Satu Malam Jadi Santri Legal


Dulu, ketika ditanya, "Mau melanjutkan sekolah di mana?"
Dengan serentak kami menjawab, "Di Pesantren, Pak/Bu!". Tanpa basa-basi kami sudah sok tahu bahwa pesantren adalah rumah selanjutnya yang akan kami singgahi setelah enam tahun menggerogoti ilmu di Madrasah Ibtidaiyah. Padahal faktanya belum pasti. Dulu, kami sering ketakutan. Takut azab ilahi, takut siksa neraka, takut semua hal-hal yang berdampak buruk, hingga terciptalah pemikiran kami bahwa pesantren adalah jalan yang tepat untuk penghidupan yang baik selanjutnya. Bisa diqiyaskan secara ugal-ugalan bahwa menjadi santri seperti halnya manusia tanpa dosa yang memiliki buroq (kendaraan nabi Muhammad selama Isra') untuk melanjutkan kehidupan abadinya di surga Allah setelah mengalami fase kehidupan di dunia fana'.

Yah, seperti itulah kiranya pemikiran kami. Tinggal di pesantren setelah lulus Madrasah Ibtidaiyah adalah dambaan setiap siswa yang pengen masuk surga, katanya. Anggap saja, selama belajar di Taman Kanak-kanak dan Madrasah Ibtidayah, kami hanyalah sebatas manusia yang hidup di alam dunia yang isinya penuh perjuangan (baru lahir, belajar ngaji, belajar agama yang cuma seuprit, belajar ini, belajar itu), jadi butuh kendaraan buroq untuk mencapai surga dengan cepat.

Tibalah saatnya saya mengikuti tes ujian masuk Madrasah lanjutan milik salah satu pesantren tersohor di desa seberang. Sebut saja Pondok Pesantren Qomaruddin. Salah satu pesantren yang terkenal salaf juga modern. Semasa itu, pengasuhnya masih Romo Kiyai Ahmad Muhammad al-Hanmad, putera ketiga dari KH. Moh. Sholeh Tsalis (pemangku pondok pesantren Qomaruddin sebelumnya yang memodernisasi sistem pendidikan dengan menawarkan sispen klasikal atau formal). Saya memilih Madrasah Tsanawiyah, karena selain menjadi sekolah menengah unggulan, ibu saya sangat menginginkan agar anak perempuan satu-satunya bisa studi lanjut ke Madrasah (sebelumnya juga dari Madrasah). Alasannya, biar bisa belajar agama secara mendalam. Secara, ibu dan ayah saya adalah orang yang fanatik banget soal keyakinan dan keimanan.

Dag dig dug, seminggu lamanya saya menunggu pengumuman kelolosan seleksi. Alhamdulillah, membuahkan hasil yang menggembirakan. Ibu semakin giat mencari rejeki halal. Saya pun begitu, sebagai siswi madrasah yang takut akan azab ilahi, saya selalu berharap bisa terus belajar di Madrasah agar puting beliung kehidupan buruk tidak akan terjadi. Masih teringat ketika guru madrasah saya bilang, "Adakalanya orang yang nanti hidup abadinya bahagia (di akhirat), bisa dilihat dari hiruk pikuk kehidupannya selama di dunia. Kalau dia hidup dengan kedamaian dan kebahagiaan, insyaallah di akhirat pun semacam itu." Saya sedikit tidak percaya, tapi bisa saja hal itu terjadi. Mungkin saja karena Allah selalu menyayanginya sampai ke akhirat nanti. Seperti halnya orang tua menyayangi anak-anaknya.

Kehidupan selanjutnya dimulai. Saya harus berperang demi pendidikan yang layak. Sekolah saya sudah cukup modern dan tidak terlalu salafi. Saya yakin pendidikan saya di lingkup pesantren akan balance (agama dan pengetahuan umumnya), juga menjadikan diri saya semakin tidak terkutuk seperti api neraka. Setelah beberapa minggu masuk sekolah, timbul pertanyaan dari salah satu teman, "Cory, kamu nggak jadi masuk pesantren?" Baru teringat, saya pernah berkeinginan untuk masuk pesantren tapi terlupakan. Saya terdiam. Selama ini saya asyik menikmati perjalanan angkutan umum dari satu desa ke desa seberang. Ibu pun sedang semangatnya mencari rejeki untuk anak sulung sekaligus bontotnya ini.

Satu semester terlupakan sampai ramadhan menjemput

Keinginan untuk tinggal di pesantren kandas. Ibu seringkali memendam rindu. Ia terlalu sibuk di pasar dan waktu yang diberikan cuma bisa siang sampai shubuh kembali. Terkadang saya pun memendam rasa iba, ingin rasanya membantu ibu berjualan, tapi apa daya saya harus sekolah. Gimana saya bisa tinggal di pesantren, ibu saja sendirian hanya bertemankan nenek yang acuh. Batin saya teriris, sementara saya juga ingin mendapatkan buroq seperti teman-teman saya yang jauh tinggal di pesantren luar daerah. Ku lupakan pertanyaan teman satu kelas saya, toh sama saja di Madrasah Tsanawiyah saya juga mendapat ilmu agama yang lumayan. Jadi kesempatan saya buat jadi hamba yang baik dan mendapatkan buroq masih ada.

Tak terasa, ramadhan tiba-tiba menjemput. Kami selalu riang mengingat kegiatan di sekolah semasa Madrasah Ibtidaiyah. Pesantren Kilat namanya. Kami diberi jadwal mengkaji ilmu agama dengan syarat menginap selama dua minggu di sekolah. Tapi sewaktu berbuka, kami selalu dikunjungi orang tua kami dengan berbagai buah tangan yang tersebut rantang lengkap dengan kurma, kolak, jajanan, nasi, lauk, dan sayurnya. Duh, sungguh nikmat sangat luar biasa. Berawal dari situ pula kami selalu berkeinginan untuk tinggal di pesantren. Alasannya satu, "Biar tahu bagaimana rasa dan nikmatnya merindu!"

Siang itu ibu tiba-tiba absen dari jualan. Alasanya ramadhan kurang satu hari lagi. Jadi ingin bermanja-manjaan dengan saya keluar desa. Akhirnya kami pergi ke Ramayana, anggap saja Mall di tengah-tengah pedesaan. Entah kenapa ibu membeli banyak barang terutama barang kebutuhan saya. Bukan curiga, tapi aneh. Saya hanya manut, toh yang bayarin juga ibu. Saya pikir buat keperluan ramadhan, tapi ngapain jauh-jauh amat? Beli di pasar kan juga bisa. Yasudah, yang penting saya dibelikan cokelat. Selalu begitu!

Sesampai di rumah ibu mengatakan bahwa saya harus tinggal di pesantren, biar selama bulan ramadhan saya bisa melakukan ibadah lebih. Kalau di pesantren semua kegiatan ada yang memandu. Ada juga kegiatan yang berbeda dari kegiatan selama ramadhan di rumah. Nderes kitab kuning, misalnya. Jadi jangan disia-siakan kesempatan ini. Biar dapat buroq, katanya sembari bercerita meyakinkan bahwa saya pasti jadi hamba kesayangan Allah.

Saya menyetujui keputusan ibu. Saya mengangguk. Siang sebelum ramadhan esok hari, tiba-tiba ada mobil sedan warna hitam yang saya kenal. Tenyata benar. Itu mobil milik ayah temanku, Hurriah. Rumahnya ada di dusun sebelah, ternyata sudah kongkalikong sama ibu. Kami diberangkatkan bareng ke pesantren, yang jauhnya cuma naik angkutan umum sekali selama dua puluh menit karena tidak pernah macet. Desa sebelah yang hanya dibatasi oleh aliran Bengawan Solo dengan panjang jembatan satu kilometer. Kali ini tidak akan ada yang muncul tiba-tiba saat berbuka, ini bukan pesantren kilat. Tapi pesantren beneran. Legal oleh pemerintah. Saya dan Hurriah masih riang gembira, karena ini memang keinginan kami sejak dulu, dan sempat terlupakan setelah lolos seleksi kemarin.

Setengah jam sampai di lokasi. Kami masuk asrama pesantren putri. Semua administrasi sudah dilengkapi. Kami mendapat seperangkat buku (termasuk buku nderes/ kitab kuning), formulir pencetakan id card juga seragam pesantren. Duh, nikmatnya benar-benar terasa. Jadi gini ya rasanya jadi santri, baru masuk saja suasananya sudah berubah. Adem ayem di hati. Air mata ibu seolah mengalir deras. Tapi tak setetes pun keluar dari lubangnya. Saya jadi terharu, bisakah ibu hidup tanpa saya selama ramadhan? Kalau nanti betah bisa diteruskan sampai kelas tiga, katanya. Nanti ibu akan sering kesini, sanak famili juga banyak yang bermukim di sini, lanjutnya. Saya mengangguk.

