Sebuah Pilihan atau Keajaiban?


Hari itu di mana aku harus memutuskan, menjadi pendamping ibu dan nenek selamanya, ataukah melanjutkan aksi gilaku menjadi mahasiswi lagi di perantauan. Kalau harus jujur, sebenarnya aku lebih memilih melanjutkan studiku di provinsi kelahiranku dan hidup berdampingan dengan orang tuaku ketimbang harus merantau lagi. Tapi apa daya, ada hal yang tidak bisa ku ceritakan di sini, alasan kenapa aku lebih mantap untuk akhirnya merantau lagi. Jujur saja, sebenarnya ini pilihan yang berat. Tapi aku harus memantaptapkan hati agar Tuhan juga tahu bahwa aku ini sedang bersungguh-sungguh dan serius dalam merealisasikan harapanku yang sudah melintas berlarian di depan mata.

Tangkap aku! Ayo, kejar aku. Kalau kamu bisa, berarti kamu hebat. Tuhan akan mengapresiasimu lebih. Ayo sini, bisa nggak? Jangan cuma ngomong doang.

Aku seperti harus mengikuti kompetisi kehidupan, melawan diriku sendiri yang mungkin terlihat lemah dan buruk di mata orang lain. Aku tidak boleh begini, aku tidak boleh begitu. Aku harus begini dan aku harus begini, untuk menghasilkan ini dan untuk menghasilkan itu. Biar tidak begini dan biar tidak begitu. Banyak sekali ancaman agar aku bisa menang melawan diriku sendiri yang (maaf) sudah terlalu bangsat bagiku sendiri dan orang tuaku.

Mungkin sebagian dari kalian juga tahu, kalau di tahun 2019 kemarin diriku benar-benar menjadi perempuan yang mungkin sedikit terlihat lebih hebat dibanding diriku yang sebelumnya. Aku bisa mendampingi ibu dan nenekku dengan penuh kasih sayang, bisa menghasilkan uang untuk liburan bersama orang-orang yang ku sayangi, dan aku juga bisa merubah sedikit nasibku menjadi orang yang bisa memiliki sesuatu yang lebih seperti orang-orang di luar sana. Aku punya smartphone baru dan punya laptop baru dengan spesifikasi luar biasa di luar ekspektasi. Aku siapa?


Aku hanya seorang manusia yang sedang berusaha membahagiakan diri, yang sedang memperbaiki diri, yang sedang merayu Tuhannya agar bisa dinobatkan menjadi salah satu manusia yang diCintai-Nya. Hanya sesederhana itu. Tapi kenapa? Aku menjadi sedikit spesial di tahun 2019 kemarin? Mungkin karena pedihnya orang tuaku. Tuhan tak sanggup melihat tetesan air mata yang terus mengalir di dalam batin ibuku, yang terus menemui-Nya di sepertiga malam untuk merayu kuasa-Nya agar aku bisa bahagia seperti perempuan lainnya. Mungkin begitu.

Setelah ku berpikir lebih keras apakah aku harus kembali menjadi budak rantau atau tidak, pilihanku akhirnya jatuh pada "kembali". Bayang-bayang tentang besarnya harapanku untuk menjadi "orang hebat" di mata ibuku terus meyakinkanku untuk terus melanjutkan pendidikanku. Aku yang sebenarnya sudah lumayan lelah dengan semua tuntutan ini pada akhirnya harus berani menentukan pilihan, mau menjadi manusia yang biasa-biasa saja atau luar biasa di mata ibuku dan Tuhanku.

Jujur, aku juga sempat ragu pada diriku sendiri, akankah aku mampu berjuang sendirian lagi? Akankah aku mampu jauh dari orang tuaku yang kini sudah mulai saling terbuka satu sama lain? Akankah aku bisa lebih cepat dari apa yang menjadi ekspektasiku? Tapi, semua keraguan itu aku sapu bersih dengan tindakanku yang sesungguhnya. Aku yakin 100% kalau aku bisa dan mampu dalam menyikapi segala hal.


Tak ku sangka, Tuhan sepertinya tersenyum melihat usahaku dalam meyakinkan diriku untuk kembali. Semua langkah yang ku hadapi dipermudah dan menjadi semakin menyenangkan. Aku tersenyum. Di awal tahun 2020 akhirnya aku kembali ke perantauan setelah satu tahun lebih aku di kampung halaman. Sebuah kejutan pun tiba-tiba hadir ke dalam kehidupanku lagi.

