Showing posts with label Surabaya. Show all posts

Nyobain Lapis Kukus Pahlawan, Ole-ole Khas Surabaya


Hello foodies. Jarang-jarang banget kan gue posting makanan kayak gini ya. Padahal ya, dulu gue antusias banget mau nelurin blog lifeascory.com menjadi blog ber-niche travel and culinary gitu. Alhasil, jadi kayak berkhianat gini. Seriously, kenapa sih tiap kali mau bahas makanan, gue tuh males banget bikin konten buat dishare di blog. Padahal, review makanan kan lebih gampang. Jepret-jepret, upload bentar, tinggal klik publish, beres deh. Kata siapa? (motoin objeknya aja susah bener; karena males) Cisss,, sombong kali awak ni kan.

Yaudah, back to the topic. Gue mau bahas salah satu ole-ole khas Surabaya. Layaknya para artis yang menjajakan produk terbarunya, gue mau menjajakan lapis kukus khas kota pahlawan ini. Menurut Wikipedia, lapis kukus pahlawan ini merupakan produk ole-ole khas asli surabaya, dan alasan kenapa dinamakan lapis kukus pahlawan adalah jeng jeng jeng.



Selain menjadi kota terbesar kedua setelah Jakarta, Surabaya merupakan kota yang ikonik dengan simbolis perjuangan Arek-Arek Suroboyo (Pemuda-Pemuda Surabaya) untuk mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia dari penjajah kolonial. Oleh karena semangat perjuangan yang menjadi ciri khas Kota Surabaya tersebut, cita cita Lapis Kukus “Pahlawan” Surabaya dapat menjadi pahlawan ekonomi dan kewirausahaan, sebagai salah satu UKM yang sama-sama membangun kondisi ekonomi Indonesia yang lebih baik, dan mampu bersaing dengan produk-produk asing, juga menjadi ciri khas yang dibanggakan dan dicintai oleh masyarakat.

Kelebihan produk Lapis Kukus Pahlawan Surabaya antara lain: Pertama, tekstur kue yang lembut dengan proses pembuatan dikukus, dan diolah dengan teknologi mesin terkini. Kedua, Perpaduan bahan baku antara tepung terigu dan tepung singkong yang presisi menghasilkan cita rasa yang tinggi yang khas. Ketiga, Taburan cream lembut dan keju pilihan membuat ketagihan penikmatnya. Keempat, Varian rasa yang sangat menggoda selera yaitu Original, Chocopandan, dan Brownies. Kelima, Pusat ole-ole para traveling yang pas di Surabaya, tepat dan kebanggaan dari Kota Pahlawan sebagai buah tangan untuk dibawa pulang dan dinikmati bersama keluarga dan kerabat di kampung halaman.



Menurut gue sendiri rasanya sih enak. Teksturnya lembut tapi nggak terlalu halus, jadi nggak bikin bosan. Malah ketagihan mulu tiap disendokin. (maaf, cara makan gue emang suka gini, kadang aneh aja di mata orang, makan kue disendokin, tapi sah-sah aja kan ya :p).

Kalau disuruh repurchase, so pasti gue bakal beli lagi. Karena selain rasanya yang enak, harganya juga murah. Dibandrol cuma 30 ribuan, lapis kukus ini bikin happy. Apalagi kalau lagi lembur ngerjain deadline proyek besar, cocok banget buat jadi teman ngopi. Dinikmatin pagi-pagi sambil ngeteh juga cocok banget.

Rate for Lapis Kukus Pahlawan
★★★★☆
4,5 of 5 Stars
(Muantep Banget rek!)

Terfavorit lah pokoknya!


