Navigation Menu

Showing posts with label Jawa Timur. Show all posts

Galeri Musik Dunia Jawa Timur Park Tiga Malang


Tanggal 24 Desember kemarin, Gue, Ella, Tata, Najwa, dan Fery liburan ke Jawa Timur Park Tiga, Batu, Malang. Puju syukur alhamdulillah, gue bisa beli 5 tiket terusan di Traveloka Xperience berkat voucher #XperienceSeru senilai 1,000,000 (Satu Juta) yang diberikan traveloka bulan lalu. Gue memilih paket terusan Dino Park - The Legend Star - Galeri Musik Dunia seharga IDR 194,000 per orang. Jadi totalnya cuma IDR 970,000. Padahal ya, kalau beli on the spot harganya bisa lebih mahal antara 200,000 Rupiah sampai 250,000 Rupiah. Bersyukur pake traveloka xperience, jadi bisa lebih hemat liburannya.


Oiya, buat kalian yang mau ke Jatim Park 3 pakai Traveloka Xperience, jangan lupa tukarkan voucher tiketnya di booth traveloka xperience di samping pintu masuk (dari parkir) depan boothnya kopi Lain Hati. Kita tinggal nunjukin barcode yang sudah dikirimkan melalui email. Lalu petugasnya bakal ngasih kita tiket tempel untuk dijadikan gelang.

Setelah puas keliling Dino Park dan The Legend Star Park, akhirnya kita berlima menuntaskan wahana terakhir Jatim Park 3 di Galeri Musik Dunia. Lokasinya ada di lantai dua dekat dengan kafe-kafe dan resto. Karena kita liburan di akhir tahun, jangan tanya lagi seberapa rame pengunjung yang datang. Super penuh kayak dawet cendol.

Masuk Galeri Musik Dunia

Di galeri musik dunia ini, kita bisa ngeliat banyak banget alat musik dari mulai yang tradisional sampai yang kekinian. Ada juga patung lilin para superstar mendunia yang super real banget bentukannya. Dari pintu masuk galeri, kita langsung menemukan patung lilin The King of Pop, Michael Jackson. Yang di belakangnya ada banyak alat musik modern yang bisa kita lihat langsung dan beberapa ada juga yang bisa kita coba mainkan.


Alat musiknya benar-benar lengkap banget. Sesuai dengan namanya, di galeri musik dunia ini bahkan kita bisa melihat alat musik tradisional dari belahan dunia mana saja termasuk korea, seperti Gayageum dan Sohaegeum. Tak lupa juga, ada patung lilin para superstar Indonesia seperti Yuni Shara dan Krisdayanti. Gue dan Najwa mengabadikan momen di sini, ya meskipun ekspektasi awalnya adalah bisa foto bareng personil Blackpink, tapi ternyata nihil kan ya. Jadi foto bareng KD juga tak apalah.


Sebenarnya, galeri musik dunia ini punya tiga lantai yang bisa diexplore. Wahananya luas banget sampai gue sendiri sanggup nggak sanggup buat ngexplore sampai habis. Secara, ini wahana terakhir yang kita kunjungi selama liburan di Jatim Park 3 kemarin. Kondisi fisik sudah lumayan lelah dan terkuras habis tenaganya. Kita pun belum makan berat sama sekali, jadi untuk mengeksplore galeri musik dunia ini sebenarnya harus siap secara fisik biar kaki nggak gempor (capek sangat-sangat).










Banyak edukasi yang bisa diambil dari wahana ini. Terutama bagi penggemar musik dan segala hiruk pikuknya. Macam-macam alat musik dengan berbagai sejarahnya bisa kita pelajari di sini. Sayang sekali, kemarin kita berkunjung dengan keterbatasan waktu. Pas banget kok ya waktunya sudah malam dan badan sudah lumayan remmeck, jadi ada banyak pelajaran musik yang terlewatkan. 

  
Oiya, buat kalian yang nanya berapa tiket reguler untuk bisa menikmati wahana Galeri Musik Dunia di Jatim Park 3 ini? Harganya cuma Rp. 50,000 saja. Lebih hemat pakai traveloka xperience sih, cuma Rp. 48,500. Hehe.

