Showing posts with label Gresik. Show all posts

Sunday Penuh Bunga di Wagos Ujung Pangkah


Bisa ngajak jalan orang tua itu rasanya Alhamdulillah banget. Apalagi ke destinasi wisata yang bisa menjadi siraman rohani kedua setelah mencuci diri dengan ayat-ayat Allah yang suci. Wisata alam misalnya. Tanpa kita sadari sebenarnya, memanjakan mata untuk melihat ciptaan Allah yang segar membentang hijau seluas samudera bisa jadi obat hati yang sedang tersakiti, atau bahkan bisa menyembuhkan penyakit jiwa ringan seperti stress kerja dan tingkat kebosanan akut dalam diri.

Kalau di lingkungan kita tidak ada destinasi wisatanya gimana dong kak? Bisa kok, lihat taman-taman penuh bunga atau membiasakan menghirup oksigen setiap pagi sebelum kerja bisa membuat otak kita terasa fresh dan badan kembali bugar. Tidak mungkin juga kan di sekitar kalian tidak tumbuh satu pun tanaman, jadi manfaatkanlah hasil fotosintesis mereka yang mengudara bebas.

Kalau kalian bertanya di mana tempat tinggal? Kalian boleh ketikkan nama 'Gresik' di google. Di situlah saat ini saya mengabdikan diri kepada agama, orang tua, dan perintisan karir sebagai seorang penulis juga konten kreator. Nah, buat yang sudah tahu kota Gresik ini seperti apa, pasti banyak yang beranggapan bahwa Gresik minim destinasi wisata. Padahal di tahun 2019 ini, wisata kota Gresik khususnya di daerah utara semakin dikembangkan. Salah satunya ya ini, Wisata Alam Gosari (Wa'gos) yang terletak di desa Gosari, kecamatan Ujung Pangkah, kabupaten Gresik.


Wagos sendiri resmi dibuka sekitar akhir tahun 2017 silam, bisa dibilang Wagos ini merupakan salah satu gebrakan oleh masyarakat Gresik yang dianggap pinggiran/ ndeso untuk mempromosikan keindahan alam yang ada di sekitarnya dan menyadarkan masyarakat sekitar tentang pentingnya destinasi wisata di tengah kota industri.

Harga Tiket Masuk Wa'Gos

Berbahagialah, karena tiket masuk wisata alam di Gosari ini terbilang sangat-sangat murah. Cukup mengeluarkan kocek sebesar 5,000 rupiah saja per orang, kita sudah bisa menikmati seluruh wahana wisata alam penuh bunga, arena outbond dan bermanja-manja ria.

Untuk parkir sepeda motor sepuasnya, kita cukup membayar 5,000 rupiah saja, sedang untuk mobil, cukup membayar 10,000 rupiah saja. Jangan khawatir soal parkiran, tempat parkir yang disediakan juga cukup luas dan rindang karena banyak pohon jati yang siap meneduhkan.

Spot instagramable di Wa'gos

Spot pertama yang bisa kita nikmati adalah lorong payung warna-warni tepat di samping kanan lahan parkir. Berbagai macam payung dipajang rapi, berbaris dengan selingan pattern dan etnik. Untuk bisa foto di area ini harap sabar sih, karena yang antri banyak dan kadang ada juga yang lewat karena lorong ini merupakan jalan menuju bukit yang ada rumah segitiganya itu.

Jembatan Cinta ala Pedesaan Jepang Klasik

Spot kedua yang menarik perhatian adalah jembatan cinta ala-ala di pedesaan China/Jepang klasik. Jembatan merah lengkap dengan lamphion dan bunga sakura ini membuat kita semakin terasa sedang berada di desa penuh bunga di negeri matahari terbit (Jepang) sana. Jembatan merah di sini asli terbuat dari kayu yang di beri warna merah, sehingga terasa kental sekali budaya Jepangnya.

Kanan kiri jembatan ini dipenuhi bunga Cosmos berwarna-warni, berdampingan dengan Dandelion yang sedikit membaur. Sehingga spot ini cocok untuk berfoto ria ala-ala gadis jepang yang memakai kimono. Sayang, saya nggak punya kimono jadi seadanya saja foto di sini. 

Taman Bunga Cinta

Spot inilah yang paling menyegarkan mata menurut saya, karena bunganya berwarna segar semua. Lahannya lumayan luas dan bermacam-macam bunga yang sejenis tumbuh dalam satu taman, seperti bunga seruni, cosmos, violet, vinca dan zinnia. Duh, kebayang kan gimana happy nya kalau memandang satu taman yang berisi bunga semua begini. Seketika sakit hati langsung hilang dan lambat laun stress tatkala luntur dengan sendirinya, mata segar, batin sehat memancar.