Lapis Kukus Surabaya
Jalan Raya Kutai 53 Surabaya
Instagram: @LKSPahlawan
Phone: 031-1500058

Mengulik Sejarah Klenteng Sanggar Agung Surabaya


Kalian tahu kan, patung naga lengkap dengan Dewi Kwan Im raksasa di atasnya ini lokasinya di mana? Exactly! Patung ini terletak di tepi laut Pantai Kenjeran, Surabaya, Jawa Timur. Tepatnya di belakang bagian dalam Klenteng Sanggar Agung (Hong San Tang). Patung setinggi 20 meter membelakangi laut ini dibangun dua tahun setelah klenteng Sanggar Agung berdiri.

Bermula dari kisah seorang karyawan Sanggar Agung yang melihat sekelebat sosok wanita berjubah putih berjalan di atas air pada saat ia sedang menutup Klenteng di malam hari, yang akhirnya penampakan tersebut dipercaya sebagai penampakan Dewi Kwan Im dan diabadikan kisahnya dengan dibangunnya patung Dewi Kwan Im raksasa di belakang klenteng ini.

Klenteng Hong San Tang sendiri dibangun pada tanggal 15 bulan 8 Imlek tahun 1978, dengan berbagai cerita yang katanya berpindah-pindah lokasi yang pada akhirnya ditetapkan di Kenjeran Park dan resmi dibuka sebagai tempat peribadatan juga wisata budaya pada tahun 1999. Pembangunan klenteng ini sekaligus bertepatan dengan Festival Bulan Purnama (Tahun Baru Imlek) oleh keluarga Soetiadji Yudho.

credit: rappler.com

Tujuan dibangunnya klenteng ini sebenarnya adalah membawa semangat spiritual umat Tridharma sekaligus harapan bisa menampilkan sebuah ikon bagi Kota Surabaya. Menurut Freddy H. Istanto, Dekan Fakultas Teknologi dan Design Universitas Ciputra, kompleks peribadatan di Sanggar Agung sangat menarik untuk dikaji karena design eksteriornya memiliki muatan multi kultur yang unik.

Dari atapnya, klenteng Sanggar Agung menggunakan perpaduan gaya Jawa yang cukup kuat meskipun secara umum bangunannya bercorak Bali. Menurutnya, terdapat kesan desain yang sengaja membawa image rumah tradisional Indonesia agar tak terjebak pada gaya klenteng, vihara, atau kuil kebanyakan, apalagi terjebak pada arsitektur negara China. 

Kendati demikian, tradisi kuil China masih tampak di klenteng ini, misalnya pada bulatan di pagarnya. Bisa dikatakan bahwa klenteng Sanggar Agung ini boleh disebut sebagai "representasi harmoni kondisi psikologi dan budaya dari masyarakat setempat dengan umat Tri Dharma".

credit: rappler.com
Klenteng Sanggar Agung ini sebenarnya difungsikan sebagai tempat ibadah bagi umat Tridharma, yaitu agama Konghucu, agama Buddha, dan Taoisme. Nah, karena lokasinya tepat di bibir laut, Klenteng Sanggar Agung sering menjadi tempat rujukan bagi keluarga yang hendak nyekar leluhur mereka, terutama yang dikremasi.

Kerennya lagi, pekerja dan pengurus dari klenteng ini tak hanya dari agama Tridharma saja, namun juga berasal dari umat Islam dan Kristen. Jadi, keharmonisan dalam keberagaman di klenteng ini sangatlah terasa.

Untuk menuju patung raksasa Dewi Kwan Im, baik umat Tridharma yang beribadah di klenteng maupun wisatawan (turis asing) sebenarnya harus masuk melalui klenteng dulu, karena lokasi patungnya berada di halaman belakang kelenteng. Tapi sejak tahun 2015, jalan lewat samping klenteng (ruang pengelola) untuk menuju halaman belakang bagi wisatawan (non Tridharma) sudah disediakan, sehingga umat yang beribadah di dalam klenteng tidak merasa terganggu oleh lalu-lalang turis menuju halaman belakang.