Sunday Penuh Bunga di Wagos Ujung Pangkah


Bisa ngajak jalan orang tua itu rasanya Alhamdulillah banget. Apalagi ke destinasi wisata yang bisa menjadi siraman rohani kedua setelah mencuci diri dengan ayat-ayat Allah yang suci. Wisata alam misalnya. Tanpa kita sadari sebenarnya, memanjakan mata untuk melihat ciptaan Allah yang segar membentang hijau seluas samudera bisa jadi obat hati yang sedang tersakiti, atau bahkan bisa menyembuhkan penyakit jiwa ringan seperti stress kerja dan tingkat kebosanan akut dalam diri.

Kalau di lingkungan kita tidak ada destinasi wisatanya gimana dong kak? Bisa kok, lihat taman-taman penuh bunga atau membiasakan menghirup oksigen setiap pagi sebelum kerja bisa membuat otak kita terasa fresh dan badan kembali bugar. Tidak mungkin juga kan di sekitar kalian tidak tumbuh satu pun tanaman, jadi manfaatkanlah hasil fotosintesis mereka yang mengudara bebas.

Kalau kalian bertanya di mana tempat tinggal? Kalian boleh ketikkan nama 'Gresik' di google. Di situlah saat ini saya mengabdikan diri kepada agama, orang tua, dan perintisan karir sebagai seorang penulis juga konten kreator. Nah, buat yang sudah tahu kota Gresik ini seperti apa, pasti banyak yang beranggapan bahwa Gresik minim destinasi wisata. Padahal di tahun 2019 ini, wisata kota Gresik khususnya di daerah utara semakin dikembangkan. Salah satunya ya ini, Wisata Alam Gosari (Wa'gos) yang terletak di desa Gosari, kecamatan Ujung Pangkah, kabupaten Gresik.


Wagos sendiri resmi dibuka sekitar akhir tahun 2017 silam, bisa dibilang Wagos ini merupakan salah satu gebrakan oleh masyarakat Gresik yang dianggap pinggiran/ ndeso untuk mempromosikan keindahan alam yang ada di sekitarnya dan menyadarkan masyarakat sekitar tentang pentingnya destinasi wisata di tengah kota industri.

Harga Tiket Masuk Wa'Gos

Berbahagialah, karena tiket masuk wisata alam di Gosari ini terbilang sangat-sangat murah. Cukup mengeluarkan kocek sebesar 5,000 rupiah saja per orang, kita sudah bisa menikmati seluruh wahana wisata alam penuh bunga, arena outbond dan bermanja-manja ria.

Untuk parkir sepeda motor sepuasnya, kita cukup membayar 5,000 rupiah saja, sedang untuk mobil, cukup membayar 10,000 rupiah saja. Jangan khawatir soal parkiran, tempat parkir yang disediakan juga cukup luas dan rindang karena banyak pohon jati yang siap meneduhkan.

Spot instagramable di Wa'gos

Spot pertama yang bisa kita nikmati adalah lorong payung warna-warni tepat di samping kanan lahan parkir. Berbagai macam payung dipajang rapi, berbaris dengan selingan pattern dan etnik. Untuk bisa foto di area ini harap sabar sih, karena yang antri banyak dan kadang ada juga yang lewat karena lorong ini merupakan jalan menuju bukit yang ada rumah segitiganya itu.

Jembatan Cinta ala Pedesaan Jepang Klasik

Spot kedua yang menarik perhatian adalah jembatan cinta ala-ala di pedesaan China/Jepang klasik. Jembatan merah lengkap dengan lamphion dan bunga sakura ini membuat kita semakin terasa sedang berada di desa penuh bunga di negeri matahari terbit (Jepang) sana. Jembatan merah di sini asli terbuat dari kayu yang di beri warna merah, sehingga terasa kental sekali budaya Jepangnya.

Kanan kiri jembatan ini dipenuhi bunga Cosmos berwarna-warni, berdampingan dengan Dandelion yang sedikit membaur. Sehingga spot ini cocok untuk berfoto ria ala-ala gadis jepang yang memakai kimono. Sayang, saya nggak punya kimono jadi seadanya saja foto di sini. 

Taman Bunga Cinta

Spot inilah yang paling menyegarkan mata menurut saya, karena bunganya berwarna segar semua. Lahannya lumayan luas dan bermacam-macam bunga yang sejenis tumbuh dalam satu taman, seperti bunga seruni, cosmos, violet, vinca dan zinnia. Duh, kebayang kan gimana happy nya kalau memandang satu taman yang berisi bunga semua begini. Seketika sakit hati langsung hilang dan lambat laun stress tatkala luntur dengan sendirinya, mata segar, batin sehat memancar.