Oiya, supaya bisa dapat foto instagramable kayak gini, jangan lupa bawa kostum atau aksesoris pendukung dari rumah ya, karena di sana tidak disediakan. Ya, namanya juga wisata alam, pada hakikatnya ya alam yang harus dinikmatin, bukan foto-fotonya. Ehe. Note: jangan sampai diinjak-injak juga ya bunganya, kasian banget kemarin lihat beberapa bunga ada yang layu karena bekas diinjak para turis. Please, kita harus jaga keindahan destinasi wisata yang sudah ada segalanya buat kita. Jangan sampai dirusak begitu saja, serius saya sedih banget lihatnya.

Rumah Sarang Burung

Spot paling unik ya ini, rumah sarang burung yang ada di belakang spot lorong payung dan kolam renang. Untuk naik ke rumah sarang burung ini cukup menantang, disediakan tangga kayu untuk sampai di atas. Ketinggiannya mungkin sekitar dua setengah meter, tapi deg-degannya luar biasa banget. Takut rumahnya oleng atau jatuh rontok. Ehe.


Asli kreatif banget warga Gosari yang bikin rumah sarang burung ini. Tapi sayangnya, kemarin pas saya kesitu kawat penyangganya sudah mulai berkarat dan dedaunan sarangnya mulai rontok. Semoga saja cepat diperbaiki ya. Seru banget kalau udah di dalam rumah sarang burung ini, rasanya pengen baca buku berlama-lama atau bobok siang dengan semilir angin yang menghangatkan.

Tipsnya: saat naik ke atas, pandanglah ke atas jangan pandang ke bawah tangga. Nanti pasti kecut karena deg-degan dan kocar-kacir. Dan kalau sudah di atas jangan lupa menghirup udara pelan-pelan biar bisa menikmati sensasinya sebagai burung. Ehe. Jangan bergerak terlalu keras, biar rumah sarang burungnya tetap awet dan bisa tetap dinikmati siapapun yang berkunjung ke sini. 

Rumah ala The Hobbit

Nah, di Wagos sendiri ada rumah kayu The Hobbit macam di Farm House Lembang. Kalau di sini rumahnya lebih sederhana dan simpel. Nggak sama persis kayak rumah Hobbiton yang ada di New Zealand. Jadi semacam replikanya gitu lah ya. Lumayan kan, bisa jepret-jepret di depannya, biar jadi turis ala-ala mengunjungi rumah Hobbiton gitu.

Omah Kayu Unik

Duh, ini nih yang bikin ceria di Wagos, bisa foto-foto sepuasnya di beberapa omah kayu yang didesain unik. Bahan dasar omah kayu ini benar-benar dari kayu jati yang kuat. Makanya keren banget kalau pengerjaannya sedemikian rupa uniknya. Saya saja sampai excited banget pas lihat omah kayu ini berjejer. Tapi jangan heran ya, buat sekali jepret di sini saja harus antri dan sabar.


Nggak tahu lagi harus ngomong apa, semua spot terlihat menarik di sini. Sebenarnya ada satu spot lagi yang nggak kefoto karena antrinya lama banget, jadi ya cukup ini saja spot omah kayunya. Tips: jangan lupa siapin gaya buat foto di sini. Kalau saya orangnya asal aja jepret-jepret, alhasil bingung pilih yang bagusnya mana, karena kebanyakan failed. Ehem.

Bukit Batulan

Spot terakhir yang kami kunjungi saat ke Wagos adalah Bukit Batulan. Seperti yang sudah pernah saya singgung di atas, bahwa jalan menuju bukit ini adalah melalui lorong payung yang ada di samping kolam renang. Karena jarak tempuhnya lumayan jauh yaitu kurang lebih 500 meter, maka alangkah lebih baiknya bawa motor sendiri daripada jalan kaki. Apalagi jalanannya nanjak gitu, bisa semper kalau kaki dipaksa jalan, apalagi kesana nya pas siang hari pula. Duh, makin imut deh ya. Bisa gelar tikar nyampe bukit saking capeknya. (Note: buat yang jarang jalan kaki kayak saya sih)

Kalau sudah di atas bukit, lihat pemandangan kanan kiri yang berupa bukit sisa gunung kapur yang sudah lumayan terkena erosi, duh ademnya hati dan pikiran. Rasanya langsung keformat sendiri file-file di otas yang sudah bobrok dan rusak. Recycle Bin otak juga rasanya bersih kembali. Cocok sih buat yang mau ngilangin stress kerja sama bosan berkepanjangan. I highly reccommend it.

Lokasi dan Rute Menuju Wisata Alam Gosari

Lokasinya sendiri terletak di desa Gosari, kecamatan Ujung Pangkah kabupaten Gresik, Jawa Timur, Indonesia. 61154. Kalau mau ke sana bawa mobil, saya sarankan mengkuti peta. Insyaallah lokasinya sesuai kok. Saya kemarin juga ikut peta.

