Navigation Menu

Showing posts with label Ciputat. Show all posts

Sensasi Meeting di Intermeszo Cafe


Kalau dipikir-pikir, ternyata gue ini katrok juga loh. Dari sekian lama gue tinggal di Ciputat, tempat instagramable atau hangout yang keren aja gue belum tahu banyak. Ah, yang bener? Suer, gue ini termasuk katrok alias ndeso loh ternyata. Ya, begini ini. Kalau jadi mahasiswa rantauan mah harus pandai-pandai mencari uang halal dan memanage uang itu dengan baik. Betul tidak? Yoi dong! Oh, Thanks GOD It's Thursday! ❤👰 Alhasil, beli makan saja gue harus pilih warteg paling murah dan stop nongkrong-nongkrong syantik kalau tak berfaedah. Oh, ngeriiiii mameeen 🙌 (kalau yang ini sedikit abaikan, karena setiap orang juga pasti butuh hiburan; meski kurang berfaedah, Hahaha).

Dari sekian banyak kedai yang gue temuin saat gue jalan-jalan keliling Ciputat, gue baru ngerasain nongkrong berfaedah cuma 6 kali doang, iaitu di Sahabat Kopi, Merlion Cafe, Joker Coffee, Haus Coffee, Basecamp Cafe, dan kemarin di Intemeszo Cafe. Miris? Enggak juga sih, karena gue yakin suatu hari nanti gue bakalan ngejajal ke semua kedai yang ada di Ciputat, biar kalian juga bisa nikmatin sensasinya.

Apa dan di mana sih Intermeszo Cafe itu?

Intermeszo Cafe merupakan salah satu kedai atau resto di Ciputat yang memiliki konsep cafe & food court klasik, bertempat di jalan Kertamukti seberang Indomaret dekat kampus 2, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Jakarta.

First impression gue kesitu sih lumayan terkagum karena konsep tempatnya yang klasik. Dimulai dari cat dindingnya yang merah menyerupai bata, deretan kursi kayu dan lampunya yang terkesan klasik dan konsepnya yang outdoor bikin gue ya lumayan suka lah (sambil cuci mata lihat bule ganteng, et emang ada?). Kalo gue pikir-pikir sih ini tempat cocoknya gue sebut food court kali ya. Karena di satu tempat ini bukan hanya ada satu kedai mini saja, ya sekitar ada 5 kedai mini lah dengan berbagai jenis makanan yang berbeda.




Meeting Perjodohan di Malam Hari

Sedikit cerita, gue dan anak Geng Macan (Mahasiswa Cantik 👯😛) udah sebulan bikin bisnis perjodohan ala-ala sunnah rosul (barangsiapa yang berhasil membantu sesama saudaranya dalam mempererat silaturrahim, terutama membantu dalam hal ta'arruf (laki dan perempuan) sampai keduanya menikah, maka terbukalah pintu syurga baginya). Nah, alhamdulillah banget kan kalau misalnya bisnis perjodohan kita lancar dan berhasil sesuai harapan. Setidaknya ada pintu syurga yang terbuka untuk kita :p

Gue sama Chume (direktur Aplikasi Biro Jodoh anak Geng Macan) jalan kaki dari asrama ke Intermeszo, sekitar 10 menit sampai. Di sana kita udah janjian sama klien kita, Bang Evan (Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Jakarta, asli Ambon) juga kak Galuh Hayu (salah satu Blogger pemula yang doyan banget Ngopi, lihat blognya di sini). Oiya lupa, gue ke Intermoszo Cafe sebenarnya bukan hanya sama mba Chume, tapi sama emaknya juga, iya emak Tasripah yang jauh-jauh datang dari Brebes buat ketemu fans fanatiknya, yaitu Gue. Hahaha 😂 *sudah, lupakan*

Gue dan Emak Tasripah berpelukaaaaan~
Gue, Chume, dan kak Galuh berniat menjodohkan Bang Evan dengan salah satu kakak senior kita yang basically punya skill operation yang sama yaitu Law in Action. Jadilah kita meeting malam-malam. Sambil ngobrol ngalor ngidul, gue pesan Green Tea Ice sama Roti Bakar Selai Cokelat. 


