Showing posts with label Diary. Show all posts

Kepastian yang Bangsat


Hari ini, hari dimana aku menyelesaikan tugasku sebagai pekerja. Memberanikan diri untuk keluar dari kepastian Tuhan bahwa anak kere (miskin) harus bekerja selepas lulus SMA, demi kebahagiaan orang tua. Kadang aku bertanya pada siapapun yang ada dalam ruang kosong pikiranku, apakah seluruh orang miskin di dunia ini harus menanggung beban kepastian dari Tuhan yang begitu menyakitkan dan bikin sakit hati? Punya orang tua tak sempurna, fisik tak sempurna, keadaan ekonomi yang tak sempurna, teman tak sempurna, bahkan kehidupan lain yang jauh dari sempurna. 

Aku ingin meneruskan sekolah, orang lain menolak. Aku dinikahin orang kaya, orang lain berontak. Aku ingin begini, aku ingin begitu, rasanya tak ada satu orang pun yang setuju. Aku ini manusia juga bukan sih? Jangan tanyakan soal keluarga, baru kali ini ku merasakan keluargaku sendiri seperti air dan minyak yang sampai kapan pun tak pernah sependapat juga bersatu menyoal diriku dan bagaimana harusnya aku di masa depan. Kepastian ini menjadi kepastian bangsat bagiku. Merubah nasib satu biji wijen saja sama halnya menaklukkan puncak everest tanpa restu, tanpa persiapan dan tanpa bekal apa-apa. Mati di tengah jalan bisa jadi konsekuensi yang harus diterima dan dibiarkan secara percuma.

Aku benci, sungguh benci kepastian yang harus diterima secara legowo seperti ini. Bukankah tiap manusia punya keistimewaan yang bisa ditukarkan dengan kepastian yang sempurna? Tapi kenapa aku tak punya keistimewaan apapun yang bisa diperjualbelikan untuk meraih kesempurnaan itu? You only live once, so make the most out of it being the best you can be. Semuanya bullshit, karena apa yang aku lakukan selama ini di mata orang lain selalu salah. Kondisi ini sungguh sangat keterlaluan dan membuatku tak bisa berbuat apa-apa selain menerima kepastian yang bangsat. 

Setelah ibu menderita dan terkapar hanya sebagai boneka yang cuma bisa mengedipkan mata di kamar tidur, aku harus ekstra turun tangan mengurus semuanya sendiri. Belanja ke pasar sendiri, cari uang sendiri, pergi kemana-mana sendiri, sampai menanggung fitnah sendiri yang bahkan sampai saat ini rasanya susah sekali buat dimaafkan. Fitnah yang pernah dilontarkan sahabat masa sekolah dulu, aku dipermalukan didepan satu angkatan yang padahal bukan aku pelakunya tapi seolah alam membenarkannya. what the hell guys,😢😢😢 kenapa aku sebagai orang miskin cuma bisa diam dan hanya bilang, bukan akuuu sambil disumpah di atas al-Qur'an dengan penuh jeritan di dalam hati menyumpah serapah alam bahwa memang bukan aku yang mengambil uang 200ribu yang ada dalam saku Rok panjangnya Halimah. Bangsat untuk yang kedua kalinya.

I dunno mereka semua yang menyaksikan di dalam kelas, apakah mereka menelan mentah-mentah fitnah yang menimpaku ataukah sebaliknya. Mimik mereka bermacam-macam hingga pandanganku berkunang-kunang dan hatiku hanya auto fokus pada Sang Pencipta Alam. Semoga Dia berkenan membalas perbuatan siapapun yang melanggar etika sebagai manusia yang tak memiliki rasa (ber-)peri-kemanusiaan. Sial, kenapa harus aku yang nerima ini semua? Di saat ibu dalam keadaan setengah pulih dari penyakit gilanya (hanya tak diketahui secara medis, bukan penyakit mental), aku begitu diuji dengan kebangsatan yang luar biasa merendahkan martabatku sebagai perempuan baik-baik.

