Navigation Menu

Showing posts with label Jelajah Surabaya. Show all posts

Kalau Jelajah Kota Surabaya, jangan Lupa Mampir ke Tugu Pahlawan!


Sebagai warga kota Pudak yang sudah hampir sepuluh tahun meninggalkan Provinsi Jawa Timur, rasanya ingin ku rutuki diri sendiri karena belum sempat menjelajah provinsi sendiri malah memilih kuliah di ibukota. Yang artinya bahwa pulang kampung tidak bisa seenak jidat seminggu sekali macam anak Soerabaja pulang ke Gresik pada umumnya. Harus nunggu liburan semester dulu baru bisa jalan-jalan di kota sendiri. Itu pun terbatas, karena sejatinya aku adalah anak omahan yang amat sangat belum terbiasa jika harus berkelana mengelilingi kota. Akhirnya, setelah ku putuskan untuk memilih tinggal dan kembali ke kota kelahiran, baru tahun inilah ku membuka diri dan bisa leluasa berkeliling kota dengan bus dan angkutan umum pastinya.

Bicara soal Surabaya, sedetik pun rasanya sulit untuk melupakan. Mau bagaimana lagi, selain menjadi kota Pahlawan yang amat menohok ingatan juga sanubari tentang perjuangan arek-arek Suroboyo di masa kemerdekaan, sedari kecil hidupku cuma sebatas Gresik Soerabaja saja yang ku tahu. Karena keluarga besar kebanyakan memilih tinggal di Surabaya, jadilah tiap liburan sekolah aku dan ibuku silaturrahim ke Surabaya naik bus Joyoboyo yang kadangkala bikin saya mual karena bau knalpotnya super nggilani mblenekisasi. Stop, tapi itu cerita lama. Masa dimana aku suka nangis minta naik kuda di Kebun Binatang Surabaya. Tapi kini, Surabaya menjadi kota wisata yang ramah karena bersih dan banyak bangunan baru yang super recommended buat siapa saja yang ingin memanjakan dirinya.

Hormat grak di depan Monumen Tugu Pahlawan, seberang Kantor Gubernur Jawa Timur

Pertama kalinya menjelajah di kota Surabaya, yang ku ingat dari kota ini adalah jasa para Pahlawan tanah air Indonesia. Di mana para pejuang tanpa pamrih yang dikenang namanya dengan sebutan "Arek-arek Suroboyo" rela mempertaruhkan nyawanya demi mempertahankan tanah Soerabaja atas kemerdekaan Indonesia yang seutuh-utuhnya. Mari meneteskan air mata bersama, karena sesungguhnya kita hanya numpang eksis di zaman serba modern (era digital) penuh kemudahan dan pembaharuan yang super cepat seperti sekarang ini, tanpa ada perang sejata yang mempertaruhkan nyawa. Aku terenyuh melihat patung Bung Karno beserta Bung Hatta sedang memegang teks proklamasi menyambut dengan gagah di pintu masuk Monumen Tugu Pahlawan Surabaya, seakan mengingatkan betul akan jasa-jasa mereka dan para pahlawannya yang gugur melawan penjajah. Mari kita apresiasi dengan kita menjelajah ke tempat-tempat bersejarah. Setidaknya, dengan cara inilah kita bisa membalas budi jasa-jasa mereka yang tak pernah lupa di mata bangsa.
Surabaya memang banyak meninggalkan kota tua nan bersejarah. Bangunan-bangunan klasik dengan arsitektur yang begitu unik dan menarik, kiranya bisa menjadikan pengetahuan bahwa kota ini telah lama ikut berjuang. Kehadirannya yang sudah beratus-ratus tahun menjadikannya saksi bisu atas peristiwa pertempuran yang begitu mencekam juga turut serta menjadi bagian kehidupan masa lampau yang begitu penuh keterbatasan dan penuh perjuangan. Mari kita menoleh sebentar, mengabadikan momen dengan berswafoto gembira dan membagikannya ke media sosial. Karena dengan inilah kiranya kita bisa terus mengenang dan turut mempromosikan bahwa kota Surabaya ternyata punya banyak tempat untuk dijelajah dan dinikmati bersama. Monumen Tugu Pahlawan misalnya.