Kamar Sayyidah Siti Khadijah

Setelah orang tua kami resmi melepas dan pulang ke kampung halaman, kami diantar mencari salah satu dari puluhan barisan ruang kamar bertuliskan serba Arab bercampur Inggris. Welcome to Sayyidah Fatimah's Room. Ahlan wa Sahlan (bil 'arabi) dst., dst.,. Begitulah contohnya. Kami ternganga, masih tidak percaya bahwa kami sudah legal menjadi santri. Sudah masuk dan mendapat atribut pesantren bagi kami dan santri seluruhnya adalah legal. Kami senyum-senyum sendiri, sepertinya kami akan betah sampai kelas tiga.

Ada sekitar delapan belas orang penghuni dalam satu kamar. Lemarinya raksasa, ruangannya lumayan luas. Cukuplah buat tidur berdempetan. Saya membawa boneka dari rumah, juga kasur lipat. Kata ibu biar tidak terlalu rindu dengan rumah, makanya diikutsertakan saya nyantri. Kami bersalaman saling menyebut nama. Semua ramah dan asyik. Kami jadi semakin betah. Diantaranya sudah ada yang SMA, kami jadi penasaran kisah apa yang akan diberikan untuk anak Madrasah Tsanawiyah seperti kami berdua. Dan tahukah, nama kamar kami adalah "Sayyidah Siti Khadijah" diambil dari nama zaujah Rasulullah SAW.

Malam pertama sekaligus terakhir

Malam tiba kami bercengkerama. Mempersiapkan sholat tarawih pertama, saya sangat bahagia layaknya sedang di surga. Beginikah rasanya jadi bidadari? Sungguh menyenangkan, hati semakin berbunga-bunga dengan konsep pemikiran semasa Madrasah Ibtidaiyah. Jadi muslimah yang dijanjikan surga. Menjadi santri ternyata lebih-lebih dari apa yang diperkirakan. Seru, punya teman lebih banyak, beragam suku, beragam daerah, beragam bahasa, beragam pengetahuan. Semua berbaur menjadi satu dengan tujuan yang sama. Menkaji pengetahuan agama Islam lebih dalam sekaligus mendapat kesempatan memiliki buroq kelak di hari hisab menuju akhirat.

Sholat tarawih telah lewat, saya dan Hurriah mulai memejamkan mata. Karena ini adalah malam pertama kami, ingin rasanya menikmati tidur bersama belasan santriwati dengan damai. Baru setengah jam menghirup tidur, terdengar suara tangisan yang menyesakkan. Saya terbangun, melihat kanan kiri hampa. Semua terlelap pada kasur lantainya masing-masing. Baru tersadar, Hurriyah tidak ada di samping saya. Dimana? Ternyata di kamar mandi dengan muka sembab menakutkan. Ia ingin pulang, katanya. Hatinya terasa dibolak-balik sejak tidur tadi. Serasa ada yang menghantui. Suara-suara aneh mulai ricuh di telinganya. Ia tidak betah. "Pondok ini ada hantunya!" ungkapnya. Saya jadi ikutan merinding. "Jangan ngomong gitu ah, kamu salah denger kali." Dia semakin berontak, seolah saya menuduhnya berbohong. Jadi serba salah.

Kabur dari pesantren tetap dinyatakan Santri

Maklum saja, dia memang anak orang kaya. Sudah terbiasa hidup bersama dengan adik dan kedua orang tuanya. Yasudah, saya mengalah. Saya cuma bisa mengangguk. "Pokoknya besok aku mau pulang!" sambil terisak-isak dia berteriak. Anehnya tak satu pun penghuni kamar kami terbangun. Entah memang sudah sangat terlelap ataukah memang ada hal lain. Saya ajak dia masuk kedalam kamar. Hurriah akhirnya manut. Setelah lelah menangis dia terlelap duluan. Entah kenapa jadi saya yang gundah, serasa ada yang berdiri di pojok kamar, serasa ada yang berlalu lalang di luar kamar. Saya jadi merinding. Untuk mencegah ketakutan, akhirnya saya memejamkan mata. Biar lupa apa yang barusan terjadi.

Malah saya yang tidak bisa tidur. Ingin rasanya pulang. Teringat ibu yang sedang di rumah, berjualan, siapa yang bantu-bantu? Biasanya saya stay disampingnya selama ramadhan. Sudah terbiasa, saat ramadhan kami selalu bercengkerama bersama. Nenek meninggalkan sikap acuhnya dan kami mulai berbaur dengan rasa kebersamaan. Saya jadi rindu, air mata mulai mengalir sampai ke pilingan. Terbayang air yang tersimpan di wajah ibu siang tadi. Ingin sekali memeluk punggungnya erat-erat. Sambil merem saya menangis. Ingin saya mengucap, "Tak kan pernah ku tinggalkan engkau, wahai ibu! Meski dekat sekalipun."

Hati sudah sedikit tenang, saya terlelap. Saya tinggalkan semua lamunan. Saya tak ingin bermimpi apapun. Sampai shubuh tiba, saya terbangun. Sahur dan sholat berjama'ah. Setelah nderes kitab kuning, saya dan Hurriah diam-diam menyelinap ke pintu samping pesantren lalu pulang ke rumah naik angkutan umum seperti biasanya.

Setelah sampai rumah, ibu tak nampak. Saya pergi ke pasar ternyata tokonya tutup. Saya tanya ke beberapa temannya, ternyata ia pergi ke pesantren. Baru sehari ternyata ibu sudah merindu, hati saya semakin teriris. Begitu kehilangannya ibu selama saya berpergian. Akankah saya tega melihat ibu sebatang kara? Sejak itu, saya tak pernah meninggalkan ibu dalam waktu yang relatif lama. Karena sayalah satu-satunya orang yang bisa membuatnya tetap semangat dan tersenyum.
 
Meski cuma semalam, saya masih bisa disebut santri toh? Kan nama saya sudah terdaftar di buku santriwati pondok pesantren Qomaruddin sejak pendaftaran siang itu. Yah, semoga saja begitu dan berkah ilmunya. Hehe.

Begitulah kisah dan kenangan saya selama "Satu Malam Jadi Santri Legal."
Bagaimana kisah nyantri kalian?

Ella Sukses Menjalankan Bisnis Clothing

Ella Lal Fakhiroh, Alumnus Pendidikan Tehnik Informatika Universitas Negeri Malang
Satu dari sahabat saya yang ada di Indonesia, panggil saja Ella. Gadis kelahiran 17 Desember 1989 ini sukses menjalankan bisnis clothing sejak tiga tahun silam. Berawal dari kegigihannya sejak masih di bangku kuliah dalam menjalankan usaha seperti berjualan produk Oriflame yang bisa dibilang lancar jaya, ia semakin yakin bahwa dirinya mampu mendirikan usaha sendiri (mandiri). Dan selama tiga tahun ini ia berhasil meyakinkan kedua orang tuanya bahwa lulusan Sarjana Informatika bukan hanya bergelut di bidang tehnik mengoperasikan aplikasi komputer saja.

Sejak kecil, Ella dibesarkan oleh keluarga yang bisa dibilang cukup mampu dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Ayahnya seorang guru terpercaya di salah satu SMA kota Malang, sedang ibunya adalah pebisnis rumahan. Sekilas dilihat, ia tergolong anak orang kaya yang manja dengan penampilan sedikit tomboy. Tapi sebenarnya ia adalah gadis yang bertolak belakang dari apa yang dilihat sekilas. Ia memiliki prinsip bahwa ia harus mandiri, ia tidak mau terus-terusan membebani kedua orang tuanya lagi. Karena ia juga tahu, sebagai anak sulung ia juga harus bisa membantu meringankan beban orang tua dan membahagiakan adik-adiknya yang masih sekolah. Dan akhirnya keinginan itu benar-benar terealisasi ketika ia mulai menjalankan bisnis awal sebagai member Oriflame. Saya yang waktu itu masih awam dalam dunia bisnis, bisanya cuma menemaninya mengantar barang pesanan ke rumah customer. Itu kenangan awal tahun 2012, saat ia masih menjalani observasi untuk hasil ujian akhir kuliahnya, skripsi.

Ella termasuk pelajar yang cerdas. Sejak kecil ia selalu menjadi objek sanjungan bahwa dirinya adalah gadis yang pintar. Dalam hal akademisi, ia sangat juara. Kasak-kusuk sering saya dapat bahkan dulu sempat saya jadikan inspirasi di bidang akademisi karena ia sering menjuarai lomba tingkat kabupaten. Bahkan sampai kuliah pun ia masih unggul dibidang akademisi. Siapa sangka ia akan menjadi usahawan muda seperti sekarang ini.