Ditambah lagi lingkungan rumah yang kurang kondusif, menyudutkanku sebagai perempuan yang nggak berpotensi apa-apa. Padahal kalau lagi ikutan lomba mewakili sekolah, aku nggak perlu koar-koar alias pamer kan. Kenapa sih orang-orang begitu jahat? :'(

Kemarin kerja juga difitnah yang enggak-enggak, dibilang aku kerja sampingan jadi pelacur lah, pembokat simpenan lah, bodo amat lah. Terserah kalian semua. Pokoknya, hari ini aku mau mengucapkan selamat datang pada diriku yang baru. Yang nggak mau mikir aneh-aneh dan bodo amat sama ocehan orang. Sekarang bukan waktunya sepakat sama kepastian yang bangsat. Aku yakin masih ada keistimewaan yang aku punya dan aku yakin Tuhan tidak sejahat itu kepadaku juga kepada kehidupanku.

Thanks earth,

Pekerjaan Laknat Membuatku Bejat (Part 1)


"Jangan sekali-kali kau hidupi dirimu dengan uang haram kalau kamu mau hidupmu berkah". Ibuku terbata-bata mengucapkan satu kalimat itu berulang-ulang. Otakku merasa disemprot pestisida karena selama ini sudah berandai-andai mau ikut casting, biar bisa main film di layar lebar atau sekedar ftv bahagia. Bukan, bukan maksudku bekerja sebagai artis adalah haram, tapi yang ditakutkan ibuku adalah ketika aku dholim saat bekerja. Menambah kerja sampingan sebagai yang lain (na'udzubillah: jadi simpanan om om misalnya) karena pergaulan bebas. Mungkin uang yang saya dapat ada kalanya berupa uang haram. Itu yang ditakutkan.

Beberapa bulan yang lalu aku resmi melepas masa es em a, setelah satu tahun penuh yang akhirnya ibu juga resmi melepas jadwal terapinya. Aku bahagia, ibu sudah bisa gerak dan beraktifitas kembali. Ibu udah bisa melaksanakan kewajiban sholat lima waktunya dengan sempurna. Tapi sayangnya, semua harta benda yang kita punya ludes tak bersisa. Itu tandanya aku harus rela bekerja demi lancarnya kehidupan aku juga ibu selanjutnya. 

Sudah tujuh belas tahun kan? Nikahkan saja anakmu, biar tidak merepotkan. Kasian kamu kurus kering begitu. Begitulah kalimat yang seringkali ku dengar dari mulut para bajingan tidak tahu aturan bagaimana orang miskin harus bersikap. Sama-sama miskin tidak usah berkomentar, toh kita sama-sama tahu harapan apa yang sedang kita perjuangkan. Bagi yang kaya, kalimat itu ku jadikan sampah lalu ku bakar hingga menjadi abu. Bodo amat kau berucap sesuka hati kau.

Entah darimana asal-usulnya, tau-tau aku punya pikiran untuk main ke Surabaya, ke rumah Saudara jauh di Sukomanunggal 5 yang sering ku anggap seperti kakak kandungku sendiri. Sungguh berarti, karena dia seakan jadi sponsor utama gaya fashionku tiap kali main ke rumah. Dia selalu membawakanku baju bekas lungsuran dirinya yang masih bagus, t-shirt Ripcurl yang super famous, jaket R&B, slingbag dan totebag yang super keren, minyak wangi bibit yang selalu membuatku menjadi baby━karena bau bayi, dan itu semualah yang membuatku berani pergi ke kota sendiri demi mendapatkan pekerjaan selepas tamat sekolah.

Setelah beberapa hari menginap di sana, lowongan kerja pun berhasil ku dapatkan. Kerja apa saja, yang penting halal, aku oke aja mbak, tegasku. Lalu ku pakai seragam hitam putih ala anak SPG baru dengan rambut terurai sebahu lebih ke bawah sedikit, makeup tipis-tipis, dengan senyum menawan sedikit ku melangkahkan kaki ke salah satu resto di Pakuwon Trade Center alias PTC Surabaya. Tanpa banyak ditanya, aku langsung resmi diterima, oleh Pak Hendrik supervisorku waktu itu.


Besoknya, aku sudah mulai kerja dengan baju yang sama saat interview. Bedanya, kali ini rambutku harus disanggul. Alasannya biar tidak ribet dan tidak berpotensi masuk ke makanan. Karena ini resto milik orang china, takutnya nanti banyak komplainan, karena kata orang juga, punya bos orang china itu cerewet banget. Bisa ganas bisa baik hati sih, tapi pelit dan cerewetnya tak bisa dipisahkan apalagi dinafikan. Ini kata orang loh ya, bukan kata kambing apalagi kedelai eh keledai. Silakan diklarifikasi sendiri benar tidaknya.

