Showing posts with label Fintech. Show all posts

Menerobos Peluang Menjadi Pebisnis; Berawal dari Hobi Untuk Investasi Masa Depan


Kalian pernah bermimpi jadi CEO dari sebuah perusahaan besar? Kalau iya, berarti kalian tepat sudah berkunjung ke postingan ini. Karena di sini, gue bakal ngupas sedikit banyak tentang #FUNancial Planning yang bisa kalian terapin di kehidupan nyata. Seperti tema acara yang gue ikutin kemarin yaitu CEO In The Making: Financial Tips to Transform Your Hobby Into a Business. Supaya di tahun 2020 yang bentar lagi menyambut kita, kita bisa merealisasikan mimpi kita dengan baik. 
"Setiap manusia memiliki dorongan batin bawaan untuk menjadi mandiri, menentukan sendiri dan terhubung satu sama lain. Dan, ketika dorongan itu terbebaskan, orang-orang bisa mencapai lebih banyak dan menjalani kehidupan yang lebih kaya. " -Daniel Pink, penulis motivasi.
Di era digital seperti sekarang, merealisasikan hobi (passion) sebagai pekerjaan adalah sebuah peluang nyata untuk memulai bisnis. Kita bisa apa, punya kemampuan dominan dimana, relasi kita siapa saja, bisa jadi ladang usaha untuk investasi kita di masa depan. Memang benar, untuk memulai saja kadang kita merasa lelah. Baru promosi satu kali saja kadang sudah berekspektasi bakal punya customer ribuan tapi eksennya nihil. Alhasil, ketika realita tidak sesuai dengan ekspektasi, kita jadi marah dan putus asa. Padahal, semua itu butuh plan yang tepat dan cerdas, supaya ekspektasi yang kita bangun sesuai porsi dan tidak pernah mengecewakan. Lalu, apa saja plan yang bisa diikuti agar bisnis (berawal dari passion) kita sesuai ekspektasi?

#FUNancial #YangKamuMau Bersama Home Credit Indonesia

Semenjak Mami Yonna Kairupan dari Indonesian Female Blogger berkoar-koar kalau tanggal 14 Desember 2019 di Surabaya bakal ada acara #FUNancial #YangKamuMau dari Home Credit Indonesia, gue langsung antusias banget. Secara, gue dari dulu pengen banget belajar bareng Para CEO gitu. Gue pengen tahu rahasia mereka, gimana sih cara mereka mengatasi bisnis yang mereka bangun dari nol. Gue seantusias itu memang, karena daridulu gue mimpi banget punya bisnis (perusahaan) gede gitu, ya syukur-syukur kalau Allah memeluk impian itu. Yang penting gue mau tahu kiat-kiatnya dulu terus mau gue implementasikan di bisnis yang sedang gue bangun mulai sekarang.


Home Credit sendiri merupakan perusahaan asal Ceko, yang menjadi induk perusahaan Home Credit secara global. Memiliki komitmen untuk mengubah cara dunia berbelanja, Home Credit fokus mengembangkan strategi, teknologi, risiko, produk, dan juga pendanaan yang sesuai dengan kebutuhan pasar di masing-masing negara. Home Credit Indonesia mulai berdiri sejak tahun 2013 di area Jakarta, kemudian mulai berkembang secara luas di tahun 2017. 

Home Credit Indonesia menyediakan pembiayaan di toko (pembiayaan non-tunai langsung di tempat) untuk konsumen yang ingin membeli produk-produk seperti alat rumah tangga, alat-alat elektronik, handphone, dan furnitur. Di samping itu, Home Credit Indonesia juga menyediakan pembiayaan multiguna yang ditawarkan kepada pelanggan setianya. Pelanggannya bisa menggunakan pembiayaan multiguna untuk pembiayaan renovasi rumah, biaya pendidikan, atau bahkan berlibur. Seiring dengan berkembangnya jaringan distribusi kami, varian produk dari Home Credit Indonesia juga akan semakin berkembang.

Oke, mari kita mulai obrolan selanjutnya.

