung saya ditemani mbak Evrina, Blogger hits dari Bogor yang bawa kamera mirrorless. Lumayan, saya jadi bahagia bisa menyimpan kenangan norak saya. Foto ala-ala (mbuh seleb, mbuh artis) sambil menahan sakit perut.
Duh, sakit perut saya melihat foto saya sendiri. Tapi bener loh, kalau kalian mau jalan-jalan dengan budget yang minim, Tangerang atau Jembatan Berendeng ini bisa jadi salah satu alternatif untuk jalan-jalan atau wisata singkat saat weekend. Hanya dengan bersepeda saja (kalau kalian juga warga Tangerang), kalian bisa menikmati area/ tempat ini sambil ngegoes sore-sore. Biasanya ada pedagang kaki lima seperti kang cilor, otak-otas, dan es campur. Lumayan kan, bisa piknik sejenak sembari kulineran jajan yang harganya murah meriah.

Histori Jembatan Berendeng

Jembatan Berendeng ini dibangun dan diresmikan oleh Walikota Tangerang H. Arief R. Wismansyah bersama Wakil Wali Kota H. Sachrudin sekitar bulan Februari tahun 2018. Sebutan Jembatan Berendeng ini sendiri diambil dari lokasinya sebagai penghubung kedua wilayah, yaitu wilayah Benteng Makasar di kecamatan Tangerang dengan wilayah Gerendeng di kecamatan Karawaci. Karena itulah jembatan ini disebut juga sebagai jembatan yang menyatukan.

Sebenarnya, yang membuat jembatan ini jadi instagramable adalah interior lampunya yang kebarat-baratan. Ditambah lagi adanya dua flying deck kaca yang ada di samping kanan kiri jembatan. Sehingga, wisatawan bisa dimanjakan dengan pemandangan sekitar sungai juga melihat langsung perairan sungai Cisadane dari atas (tengah-tengah sungai).

So, buat kalian yang belum tahu atau belum pernah ke Jembatan Cisadane ini, sila ke sini pada hari Sabtu dan Minggu ya. Karena, menurut informasi yang saya dapat, jembatan Berendeng ini hanya beroperasi sebagai Car Freeday (kendaraan bermotor tidak diperbolehkan melintasi) di hari-hari tersebut. Selain hari-hari itu, jembatan ini berfungsi sebagai jalan penghubung seperti biasa. Jadi kalau mau jalan-jalan sambil menikmati semeriwing angin sungai Cisadane di Jembatan ini ya mending datang pas hari Sabtu Minggu saja, terlebih lagi pas sore hari biar tidak kepanasan. You know lah, Tangerang lumayan panas juga kan.

Tabik,

Rasanya Jadi Selebgram di Kampung Bekelir


Sejak kalian baca judulnya, gue rasa kalian sedang menahan ketawa. I know gue memang takde muke jadi selebgram. Tapi ya boleh kali foto ala-ala selebgram kalau lagi traveling gini.

Ada yang tahu di mana Kampung Bekelir berada?

Yaps, betul banget. Kampung Bekelir berada di lingkungan RW 01, Kelurahan Babakan, Kota Tangerang. Dulunya, kampung ini merupakan salah satu kampung yang kondisinya memprihatinkan dan masuk kategori kampung kumuh sedang karena banyak masyarakat yang membuang sampah ke bantaran sungai Cisadane. Tapi tapat pada tanggal 30 Juli 2017 silam, kampung ini mulai ditangani Wali Kota Tangerang Bersama Muspida dengan melakukan pencanangan Konsep Kampung Bekelir.

Akhirnya dengan persetujuan beberapa sponsor baik dari Cat Pasifik Paint  juga lainnya, dilakukanlah pengecatan serta mural dan graffiti dirumah warga RW 01, dengan jumlah rumah sebanyak 300 hunian dan dicat oleh pemuda RW 01 sebanyak 10 orang lalu dengan bantuan Manager seniman Abdi Sadraxs diundanglah 23 orang seniman untuk membantu. Seiring berjalannya waktu akhirnya ada 120 seniman dari berbagai daerah yang ikut andil dalam pengerjaan Kampung Bekelir ini, sehingga terciptalah aneka gambar mural dan graffiti sebanyak 1.121. Wow banget bukan?


Bahan Baku yang telah dihabiskan untuk Kampung Bekelir melalui program CSR; Cat dari Pasifik Paint selaku sponsor utama sebanyak 1.435 kaleng berbagai ukuran, Cat semprot dari PT Samurai Paint sebanyak 1.500 kaleng , Kuas cat dari PT Ace Oldfields sebanyak 608 buah dari berbagai jenis dan ukuran, Dengan sumber dana yang didapat hanya sebesar Rp. 70.000.000, yang bersumber dari Transit FM3 , PT. PAP II, Bank BJB Banten, dan donator-donatur lainnya.