Foto kami berdua: Saya dan Ella
Di tahun 2012 itulah ia mulai berjualan selain Oriflame, mulai dari powerbank, sepatu, tas, kosmetik, aksesoris cewek dan lain sebagainya. Ia belum fokus dalam penjualan satu jenis produk. Ia hanya memulai penjualan dengan sistem dropship atau hanya memanfaatkan gambar dari supplier, lalu cari orang yang mau order (pembeli) melalui jalan pemasaran di sosial media seperti facebook dan instagram. Sistem dropship adalah pembayaran oleh customer di awal akad, lalu dijanjikan barang langsung kirim ke alamat customer. Dari sini ia terus membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa ia kedepannya pasti mampu menjalankan bisnis usaha meski saat itu masih menuai perdebatan pendapat dengan kedua orang tuanya.

Sekitar awal tahun 2014, Ella mulai menjalankan usaha yang bisa dibilang sudah fokus menjual satu jenis produk, yaitu pakaian fashion laki-laki dan diberi nama Ar_El Shop. "Dengan modal lima ratus ribu, itu juga hasil penyisihan gaji saya yang pas-pasan selama saya kerja di kantor Pemerintahan Kabupaten Malang, alhamdulillah bisa dimanfaatkan untuk membeli stok barang ready di rumah. Untuk awal, saya hanya mampu membeli stok kaos khusus untuk fashion laki-laki dan alhamdulillah sejak itu juga saya sudah tidak pernah minta uang sama orang tua lagi." ungkapnya.

Beberapa bulan kemudian ia tersadar bahwa usaha yang dijalaninya mengalami kendala. Selain gaji yang pas-pasan, ia merasa bahwa waktu yang digunakan selama ini lebih banyak dihabiskan untuk kerja di instansi pemerintahan. "Ya dijalani aja, namanya juga usaha pasti ada pahit manisnya. Sebenarnya saya juga nggak bisa setiap waktu stay on di depan sosmed jualan saya, karena saya saja masuk kerjanya jam tujuh pagi dan pulangnya masih jam 7 malam. Paling nyempatin waktu buat balas chat orderan, dan janjian sama customer untuk liat barangnya yang ready stock di rumah sekitar jam 8 atau jam 9an. Yah, saat saya sudah di rumah dan sudah lumayan santai aja." jawabnya ketika ditanya apakah bisa melayani konsumen sewaktu ia bekerja. "Saya juga belum yakin buat bayar orang, gaji saja separuh buat modal separuh lagi buat biaya hidup, lagian stok barang juga gak begitu banyak, jadi sementara ya saya utamakan bekerja dulu biar nanti bisa bayar orang buat bantu ngejalanin usaha." lanjutnya.

Setelah satu tahun kerja di instansi dan sudah mulai cukup berani untuk terjun di usaha online shop ini, ia memutuskan untuk resign sebagai pegawai kantor. "Saya mulai berani memutuskan berhenti kerja karena saya terinspirasi dari buku-buku yang saya baca termasuk karya Ippho, disana dijelaskan bahwa jadi pegawai memang nyaman, tapi jadi pedagang atau pengusaha adalah kita berani bertindak 24 jam tiap detik tiap waktu tiada kepastian. Itulah sebuah kalimat yang membuat saya bangkit. Ya, meski orang tua masih tetap menolak impian saya dan terus berharap bahwa saya harus jadi pegawai." Setelah resign di pertengahan tahun 2015, ia mulai merenovasi rumah depan untuk dijadikan toko kecil skala rumahan hasil penyisihan gaji yang diperolehnya selama ini. Dan September tahun lalu, toko kecil itu resmi dijadikan tempat ready stock khusus dengan tujuan memberikan kepercayaan kepada konsumen bahwa online shop yang dijalankannya bukan hanya olshop abal-abal atau palsu. "Alhamdulillah, yang awalnya cuma memasarkan barang sekarang bisa buka toko baju, meski cuma menyediakan fashion khusus cowok aja." tungkasnya sembari melempar senyum lalu menyeruput segelas susu dingin yang ada di sampingnya.

Perjalanan yang sangat mengejutkan. Penuh perjuangan dan juga penuh pengorbanan. Impiannya untuk bisa mengajak para generasi muda agar mau berwirausaha dan tidak hanya nyaman kerja kantoran masih terus berjalan. Bisa dibilang perjalanan ini sudah mencapai tujuh puluh persen menuju kesuksesan. "Alhamdulillah juga, Arel Shop sekarang memiliki dua orang karyawan yang masuk shift pagi dan sore. Kerjaan mereka ya merespon customer yang order via bbm dan yang respon postingan di salah satu sosial media jualan seperti facebook. Untuk instagram dan whatsapp, saya sendiri yang handle. Ya, sampai sekarang alhamdulillah banget sih bisa jadi jalan rejeki buat diri sendiri dan dua teman sekaligus karyawan saya itu. Intinya, ini menjadi ajang pembuktian terhadap diri sendiri bahwa saya harus konsisten terhadap pilihan yang saya ambil, dan saya harus memperjuangkan impian itu. Meski nggak mudah, meski orang tua menolak tapi saya bisa membuktikan bahwa usaha yang saya jalankan terus berkembang. Kalau nggak berkembang, mana mungkin saya bisa bayar karyawan."

Kalimat terakhir yang tiba-tiba membuat saya gemetaran, keluarga sekaligus sahabat yang saya temukan di tahun 2012 lalu. Yang dulu belum kenal banget dan hanya mendengar kasak-kusuk gosip keluarga bahwa ia menjadi gadis berprestasi di bidang akademisi, kini sudah hampir meraih kesuksesan di bidang bisnis. Beberapa kalimat yang terus terngiang di kepala, "Sebagai manusia kita harus bisa meminimalisir resiko atau kerugian, kita harus  berani bermimpi lebih agar kita bisa berbagi lebih banyak. Apapun bisa terjadi dengan usaha. Tugas kita bukan untuk berhasil, tapi untuk mencoba. Semaksimal mungkin berusaha lalu serahkan hasilnya sama Allah, sang maha penentu atas segala usaha makhluknya. Insyaallah ada jalan dan terus mendapatkan yang terbaik." Sejak saat itu, saya selalu menjadikannya kiblat dalam hal semangat berusaha. Apapun yang saya lakukan beberapa tahun terakhir ini benar-benar penuh perjuangan. Dan semoga membuahkan hasil sepertinya. Amin.

Ungkapan terakhir saya, "Good luck, my best sister! Teruskan perjuanganmu dan saya pasti akan lanjutkan perjuanganku. Man Jadda Wa Jada!" See you at the top! Lalu kita berbagi cerita bahagia saat bertemu kembali nanti.

Tentang Rasa



Tentang Rasa… 

Menyelimuti jiwa hingga tak sadarkan diri..
Tak tahukah bila semua hal tidak akan pernah terjadi
Tanpa ada partikel-partikel rasa yang menyatu
Yang membentuk sebuah kenyamanan
Yang melahirkan sebuah kerinduan
Yang menyebabkan segala alam terhipnotis
Tiada kasih bila kau tak pernah menggauli hati
Tiada sayang bila kau menghilang


Tentang Cinta… 

Mengandung proton dan neutron rasa yang begitu indah
Menghapus semua electron yang meretakkan jiwa
Menetralisir segala partikel negative pada rasa sakit
Hingga jasad tak sanggup lagi menolak
Kesembuhan jiwa sungguh memang karena cinta

Sedikit Tentang Blogging

Entah darimana munculnya, tiba-tiba saya teringat semua kenangan bersama blog saya yang sudah hilang akibat keteledoran. Ternyata bukan barang berwujud saja yang bisa hilang karena teledor. Blog pun bisa. Asli. . . parah!

Kalau harus diingat-ingat, rasanya ingin mencekik si pelaku (si pembajak blogger) saya beberapa tahun silam. Begitu susah payah selama satu tahun saya melengkapi blog saya. Berusaha menulis setiap hari dan dengan telitinya saya merangkai kata agar kalimat yang siap dibaca terlihat apik juga tidak membosankan. Ah sudahlah, tak berguna pula mengingat sesuatu yang tak mungkin hadir kembali seperti sedia kala.

. . . apakah hari ini saya bahagia?

Tentu saja setiap orang memiliki rasa bahagia pada tingkatan masing-masing. Entah pada bagian manakah ia merasa bahwa kebahagiaan justru membuat hidupnya lebih berwarna. Rasa sedih yang ia peroleh secara membanjir terkadang dianggapnya hanya sekedar kotoran hasil lemparan yang sewaktu-waktu bisa dihilangkan dengan secolek sabun ekonomi. Sungguh enteng, bukan?