#FUNancial Planning ala Dipa Andika dan Erin Christie

Kalau kita mau membuka bisnis atau sedang menjalankan bisnis, #FUNancial Planning adalah bagian terpentingnya. Karena, jika keuangan kita tidak sehat ketika berbisnis, otomatis bisnis yang sedang kita bangun bakal berantakan. Menurut kak Dipa Andika (Financial Planner, co founder of Hahaha. Corp), kita jangan sampe terjebak dengan keinginan yang terbuang sia-sia, alias masih suka menghaburkan uang saat memulai bisnis dari pengeluaran kecil yang secara tidak sadar dilakukan berkali-kali. It's Latte Factors, guys!

Makna Latte Factors disini mudahnya begini. Misal kita membeli minuman boba atau kopi saat istirahat di gerai setiap hari. Atau mungkin tanpa sadar kita melakukan transaksi-transaksi kecil melalui M-Banking. Beli diskonan di marketplace atau apapun yang sejenis lainnya. Padahal, kalau dijumlahkan selama sebulan, pengeluaran Latte Factors ini cukup besar.

Berdasarkan data yang banyak dipublikasikan media, 9 dari 10 orang Indonesia mengeluarkan lebih dari Rp. 900,000 setiap bulan untuk Latte Factors. Hal ini sejalan dengan hasil survei dari "Share of Wallet" oleh Kadence International Indonesia bahwa masyarakat Indonesia menabung rata-rata hanya 8% dari pendapatannya, dimana sisanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari termasuk didalamnya hal-hal berupa Latte Factors. Sayang banget kan, ibaratnya bayar parkiran tiap hari walau kelihatannya sedikit, kalau dijumlahin dalam sebulan kan bisa ngabisin pemasukan juga.


Nah, kalau kalian baru mau memulai bisnis, kalian harus paham bahwa apapun yang kita pilih tentu memiliki resiko yang harus kita tanggung. Menurut kak Erni Christie (Financial Planner, co-founder of Basha Market and Of Sorts), jika kita masih belum punya gambaran apa-apa tentang bisnis yang akan kita buat ke depannya, mending jangan pandai melepas pendapatan yang sudah kita dapatkan sebelumnya. Mudahnya gini, kalo lo masih belum mampu buat ngatur keuangan dalam menjalankan bisnis lo, mending lo nggak usah sok-sokan resign dari kerjaan deh. Financingnya bakal dari mana gitu loh. Pendapatan kita perbulan kan masih dibutuhkan buat modal.

Buat kalian yang pengen banget merealisasikan hobi #YangKamuMau menjadi bisnis keren luar biasa, kalian kudu tahu bagaimana agar #FUNancial yang kita kelola tetap sehat sentosa. Diantaranya tips financing sehat yang bisa kalian implementasikan ke dalam bisnis kalian, antara lain:

Tips Financing Sehat ala Dipa Andika 
  1. Mencatat semua pengeluaran. Ini penting banget ya, karena sekecil apapun pengeluaran kita, bisa mengurangi pendapatan yang kita punya. Jadi, biar kita nggak bertanya-tanya terus setiap habis belanja, kok duit gue udah habis aja ya, perasaan baru kemarin gajian deh, kemana dong duitnya, apa diambil tuyul? Oh no, itu ulah kalian sendiri yang secara tidak sadar memakai uang tanpa mencatat pengeluarannya. 
  2. Bikin pos-pos keuangan. Misal, pos keuangan untuk dana darurat, uang belanja bulanan, uang pribadi yang dipakai untuk membahagiakan diri sendiri (membeli skincare atau perawatan), dan sebagainya. Nah, ngomongin dana darurat, alangkah lebih baiknya kita harus membuat rekening berbeda yang dikhususkan untuk menampung dana darurat kita. Jadi, di dalam rekening ini kita tidak bisa mengambil seenak jidat untuk pengeluaran kita kecuali hanya dalam keadaan darurat saja. Misal, butuh tambahan dana untuk pengobatan secara tiba-tiba.
  3. Buatlah mimpi dan target, karena mimpi adalah sebuah rencana. Ketika kita sudah berani bermampi, berarti kita sudah siap dengan segala rencana yang harus dilakoni. 
  4. Buatlah sistem budgeting. Beli ini harus habis segini, beli itu harus habis segitu. Biar pengeluaran yang bakal kita catat juga lebih gampang dialokasikan untuk apa. 
  5. Kontrol Gaya Hidup dan relasi. Jangan sampe demi gengsi yang menggunung, kita jadi rugi sendiri masalah keuangan. Apalagi kalau gaya hidupnya ngikutin temen yang lagi sok-sokan menggaya ngikut selebgram yang suka dibayar. Beli baju, beli ini beli itu, nongkrong sana, nongkrong situ, belinya yang mahal-mahal. Alohai, bikin pusing kepala. Lama-lama buntung gegera untung yang didapat hanya dipake buat nutupin gengsi semata. Don't do it, guys!