Oiya, supaya bisa dapat foto instagramable kayak gini, jangan lupa bawa kostum atau aksesoris pendukung dari rumah ya, karena di sana tidak disediakan. Ya, namanya juga wisata alam, pada hakikatnya ya alam yang harus dinikmatin, bukan foto-fotonya. Ehe. Note: jangan sampai diinjak-injak juga ya bunganya, kasian banget kemarin lihat beberapa bunga ada yang layu karena bekas diinjak para turis. Please, kita harus jaga keindahan destinasi wisata yang sudah ada segalanya buat kita. Jangan sampai dirusak begitu saja, serius saya sedih banget lihatnya.

Rumah Sarang Burung

Spot paling unik ya ini, rumah sarang burung yang ada di belakang spot lorong payung dan kolam renang. Untuk naik ke rumah sarang burung ini cukup menantang, disediakan tangga kayu untuk sampai di atas. Ketinggiannya mungkin sekitar dua setengah meter, tapi deg-degannya luar biasa banget. Takut rumahnya oleng atau jatuh rontok. Ehe.


Asli kreatif banget warga Gosari yang bikin rumah sarang burung ini. Tapi sayangnya, kemarin pas saya kesitu kawat penyangganya sudah mulai berkarat dan dedaunan sarangnya mulai rontok. Semoga saja cepat diperbaiki ya. Seru banget kalau udah di dalam rumah sarang burung ini, rasanya pengen baca buku berlama-lama atau bobok siang dengan semilir angin yang menghangatkan.

Tipsnya: saat naik ke atas, pandanglah ke atas jangan pandang ke bawah tangga. Nanti pasti kecut karena deg-degan dan kocar-kacir. Dan kalau sudah di atas jangan lupa menghirup udara pelan-pelan biar bisa menikmati sensasinya sebagai burung. Ehe. Jangan bergerak terlalu keras, biar rumah sarang burungnya tetap awet dan bisa tetap dinikmati siapapun yang berkunjung ke sini. 

Rumah ala The Hobbit

Nah, di Wagos sendiri ada rumah kayu The Hobbit macam di Farm House Lembang. Kalau di sini rumahnya lebih sederhana dan simpel. Nggak sama persis kayak rumah Hobbiton yang ada di New Zealand. Jadi semacam replikanya gitu lah ya. Lumayan kan, bisa jepret-jepret di depannya, biar jadi turis ala-ala mengunjungi rumah Hobbiton gitu.

Omah Kayu Unik

Duh, ini nih yang bikin ceria di Wagos, bisa foto-foto sepuasnya di beberapa omah kayu yang didesain unik. Bahan dasar omah kayu ini benar-benar dari kayu jati yang kuat. Makanya keren banget kalau pengerjaannya sedemikian rupa uniknya. Saya saja sampai excited banget pas lihat omah kayu ini berjejer. Tapi jangan heran ya, buat sekali jepret di sini saja harus antri dan sabar.


Nggak tahu lagi harus ngomong apa, semua spot terlihat menarik di sini. Sebenarnya ada satu spot lagi yang nggak kefoto karena antrinya lama banget, jadi ya cukup ini saja spot omah kayunya. Tips: jangan lupa siapin gaya buat foto di sini. Kalau saya orangnya asal aja jepret-jepret, alhasil bingung pilih yang bagusnya mana, karena kebanyakan failed. Ehem.

Bukit Batulan

Spot terakhir yang kami kunjungi saat ke Wagos adalah Bukit Batulan. Seperti yang sudah pernah saya singgung di atas, bahwa jalan menuju bukit ini adalah melalui lorong payung yang ada di samping kolam renang. Karena jarak tempuhnya lumayan jauh yaitu kurang lebih 500 meter, maka alangkah lebih baiknya bawa motor sendiri daripada jalan kaki. Apalagi jalanannya nanjak gitu, bisa semper kalau kaki dipaksa jalan, apalagi kesana nya pas siang hari pula. Duh, makin imut deh ya. Bisa gelar tikar nyampe bukit saking capeknya. (Note: buat yang jarang jalan kaki kayak saya sih)

Kalau sudah di atas bukit, lihat pemandangan kanan kiri yang berupa bukit sisa gunung kapur yang sudah lumayan terkena erosi, duh ademnya hati dan pikiran. Rasanya langsung keformat sendiri file-file di otas yang sudah bobrok dan rusak. Recycle Bin otak juga rasanya bersih kembali. Cocok sih buat yang mau ngilangin stress kerja sama bosan berkepanjangan. I highly reccommend it.