Dari kiri: Emak Tasripah, Kak Galuh, Mba Chume, & Bang Evan

Selain ngobrolin soal perjodohan, sebenarnya ada hal lain yang bikin nongkrong kali ini berfaedah, yaitu proyek kerjaan buat kak Galuh. Suer, gue cengok (terlihat bego) banget malam itu. Gimana enggak kan ya, mereka bahas seputar ilmu Hukum dan sekawanannya, karena basically mereka dari prodi Hukum semua, nah gue? Anak jurnalistik yang kerjanya nyari berita, intipin gosip apakah itu gosip benar apa nggak, belajar koding website, desain grafis, bikin tulisan sastra, pantas saja otak gue nggak nyambung. Ya, sebenarnya kalau mau disambung-sambungin sih bisa tapi mending gue diam daripada ikutan sok tahu terus gagap dan itu malu-maluin banget. Haddeeh, yasudahlah~

How About Price and Taste

Kalo boleh jujur ya, rasa minuman dan masakannya kurang endeus di kafe ini, dibanding tempat gue nongkrong sebelumya (yang pernah gue sebutin di atas). Ya mau gimana toh? Gue itu lidahnya sensitif, karena dari masakan nyokap gue sendiri aja beneran kaya rempah, apa-apa kalo bikin itu totalitas banget, jadi kalau ada makanan yang kurang bumbu ya pastinya gue agak kecewa. Misal, bikin roti bakar itu kalau mau beda dan spesial, harusnya ada bumbu tambahan misalnya susu kental manis+bubuk matcha kah atau apa gitu, nah di kafe ini enggak. Makanya gue kurang srek sama harga dan rasanya. But overall, semuanya gue suka sih. Dari mulai konsep latarnya, pegawainya yang ramah, juga disediain tempat ibadah. Jadi, gue betah deh. 


Selain pesan Grenn Tea Ice & Roti Bakar, temen gue pesan Milk Shake Taro, dan rasanya ya biasa aja. Emak Tasripah pesan jus Jambu dan pas dirasain katanya biasa aja. Satu lagi temen gue pesan Ice Cream, tapi ternyata kurang endeus juga, duh beneran agak kecewa loh gue. Rasanya kurang creamy gitu loh. Tampilan sih oke ya, tapi rasanya mesti ditambah lagi ini. Biar spesial. Kalo Bang Evan sendiri pesan Nasi Bento, entah bagaimana rasanya. Ya, mungkin kalian bisa coba sendiri ya kalau nongkrong di sini. Lo tanya gue? Hehe, kalian aja deh yang taste, nanti tulis review di kolom komentar di bawah ya :p Haha. 

Kelebihan dan Kekurangan

Menurut pandangan gue, kelebihan di kafe ini adalah tempatnya yang strategis (tepat di samping jalan raya utama), tempatnya luas dan bersih sehingga cocok untuk nongkrong bareng, party, atau diskusi. Menu makanannya juga beragam. Selain itu, tempatnya yang outdoor jadi enak aja buat cowok yang suka ngerokok. Bebas mau kepulin asapnya di mana (tapi tahu diri lah kalau ada balita atau cewek yang kurang suka sama rokok, hehe).

Nah, ngomongin soal kekurangan, setiap orang punya cara pandang masing-masing. Gue sih apa adanya aja ya, kalau soal rasa di kafe ini kurang pas menurut gue. Menurut beberapa teman gue yang udah nongkrong di situ ya ngungkapin hal yang sama. Dari segi rasa emang kurang. Terus ditambah lagi penyajiannya yang (maaf) agak lama gitu. Padahal karyawannya kan lumayan banyak ya, kedainya pun beragam, tapi penyajiannya kadang-kadang bikin kita darah tinggi.

Sedikit cerita: Pas nongkrong kemarin ada lagi dua teman yang datang. Salah satu dari Mereka pesan mie rebus, ternyata penyajiannya salah. Lalu dia pesan lagi kentang goreng, sampai satu jam pun itu kentang nggak sampai-sampai di meja kita. Pas ditanya ternyata lagi diproses, begitulah keluhan kita soal kafe ini. Padahal sebenarnya enak banget tempatnya buat menghilangkan penat rasa, tapi sayang banget ada beberapa hal yang kurang bisa dinikmati. But, it's okey sih. meeting kita berjalan dengan lancar.