Soal blogger, dimana saya pernah frustasi karena hilangnya sesuatu yang menurut saya amat berharga waktu itu. Saya yang pada waktu itu masih suka nongkrong di warung internet atau biasa kalian sebut “warnet”, bersusah payahlah saya mengatur waktu antara sekolah, tidur, belajar, dan mengisi blog. Tidak tanggung-tanggung, saya mengisi postingan blog hampir dan bahkan mungkin memang setiap hari dengan topik dan judul yang berbeda-beda. Entah itu curhatan pribadi, puisi, tutorial, cerpen, resensi, atau sekedar meng-copy paste lirik lagu agar bisa saya pamerkan url blog saya, ketika teman-teman mulai sibuk dengan lagu dan buru-buru mencari lirik lagu terbaru.

Tujuan saya “memiliki blog” waktu itu adalah TAKDIR.
(T)alk: dimana saya ingin berbicara pada dunia, ingin menunjukkan pada mereka bahwa dibalik kecupuan saya, diamnya saya, saya menyimpan segudang bahasa dan cerita. Melalui blog inilah saya mencurahkan segala isi hati dan pikiran saya. (A)ctive: Berharap saya bisa terus mengembangkan bakat tulis-menulis saya di sini. Tidak menjadi manusia yang monoton, yang flat, apalagi yang pemalas. No gengs!  (K)ey: kenapa saya menyebutnya kunci? Karena disini, di blog ini, bisa jadi saya telah memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan. Pertanyaan yang mungkin sebagian dari mereka menganggapnya sulit. Disinilah kunci jawaban yang mereka butuhkan. For example? Tutorial, resensi, puisi, cerpen, novel, disini saya akan memberikan contoh soal itu. Salah satu dari mereka pasti membutuhkan jawaban atas itu semua. (D)ialogue or discussion: lha kok? Iya, kenapa tidak? Blogger bukan hanya tempat untuk bisa sekedar tulis-menulis. Namun, saling berdiskusi, timbal balik untuk bertanya, semua bisa dilakoni disini. Lha bagaimana caranya? Seperti halnya sosial media yang lain seperti facebook, twitter, path, instagram ataupun sosmed-somed lain yang kalian tahu, saat saya memposting blog tentang sesuatu yang mungkin belum pernah kalian tahu, kolom komentar yang tersedia adalah wadah atas pertanyaan-pertanyaan kalian. (I)magination: blog adalah wadah dimana mimpi-mimpi saya tertuang disini. Melalui tulisan dan gambaran yang mungkin absurd tapi nyata (imajinasi), saya bisa lebih bersemangat dalam merealisasikan mimpi itu ketika semua mimpi terlihat ada didepan mata. (R)each: disini saya bisa melihat sejauh mana saya bereksplorasi dalam menulis.

Lalu, bagian mana yang menyebutkan bahwa hari ini saya bahagia? Iya, saya bahagia. Hari ini dan lebih tepatnya dimulai hari ini, tiba-tiba rasa itu kembali tumbuh setelah bertahun-tahun memendam rasa sakit akibat frustasi kehilangan blogger yang mendalam, mulai hari ini saya merasa bahwa blog saya (yang terbit mulai bulan Mei 2016 lalu) hampir memenuhi kualifikasi tujuan saya dalam memiliki akun blogger. Dan dari sinilah rasa bahagia itu datang.

Dan dengan ini saya menyatakan bahwa blog ini resmi milik saya dan semoga tidak ada lagi keteledoran yang serupa hingga musnahnya blog saya seperti apa yang terjadi beberapa tahun silam. Amin.

Sebut Saja Delima


Sudah lama, si bunga layu dari tangkainya. Tak mungkin pula ia terbetahkan oleh panasnya api matahari yang terus-menerus menyulut dari sudut ke sudut merata, tanpa guyuran air walau seteguk. Sama halnya, tak mungkin pula ia terbetahkan oleh genangan air yang membanjir tanpa ada terpaan si dia, sang pemanas bumi abadi.

Hidup di salah satu musim yang berkepanjangan tidak menjadikan rasa bisa bergelut dengan bahagia. Semua butuh perbedaan yang saling melengkapi. Entah darimana asal-usulnya, manusia sanggup berfikir bagaimana cara agar dirinya mampu melengkapi dan menjadi pelengkap bersama alam yang terurai.

Sebut saja si "delima".

Delima, si perempuan tawar tak berbumbu asin, manis, dan asam kehidupan tiba-tiba dijatuhi pahit yang tak terduga. Ia pun terkejutnya setengah mati sebab baru pertama kali ia merasa satu macam rasa yang begitu aneh. Namun, betapa bahagianya karena sejak itu ia lebih bersahabat dengan suatu rasa yang bernama pahit tersebut.

Suatu ketika, si delima punya teman bernama "orange". Orange adalah sosok laki-laki yang hampir setiap hari dibumbuhi asam manis kehidupan. Laki-laki itu sama sekali belum pernah merasakan bahkan tidak tahu apa dan bagaimana rasa pahit itu. Delima pun mengajak orange ke suatu tempat dimana delima tidak bisa melakukan suatu hal apapun kecuali zuhud.

Betapa terkejutnya si orange yang tak tahu menahu soal delima, tiba-tiba disodorkan oleh sebuah kehampaan, kekosongan, ketiadaan, dan terkecuali sebuah aliran air yang mengalir jernih nan deras. Si orange pun dengan perlahan mulai bertanya, "Kamu hidup disini, sendirian?". Delima mengangguk berkali-kali, berharap tidak ada pertanyaan kedua yang harus dijawab dengan jawaban yang sama seperti "iya" atau sekedar anggukan sekali.

Dengan pelan si orange pun melontarkan pertanyaan kembali, "Apa kamu tak menginginkan untuk segera pindah dari sini?", dan kali ini si delima pun menggeleng. "Kamu, makan apa disini? Kamu pernah ke pasar? atau kamu?" Delima menggeleng berkali-kali, seperti jawaban awal kali, berharap tidak ada pertanyaan kedua yang harus dijawab dengan jawaban yang sama seperti "tidak" atau sekedar gelengen sekali.

Orange pun penasaran. Selama ini, mana betah ada seorang perempuan hidup sebatang kara dengan kondisi hampa, tak bergantung siapa-siapa. Apa si delima hanya sekedar cari muka, ataukah benar-benar perempuan ajaib?

"De-li-ma", katanya mengeja. "Mari ikut saya ke kota, biar hidupmu tak sebegini kosongnya. Saya akan mencarikanmu tempat tinggal dan pekerjaan." Dari lubuk hati yang paling dalam, si delima sebenar-benarnya ingin pergi dan tinggal di keramaian, ingin tahu ada rasa apa lagi selain rasa pahit kehidupan. Apa mungkin lebih aneh untuk dirasakan? Namun secepat kilat kepalanya merunduk, ia terdiam seribu bahasa. Kemudian meneteskan air mata.

Orange pun semakin bingung, dan entah harus berkata lain apa. Jangan-jangan delima menyesali pertanyaan yang harus dijawabnya dengan anggukan dan gelengan berkali-kali tadi. Entah mengapa, tiba-tiba delima menangis sesenggukan. "Oke, kalau kamu menangis begini. Saya anggap kamu setuju dengan tawaran saya, mari ikut saya ke kota." Orange pun menggeret tangannya yang beku. Sekuat tenaga ia menarik dan hampir napasnya tewas sebab lupa menyeruput oksigen kembali, sia-sia tak sedikit pun delima tak menggerakkan badan.

"Kamu masih nggak percaya revolusi? Hidup ini berputar, Ma. Jangan anggap kamu akan selalu berurusan dengan kehampaan begini. Semua akan berubah, dan pada menit ini, detik ini, kesempatan itu milik kamu. Tinggal kamu nya aja yang siap menerima atau tidak? Setelah ini, terserah kamu mau ngapain. Yang penting accept dulu kesempatan ini. Kalo nggak, kamu nggak akan tahu apa rasa selain rasa pahit yang kamu rasa selama ini." Orange meyakinkan sambil menepuk-nepuk telapak tangan yang digenggamnya.

Setelah mengusap butiran air mata yang menetes terakhir, delima mengangguk pelan. Pelukan seketika meluncur ke bentangan dada si orange. Anggukan yang berulang dan mungkin berarti "Yah, hidupku harus berubah" atau mungkin, "Yah, aku tak bisa hidup tanpamu. Karena kamulah satu-satunya orang yang berani membuatku menerima kenyataan bahwa hidup harus berevolusi."

bersambung...
Delima Episode 2

Ikutan Mudik Gratis, Kece Nggak Sih?