Secara resmi, Sanggar Agung menyatakan bahwa tinggi patung raksasa Kwan Im ini adalah 18 meter, namun banyak yang menyebutkan bahwa tingginya sekitar 20 meter. Patung tersebut dikawal oleh dua penjaga Shan Nan dan Tong Nu serta 4 Maharaja Langit pelindung empat penjuru dunia.

Gerbang langit di bawah kaki patung Kwan Im dijaga oleh sepasang Naga Surgawi yang masing-masing memiliki panjang 6 meter. Dan ternyata, pengunjung bisa melihat Jembatan Suramadu dari kejauhan loh, jika berdiri di bawah gerbang tersebut. Keren banget, sumpah. Sayangnya, ketika saya mengunjungi klenteng ini kemarin, laut lagi surut dan kelihatan kering kerontang sekali.

Di depan patung raksasa Dewi Kwan Im ini, tepat di luar pintu halaman belakang kelenteng terdapat hiolo menghadap ke arah patung dan laut. Biasanya ada sesajen berupa buah-buahan seperti jeruk manis dan bunga yang ditaruh di sekitar hiolo. Jadi, mungkin ada beberapa umat Konghucu yang menghormati keberadaan Dewi Kwan Im di belakang. Bau dupa atau kemenyannya lumayan menyengat. Bagi yang kurang suka, bisa duduk di bangku yang ada di dekat klenteng saja.

Lokasi Klenteng Sanggar Agung

Karena klenteng ini ada di dalam lokasi Kenjeran Park, kalian bisa masuk dengan membayar loket sebesar 20,000 buat yang membawa mobil (maksimal 2 orang). Kalau orangnya lebih dari dua maka selebihnya bayar 5000 per orang. Lokasi klenteng ini lumayan jauh dari loket. Jangan memaksa berjalan kaki kalau tidak mau sempor. Paling tidak harus membawa motor atau naik odong-odong kayak saya kemarin. Cuma 5000 per orang, bolak-balik total 10,000 dan supirnya mau nungguin. Baik banget pokoknya. Selengkapnya bisa kalian cek sendiri melalui map di bawah ini.

Mau wisata budaya di Surabaya? Jangan lupa mampir ke Klenteng Sanggar Agung. Dijamin puas memandangi alam yang ada ada di sekitarnya juga suasana klenteng yang begitu kental tradisi konghucunya.

Tabik,


Alamat:
Jl. Sukolilo No. 100, Kenjeran Park, Surabaya Utara, Jawa Timur 60122
(031) 3816133

Wisata Heritage ke Museum Sepuluh Nopember Surabaya


Sudah lama nggak jalan-jalan ke Surabaya, rasanya semangat sekali kemarin bisa backpackeran di kota Pahlawan yang ada di sebelah kota kelahiranku ini. Mungkin kalian tidak asing lagi dengan nama "Monumen Tugu Pahlawan". Sebuah monumen yang menjadi landmark sekaligus toggak sejarah di kota Surabaya yang dibangun sebagai bentuk penghargaan dalam rangka memperingati peristiwa Pertempuran 10 November 1945 yang berdarah-darah oleh arek-arek Suroboyo berjuang melawan pasukan Sekutu bersama Belanda yang hendak menjajah kembali Indonesia.  


Monumen yang tingginya sekitar 41,15 meter dan berbentuk lingga atau paku terbalik ini memiliki tubuh yang berbentuk canalures atau lengkungan-lengkungan sebanyak 10 lengkungan dan terbagi atas 11 ruas. Tinggi, ruas, dan canaluresnya mengandungi makna tanggal peristiwa pertempuran yang terjadi pada masa itu yaitu tanggal 10, bulan 11, dan tahun 1945. Bagi seluruh rakyat Indonesia, tanggal tersebut menjadi tanggal yang bersejarah, dan monumen Tugu Pahlawan ini menjadi tempat yang amat bersejarah bagi warga kota Surabaya sendiri juga bagi seluruh masyarakat Indonesia.