Kalau kalian ke Ciputat, jangan lupa mampir ke Intermeszo Cafe, karena di sana banyak Mahasiswa Internasional UIN Jakarta yang suka nongkrong syantik. Kali aja kan, kamu berjodoh. Hahaha :D

xoxo,

Menelusuri Jejak Taman Baca Masyarakat [TBM] Kolong Flyover Ciputat

doc. pribadi
Menjadi generasi yang hidup di jaman serba dicekokin seperti sekarang ini, terkadang membuat saya merasa pening kepala ketika saya dituntut harus mikir, bagaimana supaya anak muda jaman sekarang bisa meluangkan waktunya untuk membaca setidaknya satu buku dalam sehari. Tapi sepertinya sangat susah. Terlebih jika mereka sudah tahu dan paham akan positifnya dunia digital sekarang ini. Mungkin mereka lebih memilih menginstall aplikasi "book reader" sedaripada membaca buku langsung.

Kehidupan saya di tengah kota Ciputat sungguh amat menyenangkan. Menikmati hiruk pikuk suasana macet yang tak kunjung selesai membuat saya terkekeh sendiri, ternyata begitu banyak kerunyaman di sini tapi mengapa saya masih betah juga menuntut ilmu di kota yang penuh dengan kepadatan imigran dan bulu-bulu penyakit ini. Sesekali ingin rasanya memiliki cita-cita menjadi gubernur Tangerang Selatan, supaya saya bisa membangun ruang publik yang hijau nan asri di kota Ciputat dan menjadikannya Landmark keindahan bumi Tangerang Selatan. Ah, sudahlah. Toh pemerintah sekarang juga sudah bertindak semampunya.

Sekali-kali numpang endorse di sana, haha :D
Saya sendiri orangnya suka jalan kemana-mana, tapi sayangnya semua dokumentasi perjalanan saya masih dalam box draft yang tersimpan, padahal sudah berjanji pada diri sendiri bahwa itu semua akan dishare di blog ini. Entah karena malas menulis ataukah belum ada waktu, saya masih berusaha melawan keduanya, supaya tidak terlalu menjamur di dalam box. Ya, semoga saja sesegera mungkin di posting. Sebagai contoh: tulisan Menelusuri Jejak Taman Baca Masyarakat [TBM] Kolong Flyover Ciputat ini seharusnya sudah di posting beberapa bulan lalu, tapi nyatanya baru bisa diposting sekarang. Ya, tidak apa, yang penting niatnya masih belum berkurang toh. Tulisan di semua draft harus segera di posting!

Dilihat dari judul, mungkin kalian sudah ada yang tahu di mana lokasi yang saya kunjungi saat itu. Sebagai mahasiswi jurnalistik yang tak mahu cerdas secara teoritis saja, saya menyempatkan diri untuk wawancara kepada pengelola Taman Baca Masyarakat Kolong Ciputat ini. 

Sesi tanya jawab 
Menurut Bintu, salah satu pengelola TBM Kolong Ciputat yang saya temui saat itu mengungkapkan bahwa sebenarnya TBM Kolong di Pasar Ciputat ini sudah ada sejak tahun 2015 silam. Didirikan oleh Sahabat Oi (komunitas kawan-kawan penggemar Iwan Fals) Tangerang Selatan, Pemuda Pengabdi Nusantara (P2N), juga Komunitas FISIP (UIN Jakarta) Mengajar. Mereka melakukan perombakan tempat yang dulunya adalah Pos Penjagaan Lalu lintas oleh Satlantas kota setempat, kemudian dijadikan ruang publik yang dinamis dan diberi nama "Baca Taman" Ciputat.

Di Baca Taman ini tersedia berbagai macam buku, dimulai dari buku bacaan anak-anak, pelajar, remaja, hingga untuk masyarakat umum. Semuanya didapat dari hasil sumbangan para mahasiswa dan masyarakat setempat. Ada sekitar 2000 lebih buku yang terkumpul. Bintu mengungkapkan bahwa para penyumbang buku kebanyakan adalah "Hamba Allah" yang diam-diam memberikan sumbangan berupa beberapa kardus buku yang masih layak dibaca. Bahkan ada pula yang menyumbang buku baru tanpa menyebutkan identitas diri. Semuanya diterima dengan senang hati dan rasa terima kasih kepada mereka, para donatur yang tak nampak sesiapanya.