Lebaraaaan. . . Horeee. . . Lebaraaan. . .!!
Pulang woy, pulaang!

Kisah "Saya" di Pertengahan Bulan Ramadhan, Menjelang Lebaran...

Sudah lama rasanya saya membaur dengan kota yang sering disumpah-sumpah dengan kemacetan, banjir, metropolitan, gaul, sumpek, sesak napas, ibukota kejam dan lain tetek mbengeknya yang masih muntah-muntah kalo kita ngedengerin (asli, parah jeleknya). Tiada lain kecuali menuntut ilmu disini. Ciputat, kota yang masih berbau dan bernuansa islam ini menjadi saksi bisu dimana saya dan teman-teman sering menjadi pasukan yang hobi kocak bareng, belanja ke pasar bareng, hang out bareng, gila bareng, belajar bareng, cari pacar bareng, dan semua-muanya serba bareng. Tak luput, cari barang gratisan pun bareng. Haha. .

Selama bulan ramadhan ini, kami selalu membiasakan sholat berjama'ah bareng, tadarus bareng (meski banyak yang ngantuk), buka bersama bareng, dan sahur bareng di asrama tercinta kami yang amat sangat eksklusif (hanya dihuni sebelas orang kurang satu) dan not expensive (hanya dua ratus ribu per bulan dengan include yang sangat luar biasa. Read: Fasilitasnya). Dan yang menjadikan saya amat sangat terkesan dengan kebersamaan kami di bulan ramadhan ini adalah mereka sangat mempercayakan saya sebagai 'chef' di setiap menjelang buka puasa ataupun menjelang sahur. (beileh, bangga amat :p) Lho ya? Saya ini pinter masak opo? Akhirnya, tuntutan untuk membuat menu ala kadarnya alias coba-coba, alhamdulillah hasilnya lumayan memuaskan (ada yang mendelik entah kekurangan garam atau sedang ketelan apa tau, ada juga yang senyum-senyum entah beneran enak atau cuma nyindir, ada juga yang manggut-manggut entah pasrah atau memang doyan), aku selalu percaya diri. Pokok'e makan! Hahaha. . Mereka pun tak pernah berkomentar. Katanya, "alhamdulillah kita masih bisa makan, di syukuri aja. ." Nah lo?

Oke, hari-hari berlalu dengan tawa yang sumringah, mereka saling memamerkan baju baru.

"Eh bro, gue abis beli baju di ITC Cempaka Mas loh. Ajib maaan. Muahal banget. Sumpah, gue nyeseeel." sambil nelen keringet.

Kalo ada yang bilang begitu, kami semua tergelak sampai perut mules. Kenapa? Tiada lain yang berduka (karena menyesal) semacam itu, selain Mpok Ujoh semata. Hahaha *Peace ya, Mpok :D*
Kami berbeda-beda tetapi tetap satu keluarga kok.
Habis ngetawain, kami minta ma'af dong! Hehe.

"Cor, lu jadinya pulang kampung tanggal berapa?" salah satu anggota 'aspibellek' sedang mengintrogasi saya.
"Emm, belum tau sih. Masih betah disini. He-he. ."
"Gila lu, kasian lah emak lu di rumah sendirian. Masa lebaran lu kagak mau pulang berooo?"

"Mau sih mau brooo, tapi gue belum pegang tiket buat pulkam ini. . Mau naik kereta, semua-muanya udah ludes, mau naik bus mahalnya gak sesuai budget, mau naik pesawat innalillah kebangetan mahalnya. Ah, belum tau lah. . nunggu takdir saja lah. ."
Sekali-kalinya, saya dialog pake bahasa "Lu-Gua, Lu-Gue"
"A-e-laah Coor! lu mah gitu orangnya. . ."
"Iya, emang begini adanya. Kenapa? Nggak suka?"
Mulai ribut. Adu bacot. Lebih bijak yang mana? Saya atau dia?

Oke, ribut dibatalkan sebab sedang menjalankan puasa.
"Bukan gitu berooo, gue cuman ngasih tau. Lu usaha kek buat dapet tiket pulang kampung. ."
"Iyee Selaaaw broo, gue masih ada kerjaan nih. ." Ups, yang cuma berstatus freelancer lagi pamer.
"Beileh, lu lebih mentingin kerjaan daripada orang tua? Setahun sekali Cor, pikirin!"

Saya tergelak. "Oke, gue udah mikir mateng-mateng sampek otak gue angus. Gue bakal pulkam naik bus gratis. Puaaaaass?"
"Whaaaats?"
"Eleeh. . . biasa aja kelees. ."
"Emang ada ya naik bus gratis? Ngacoo lu Cor!"
"Emm-beer, gue lagi ngaco! Ya ada lah. Jangankan bus, kereta aja gratis maan."
*rasanya pengen gue tabok tuh muka. Hahaha. Ngeselin banget* Bercanda, maan!!
"Terus?"
"Iya, nanti gue ke Jasa Raharja, kalo nggak ya ke PBNU, kalo nggak ya ke PAN kek, PKB kek. Bisa lah pokoknya. Selaw. . ."

Empat superhero yang selama ini saya jadikan list menjelang lebaran memang sangat-sangat useful. Teringat saat itu, waktu pertama kali saya mengantri demi mendapatkan selembar tiket mudik gratis di kantor Partai Amanat Nasional, TB Simatupang. Semua makhluk tuhan yang bernama manusia baik dari semua kalangan dengan berbagai macam rupa rela berkumpul, mengantri, desak-desakan demi bisa mengikuti 'mudik gratis'.

"Cor, jadinya lu naik apa besok?"
"Kemana? pulkam?"
"Iyaa."
"Bus lah."
"Mudik gratis lagi?"
"Iya lah, mumpung masih ada. Why not?"
"Gak sumpek apa, ikutan mudik gratis begitu? campur baur dan nggak terjamin."

"Eh eh eh, kata siapa nggak terjamin? Sama aja kok. Bedanya cuman bayar atau enggaknya aja. Jangankan naik bus, kalau udah waktunya mudik begini naik pesawat berbaur sama siapa pun, oke aja tuh. Apalagi gratis, bro!"

(mulai kehabisan bahan tulisan, dan artinya cerita konyol ini cukup sampai disini, hahaha)

Hari ini, saya merasa sedikit ganjal. Mungkin karena penghuni asrama semakin berkurang. Kemarin tanggal 05 Juli, si Wira kembali ke kampung halaman bersama adik lelakinya ke kota Bungo, Jambi. Disusul si Ala, tanggal 07 Juli balik ke kampung halaman ke Lampung. Sekarang hanya tinggal kami ber-enam di asrama, ada Ujoh (Bekasi), Yani (Sukabumi), Yeyet (Serang), Anzu (Pemalang), Umi (Gresik), dan saya. Kangen kebersamaan kami selama bulan ramadhan ini. Huhu. . .

So, buat kalian yang suka memburu tiket 'mudik gratis' menjelang lebaran, nggak usah malu-malu deh buat ngungkapin jawaban saat ditanya "Mau mudik naik apa?".

Ngapain sih pake malu kalau dapat gratisan. Mudik gratis? Oke-oke aja tuh. . .
*coretan gendeng di tengah pikiran lagi gendeng, hufft-

Coretan Kecil Sebelum Masuk WC


Tiada bahagia tanpa rasa. Mematikan rasa sama halnya menolak kebahagiaan yang telah tuhan berikan. Aku paham bahwa rasa kasihmu telah kau simpan dalam-dalam demi menguapkan semua rasa gengsimu. Hari ini aku bersaksi bahwa tiada rasa selain pahit yang kau berikan untuk seorang perempuan yang sedang memperjuangkan hidupnya, mempertahankan keimanannya, mengkokohkan kembali puing-puing kehancuran dalam structural keluarga yang begitu jahat mempermainkan hidupnya. Rasamu begitu mati dan tak pernah kau hidupkan kembali untuk orang sepertiku.

Aku berjalan diatas pisau kalimatmu yang begitu tajam. Rasanya perih saat telinga mempertahankan gelombang suara untuk kupersilahkan masuk dan bergumam. Berfikir diatas kesadaran yang penuh batasan. Aku ingin kamu mengerti. Tapi rasanya sulit jika air berbaur dengan minyak yang menginginkan untuk bersatu. Tiada hasil dari keduanya kecuali bersama bersanding tanpa kata. Aku bukan gadis idaman jika kau lihat dari segala sandang, pangan, dan papanku. Aku tak memiliki apa-apa sedang kau segalanya kau punya sampai kau muntahkan tanpa arah. Tiada yang bisa menguatkan hati selain diri yang kau sepelekan begitu saja tanpa kau gali dalam-dalam apa yang sudah ku perjuangkan.