Ada banyak spot yang bisa dinikmati selama menjelajah di Monumen Tugu Pahlawan ini, diantaranya adalah taman yang membentang luas, lengkap dengan bangku panjang. Ada juga Museum Sepuluh Nopember bawah tanah dan piramid mini di samping makam bersejarah para pahlawan tanpa tanda jasa dan tanpa nama (rakyat atau pemuda Surabaya yang gugur saat ikut serta dalam pertempuran). Duduk di bangku panjang sambil membaca buku diiringi angin yang semilir rasanya tubuh ini kembali pada Surabaya masa lampau. Di mana ada rasa kenyamanan tersendiri saat memandangi bangunan tua, sang Tugu berdiri kokoh di tengah-tengah taman menjulang tinggi dibalik ramainya pusat kota yang dipenuhi transportasi berlalu-lalang. Sueger tenan cak rasane.






Selain duduk santai di bangku panjang taman yang begitu semeriwing udaranya dikelilingi segala rupa pepohonan hijau sepanjang mata mata memandang, pengunjung diberikan kesempatan untuk melihat secara langsung benda-benda bersejarah pada masa pertempuran Sepuluh Nopember 1945 silam di dalam Museum bawah tanah yang terdiri dari dua lantai. Di sana aku dibuat merinding oleh berbagai macam miniatur lengkap yang menggambarkan jelas bagaimana Surabaya menjadi kota tua masa itu. Ada replika bung Tomo lengkap dengan radio pada masanya. Kita juga bisa mendengar langsung bagaimana bung Tomo berpidato.


Selain itu juga kita bisa berpose ria di samping mobil ikonik milik bung Tomo yang diletakkan tepat di depan museum. Sebagai landmark sekaligus alun-alun di kota Surabaya, Tugu Pahlawan memiliki daya tarik tersendiri sebagai wisata bersejarah. Patung sang plokamator yang didirikan dekat puing-puing pilar gedung Pengadilan Tinggi yang dipakai di zaman kolonial juga bisa menjadi spot tercantik di Tugu Pahlawan ini. Di bawah teriknya matahari, banyak wisatawan yang mengabadikan momen di bawahnya. Seakan berterima kasih bahwa Surabaya memanglah salah satu kota bersejarah di bumi Indonesia. Seperti halnya aku, yang rela lari-larian demi bisa memasang countdown timer pada kamera selfie mumpung lagi sepi.



Untuk menuju lokasi ini pun tidak terlalu rumit. Dari Gresik utara arah Sidayu, aku naik bus antar kota Armada Sakti menuju terminal Oso Wilangun Surabaya, lalu lanjut naik angkutan bemo warna kuning dengan  kode WK arah keputih, dari sini kita bisa langsung bilang ke supirnya minta turun di depan Tugu Pahlawan yang ada di sebelah kiri. Kalau mau naik gojek atau grab bike juga bisa. Masuk ke tempat wisata bersejarah di alun-alun Surabaya ini tidak dipungut biaya sepeser pun. Asal kitanya saja yang kudu tahu diri, menjaga tempatnya agar tetap bersih. Oiya, untuk masuk ke musiumnya sendiri hanya membeli tiket sebesar 5,000 Rupiah saja. Murah kan?

Jelajah kota Pahlawan naik Suroboyo Bus Gratis


Kalau kalian baru pertama kali ke Surabaya, boleh juga loh nyobain naik Suroboyo Bus ini. Hanya bermodalkan botol atau gelas plastik bekas yang ditukar dengan sticker dan tiket, kita bisa keliling Surabaya sepuasnya. Hal ini sekaligus meminimalisir membludaknya sampah plastik yang diduga menjadi penyebab terbesar pencemaran lingkungan. Asik kan.


Untuk penukaran sendiri bisa langsung ke Terminal Purabaya dan Halte Rajawali, atau bisa juga langsung ditukarkan ke petugas pada saat menaiki bus dari halte penjemputan. Gampang banget kan? Jangan lupa lihat video pengalaman aku naik Suroboyo Bus di atas. Uhuy!

Infografis by IDN Times

Ayo, siapa yang belum jelajah kota Surabaya macam diriku di masa lalu? Ojo lali mampir ke Tugu Pahlawan ya rek!
Tabik,