Salah satu wishlistku di Tahun 2018 Terkabul

Buat kalian yang sudah mengikuti blogku sejak awal, kalian pasti pernah lihat postinganku tentang "Happy Single Day 11.11" (lomba blog Lazada). Di sana aku menulis apa harapanku saat itu. Sebenarnya dulu aku hanya ingin ganti laptop, karena laptop yang aku pakai saat itu speknya rendah dan sudah lumayan lemot kalau dipakai kerja. Dalam hatiku, kalau Allah ngasih aku laptop apa aja ya aku terima, tapi kalau aku harus ditanya mau laptop apa ya harapanku memiliki Macbook Pro MD101. Disamping karena besutan brand terbaik Apple Inc, Macbook Pro MD101 merupakan salah satu Macbook besutan Apple yang harganya lumayan terjangkau dan speknya lumayan (untuk aku yang masih pemula) dibanding Macbook Macbook tipe yang lain. Dan entah darimana idenya, akhirnya aku memiliki laptop impian aku itu. Ya meskipun tipenya bukan MD101, tapi setidaknya aku bisa berkenalan dengan Macbook Pro besutan Apple Inc. ini.

Dan tahukah kalian, bagaimana aku bisa membeli Macbook Pro ini? Allahumma sholli 'ala Sayyidina Muhammad. Berawal dari ketidaksengajaan saat aku mau membayar daftar ulang kuliahku. Di bulan September tahun 2019, Alhamdulillah aku menjuarai lomba blog ASUS dan diapresiasi dengan Laptop ASUS Vivobook Ultra A412DA yang memiliki spek RAM 8GB HDD 1TB. Waktu itu aku lumayan bingung harus nambahin bayar kuliahnya dari mana, akhirnya aku puter otak untuk menjual laptopnya walaupun di awal aku sempat maju mundur.

Nangis berhari-hari dan mikir lagi, apakah aku bisa ngedapetin laptop yang sebagus itu? (secara ASUS VivoBook yang aku punya kan speknya gila banget kerennya). Aku mikir berkali-kali, apakah keputusanku kali ini sudah benar? Aku pandangi laptop yang baru lima bulan aku pakai itu. Apakah aku tidak bisa mencari jalan lain? Sampai akhirnya, aku memantapkan hati untuk menjual laptopnya dan uangnya aku pakai untuk beli Macbook Pro tipe lama ini (sebagai sarana ku tetap berjuang) dan sisanya aku pakai untuk bayar kuliah. Jujur, aku sangat sedih juga ada bahagianya. Di samping aku kehilangan laptop kesayangan aku (yang harusnya aku simpan baik-baik karena itu hadiah), malah terjual. Aku juga merasa bahagia bisa berkelana dengan Macbook Pro yang speknya hampir setara dengan ASUS Vivobook Ultra A412DA-ku. RAM 8GB HDD 250GB. Ya, perlu kalian tahu, Macbook Pro yang saat ini aku pakai, volume storage nya hanya segede itu. Tapi alhamdulillah sih, berkat keputusan yang aku ambil tadi, aku jadi bisa kuliah lagi dan lanjut menerima orderan @moshicoo (kalau kalian penasaran, boleh difollow ya).

Aku kadang masih bertanya-tanya, apa yang terjadi padaku saat ini, benarkah memang hasil dari sebuah pilihan yang aku pilih dari dalam hati? Atau sebuah keajaiban yang menyuruhku untuk melakukan semua ini? Aku merasa bersalah meninggalkan ibuku sendiri (lagi), sedangkan aku memilih untuk kembali (ke tanah rantau). Semoga keputusan kali ini tidak menjadikanku kembali pada diri yang rapuh dan tidak tahu diri.

Astaghfirullahal 'adzim..
Alladzi laa ilaaha illa huwal hayyul qoyyum wa atubu ilaih.
Wa laa haula walaa quwwata illa billahil 'aliyyil 'adzim..

Comments

  1. Yang penting , asal ibu sudah merestui pilihanmu mba :). Dan Allah pasti ikut merestui :).

    Apapun itu, seorang ibu pasti ingin yg terbaik untuk anaknya. Walo mungkin dia harus berjauhan dulu. Aku yakin dengan usaha, doa ibu dan doamu juga, kuliah insyaallah bisa cepet selesai. Semoga dimudahkan trus urusan2nya ya mba :)

    ReplyDelete

Post a Comment

I'd love to have a conversation with you about my post. Please share your thoughts & I'll reply as soon as I can!

Regards,
Cory Pramesti