Begitu banyak kisah tentangku yang kau tahu. Tak pernah segores pun kau hargai tetesan keringat dan darah yang ku kucurkan untuk hidupku, hidupmu, dan hidup mereka. Senyumku malam ini bagai bulan sabit mentereng kemudian kau tiup keras-keras awan hitam lalu menutupiku.

Kesunyian 2015,

Sakinah, Masihkah Kau Sanggup?

 

“Bawa ibumu pergi dari rumah itu, sejauh mungkin! Sudah keterlaluan mereka, sungguh biadab, seperti orang tak beragama. Berikan jamu ini pada ibumu, minumkanlah setiap pagi dan sore, oleskanlah setiap malam ke sekujur tubuhnya. Insyaallah, secepatnya membaik. Tak usah kau pikirkan soal biaya, saya ikhlas lillahi ta’ala. Berjuanglah demi masa depan kalian! Ibumu sangat menyayangimu. Ini modal untuk membayar hutang kalian, pergunakanlah sebaik mungkin.” Tungkasnya. 
 
Rumah kecil hasil penjualan keringat sembilan belas tahun yang lalu masih kokoh, tak ada yang berubah. Tak berlapis semen ataupun pasir. Balok-balok ris (batu) putih mengkilat tak bosan dihajar panasnya serngenge. Butir-butir kapurnya semakin rapuh dan rontok. Semua terlihat jelas sejak tak ada lagi rumah berdinding jati ataupun rotan di sekitarnya. Semua serba modern namun rumahnya masih sebegitu rupa. Beralaskan hitam pekatnya tanah ditengah modernisasi kehidupan. Dihuni tiga perempuan yang berupa-rupa watak.

Yang paling tua tak mau kalah membesarkan ego. Perempuan berusia hampir tujuh puluh tahun itu, Emak Rojo namanya. Jikalau angkat bicara semau-maunya, tak berperasaan. Bangga dengan dirinya yang sedari kecil tak berpendidikan. Anaknya begitu cerdas namun ia benci bahkan tak dianggapnya sebagai anak. Dalil yang dimuntahkan selalu sama, hidup perempuan tiada fungsi kecuali sebatas memiliki keturunan. Apalagi kaum miskin sepertinya, tiada guna selain menjadi babu kaum bangsawan. Hidupnya digantungkan pada orang kaya. Tak mau menyibukkan diri dengan usaha sendiri. Kekolotan membuat hidupnya panjang menerima kesengsaraan bahkan menjadi lupa diri.

Anaknya bernama Sakinah, menanggung beban pekerjaan sejak lulus madrasah ibtidaiyah (sekolah dasar). Mengusung padi, upah (hasil) pengerjaan sawah milik tetangga desa. Dipikulnya ngos-ngosan, berjalan mengarungi jarak berkilo-kilo meter. Macam pekerja rodi dari jajahan ibu kandungnya sendiri. Bertahun-tahun hidupnya sebegitu rupa. Trauma, stress, frustasi, dan pada akhirnya membulatkan tekat merantau ke kota dengan bekal otak dan semangat. Lima tahun kemudian ia pulang dengan membawa perubahan nasib. Dibangunnya rumah berdinding balok, putih mengkilat. Semua warga terkagum melihat kegigihan si bunga desa itu.


Yang paling muda, sebutlah Mulyana. Bernasib baik namun tak sebaik sinetron. Ayahnya kawin lagi, serupa dengan kakeknya. Kakeknya merupakan suami Emak, yang tiba-tiba mengaku trauma dengan kekolotan istrinya setelah sembilan tahun menikah. Seisi rumah serasa kena kutukan. Janda, lagi-lagi janda. Neneknya, Emak Rojo janda beranak tunggal, ibunya janda beranak tunggal. tak inginkan dirinya menjadi janda beranak tunggal seperti mereka.

***

Emak Rojo semakin hari semakin menjadi, tak beradab. Muka dan kupingnya setebal panci kuningan. Tak tanggung-tanggung jika ia menjelekkan anak sendiri. Sejak anaknya masih perawan, ia berani mempermalukannya didepan sanak sodara, handa tolan, tetangga kanan kiri hingga ke penjuru desa. Serupa musuh bebuyutan. Ada apa gerangan? Sungguh tak berperasaan. Memang sudah tabiatnya. Sejak kecil ia tak berpendidikan. Belajar agama pun malas. Merendahkan dirinya sendiri, sengaja meminta belas kasihan. Mungkin itulah satu-satunya alasan mengapa kupingnya begitu tebal ketika orang lain melontarkan petuah. Ajal pun tak berani mendekat, meski usianya hampir seabad.

Anaknya semakin membatin, cucunya kecipratan benih sengsara. Emak Rojo tak mau tahu. Tak sedikit pun ia menginginkan sendirinya tersiksa. Bak memakan gaji buta. Anaknya kerja mati-matian, ia hanya lontang-lantung menginginkan ini dan itu, mengobral cerita palsu. “Siapa yang membiayai sekolah anaknya, yang memberikan uang belanja, kalau bukan uang saya hasil pemberian mereka yang mengasihani saya,” umbarnya dari mulut ke mulut. Batin semakin teriris. Kalau bukan ibu kandung sendiri, mungkin Sakinah sudah berteriak, “Itu Fitnah! Selama ini, hanya saya yang bekerja keras demi satu-satunya ibu dan anak, demi dia dan cucunya. Bukan hasil mencuri, menipu, ataupun pekerjaan gelap, apalagi belas kasihan. Selama saya masih punya harga diri, saya menjual tenaga saya sendiri, tak sudi saya menghidupi keluarga juga menyekolahkan anak hasil belas kasihan!”

Sepetak rumah Sakinah tlah menjadi saksi bisu kehidupannya yang penuh drama. Penuh skenario tuhan yang mengejutkan. Eksotis, penuh makna. Baik buruk terangkum jelas. Sakinah masih bersyukur bisa berteduh, meski sesungguhnya ia menginginkan untuk segera pindah. Hijrah dari rumah terkutuk sejauh-jauhnya. Tak inginkan diri dan anaknya sengsara. Namun serba salah. Tetangga mulai ikut-ikutan mencampuri urusan. Sanak keluarga menyumpah serapah. Mereka semakin berani melempar fitnah ke tubuh Sakinah. Menjadikan kambing hitam bahkan menambahkan dirinya ke dalam daftar, musuh bebuyutan. Sakinah masih mengkokohkan diri. Menjual tetesan keringat hingga tubuhnya kurus kering. Ia berusaha membuktikan bahwa dirinya bukan serendah apa yang mereka ucapkan. Namun usahanya sia-sia. Emak Rojo semakin berusaha meyakinkan mereka bahwa dirinya lah yang paling benar. Anaknya, bukan anaknya.

“Duh gusti, apa salah hambamu ini? Haruskah hamba menghentikan nafas biar Emak membuka hati, betapa sayangnya hamba pada Emak. Hamba tak pernah dendam atas kegagalan hamba bisa berpendidikan tinggi. Hamba sangat bersyukur atas ilmu agama yang telah hamba peroleh selama ini. Duh gusti, bukakan pintu hati Emak hamba, jadikanlah anak hamba menjadi anak yang sholihah, berbakti pada engkau dan hamba, berbakti untuk agama dan negara. Bermanfaat untuk orang-orang yang ada disekitarnya. Sesuai namanya, semoga menjadi anak yang engkau muliakan. Hamba mohon jagalah dia duh gusti. Jangan biarkan dia merasakan pahitnya apa yang sedang aku rasakan saat ini. Amin,” do’a Sakinah terdengar lirih. Malam yang sunyi, membuatnya larut ke dalam diri sang pencipta. Menyatukan dirinya untuk kesempurnaan. Ia tak pernah takut dibenci orang, selagi dirinya memang berlaku benar. Ia hidup untuk tuhan. Segalanya sudah diatur dalam skenario tuhan. Itu yang menjadi prinsip, mengapa ia masih terus bertahan.

Enam belas tahun ia menjanda, hatinya sudah tak bernafsu. Tak inginkan dirinya menikah lagi. Yang penting, anaknya bisa sekolah. Tak sebodoh dirinya, tak serendah dirinya. Tak inginkan Mulyana tuk menjadi janda sepertinya. Lelaki duda yang telah menikahinya tujuh belas tahun silam diceraikannya setelah dua bulan menikah. Itulah bapak kandung Mulyana. Ia tak pernah menyesali perceraiannya meski dirinya merasa ditipu. Lelaki yang katanya bujang, berperawakan tinggi, berpenghasilan tetap ternyata seorang duda yang ditinggal mati istrinya, berperawakan lebih pendek dari perawakannya, berpenghasilan tidak menentu dengan mengkambing hitamkan urusan agama. Tersebutlah nama lelaki itu dengan sebutan “kiyai” oleh warga sekitar.