Gue sendiri pun ternganga melihat kampung ini untuk yang pertama kalinya. Kreatif sekali loh, detail banget ngecatnya. Jadi instagramable gitu. Ini dia yang bikin gue dan kalian semua mungkin bakalan ketagihan foto-foto ala selebgram di sini.

Jadi Gimana Rasanya Jadi Selebgram Sehari di Kampung Bekelir?

Gue baru sadar kalau ternyata traveling juga butuh wujud foto diri kita. Kenapa? Karena kalau cuma fotoin tempatnya saja ya bisa kali lihat-lihat yang ciamik dari google. Maka dari itu, foto selfie maupun foto ala-ala selebgram menurut gue itu perlu dan butuh. Supaya terus menjadi saksi bahwa kita memang pernah menjelajah dan menikmati tempat wisata tersebut.

Baca juga: Kulineran di Pasar Lama Kota Tangerang

Tanpa kamera yang bagus alhamdulillah gue dapat kiriman dari mbak Evrina (pemilik blog www.evrinasp.com dan www.evventure.com) yang memakai kamera mirrorless, salah satu peserta FamTrip Jelajah kota Tangerang 2018 kemarin juga salah satu Hits Blogger Indonesia masa kini. Beliau menjadi salah satu orang yang mau berkontribusi jadi fotografer gue semenjak di Kampung instagramable ini. Jadi ya, bersyukur banget gue punya foto kampung ini beserta wujud gue di dalamnya. Kita gantian sih saling jeprat-jepret. Mbak Evrina motoin gue, lalu gue juga motoin mbak Evrina, pake kamera mirrorless mbak Evrina.


Seluruh dinding di kampung ini dipenuhi dengan warna. Bagi yang belom pernah kesana sama sekali mungkin akan mengobati rasa bosan kalian melihat riuhnya kemacetan di jalan. Tapi kalau sudah tinggal di sini dalam waktu yang lama mungkin bosan juga kali ya. Tiap hari lihat warna-warni terus. Mata sudah mulai memberontak.


Untuk saat ini, kalau kalian ingin menikmati indahnya Kampung Bekelir insyaallah tidak akan dipungut biaya apapun. Tiket masuk pun tak ada, tidak tahu kalau beberapa tahun lagi. Semoga sudah menjadi kampung Wisata Mendunia. Karena yang gue lihat saat ini kampung Bekelir sudah tidak kumuh lagi. Semua warga sepertinya sudah saling berinisiatif untuk saling menjaga kelestarian alam dan keindahan corat-coretnya. Untuk membangun destinasi wisata kampungnya agar semakin dikenal masyarakat luas kalau ada yang main ke kota Tangerang. Makanya kuy lah ya buat kalian yang belum pernah main kesini. Mumpung masih gratis loh :) Soalnya turis dalam dan luar negeri juga sudah banyak yang tahu, nanti kalau sudah ada tarifnya kalian jadi mikir-mikir mau mainnya.



Akhirnya, setelah lama foto-foto ala selebgram sendiri, tibalah saatnya gue foto bareng mbak Evrina. Itu saja menuai drama, berasa jadi selebgram beneran. Yang nonton kita foto berdua udah kayak nonton artis. Bersorak sorai dan gue semakin norak melet-melet sambil gaya norak pakai banget. Ya, hasilnya ternyata gue cupu dan mbak Evrina manis sekali senyumnya. Ah, sudahlah. Yang penting gue sekarang paham, jadi begini ya rasanya jadi selebgram. Kudu pede.


Inilah tampang peserta Fam Trip Jelajah Kota Tangerang 2018 kemarin.
See you my next trip guys!

Serunya Kulineran di Pasar Lama Kota Tangerang

Model: Teh Mellss (pemilik blog ameliasubarkah.net)
Kemarin, tepat pada tanggal 10-11 November 2018, gue mendapat undangan spesial dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tangerang (@wonderfultangerang) untuk dipersilahkan mengikuti FamTrip Jelajah Kota Tangerang 2018 sekaligus ikut workshop spesial dari dua Travel Blogger membahana. Oh waw, this is my first trip loh, karena kebetulan gue lagi pulang kampung di Jawa Timur. Jadi, benar-benar challenge banget buat hadir ke lokasi yang jaraknya berkilo-kilo meter dari rumah. Dan ya, i accept it!

Gue bertolak dari Surabaya pada pukul 21.00 malam menggunakan kereta api Kertajaya tujuan akhir Stasiun Pasar Senen. Berbekal dua ransel yang satu isinya baju ganti selama dua malam, yang satu lagi isinya laptop dan seperangkatnya. Baru kali ini gue merasakan perjalanan yang mengesankan. Bagaimana tidak, biasanya gue pergi ke Jakarta dengan tujuan menuntut ilmu di perguruan tinggi tapi kali ini pergi kesana buat traveling.


Gue sampai di stasiun Pasar Senen sekitar pukul 09.30 pagi. Tanpa mandi, tanpa makeup, tanpa ganti baju, gue langsung bertolak ke Stasiun Duri menggunakan Grab Bike melanjutkan perjalanan ke Stasiun Tangerang naik Commuterline. Sampai di Stasiun Tangerang sekitar pukul 10.00 pagi dan gue menyempatkan diri untuk mandi, ganti baju sama makeup dikit.