Terakhir, ngomongin soal Hutang, kak Dipa menjelaskan bahwa hutang juga perlu diperhitungkan, karena idealnya batas maksimal seseorang memiliki hutang adalah 30% dari pendapatan. Kalau lebih dari ini maka bisa mengganggu pengeluaran dan pos keuangan yang lain. Jadi sebelum mengambil hutang, entah itu KPR rumah, cicilan motor, atau cicilan bedak maybe. Kita usahakan tidak melebihi 30% dari pendapatan. Yakali, punya ini punya itu tapi hutang dimana-mana dan keuangan malah jadi nggak sehat. Sayang banget dong, mau jadi pebisnis kok jadi sobat missquin. Yang ada bisnis malah nggak jalan atau bahkan nggak jadi mulu tuk memulai.

Nah, ada quotes nih dari kak Dipa. Kaya? Is it a bad thing to have a lot of money? Kaya adalah ketika kita bersyukur dengan apapun yang kita miliki dan bisa melakukan apa yang ingin kita lakukan. Bener juga sih ya, berapapun financing yang kita punya, kalau kita bisa bebas melakukan apa yang kita inginkan, ya berarti kita kaya. Daripada uang banyak tapi hutang juga banyak, kita jadi terbatas mau melakukan apa saja. Ya, kismin juga sebutannya. Ehe.


Tips Menjadi CEO ala Erin Christie 

Jika kalian sudah mendapat posisi enak di perusahaan, jangan memutuskan untuk resign jika pas ditanya abis resign mau ngapain jawabannya adalah masih belum tau. Kalau memang sudah siap ingin menjadi CEO dari bisnis hobi yang kita punya, ya monggo saja. Tapi persiapkan matang-matang sebelum bertindak.

Ketika sudah memiliki bisnis sendiri, usahakan bisa memisahkan antara gaji untuk diri sendiri dan uang perusahaan (anggap aja perusahaan ye meskipun usahanya masih kecil-kecilan). Kenapa harus menggaji diri sendiri? Ibaratnya kita adalah karyawan di dalam perusahaan kita sendiri, jadi kita juga wajib menerima gaji di tanggal yang sudah ditentukan tiap bulannya untuk mengurangi terlalu seringnya kita mengambil uang perusahaan.


Next, mari kita pikirkan soal investasi. Mau untung ataupun rugi dalam menjalankan bisnis, anggap aja kita sedang berinvestasi. Jadi kembali lagi pada hal pertama, persiapan matang dalam menjalankan bisnis adalah langkah awal. Supaya tidak ada kekecewaan dalam berbisnis. Berinvestasi, menyisihkan tabungan di tiap bulannya adalah kewajiban. Biar kedepannya kita nggak keteteran ketika sewaktu-waktu perusahaan menglami deflasi dadakan.

Hemm, cukup menarik bukan kalau ngomongin hobi bisa jadi peluang untuk berbisnis? Sudahkah kita siap menjadi CEO di masa depan? Tips-tips dari Kak Dipa dan kak Christie bisa kalian terapin mulai dari sekarang. Bismillah, kalau niat dan persiapan kita sudah matang. InsyaAllah Tuhan akan memeluk impian kita segera menjadi CEO. Mari belajar dari mereka yang sudah mendahului kita.

Tabik,

Pahami Resiko Penggunaan Fintech dan Nikmati Kemudahannya


Siapa sih yang masih suka bertolak dengan kemajuan dan perkembangan teknologi masa kini? Saya rasa hanya segelintir orang saja yang setuju. Saya sendiri pun bangga menyambut inovasi-inovasi terbaru dari teknologi masa kini yang dikembangkan bukan hanya dari suatu golongan/ kelompok tertentu saja melainkan ada juga individu yang sedang berusaha keras untuk menampilkan suatu karya dengan mengikuti prosedural hidup di era digital seperti sekarang ini. You bring it, i take it.