Bayangkan saja ya, kerjaku dibagi menjadi dua shift. Ada shift pagi dan shift malam. Karena resto kami ada di dalam mall, jadi kalau shift pagi aku selalu berangkat jam setengah 9 atau jam 9 sebab jam 10 resto sudah harus standby. Aku yang masih berusia 17 tahun harus kerja satu tim sama beberapa orang laki yang sudah om-om semua, kecuali dwi dan kadek. Dan aku baru tahu kalau resto ini menyediakan makanan tidak halal aka menu pork dengan segala macam jenisnya. Oh god, aku langsung teringat satu kalimat yang dilontarkan ibuku waktu itu.

Apakah pekerjaan yang saat ini ku jalani menghasilkan uang haram? Secara, dalam islam, kalau kita terkena najis anjing walau dari air liurnya saja kita harus membasuh tujuh kali biar seluruh tubuh jadi suci, kalau perlu mandi plus keramas sekalian, syahadat lagi dan jangan sampai diulangi secara sengaja. Tapi di sini? Aku harus dihadapkan hukum haram secara tak kasat mata. Dengan rasa hormat aku meminta maaf, daging babi yang diolah menjadi makanan sebenarnya tidak cocok jadi bagian dari pekerjaanku. Kalau saja terkena noda makanan dalam tubuhku, bagaimana sholat lima waktuku?


Tidak lama kemudian, aku mendapat seragam resmi waitress. Mari bertolak dari hukum haram soal daging babi. Aku pikir, kalau saja pekerjaan ini tidak membuatku berbuat melewati batas, sepertinya Allah juga akan memaafkan dan memperbolehkan. Selama aku tidak memasukkan makanan itu ke dalam tubuhku. Baiklah, mari kita lihat kelaknatan apa yang sedang terjadi dalam pekerjaan ini? Soal hukum haram sudahlah ku pertimbangkan.

How old are you? tanya salah seorang om bule yang datang satu rombongan bersama pria china bercelana cingkrang. I'm seventeen yo, jawabku. No, no, no Jackson, pria china itu menyahut dari kejauhan. Dia terlalu muda, jangan cari masalah. Dia pun menghampiri Jackson yang sedang berdiri tepat di depanku. I'm so sorry, but i need so... Jackson memberontak, seolah dia sudah ketemu menu terbaik yang harus dia santap malam itu. 

Happy Birthday to me!


Kelahiran dan pertumbuhanku berlalu begitu cepat. Rasanya baru kemarin aku tumbuh gigi di sebagian gusiku, hari ini belasan tahun telah melewatiku hingga tersebutlah masa remajaku. Aku terkulai karena masih semuda ini aku sudah banyak melakukan kesalahan pada diriku sendiri. Bahkan aku mengecewakan banyak orang yang telah mengharapkanku (menjadi anak yang berbakti dan membanggakan).

Aku cuma gadis yang lemah dan tidak tahu terima kasih. Aku selalu menuntut untuk bahagia di samping remuknya perasaan ibuku. Aku selalu bertanya, kenapa ibu menceraikan ayahku. Andai kejadian menyakitkan itu tidak pernah terjadi, mungkin aku bisa seperti anak-anak normal lainnya. Yang bisa berinteraksi dengan mudahnya dengan siapapun tanpa harus menangis terlebih dahulu, tanpa harus ketakutan dan ragu. Aku seperti menelan panasnya bara api lalu seluruh tubuhku meleleh hingga tak tersisa tulang belulangnya. Sia-sia saja.

Jatuh Cinta

Seperti yang kalian tahu, aku bukanlah wanita cantik (menurut lelaki yang ada di sekelilingku) secara fisik. Warna kulitku sawo matang, bahkan terlihat seperti sawo busuk karena terlalu cokelat. Tetangga bahkan keluargaku sendiri pun sepakat kalau ada yang memanggilku dengan sebutan "oreo atau cokelat". Tinggi badanku tidak semampai seperti anak-anak perempuan lainnya di keluarga ibuku. Itu karena bapakku yang berani menurunkan genetika buruknya (secara umum) kepadaku. Aku sedih ketika ada yang meremehkanku bahwa aku tidak akan laku. Memangnya aku sedang dijual? 

