Hello, there !

I’m Cory. I have a huge passion for blogging in general, but I love dabbling in photography and graphic design! I’m a major introvert, which is probably why blogging became such a big hobby of mine. Thanks for stopping by my blog!

for business inquiries,

@lifeascory

What Read Next ?

Thoughts: Ingin Punya Rumah Sendiri


Sebelumnya, saya ucapkan Selamat datang Tahun keberuntunganku, 2019. Shio Monyet akan bernasib lebih beruntung dari shio-shio yang lain, dan siapa saja para anggota Shio Monyet yang menikah dengan orang setengah baya di tahun ini maka nasibnya akan lebih berjaya. Aamiin. Itu menurut ramalan tanggalan china sih, mau percaya apa enggak, semua bergantung dengan ikhtiyar. Seberapa dekat kita dengan Tuhan, sampai Dia rela memberikan keberuntungan yang begitu banyak kepada manusianya. Semoga ramalan itu benar diberikan Allah kepada seluruh makhluknya, tak terkecuali saya. Dan semoga ibadah ini makin bertambah dan makin dekat dengan-Nya. Bukan kembali ke Rahmatullah loh ya, belum siap saya-nya, plis. Urusan Utang Piutang dan tanggung jawab saya sebagai seorang manusia penghuni jannatullah belum semuanya terlunasi dengan baik. Semangaaaat! Saya adalah salah satu dari jutaan manusia yang masuk kategori Shio Monyet, katanya.

Uang telah memotivasi orang untuk beribadah

Jujur, saya selama ini hidup cuma numpang di negara orang, di tanah orang, dan di rumah orang. I know, semua harta benda di dunia ini (dunia dan seisinya) adalah milik Allah, tapi kalau lagi hidup di dunia macam sekarang kan semuanya serba diakui sama manusia. Jangankan sepetak rumah, hutan pun terkadang masih ada saja yang mengakui bahwa itu miliknya. Begitulah dilema yang sedang mengarungi batin saya. Jaman sekarang, tidak ada lagi yang sanggup tidur di bawah pohon atau rumah kayu yang masih bocor. Semua orang berusaha keras untuk bisa hidup layak. Saling memaksa diri untuk bisa mendapatkan apa yang diinginkan, termasuk saya. 

Dari pagi sampai malam, sampai adzan shubuh lagi, masih berusaha untuk tetap menghasilkan pundi-pundi rupiah. Kenapa? Karena untuk beribadah sekecil apapun saja sekarang harus dimotivasi sama uang. Kerja adalah ibadah, kerja menghasilkan uang, uang telah memotivasi orang untuk beribadah. Betul? Oh bukan ya. Lalu bagaimana? Kita kerja mendapatkan uang, uang untuk hidup, dan hidup untuk beribadah kepada-Nya. Sudahkah saya beribadah? Saya pun masih menghitung-hitung, sambil merogoh diri ini. Intinya, hari ini dan seterusnya, uang itu dibutuhkan.

Back to the topic, jaman now jangan disamakan dengan jaman dulu. Dulu, orang masih bisa makan walaupun tak punya uang, dulu orang masih bisa kemana-mana walaupun tak punya uang, dulu orang masih dihargai walaupun tak punya uang, dulu orang tetap berkarya walaupun tak punya uang, dan dulu orang masih ikhlas membantu walaupun tak punya uang. Sekarang? Silakan dijabarkan sendiri. Pulsa saja masih dibeli pakai uang kok. Voucher? Nilainya uang juga kan. Beli rumah? Apalagi!

Rumah kita adalah Surga yang kita punya



Sebagai orang yang tak mengharapkan sepeserpun, bahkan memang tidak ada jatahnya untuk menerima warisan dari manapun (baik nenek, nyokap maupun bokap, karena mereka semua miskin secara materi, warisan saja tidak ada, bayangkan!), saya dituntut untuk bekerja keras lebih dari orang kebanyakan. Kadang saya merasa lelah juga, tapi mau bagaimana. Segala sesuatu katanya butuh perjuangan dan pegorbanan, butuh usaha lebih untuk mendapatkan yang lebih. Sedangkan ijazah perguruan tinggi saja saya tidak punya. Saya hanya perempuan biasa saja. Masih ndeso dan hanya punya bonus pengalaman yang bejibun.

Dari dulu, saya masukin rumah sebagai wishlist di setiap tahun. Supaya apa? Supaya saya ingat, ternyata saya, nyokap dan nenek membutuhkan itu semua. Ternyata saya masih hidup dalam bayang-bayang santet rumah tua yang hampir setiap hari meneror segala aktifitas yang ada di rumah. Kalau dibiarkan begini terus bagaimana saya bisa jadi manusia yang attitude dan segala keberuntungannya lebih maju dan berkembang? Saya rasa tidak ada sama sekali.