Lokasi dan Rute Menuju Wisata Alam Gosari

Lokasinya sendiri terletak di desa Gosari, kecamatan Ujung Pangkah kabupaten Gresik, Jawa Timur, Indonesia. 61154. Kalau mau ke sana bawa mobil, saya sarankan mengkuti peta. Insyaallah lokasinya sesuai kok. Saya kemarin juga ikut peta.

Rutenya sendiri ada dua jalur. Kalau dari arah lamongan atau paciran, kalian lurus saja ke arah Sidayu, tapi sebelum itu carilah gapura Desa Sekapuk ada di sebelah kiri jalan, terus masuk saja. Lurus saja sampai masuk desa Gosari, kalau sudah nanti ada anak panah yang menunjukkan arah lokasinya. Kalau dari arah Gresik kota, kalian lurus saja ke arah Gresik wilayah utara, melewati Jembatan Sembayat, sampai ke alun-alun Sidayu, terus belok kiri. Setelah itu lurus saja sampai ketemu desa Sekapuk di sebelah kanan jalan. Untuk patokan sebelah kirinya ada masjid besar & RS PKU Muhammadiyah. Nah kalau sudah masuk gapura Desa Sekapuk, kalian tinggal lurus saja sampai masuk desa Gosari, kalau sudah nanti ada anak panah yang menunjukkan arah lokasinya.



So, kalian masih ngira Gresik nggak punya destinasi wisata? OH, BIG NO!
Tabik,

Sembayat Bridge II; Jembatan Baru Jalur Gresik Kota - Gresik Utara


Selamat datang di desa kelahiranku. Desa yang sangat asri dan penuh cita rasa. Mau ke pesantren tinggal nyebrang melalui jembatan, mau ke pasar besar desa Sembayat tinggal jalan kaki 10 menit sampai. Ya, inilah desa Sembayat. Desa yang aktif dan agamis berlokasi di sisi selatan sungai Bengawan Solo sebagai desa terakhir wilayah utara yang berada dalam naungan pemerintahan kecamatan Manyar. Sehingga ada landmark Sembayat Bridge yang menghubungkan antara pemerintahan kecamatan Manyar dan kecamatan Bungah kabupaten Gresik, Jawa Timur.

Sembayat Bridge atau Jembatan Sembayat merupakan salah satu bangunan milik pemerintahan kota sebagai jalan raya utama sekaligus jalan penghubung jalur Gresik kota menuju Gresik utara (jalur pantura). Jalur ini pun selalu ramai kendaraan bermotor mulai dari sepeda motor hingga truk tronton bermuatan berat. Karena memang akses utama jalur perindustrian/ pergudangan, perdagangan / jasa, pendidikan, pemerintahan juga aktifitas permukiman warga lokal adalah jalan raya Sembayat ini.

Proyek Sembayat Bridge II

Apa kabar proyek jembatan Sembayat yang cukup menghebohkan sejak tahun 2014 hingga akhir tahun 2018 kemarin? Sebenarnya, sejak tahun 2015 yang lalu jembatan ini sudah naik proyek dan selalu menyebabkan kemacetan luar biasa karena ukuran jalan raya dua jalur ini cukup sempit. Maklum, untuk menuntaskan proyek jembatan terbaik ini butuh pembebasan banyak lahan dari kedua belah pihak yaitu warga desa Sembayat dan desa Bungah. Sehingga kemacetan itu terkadang membuat si pengendara makin kisut dan merasa gagar otak sebab kelamaan disengat sinar matahari, sampai ada juga yang tiba-tiba punya serangan darah tinggi karena kebanyakan ngomel-ngomel.

Puji syukur, sejak awal tahun 2019 kemarin jembatan yang memiliki panjang 354 Meter (terdiri dari 1 bentang pelengkung (93 m) dan 5 bentang PCU girder 51+51,5+53+53+52,5 m) dengan pengeluaran biaya pembangunan sekitar 173.5 Milyar ini sudah siap beroperasi (meski belum diresmikan) dan masih tetap menempati ranking kehebohan sejagat nyata dan maya, karena kini jembatan yang diberi nama Sembayat Bridge II ini justru dijadikan tempat wisata sementara atau hangout berpose ria oleh warga lokal dan sekitar (terutama oleh anak-anak dan pemuda).