Rutenya sendiri ada dua jalur. Kalau dari arah lamongan atau paciran, kalian lurus saja ke arah Sidayu, tapi sebelum itu carilah gapura Desa Sekapuk ada di sebelah kiri jalan, terus masuk saja. Lurus saja sampai masuk desa Gosari, kalau sudah nanti ada anak panah yang menunjukkan arah lokasinya. Kalau dari arah Gresik kota, kalian lurus saja ke arah Gresik wilayah utara, melewati Jembatan Sembayat, sampai ke alun-alun Sidayu, terus belok kiri. Setelah itu lurus saja sampai ketemu desa Sekapuk di sebelah kanan jalan. Untuk patokan sebelah kirinya ada masjid besar & RS PKU Muhammadiyah. Nah kalau sudah masuk gapura Desa Sekapuk, kalian tinggal lurus saja sampai masuk desa Gosari, kalau sudah nanti ada anak panah yang menunjukkan arah lokasinya.



So, kalian masih ngira Gresik nggak punya destinasi wisata? OH, BIG NO!
Tabik,

Sembayat Bridge II; Jembatan Baru Jalur Gresik Kota - Gresik Utara


Selamat datang di desa kelahiranku. Desa yang sangat asri dan penuh cita rasa. Mau ke pesantren tinggal nyebrang melalui jembatan, mau ke pasar besar desa Sembayat tinggal jalan kaki 10 menit sampai. Ya, inilah desa Sembayat. Desa yang aktif dan agamis berlokasi di sisi selatan sungai Bengawan Solo sebagai desa terakhir wilayah utara yang berada dalam naungan pemerintahan kecamatan Manyar. Sehingga ada landmark Sembayat Bridge yang menghubungkan antara pemerintahan kecamatan Manyar dan kecamatan Bungah kabupaten Gresik, Jawa Timur.

Sembayat Bridge atau Jembatan Sembayat merupakan salah satu bangunan milik pemerintahan kota sebagai jalan raya utama sekaligus jalan penghubung jalur Gresik kota menuju Gresik utara (jalur pantura). Jalur ini pun selalu ramai kendaraan bermotor mulai dari sepeda motor hingga truk tronton bermuatan berat. Karena memang akses utama jalur perindustrian/ pergudangan, perdagangan / jasa, pendidikan, pemerintahan juga aktifitas permukiman warga lokal adalah jalan raya Sembayat ini.

Proyek Sembayat Bridge II

Apa kabar proyek jembatan Sembayat yang cukup menghebohkan sejak tahun 2014 hingga akhir tahun 2018 kemarin? Sebenarnya, sejak tahun 2015 yang lalu jembatan ini sudah naik proyek dan selalu menyebabkan kemacetan luar biasa karena ukuran jalan raya dua jalur ini cukup sempit. Maklum, untuk menuntaskan proyek jembatan terbaik ini butuh pembebasan banyak lahan dari kedua belah pihak yaitu warga desa Sembayat dan desa Bungah. Sehingga kemacetan itu terkadang membuat si pengendara makin kisut dan merasa gagar otak sebab kelamaan disengat sinar matahari, sampai ada juga yang tiba-tiba punya serangan darah tinggi karena kebanyakan ngomel-ngomel.

Puji syukur, sejak awal tahun 2019 kemarin jembatan yang memiliki panjang 354 Meter (terdiri dari 1 bentang pelengkung (93 m) dan 5 bentang PCU girder 51+51,5+53+53+52,5 m) dengan pengeluaran biaya pembangunan sekitar 173.5 Milyar ini sudah siap beroperasi (meski belum diresmikan) dan masih tetap menempati ranking kehebohan sejagat nyata dan maya, karena kini jembatan yang diberi nama Sembayat Bridge II ini justru dijadikan tempat wisata sementara atau hangout berpose ria oleh warga lokal dan sekitar (terutama oleh anak-anak dan pemuda).



Selain arsitektur bangunan atapnya yang unik, jembatan ini ukurannya lumayan panjang dibanding beberapa jembatan yang ada di kabupaten Gresik. Jadilah saya dan nyokap penasaran banget pengen berpose ria di sana. Setelah cukup memberanikan diri ikut anak-anak genk motor melintasi pintu masuk jembatan baru ini, akhirnya kami menyempatkan diri untuk berfoto dan mengambil video. Sembari mengucap alhamdulillah berkali-kali kami menyusuri jembatan dan menikmati pemandangan hijau di sekeliling jembatan juga sungai bengawan Solo yang membentang luas nan gagah.

Akhirnya, problem solving kemacetan selama melintasi jembatan ini terealisasi juga. Semoga dengan adanya jembatan baru ini, jalur utara dan selatan kota Gresik semakin lancar dan tidak ada drama kisut di jalan karena macet apalagi serangan darah tinggi dadakan. Aamiin.

Buat yang mau explore Sembayat Bridge II ini silakan dari sekarang ya, mumpung masih belum diresmikan dan beroperasi. Nanti kalau sudah beroperasi mah boro-boro bisa action di depan kamera secantik ini.

Tabik,