Bangunan pertama yang akan kalian temui ketika kalian masuk ke area dalam taman Tugu Pahlawan ini adalah Patung Bung Karno dan Bung Hatta (Presiden dan Wakil Presiden RI yang pertama) berdiri tegak di pintu taman seolah sedang memproklamirkan (membaca surat proklamasi) kemerdekaan Indonesia. Dan perlu kaliaan ketahui jika kalian mau foto di sini, alangkah baiknya kalian menunggu sampai matahari lagi terik-teriknya. Karena pengunjung bakal nyari spot yang dingin dan pergi dari patung ini secepat-cepatnya (bilang dong kalau panas banget cuacanya). Kalau nggak, jangan harap bisa foto sendiri seperti foto saya di atas. Ngeblur pulak kan hasilnya, gegara nggak ada yang motoin (cuma swafoto dengan countdown timer).

Museum Sepuluh Nopember 

Nah, kalau kalian berkunjung ke Monumen Tugu Pahlawan yang ada di tengah-tengah kota di jalan Pahlawan Surabaya dan di dekat Kantor Gubernur Jawa Timur ini, kalian pasti tahu dong ya bahwa tempat ini memiliki Museum bersejarah yang ada di bawah tanah sedalam tujuh meter dan menyimpan benda-benda pusaka dari peristiwa Pertempuran 10 Nopember tahun 1945 silam. 

Pintu Masuk Museum setelah melewati lorong tiket
Miniatur Tugu Pahlawan yang ada di depan pintu masuk Museum

Museum Sepuluh Nopember ini didirikan pada tanggal 10 Nopember tahun 1991 guna menunjang keberadaan Monumen Tugu Pahlawan yang telah berdiri sebelumnya, yakni tanggal 10 Nopember 1951. Museum ini resmi dibuka dan dijadikan wisata heritage oleh Presiden Republik Indonesia pada masa itu yaitu KH. Abdul Rahman Wahid (Gus Dur) pada tanggal 19 Februari tahun 2000. 

Di dalam Museum Sepuluh Nopember sendiri tersimpan benda-benda pusaka nan bersejarah yang bersinggungan langsung dengan peristiwa pertempuran Sepuluh Nopember yang pernah terjadi di Surabaya. Di mana banyak pemuda Surabaya yang rela mati demi mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Patung bung tomo yang lengkap dengan radio siaran pidatonya

Koleksi utama dari museum ini adalah suara pidato Bung Tomo (Sosiodrama), radio peninggalan Bung Tomo, Senjata-senjata otomatis (peninggalan peperangan), mobil Bung Tomo, pameran foto dan benda-benda peninggalan H.R Muhammad. 

Museum ini terdiri dari dua lantai, yang mana tiap lantai dibagi menjadi beberapa bagian. Di lantai pertama terdapat beberapa galeri foto juga miniatur lengkap Rumah Sakit Simpang dan sejarahnya, beserta beberapa patung pahlawan 10 Nopember dan orang-orang yang berjasa di dalamnya (seperti nurse, angkatan bersenjata, juru bicara, petani dan sebagainya), sedang di lantai dua lebih didominasi oleh senjata-senjata dan diorama yang berisi miniatur kota Surabaya masa itu lengkap dengan audionya.


Selama masuk ke dalam museum ini, saya berasa kembali pada masa penjajahan dulu. Bulu kuduk merinding, sembari membayangkan betapa hebatnya para pejuang pada masa itu. Dengan tekat kuat dan penuh semangat, kemerdekaan akhirnya bisa diraih bangsa Indonesia sampai saat ini meski harus rela berdarah-darah hingga tinggal kenangan nama dan perjuangannya.