Kalau bicara tentang perasaan, aku lebih sering sakit hati karena sejak aku dilahirkan, tidak ada seorang pun yang pernah memuji kecantikanku, bahkan aku selalu menjadi objek lelucon ketika guru-guru di sekolah sudah mulai bosan mengajar, dan mereka mulai bertanya kepada beberapa teman laki-laki di kelasku, apakah mereka mau memiliki pasangan sepertiku. Sebagian besar kalian sudah pasti tahu jawabannya, mereka menolakku secara kasar dan marah tak terkira sehingga teman-teman yang lainnya menertawakan kami seolah ada pertunjukan sirkus yang menumbalkan monster sepertiku. 

Aku tersenyum simpul dengan aliran darah yang begitu deras dan detang jantung yang begitu cepat. Sebegini hinanya diriku ketika warna kulitku terlihat lebih pekat dari yang mereka miliki? Aku bertanya keras pada perasaanku sendiri, sampai pada akhirnya aku meluapkan seluruh air mata pada ilalang kering yang terseret angin di sepanjang perjalanan pulangku menuju rumah.

Tapi sampai di penghujung kelas enam sekolah dasar, aku sedikit mendapat pujian dari salah satu keluarga ibuku, katanya kalau dilihat lebih dekat lagi, parasku memang manis, semanis senyumku yang diqiyaskan seperti bunga mawar merekah di tengah kemarau panjang. Aku menjadi bahagia, hingga pada akhirnya aku jatuh cinta pada diriku sendiri.

Mencintai Seorang Lelaki

Hari ini, tepatnya di usia yang ke tujuh belas tahun, tiba-tiba aku mengagumi seorang laki-laki. Satu dari milyaran manusia yang tercipta dari segala keajaiban tangan Allah Subhanahu wa Ta'ala dan membuatku gugup saat kali pertama diajaknya ngobrol berdua. Aku sungguh tak berani menatap kedua bola matanya dua kali. Satu kali pandangan saja sudah bikin jantung saya berdetak sangatlah cepat. Aku jadi bertanya sekali lagi pada ruang yang kosong tak berpenghuni, apakah aku masih pantas untuk dicintai seorang laki-laki? Apakah aku akan laku seperti barang dagangan yang disebutkan mereka?

Ternyata sampai hari ini, sejak peristiwa kelulusan masa MTs. ku, banyak yang memuji paras manisku, wajah bersihku, kulit putihku, raut muka baby face ku. Yang semua itu aku dapatkan secara instan dari beberapa produk kosmetik rekomendasi dari teman sekelasku masa sekolah dasar dulu. Aku merasa malu, ternyata menjadi orang berwajah cantik berparas manis seperti kata kebanyakan orang untukku akhir-akhir ini tidak membuatku lupa dengan masa lalu. Masih ada saja yang menghina dan melecehkanku secara terang-terangan.

Akhirnya ku tersadar, bahwa mencintai diri sendiri bukan melulu soal perubahan, tapi mengingat Allah atas segala perkara yang disampaikan melalui jalan kehidupan setiap makhluknya. Ku bersyukur, masih memiliki orang yang masih ku percaya dan mempercayaiku, ibu di segala aspek kasih sayangnya. Happy birthday, kampret. Kamu adalah yang terbaik, meski banyak kejadian buruk yang menimpamu atas kerja kerasmu yang buruk. Berubahlah ke arah yang lebih baik, sehingga tiada lagi ketakutan yang kau sampaikan saat kau terlihat membanggakan di mata orang lain.

Sweet Seventeen, 

Barangkali Ini Jodoh


Selamat pagi khalayak, semoga hati ini tak pernah lelah memendam perasaan bersalah hingga suatu hari nanti aku bisa menghapus kembali ingatan rasa bersalah itu dan menggantinya dengan sebuah kebenaran. Hari ini aku bersaksi bahwa tiada makhluk Tuhan yang begitu berputus asa selain merasakan kesakitan yang begitu luar biasa. Ibuku kini terbaring lemah di atas tanah yang hanya berlapiskan tikar plastik bertumpukan babut (karpet). Sudah dua tahun ini beliau menderita penyakit lumpuh sebelah yang tak bisa didiagnosa oleh dokter biasa. 