Sebetulnya, tak pernah ia permasalahkan siapa suaminya. Lagi-lagi sebab perempuan tua itu. Mencibir, mengolok, mengadu domba. Hingga suaminya sakit hati, “Tak sudi saya punya orang tua sepertimu. Lebih baik saya pulang ke rumah daripada diremehkan seperti ini, saya masih punya harga diri,” teriaknya menuding-nuding. Terkejutlah Sakinah hingga merobohkan tubuhnya di atas tanah. “Beginikah tabiat seorang kiyai? Bukankah ia panutan warga? Betapa malunya jika orang lain menyaksikannya sendiri,” hatinya membolak-balikkan pernyataan. Sejak itu, ia pun semakin yakin untuk menceraikan. Tak perlu lagi menambahkan satu orang bertabiat kotor dirumahnya. Ia trauma, tak inginkan hidup diri dan anaknya semakin sengsara jika keburukan masih dibiarkan terpelihara. Ia pun bersumpah, tak pernah kahwin lagi untuk yang kedua kali. Cukup sekali saja ia bersuami.

Sejak ia mengandung, kehidupannya semakin rumit, namun semakin unik. Setiap masalah yang datang berkelanjutan pasti dikejutkan dengan penyelesaian yang tak terlalu lama menunggu. Ia semakin semangat menjalani hidup. Tak inginkan dirinya pergi dari rumah yang katanya terkutuk itu. Diubahnya pola pekerjaan yang selama ini menggerus otak―dari seorang sekretaris kantor proyek―menjadi pengusaha bubur dan lontong di pelataran rumah. Warga mulai merangkul dan menyadarkan diri. Rumah kecil itu telah berubah menjadi surga. Kutukan seolah hilang dengan sendirinya. Emak Rojo merasa terusik. “Gara-gara kamu jualan bubur, rejeki Emak jadi mampet. Orang-orang sudah tak mau lagi membagikan uangnya, makanannya. Sudah puas kamu merusak hidup Emak, hah? Kualat kamu, durhaka kamu, Sakinah!” teriaknya mencabik-cabik lontong yang baru saja ditiriskan diatas pelanggrangan (simpulan kayu yang telah dibentangkan untuk mengentas lontong yang baru matang).

Sakinah mengucurkan air mata, mengelus-elus perutnya yang mulai membuncit. Berharap buah hati yang masih beberapa bulan di dalam rahim itu tidak mendengar sepatah kata pun dari ocehan buruk neneknya. Suasana cerah tiba-tiba sedikit mendung. Tak henti-hentinya perempuan tua itu mengolok. Tidak sadarkah bahwa orang yang selama ini ia jelek-jelekkan didepan semua orang hingga dibenci adalah darah dagingnya sendiri? Sungguh tak berperasaan.

Beberapa bulan berlalu, Sakinah melahirkan anak perempuan, begitu sempurnanya ia hidup. Betapa bersyukurnya meski hati perempuan tua (Emak Rojo) itu masih membeku. Ia pun tak lagi berjualan karena sudah cukup memiliki tabungan. Hasil penjualan yang selama ini mengalami fluktuasi pembeli, ia simpan baik-baik di kantong. Warga mulai terserang virus. Mempersatukan barisan, mengolok, mencaci, bahkan meluapkan kata-kata yang tak seharusnya diluapkan. Tiada faktor lain kecuali ulah ibunya sendiri. Sengaja berkomplotan dengan keponakan yang ternyata sedari dulu menginginkan Sakinah untuk mati. Anak bak tetangga, bak lawan yang harus ditumbangkan. Disebutkanlah anak durhaka, melawan orang tua, tak tahu diri, tak tahu terima kasih, memeras harta warisan orang tua, dan macam-macam lainnya.

***

Enam belas tahun lamanya sejak anak semata wayangnya dilahirkan, ia menghidupi keluarga dengan berjualan di pasar. Ia sangat bersyukur bisa menyekolahkan anaknya hingga SMA. Berjuang seorang diri melawan virus mematikan yang ternyata ibu kandung dan kemenakannya sendiri menjadi hal yang biasa. Ia tetap kokoh mempertahankan keluarga, hingga dipendamnya rasa sakit yang menyayat. “Sabar, sabar dan sabar!” katanya. Begitu kuat ibu dan kemenakannya itu berkoalisi, saling menjatuhkan Sakinah. Kemenakannya, sebutlah Markati, bersorak-sorai memamerkan hasil konsolidasi bersama Emak Sakinah.

Sedari dulu, Markati menginginkan dirinya untuk bisa berkoalisi dengan Emak Sakinah, menumbangkan si bunga desa. Namun tak kunjung hasil karena dirinya tak punyai apapun untuk menyuap si perempuan tua itu. Sebelum Sakinah mengkokohkan balok putih yang menjadikannya tempat berteduh, ternyata Markati sudah mati-matian membenci bahkan menfitnah Sakinah lebih dulu. Alhasil, usahanya sia-sia sebelum Emak Rojo berani berkoalisi. Setelah keinginan terpenuhi, ia semakin berani meludahi anak bibinya sendiri, “Gak punya malu kamu, masih berani tinggal disini? Mau merampas harta orang tua? Punya orang tua satu saja kamu terlantarkan, berani sekali kau injakkan kakimu di tanah kami. Pergi sana! Minggat yang jauh! Persetan kau bangkai, bawa anak harammu pergi! Susul bapakmu yang sudah membangkai di kuburan!”

Markati, orang paling terkenal di desa Tumbuh Ringin. Tiga dusun menyebutnya “si mulut buaya”. Kalimatnya lebih tajam dari terkaman binatang buas, si buaya itu. Dia adalah satu-satunya perempuan yang paling disebut-sebut ganas dan mematikan. Keenam anaknya dehidrasi makanan, kelaparan, meronta-ronta. Mereka hanya bisa makan jikalau suaminya mendapati proyek pekerjaan yang tak berstempel “halal”. Tak cukupkan uang selembar untuk diri dan anak-anaknya. Suami Markati tak pernah mendapati pekerjaan yang cocok, kadang menipu, menggelapkan uang, dan yang paling parah, membantu para dedengkot atau penguasa mengakhiri hidup paksa seseorang yang dianggapnya merusak atau musuh. Mereka sama-sama pemberani, dalam memburukkan tabiat.

Hingga suatu hari, terseranglah penyakit aneh dalam diri Sakinah hingga ia tak sanggup lagi berjualan. Markati tiba-tiba menjadi jutawan, sok dermawan, dan mengambil alih posisi orang-orang kaya di desanya. Rumah dibangunnya megah-megah, mobil di belinya serentak, tak tanggung-tanggung semua perabotan juga perhiasan emas berkilo-kilo gram dipamerkannya jelas-jelas. Pergilah dia dan suaminya mengunjungi ka’bah, katanya mensucikan diri dihadapan tuhan yang dipercayainya. Konon, satu kampung terkejutnya setengah pingsan. Satu per satu menjadi hormat dan tunduk, kemudian menyebutnya “Kaji Loman”. Hanya beberapa warga yang tak menggubris kekayaan yang dianggapnya mencurigakan itu.

Sakinah sakitnya semakin menjadi-jadi. Tubuhnya mengering. Beberapa anggota tubuhnya tak berfungsi. Emak Rojo semakin tak peduli. Ia lebih sering pulang ke rumah keponakannya itu. Fitnah yang diumbarkan semakin merajalela. Kini si Yana, anak Sakinah tumbuh remaja. Cantik seperti ibunya. Markati sakit hati karena anaknya sering dibilang “kemproh” (jorok) oleh teman lelakinya. Sedang Yana seringkali diantar pulang oleh teman lelaki yang prihatin dengan keadaan perempuan yang hanya bisa meneteskan air mata diatas empuknya amben (tempat tidur yang terbuat dari bambu) tua itu.