Selain arsitektur bangunan atapnya yang unik, jembatan ini ukurannya lumayan panjang dibanding beberapa jembatan yang ada di kabupaten Gresik. Jadilah saya dan nyokap penasaran banget pengen berpose ria di sana. Setelah cukup memberanikan diri ikut anak-anak genk motor melintasi pintu masuk jembatan baru ini, akhirnya kami menyempatkan diri untuk berfoto dan mengambil video. Sembari mengucap alhamdulillah berkali-kali kami menyusuri jembatan dan menikmati pemandangan hijau di sekeliling jembatan juga sungai bengawan Solo yang membentang luas nan gagah.

Akhirnya, problem solving kemacetan selama melintasi jembatan ini terealisasi juga. Semoga dengan adanya jembatan baru ini, jalur utara dan selatan kota Gresik semakin lancar dan tidak ada drama kisut di jalan karena macet apalagi serangan darah tinggi dadakan. Aamiin.

Buat yang mau explore Sembayat Bridge II ini silakan dari sekarang ya, mumpung masih belum diresmikan dan beroperasi. Nanti kalau sudah beroperasi mah boro-boro bisa action di depan kamera secantik ini.

Tabik,

Melepas Rindu Kuliner Gresik; Bakso Urat Cak Adhim


Mana suaranya para pecinta bakso? Oke, sudah sudah. Sila diturunkan kembali tangannya. Bau keteknya sudah mulai menyengat. Tos dulu deh bahwa kita memang satu spesies kan ya. Homo Baksodisaurus, doyan makan walau kurus. Buat yang gemuk tak boleh iri hati, karena suatu hari nanti pada akhirnya akan ada masa bahwa lemak tubuh manusia yang tertimbun akan terkikis dengan sendirinya melalui diet alami.

Saya adalah salah satu di antara jutaan manusia di belahan dunia ini yang amat sangat mencintai kuliner nusantara yang bernama bakso [meatball]. Jangan ditanya sejak kapan, yang jelas kecintaan saya terhadap bakso terhitung lebih banyak dibanding kecintaan saya terhadap dimsum. Mungkin, bagi sebagian orang yang sudah pernah hidup berdampingan dengan saya masih ingat bahwa saya ini bakso addict. Setiap ada bakso apapun jenisnya pasti saya beli. Inget banget, tengah malam cari bakso sampai ke penghujung Jakarta Selatan, ujung-ujungnya dapat bakso gratisan dari ceu Yani, yang abis kencan dari warung Bakso terenak di kota Cirendeu. Gue dibangunin sampe kaget bener liat bakso urat segede panci (bo'ong sih, gede lah pokoknya mah). Makasih loh beb 😗😘

Lagi-lagi tiap abis maghrib atau isya' nongkrongin abang bakso Malang yang padahal rasa bakso dan kuahnya kadang lewer (ora ngalor ora ngidul). Inilah saya, si penggila bakso sampai segitunya. Jadi bisa dipastikan, untuk selera lidah saya terhadap bakso. Ohoho, jangan coba main-main. Saya pasti komentar kalau sampai kuahnya kurang pas atau baksonya kurang mantap.

Kuliner Khas Gresik ala Bakso Cak Adhim

Selama saya di rumah, ingin rasanya saya pergi kulineran bareng nyokap. Ya, karena kalian tau sendiri kalau selama ini saya LDRan. Hanya di saat seperti inilah momen berduaan romantis itu bisa terealisasi. Akhirnya, setelah beberapa kali menolak diajak keluar, nyokap pun menyerah pada kenyataan bahwa iming-iming saya untuk kulineran memang tak pantas untuk ditolak, apalagi itu 'BAKSO'. 

Bakso Cak Adhim atau biasa anak nggersik kulonan menyebutnya BCA merupakan salah satu kuliner khas Gresik yang dipuja puji para spesies Homo Baksodisaurus sebab cita rasa kuah baksonya yang super enak. Ditambah lagi kikil dan es caonya, semua bikin lidah mengeras merasakan kegetiran rindu mencicipi semangkok bakso asli Padang Bandung ini.