Di usia nenek dan nyokap yang semakin menua, saya hanya ingin merealisasikan impian kita bersama. Memiliki rumah yang layak untuk dihuni. Karena sesungguhnya rumah kita adalah surga yang kita punya.

Konsep rumah yang saya inginkan

Sebenarnya saya bukan tipe orang yang neko-neko. Cukup rumah panggung dengan taman yang luas juga tetangga yang baik hati seperti rumah-rumah yang disajikan dalam drama-drama Malaysia, rasanya sudah cukup. Tapi hidup di Indonesia menjadikan saya lebih serakah. Saya ingin punya rumah agak gedongan, karena saya sudah lelah dengan segala remehan manusia ketika tahu, oh jadi itu rumah kamu. Gubuk derita ya? Fine.


Saya jadi pengen punya rumah sendiri, pengen beli dengan hasil kerja keras sendiri, pengen punya rumah dengan konsep perumahan gitu tapi saya tidak pengen tinggal di perumahan. Entahlah, ada yang kurang menurut saya. Mungkin kurang bisa interaksi dengan tetangga macam drama-drama melayu yang asyik. Mungkin, tapi saya juga belum tahu takdir berbicara seperti apa nantinya.

Daridulu, saya lebih suka konsep rumah yang asri. Ada taman di depan, di samping dan di belakang. Saya pun tidak menginginkan rumah dua lantai kecuali memang lahannya kecil. Saya lebih suka konsep rumah yang lebar. Bukan berarti sok kaya mau beli tanah bermilyar hektar. Emang mau bangun perkampungan? Saya cuma pengen yang sesuai sama hati nurani. Karena ini rumah, untuk ditinggali, bukan satu atau dua kali tapi untuk selamanya sampai akhir hayat nanti. Makanya saya ingin konsep yang pas dan sreg dengan permintaan hati. Biar mood bagus, kerja dan beribadah lainnya makin sigap dan semangat. Orang lain yang datang pun merasa nyaman. Itu yang saya pengen.

Punya pagar rumah kayu yang gede dan shabby chic desain interiornya

Untuk tampilan sendiri, saya ingin memiliki rumah yang pagarnya tinggi gede. Selain untuk menjaga keamanan, saya juga ingin memiliki kenyamanan dalam membina rumah tangga, terlebih soal privacy. Entahlah, saya orangnya lebih suka yang tertutup gitu. Ditambah pengalaman mengerikan pernah terjadi dalam rumah lama, rasa-rasanya saya semakin semangat merealisasikan rumah baru yang berpagar gede tinggi.


Untuk desain sendiri saya ingin dekorasi cat gaya Swedia dari abad 18, Chateau di Perancis, serta Shakers di Amerika yang mementingkan kesederhanaan dan kepolosan pada desain. Warna putih cream untuk dinding rumahnya, shabby chic ala-ala segala furniturnya. Sofanya gede empuk bukan berarti yang keras busanya. Saya pengen itu semua. Supaya apa? Supaya rasa nyaman berkeluarga bisa saya rasakan. Sudah cukup penderitaan yang selama ini saya hirup layaknya oksigen. Keluar masuk tidak jelas, bikin ibadah maju mundur berputar-putar seperti gangsing.

Ya, semoga Allah tetap memeluk harapan ini sampai tiba waktunya. Semoga tidak sampai setua perkiraan. Deadlinenya tidak lama lagi, jadi harus kuat ibadah dan cari rejekinya. Mangatse! Menjemput rizqi di tahun 2019. Semoga rumah ini bisa direalisasikan di tahun ini. Aamiin. Bi ridlaallah.

NB: mohon maaf kalau ada tulisan yang kurang berkenan di hati anda, sesungguhnya ini bukan untuk dibagikan, tapi hanya sebagai catatan dan history perjalanan hidup yang saya capai. tidak ada salahnya, bukan? sekali lagi mohon maaf. 

Tabik,
....

Comments

  1. Bismillah.
    Kalau kita mau berusaha insyaallah dikasih jalan.
    Semoga terwujud :3

    ReplyDelete
  2. Keren yaa rumah impian kak Cory..
    Insyaa Allah terwujud dengan segala usaha dan doa.. Aamiin..

    ReplyDelete

Post a Comment

Hello guys! Thanks for reading this article.
For leaving your comment, please write on the box comment above, then click post/ publish.
Mohon memberikan komentar yang bersifat membangun ya!
Dan please, jangan berikan nama Anonymous di sini, karena jika kita tak saling mengenal maka bisa jadi tak sayang kan. *sok banget :p

Yuk sharing bareng di sini :)
Siapa tau nanti ku kunjungin balik blog kamu. Love you guys.