“Dulu memang bunga desa, sekarang cuma bunga amben. Membangkailah dia! Kualat sama orang tua yang melahirkannya dengan susah payah,” hasut Markati pada orang-orang kampung. Siapa yang tak percaya dengan isu anak durhaka. Emak Rojo memang sudah tua, giginya raib tak membekas, nada bicaranya melas seolah meyakinkan bahwa dirinya memang diterlantarkan anak kandungnya sendiri. “Lebih baik saya hidup sendiri,” lirihnya. Orang kampung menyumpah serapah, “Oh, pantas saja dia penyakitan. Kualat sama orang tua. Semoga saja hidupnya segera berakhir!” Sakinah hanya bisa berharap, Yana mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Berbulan-bulan lamanya Sakinah membusukkan diri diatas amben tua. Segala aktifitas hanya bisa dilakukan ketika anaknya pulang sekolah atau sedang di rumah. Tabungannya habis lantaran proses penyembuhan. Berkali-kali diusungnya ke rumah sakit bahkan berpindah tempat, semua dokter menjawab dengan kalimat yang sama, “Ibu hanya lelah, terlalu banyak pikiran, kurang berolah raga. Semua anggota tubuh berfungsi normal. Tak ada yang perlu dikeluhkan. Silahkan tebus obatnya di kasir!” singkatnya.

***

Sepanjang tahun, penyakit tanpa nama itu diajaknya berteman. Hingga suatu ketika anaknya keluyuran, pergi buta pulang buta. Sesekali menengok ibunya hanya untuk menyuapkan nasi, meminumkan obat. Suara Sakinah yang sudah lama tenggelam kini sedikit bermunculan, “Yana kemana sa.. sa.. ja.. ka.. mu, Nak? Ibu sen.. di.. ri.. an..” kucuran air mata mulai membanjir. Semakin hari semenjak Yana meninggalkan rumah, ia semakin berusaha menggerakkan tubuhnya. Walhasil, tangannya bisa digerakkan, begitu pula kaki dan kepalanya. Betapa terkejutnya, Yana pulang dalam keadaan lusuh melihat ibunya duduk melakukan sembahyang. “Mukjizat Allah, luar biasa!” katanya.

“Ibu, SPP sekolah Yana sudah nunggak selama enam bulan. Besok, sebelum ujian akhir sekolah, ujian akhir nasional, juga kelulusan sekolah semua tunggakan harus dilunasi. Kira-kira ibu masih ada uang untuk itu? untuk membeli obat ibu juga.”

Sakinah terdiam.

“Antar ibu ke rumah umik sekarang, nak.”

Sejak itu, hutang Sakinah semakin membabi buta lantaran penyembuhan diri sekaligus membiayai anaknya hingga lulus sekolah. Mendengar keprihatinan itu, Emak Rojo melolong-lolong, mencari kesempatan mengumbar fitnah bahwa Sakinah telah memeras harta gono-gini bahkan mencuri uang simpanannya. “Sungguh biadab anak itu, kualat dia! Bertahun-tahun menyengsarakan hidup orang tua,” umbarnya.

Semua warga terhasut hingga tak seorang pun mau peduli. “Hutangmu dimana-mana, tak punya malu kau masih meminta pertolongan kesini? Kalau aku pinjamkan, kapan kamu mau bayar? anakmu saja kahwinkan dengan orang kaya, biar hidupmu tidak terlunta seperti ini,” kata seorang warga yang dulunya pernah menjadi sahabat karib saat berjualan di pasar.

Ingin rasanya ia mengakhiri hidup. Sejak kecil nasibnya sebegitu buruk. Selalu ditimpa kegelisahan yang menguras hebat sumber air mata. Ia masih berusaha memulihkan tubuh agar anaknya tak terlunta.

Suatu malam, ia dan anaknya tidur di kamar, tiba-tiba ada yang menggedor pintu keras sekali. Yana berlarian, dilihatnya tak nampak seorang pun di luar sana. “Siapa?” tak seorang pun menjawab. Hening, merinding. Yana kembali ke kamar. Dilihatnya, Sakinah membujur kaku, diam, dan tak bersuara. Betapa paniknya gadis itu. Ia menangis sekeras-kerasnya. Nafas ibunya sekilas menghilang, sekilas nampak. Malam tidak memberikan solusi apapun. Ia menunggu pagi, siapa tahu ada keajaiban.

Berumunan orang mengelilingi tempat tidur Sakinah. Tak lain adalah teman sekolah anaknya. Mereka prihatin kala Yana meliburkan diri dari sekolah.

“Penyakit ibumu sangat aneh. Bagaimana jika kita bawa saja ke desa seberang, rumah Ki ageng Sapto. Mudah-mudahan ada kesembuhan setelahnya.”

Konon, Ki Ageng Sapto adalah sosok terpandang di seluruh penjuru baik desa maupun kota. Kesaktiannya tak tertandingi. Bukan ilmu hitam, bukan ilmu santet. Semua hasil dari usaha, tarekat, wirid, dan mengamalkan ajaran agama yang dipercayainya. Ia membuka rumah pengobatan. Namun hanya orang-orang tertentu saja yang bisa ia layani. Orang yang benar-benar berhati mulia. Jikalau ada tamu yang berpura-pura merendahkan diri, memuliakan hatinya, tak segan-segan ia menolak sebab ilmunya bisa mengungkap apa yang sedang dipikirkan seseorang.
“Bagaimana bisa, saya tak memiliki sepeser pun uang di kantong. Semua raib karena biaya sekolah. Itu pun hasil dari meminjam, hutang yang sampai sekarang belum terbayarkan. Sebagian lagi saya tukarkan dengan obat jalan.”
“Percayalah, tuhan pasti membantu.”

Berangkatlah mereka pada suatu desa yang sangat jarang sekali penghuni. Jarak dari satu rumah ke rumah lain sangatlah jauh, hingga sampailah pada satu rumah yang bentuknya sangat kuno, masih berbahan dasar rotan di lilit-lilit rumput jepang. Di depan pintu tertulis huruf bergandengan tangan, bertuliskan “Ayatul Kursi”. Jauh sebelum kedatangan mereka, Ki Ageng Sapto sudah tahu bahwa tamu kali ini benar-benar membutuhkan pertolongan.

Saat pintu berdinding bambu itu diketuk, keluarlah sosok laki-laki berjenggot rapi, berperawakan tinggi, bersih, tersenyum ramah, memakai pakaian serba putih dan bersorban.

“Bawa ibumu masuk, ceritakan semuanya di dalam.”

Diceritakanlah panjang lebar apa maksud dan tujuan mereka datang kesitu. Bagaimana penyakit ibunya bermula dan menjamur ditubuhnya. Lelaki itu manggut-manggut. Seolah paham secara runtut apa yang telah terjadi.

“Astaghfirullah, sungguh kejam sekali,” ucapnya sambil menggelengkan kepala. Tangannya bertindak seperti orang yang hendak berkelahi. ‘Wussssshhh...’ Angin berhembus kecil, suasana menjadi mistis. Ibunya masih membeku tak berdaya.

“Bawa ibumu pergi dari rumah itu, sejauh mungkin! Sudah keterlaluan mereka, sungguh biadab, seperti orang tak beragama. Berikan jamu ini pada ibumu, minumkanlah setiap pagi dan sore, oleskanlah setiap malam ke sekujur tubuhnya. Insyaallah, secepatnya membaik. Tak usah kau pikirkan soal biaya, saya ikhlas lillahi ta’ala. Berjuanglah demi masa depan kalian! Ibumu sangat menyayangimu. Ini modal untuk membayar hutang kalian, pergunakanlah sebaik mungkin.” Tungkasnya.

“Kira-kira, apa penyakit yang mengendap di ibu saya Ki?”
“Tumbal, santet. Terkutuk!”
“Astaghfirullah, kira-kira siapa yang tega melakukan semua ini Ki?”
“Kamu sudah tahu jawabannya.”
Yana menangis haru, kemudian kembalilah mereka ke rumah.

***
Sebulan berlalu, keadaan Sakinah benar-benar pulih kembali. Markati dikabarkan sekarat di rumah sakit. Matanya lekas keluar. Tubuhnya kejang-kejang. Hartanya terkuras namun tiada habis. Rumor ‘pesugihan’ tiba-tiba marak. Emak Rojo mendadak lemas, energinya berkurang. Berhari-hari tak keluar kamar.Yana menemuinya sekedar memberikan makanan. Seperti karma, datang tak diundang. Susana berubah total.

Warga terheran-heran, tersadar dari asap penghasutan. Ternyata masih ada dan tega, keluarga yang telah mempermalukan darahnya sendiri, membuang aliran darah yang telah membuatnya hidup. Emak Rojo, sedikit demi sedikit mulai tersadar. Bulan berganti bulan, ia mulai merangkul kembali keluarga kecilnya. Sakinah mulai berjualan sejak tubuhnya mulai membaik. Tak di sangka dendam Markati masih dipegang anaknya, siap di lemparin ke muka Sakinah, tak henti-hentinya mereka berusaha merobohkan keluarga yang sedang berjuang demi penghidupan yang lebih baik itu.