Tujuan awal dari didirikannya Baca Taman ini sesungguhnya adalah memanfaatkan lahan kosong di tengah keramaian kota Ciputat (karena di sampingnya terdapat Pasar Besar kota Ciputat) dan memberikan kesempatan kepada masyarakat setempat yang kurang mampu sehingga bisa membaca buku secara gratis dan belajar, juga menjadikannya ruang publik kota Ciputat yang bisa dinikmati siapa saja yang ingin melipir dan butuh hiburan.

Bapak tua pengangkut sampah sedang beristirahat dan menyempatkan diri untuk bisa membaca buku
Di Baca Taman ini, buku-buku terlihat rapi semacam perpustakaan kota. Ada kode-kode tertentu yang memudahkan para pembaca mencari buku yang diinginkan. Semua hal yang ada di sekitar taman baca ini bernuansa hijau dan hawanya terasa sejuk karena ada taman bunga kecil di depan pos dan terdapat mural-mural cantik yang menempel pada dinding-dinding Flyover yang juga hijau senada warnanya.

Photo Credit: Sri Mulyawati
Pertama kali saya berkunjung pun terkagum-kagum. Ternyata Ciputat punya ruang publik yang begitu mengasyikkan. Ketika semua orang pusing kepala karena melintasi jalan yang begitu runyam sebab kemacetan, mereka bisa melipir ke tengah area kolong Flyover untuk bisa menikmati asrinya taman baca yang sekaligus menjadi ruang publik kota Ciputat ini.

Photo Credit: Sri Mulyawati
Dan bukan hanya ada taman baca saja di sana. Fasilitas ruang olahraga pun tersedia sebagai ruang edukasi dan hiburan yang sangat menyenangkan. Jadi, selain menjadi media gratis membaca para masyarakat kolong, Baca Taman ini juga berfungsi sebagai tempat edukasi tentang kehidupan sosial, ekonomi, geografis, dan sebagainya.

Saya pun merasa senang dan bangga atas hadirnya Baca Tama di kolong Flyover Ciputat ini, karena di sana setiap orang bisa berbagi informasi dan motivasi kepada siapa pun yang telah bersandar di situ. Mereka juga bisa saling bertukar pendapat, menghibur diri, juga menikmati bahagianya suasana Pasar Ciputat. Dan yang terpenting adalah, mereka bisa belajar membiasakan diri untuk membaca buku dan tidak terpaku pada generasi tutorial di era digital sekarang ini.


Karena taman baca ini menjadi ruang publik yang bersifat terbuka, maka seperti biasa, saya harus dipotret ala selebgram kekinian. Dan biarkan Ciputat tetap berisiki, asal taman baca ini masih terus hidup sampai kapan pun!

Xoxo, 

Kedai Makan Melayu Ala Merlion Cafe


Hello awak semua ! Nak pergi makan? Jom lah ke kedai pak Cik Merlion depan kampus Psikologi UIN Jakarta tuh. Sedap sangat tau tak. Nak lagi lepas tuh. Korang semua jangan heran eh, di Ciputat ada pula kedai makan melayu macam kedai makan dekat Melaka. Hahaha. Benar gak ya?

Sebagai mahasiswa baru di UIN Jakarta, rasa keingintahuan akan lingkungan sekitar patutlah mendapat sokongan dari diri sendiri. Termasuk mencari tempat kuliner sekaligus tempat nongkrong langganan nantinya. Asal harganya sesuai budget lah ya. Berapa sih harga yang diminati mahasiswa di tahun 2016 ini? Palingan sekitar IDR 10k sampai 20k untuk ukuran makan sepiring (tapi penuh sampai tumpah :p), dan sekitar IDR 3k sampai 10k untuk ukuran segelas minuman (dengan catatan: gelas harus gede meninggi). Ah, sudah biasa.

Sebenarnya banyak sekali tempat kuliner di sekitar kampus UIN Jakarta, kalau diberikan kesempatan (doain ya /\) saya akan mereview tempat-tempat cantik tersebut di blog ini. Ada Hosen's Culinary, Abuba Steak, Surabi Teras, Haus Coffee, Joker Coffee, Kedai Dan, MCD & KFC (hahaha), Abang-abang gerobak Soto, Mie Ayam, Bakso Urat, Bubur Ayam, Warung Jawa, Warung Sunda (hahaha). Yasudahlah, mudah-mudahan tidak kecewa setelah membaca paragraf ini. Kita bahas Merlion aja dulu. 