Semua itu pasalnya dikarenakan ada gangguan tak kasat mata yang katanya mengintai lama tubuh ibu untuk dirobohkan jasadnya dan diambil nyawanya secara paksa, ke alam yang bukan seharusnya di mana manusia itu kembali kepada Tuhan setelah meninggal dunia. Ibu dijadikan tumbal pesugihan, oleh siapa dan untuk siapa, aku tak mau tahu dan tak ingin tahu sebab siapapun orangnya pasti tak lagi mengakui kesalahan yang sudah ia perbuat kepada ibu.

Yang terpenting bagiku saat ini adalah kesembuhan ibu hingga tak ada lagi air mata yang mengalir di ujung mata kanan dan kiriku. Sudah cukup batinku saja yang menangis sekeras-kerasnya. Jangan sampai sapu tangan ini basah oleh ingus dan tangisan setiap hari.

Mungkin Inilah yang Dinamakan Jodoh

Aku mengikuti acara Maulidur Rosul yang ada di sekolahku. Tidak ada yang sedang ku pikirkan selain mencari cara bagaimana agar penyakit ibuku tidak lagi menggerogoti tubuh yang sudah tua dan ringkih itu. Bahagianya, alhamdulillah saat ini aku masuk kelas tiga Madrasah Aliyah yang (ada) di bawah naungan salah satu Pondok Pesantren termasyhur di kota kelahiranku. Tapi cerita ini, kembali kepada satu tahun yang lalu.

Aku duduk di barisan paling tengah di sebuah aula kecil berukuran sekitar 18m x 6m. Ketahuilah bahwa sekolah yang aku tempati saat ini masih terbilang minim siswa, jadi tak usah kau bayangkan betapa besar luas keseluruhan sekolahku yang hanya memiliki tiga kelas per-gradenya. Tapi bersyukur, masih lengkap dengan perpustakaan, ruang osis, ruang lab sains dan lab komputer. Bukan sekolah murahan, tapi kebanyakan anak abege di tempatku memang sangat jarang yang berani mengambil sekolah lanjutan berlabel "Madrasah Aliyah" swasta.

Aku menunduk sepanjang acara, berharap mendapat keberkahan dari setiap sholawat yang kami lantunkan bersama-sama. Pagi itu, sekitar pertengahan acara aku disapa sama kakak kelas. Sudah biasa, aku selalu lebih memilih tempat yang tenang berjauhan dari teman-teman sekelasku. Mending satu baris sama kakak kelas yang tidak aku kenal biar aku khusyu' berdoa, maksudku mungkin biar tak banyak ngobrol saat mengikuti acara ini. Kamu Riris kan? Sapanya penuh hati-hati. Aku tersentak menoleh ke samping di mana telingaku menangkap gelombang suara yang begitu lirih. Ku lihat dari dekat, senyum ramah penuh ikhlas menyapaku dengan penuh perhatian. Aku pun menjawabnya dengan satu anggukan dan senyuman. Aku kembali menunduk sambil melihat pesan yang ada di ponsel nexianku.

Ia pun terdiam lama karena melihatku acuh setelah itu. Kamu sedang ada masalah ya? Kalau boleh, kakak mau kok dengerin suara hati kamu. Suara lirih itu kembali lagi, seolah memaksaku untuk bercerita bagaimana keadaanku yang sebenarnya. Air mataku tiba-tiba jatuh, tak mungkin ku menceritakan masalah pribadiku kepada seseorang yang belom aku kenal sama sekali. Tapi melihat tutur kata dan perilaku kakak kelas perempuanku yang bernama Needa ini rasanya seperti menemukan saudara kandung yang terpisah lama. Ia terlihat baik sekali dengan tata bahasa yang begitu sopan dan lembut. Agak-agak ku ingin memeluk tubuhnya dengan erat.

Entah bagaimana menjelaskannya, kak Needa bisa memaksaku untuk berani mengugkapkan kata-kata. Ibu kakak juga mengalami hal yang sama dek, malah dulu dimasukkan ke keranda mayat. Kami sekeluarga sampai menjerit-jerit, tapi alhamdulillah sekarang sudah membaik dan sehat kembali. Kalau mau coba, barangkali kan jodoh, nanti kamu kakak antar ke tempatnya, karena rumah beliau tidak jauh dari rumah kakak. Aku pun mengangguk sambil berterima kasih sebanyak-banyaknya.