Serunya lagi, perkembangan teknologi digital kali ini kian meluas ke beragam aspek kehidupan dan tak terkecuali masalah finansial sehingga terciptalah sistem baru yang diberi nama Fintech. Financial technology atau lebih sering kita sebut Fintech ini telah hadir untuk mengakomodasi kebutuhan finansial masyarakat. Sehingga bisa memberikan kepraktisan dalam melakukan beragam transaksi keuangan. Pinjam meminjam misalnya.

Pahami Resiko Penggunaan Fintech

Akan tetapi, kepraktisan ini bukannya menjadi bebas risiko. Mengingat keuangan merupakan isu yang cukup sensitif dan maraknya beragam cybercrime, masyarakat juga harus bisa lebih bijak menyikapi kehadiran teknologi ini. Takutnya data pribadi yang diminta disalahgunakan sama pihak yang tak bertanggung jawab. alias Investasi Bodong. Bikin aplikasi baru hanya untuk mencuri data orang lain saja dan menipu.

Saya sendiri greget sama fintech-fintech bodong seperti itu. Mengingat kemarin ada salah satu peserta talkshow "Ngobrol Tempo with OJK" yang mengutarakan komplain soal kerugian yang didapat oleh salah satu temannya, si pengguna fintech bodong. Dana tidak masuk ke rekening tapi bunga masih tetap berjalan. Sehingga beban hutang piutang masih menyelimuti salah satu konsumen fintech tersebut. Kan bikin emosi jadinya.

Dalam obrolan yang berfaedah kemarin, saya menggaris bawahi bahwa resiko penggunaan Fintech Peer to Peer Landing ini sangat mengkhawatirkan. Diantaranya ada:

1. Risiko atas Cybercrime

Hal ini adalah risiko yang paling potensial. Mulai dari penipuan, penyalahgunaan data klien, tanda tangan digital yang dapat dipalsu, dan beragam kejahatan dunia maya lainnya terhadap keamanan data yang rentan perlu diberi atensi.

2. Risiko Gagal Bayar
Bagi Finteh yang menjalani bisnis sebagai pembiayaan atau kredit, risiko gagal bayar adalah hal yang cukup mengkhawatirkan. Para investor sendiri sejak awal harus siap bahwa risiko untuk menanggung risiko gagal bayar kredit adalah tanggung jawab mereka. 

3. Risiko Pencucian Dana dan Aksi Terorisme
Kehadiran Fintech juga memiliki risiko terhadap kasus pencucian dana dan aksi pendanaan untuk terorisme. Hal ini disebabkan oleh lebih mudah dan cepatnya dalam melakukan transaksi keuangan.

Maka dari itu OJK tak segan-segan menerbitkan aturan melalui POJK No. 77/POJK.01/2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam Langsung Berbasis Teknologi Informasi, membentuk FinTech Innovation Hub, bekerja sama dengan berbagai instansi, aparat penegak hukum, dan lain sebagainya.


Nikmati Kemudahan Fintech

Dari beberapa resiko yang sudah dipaparkan OJK di atas sebenarnya masih berkesinambungan dengan mudahnya mengakses/ menggunakan Fintech. Kita butuh uang untuk modal usaha, keperluan mendesak, pengobatan kritis, semua bisa dilakukan hanya dengan satu klik saat masuk aplikasi. Dengan beberapa syarat yang cukup mudah yaitu mengisi lengkap data diri juga melampirkan foto KTP, dan pendukung lainnya, dana bisa masuk ke rekening kita dalam hitungan menit. Itulah kenapa para fintech bodong dengan mudah mencuri data pribadi kita dan menggunakannya sesuai dengan kepentingan prbadi mereka.

Buat kalian yang ingin tahu fintech apa saja yang sudah terdaftar dan diawasi oleh OJK bisa dilihat di sini.

Oleh sebab itu, sebaiknya kita harus jeli dan paham betul mana fintech bodong dan mana fintech yang sudah terdaftar di OJK. Jangan lupa, segala sesuatu memiliki resiko yang akan berakibat pada diri kita sendiri. Jadi, pesan dari OJK untuk meminimalisir resiko adalah kita boleh meminjam asal tidak melebihi 30% dari  jumlah pendapatan. Usahakan meminjam untuk kebutuhan primer bukan untuk kebutuhan konsumtif.

Jadi gimana? Mau memanfaatkan teknologi baru yang bernama FinTech? Semoga bisa bijak dalam menggunakan kemudahan yang didapat.