Bakso Urat Jumbo + Kikil. Pict Source: instagram @baksocakadhim 

Untuk bisa menikmati semangkok bakso urat Cak Adhim, saya sendiri harus melakukan perjalanan sejauh 2 km dari rumah. Walau selama hampir satu tahun ini saya menolak untuk naik motor di daerah rawan maut dekat rumah saya, akhirnya saya memberanikan diri demi melepas rindu pada si bakso nan mempesona ini.

Bagi yang belum tahu pasti kalian bertanya-tanya, memangnya di mana sih lokasinya Bakso Kikil Cak Adhim ini. Kok heboh banget kayaknya. Of course, selama saya beli di kios bakso cak Adhim ini selalu ramai pembeli. Bayangin saja, kios ini buka dari pagi dan tutup sekitar jam sembilan malam. Kuah baksonya selalu stand by dan cita rasanya tak pernah berkurang. Lokasinya tepat sebelah kiri jalan raya Desa Padang Bandung, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik, Jawa Timur kalau dari arah Gresik kota. Kalau masih bingung pakai google maps dong, jangan kalah sama Dora the Explorer.



Apa saja menu Bakso Cak Adhim?

Spesial untuk nyokap, saya persilahkan makan sepuasnya. Tapi sayang, perut cuma muat satu mangkok berisikan setengah porsi lontong, Bakso Urat, Mihun Biru, Kuah spesial dan segelas es cao mantap. Saya sendiri menunya sama seperti nyokap. Tadinya kita mau pesan bakso urat + kikil. Tapi karena kikilnya habis, kami jadi pesan bakso urat saja. Sayang sekali nih, rindunya belum 100% terobati. Kapan-kapan kudu balik lagi.

Untuk menunya sendiri sebenarnya ada dua menu utama yaitu bakso urat dan bakso biasa. Untuk bakso biasa rasanya ya halus gitu, mungkin hanya ada sedikit sentuhan uratnya. Kalau untuk urat sendiri benar-benar kerasa banget daging kasarannya. Ditambah lagi ada gajih kerasnya, jadi semakin maknyus. Bakso urat sendiri pun ada dua pilihan, ada bakso urat porsi biasa dan ada bakso urat porsi jumbo. Masing-masing porsi bisa ditambah kikil sesuai harga dan selera.

Menu hari ini Bakso Cak Adhim. Lengkap dengan harganya. Source: instagram @baksocakadhim
Untuk pilihan minumnya pun beragam. Ada es teh (tawar dan manis), es nutrisari, es cao, dan es kelapa. Kalau saya sih doyan es caonya, karena ya biasa saja dong ya kalau pesan es yang lainnya. Semuanya sudah sering saya nikmati sewaktu tinggal di Jakarta.

Harganya pun merakyat sekali. Untuk rasa yang begitu memikat hati dan minta dirindukan terus-terusan, harga semangkok bakso di oulet cak Adhim ini cuma dibandrol mulai dari Rp. 12,000 saja. Kami saja kemarin berdua cuma habis Rp. 30,000 untuk 2 mangkok Bakso Urat + 1 Lontong + 2 Gelas Es cao. Murah banget kan? Itu saja bikin kami berdua kenyang sak ndalan-ndalan. Mau makan di rumah saja jadi malas, padahal menunya juga kuah ayam. Heemmm, bakalan balik lagi deh ya ke outlet cak Adhim nanti.

Detik-detik terakhir menghabiskan bakso urat yang super hemat
Ini juga sih salah satu alasan yang bikin rindu ingin pulang ke kota santri nan sumpek ini. Selain menjadi pusat kota industri terbesarnya Provinsi Jawa Timur, Gresik juga surganya wisata heritage dan kuliner loh. Nggak percaya? Ayo ke Gresik makanya!

Oiya, big thanks to nyokap udah mau diajak kulineran sampai ke ujung kulon kota Gresik (ya walau belum kulon banget sih). Yang penting perjalanannya mengasyikkan ya bun. Love you more pokoknya, semoga bisa kulineran bareng terus :3

Tabik,

Rate for Bakso Cak Adhim
★☆
4,5 of 5 Stars
(Muantep Banget rek!)

Alamat lengkap:
Jl. Raya Padangbandung, Bandung, Padang Bandung, Dukun,
Kabupaten Gresik, Jawa Timur 61155