Setelah itu gue langsung bertolak dari stasiun menuju Hotel Kyriad bareng salah satu peserta Fam Trip dari GenPi Magelang, Veronika si Travel Blogger yang jago banget foto-foto. Sampai sana istirahat, kumpul-kumpul sebentar lalu masuk ke ruangan untuk Pembukaan acara FamTrip sekaligus Talkshow oleh dua Travel Bogger keren. Mas Teguh Sudarisman (jago membuat videography with smartphone) juga Mbak Katerina (Travelerien).


Acara FamTrip kali ini dibuka oleh Ibu H. Raden Rina Hernaningsih, S.H, M.H (Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tangerang) dan dilanjutkan Talkshow oleh dua travel blogger yang sudah melalang buana kemana-mana. Siapkan badan, dengerin materi bermanfa'at dari mereka. Gue jadi khusyu' menyimak pembahasan yang super keren dan jelas dari mas teguh dan mbak Rien.Ya, karena gue memang sudah menyiapkan diri untuk menjadi seorang Travel Blogger.

Kulineran di Pasar Lama Kota Tangerang

Setelah talkshow selesai di sore hari, kita break untuk sholat dan makan. Lalu selepas maghrib kita diajak wisata kuliner naik bus ke Pasar Lama. Setiap peserta dibekali uang Rp. 50,000 untuk dibelanjakan sepuasnya. Gue sendiri pun sampai menggelengkan kepala. Sungguh banyak kedai makan yang mamak jual di sana. Hampir jereng mata gue menatap ratusan pedagang berbaris rapi sepanjang jalan. Nak beli apa budak kecik Pak Haji malam ni? Gue jadi bengong karena sudah merasa kenyang mata duluan. Tapi malam itu menjadi malam yang super mengesankan dan nikmat traveling yang luar biasa, jadi harus sikat miring saja. Tak peduli mata sudah mulai oleng, yang penting perut kenyang.


Karena peserta dibagi menjadi beberapa kelompok untuk bikin video singkat macam yang gue share di youtube di atas. Alhasil gue sekelompok sama Dua Nong Provinsi Banten. Yang satu bernama Marisca (Nong Kab. Serang) dan satu lagi bernama Salsabila (Nong Lingkungan Hidup Kota Tangerang).

Gue sendiri beli Bakso Spesial Mas Gino seharga Rp. 27,000 sudah bikin perut kenyang sampai berkunang-kunang, versinya jumbo bok! Gila sih kalau makan sendirian bakalan nggak kuat. Kemarin aja dibantuin Marisca biar habis. Selain itu, gue beli Lekker Cokelat Pisang Milo yang dibandrol Rp. 5000 ditambah lagi Sate Ayam Teriyaki harga Rp. 10,000 per tusuk yang akhirnya gue bungkus dan gue makan di saat konser Live Music setelahnya. Teman satu kelompok gue Salsabila membeli 1 porsi Sushi seharga Rp. 15,000 sedang Marisca membeli satu porsi Nasi Bakar. Sebenarnya menu kami sama semua sih, yang membedakan hanyalah makan beratnya itu tadi. Kita sama-sama beli lekker dan minumannya Lemon Sprite seharga Rp. 13,000 per porsi gelas jumbo.

Sebenarnya bukan hanya menu makanan itu saja yang tersedia di sana, tapi ada banyak gerobak yang menyediakan berbagai macam makanan baik kuliner jaman old hingga jaman now. Kuliner jepang dan korea macam sushi dan Tteobbokki pun ada.

Sumber: travelerien.com
Yang paling melegenda dan ramai di pasar kuliner ini adalah Sate H. Ishak yang bikin gue akhirnya menyerah untuk pesan satu porsi padahal malam itu ngiler banget pengen makan sate. Ramainya nggak ketulungan, antrinya ampun-ampunan. Yoweslah, akhirnya saya menyerah ngantri dan pindah. Perut sudah mulai memberontak dengan kekosongan sejak tadi break nyemil dessert. Buat kalian yang penasaran sama harga satenya, satu porsi sate ayam (10 tusuk) + lontong dibandrol harga Rp. 25.000 per porsi. Murah bukan? Besarnya harga tidak akan menghianati cita rasa, jadi kalau kulineran ke sini wajib coba lah ya.

Hari sudah mulai malam, satu rombongan FamTrip malam itu akhirnya bertolak dari Pasar Lama dan berhembus menuju ke kantor Walikota untuk menyaksikan live konser menjelang Festival Budaya esok paginya yang ada di sana. Tak lupa berpose ria di depan masjid Raya al-A'dzom biar esok paginya makin semangat jelajah wisata kotanya.


Bersambung. . .
See you next blogpost :)

Baca juga: Rasanya Jadi Selebgram di Kampung Bekelir