Merlion Cafe, tempat makan yang sudah berdiri sejak tahun 2011 dan dikelola oleh Mr. Kitt alias Pak Cik asal Singapore ini bisa dibilang ngetop karena menjadi tempat andalan anak-anak sekolah dan anak kampus nongkrong. Dengan menu khas melayu Nasi Kari Ayam asli Singapore dan Teh Tariknya yang super enak, kedai makan melayu ini tak membandrol harga di atas rata-rata. Yang artinya kalian bisa menikmati menu di sini dengan label "Harga Murah Porsi Banyak".

Kedai ini juga tak menafikan kebutuhan anak-anak yang kini sedang membooming. Alakata "Apa-apa harus ada paket data/ kuota/ wi-fi". Dan di sinilah kalian bisa menemukan Free Wi-Fi itu. Penak toh? Pastinya!


Dan jika kalian ingin menikmati cita rasa makanan sembari memandangi suasana kampus dua UIN Jakarta, kalian bisa pilih tempat duduk yang ada di teras. Nampak berdiri kokoh si gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, gedung Fakultas Psikologi, juga gedung Pasca Sarjana UIN Jakarta. Kalian juga bisa menatapi hilir mudik kendaraan bermotor yang melintas di jalan Kertamukti.


Tempat duduk yang bisa kalian pilih ada dua versi. Jika kalian ingin menikmati makanan itu sendiri atau hanya berdua dengan single menu (masing-masing pesan satu menu), maka pilihlah tempat duduk yang single atau meja yang pendek dengan dua bangku saja. Tapi jika kalian kesananya rame-rame atau lagi reunian gitu misalnya, maka janganlah salah pilih tempat duduk. Pilihlah meja yang ukurannya panjang (sesuaikan muat untuk berapa orang dan berapa menu pesanan). Semua tempat duduk yang disediakan disini adalah meja dan bangku yang terbuat dari kayu. Di atas meja dilapisi plastik merah bersponsor Carnation (ada gambar susu kaleng Carnation).

Di ruang dalam pun sama, setiap bangku dan meja terbuat dari kayu dan tertata rapi. Dilengkapi dengan teve layar datar lengkap dengan mic dan sound system, yang artinya bahwa kalian bisa mencicipi karaoke gratis di sana. Tapi sayangnya, kalian hanya bisa mencobanya di malam hari. Karena karaoke dikhususkan untuk pengunjung yang datang sekitar pukul 8 sampai 12 malam. Jadi jika kalian ingin mencoba karaoke di sana, datanglah malam hari. Tapi jangan heran kalau sainganmu akan banyak sekali, karena bukan hanya kalian saja yang ingin mencicipi karaoke gratis di sana. Kalau masih sanggup ngantri sih gakpapa lah ya.


Tepat di ujung ruang bagian dalam, terdapat dapur tempat memasak dan kasir. Jika kalian ingin melihat langsung bagaimana Pak Cik meramu Teh Tarik spesial, bisa kalian lihat di sana. Dan seperti inilah gayanya Mr. Kitt membuat Ice Teh Tarik.


Waktu itu, saya memesan Nasi goreng Cumi lengkap dengan minuman khasnya, Tea Tarik Singapore. Dengan merogoh kantong uang receh 20 ribu rupiah saja, saya bisa menikmati menu nasi goreng dan teh tarik yang mengenyangkan. Duh duh..


Teman saya memesan Mie Aceh Rebus pake Cumi. Dan rasanya super banget. Rasa-rasa melayu gimana gitu. Berasa kuliner di negeri jiran deh. Haha.


Saya dan mereka pun memesan minuman favorit. Tea Tarik Singapore yang bikin nagih. Dan inilah nasi goreng Cumi pesanan saya. Porsi jumbo, harga mini. Sori, cuminya tertutup telor mata sapi.


Terus apa aja sih sebenarnya menu di Merlion Cafe ini? Jom, kite liat sama-sama. Ok?

Harga menu tahun ini. 2016

Nah gimana? Kalian berminat? Silahkan datang langsung ke lokasi. Di jalan Kertamukti depan Kampus II Fakultas Psikologi UIN Jakarta, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten.

Instagram: @MerlionCafe