Seperti yang saya jelaskan sebelumnya bahwa di lantai dua museum ini lebih didonimasi oleh senjata-senjata otomatis yang dipakai pertempuran pada masa itu. Bukan hanya golok, berang, pedang saja, tapi juga tombak, pistol, helm besi, slingbag kulit, perisai, botol minum alumunium yang dipakai pada masa itu tersimpan rapi dalam kaca yang disertai dengan keterangan-keterangan tertulis di dalamnya. Ada juga mata uang kertas juga koin yang dipakai pada masa pertempuran yang tertata rapi. Ditambah lagi koleksi perangko juga alat-alat medis seperti suntikan, perban, buku-buku kuno semua terpajang rapi di dalam kaca di sudut-sudut ruangan.


Serius, kalau ke sini dijamin auto pinter sejarah. Ehe. Banyak benda-benda pusaka yang masih membuat kita bertanya-tanya, kok bisa ya orang jaman dulu menang melawan penjajah hanya dengan peralatan sederhana seperti ini saja. Mungkin wirid dan tirakatnya lebih-lebih kali ya. Pendekatan diri kepada Tuhannya saya yakin melebihi manusia biasa pada umumnya. So, jika Tuhan sudah berkehendak menang, mau dikata apa lagi yekan. Meski harus meninggalkan kenangan yang berdarah-darah, tapi perjuangan melawan penjajah tanpa pamrih sungguh membuat kita kadang harus mengintropeksi diri. (jleb)

Fasilitas untuk pengunjung

Hebatnya lagi, fasilitas di dalam museum ini sungguh sangat-sangat membantu semua kalangan termasuk disabilitas dan para lansia. Ada eskalator dan lift yang bisa dipakai juga toilet yang bersih bikin betah wisata heritage di sini. Jadi, tidak hanya anak-anak, remaja, mau dewasa saja yang bisa menikmati dan mengenang tempat juga pahlawan bersejarah kota Surabaya, tapi lansia dan disabilitas juga bisa mengakses dengan mudahnya.

Nah, ngomongin wisata heritage di Surabaya pasti kalian bertanya-tanya dong: di mana tempat yang pas untuk staycation, menginap sekaligus kuliner yang bisa menjangkau lebih dekat dengan Tugu Pahlawan juga wisata lainnya. Jawabannya adalah pesan hotel di Surabaya. Karena lokasi museum juga monumen tugu pahlawan ini ada di tengah kota, jadi banyak pilihan hotel yang bisa kalian tinggali selama menjelajah kota Surabaya ini. Contohnya ya RedDoorz Plus near Marvell City Mall yang ada di Pegi Pegi. Selain harganya yang murah, lokasinya hanya berjarak 461 meter dari Tugu Pahlawan.

 

Enaknya kalau pesan di Pegipegi tuh bisa pilih hotel yang dekat di area mana, seperti yang aku lihatin di atas, kalau kita butuhnya di area Tugu Pahlawan ya kita klik aja opsi dekat dari Tugu Pahlawan. Nanti akan ada urutan hotel yang terdekat apa aja dan harganya berapa aja. Kalau di Pegipegi sih insyaallah murah lah ya, banyak diskon lagi. Lumayan kan, uang lebihnya bisa dipakai buat kulineran.

Untuk kulinernya sendiri, (rekomendasi) kalian bisa meluncur ke Nasi Bebek Tugu Pahlawan yang ada di jalan Tembaan, alun-alun Contong, tepat di seberang taman kota atau taman Tugu Pahlawan ini. Tendanya milik Hajah Minhah yang sudah mulai membuka usahanya itu sejak tahun 1989 silam. Wow, rame banget asli. Jangan lupa, siapkan kesabaran untuk membeli nasi bebek di sini, karena ramai sekali ngantrinya. Fyi, buat yang mau menu favorit ada Paha Super ukuran jumbo yang biasanya setelah pukul 20.00 WIB saja sudah ludes dipesan pelanggan.


Jadi, masih ragu mau wisata heritage di Surabaya?
Sayang banget loh!
Tabik,