Hello There !

I'm Cory. an Author and Blogger from Indonesia.
Makhluk spesies blogisius fiksidisaurus. Doyan makan bakso juga keliling kota. 🌿feed antigo: @lifeascory | Hidup di dua benua (lifeascory.com dan corywanderlust.com). For business inquiries, ✉️ coryandherjourney@gmail.com!
Cory Dori

What Read Next

Kepastian yang Bangsat


Hari ini, hari dimana aku menyelesaikan tugasku sebagai pekerja. Memberanikan diri untuk keluar dari kepastian Tuhan bahwa anak kere (miskin) harus bekerja selepas lulus SMA, demi kebahagiaan orang tua. Kadang aku bertanya pada siapapun yang ada dalam ruang kosong pikiranku, apakah seluruh orang miskin di dunia ini harus menanggung beban kepastian dari Tuhan yang begitu menyakitkan dan bikin sakit hati? Punya orang tua tak sempurna, fisik tak sempurna, keadaan ekonomi yang tak sempurna, teman tak sempurna, bahkan kehidupan lain yang jauh dari sempurna. 

Aku ingin meneruskan sekolah, orang lain menolak. Aku dinikahin orang kaya, orang lain berontak. Aku ingin begini, aku ingin begitu, rasanya tak ada satu orang pun yang setuju. Aku ini manusia juga bukan sih? Jangan tanyakan soal keluarga, baru kali ini ku merasakan keluargaku sendiri seperti air dan minyak yang sampai kapan pun tak pernah sependapat juga bersatu menyoal diriku dan bagaimana harusnya aku di masa depan. Kepastian ini menjadi kepastian bangsat bagiku. Merubah nasib satu biji wijen saja sama halnya menaklukkan puncak everest tanpa restu, tanpa persiapan dan tanpa bekal apa-apa. Mati di tengah jalan bisa jadi konsekuensi yang harus diterima dan dibiarkan secara percuma.

Aku benci, sungguh benci kepastian yang harus diterima secara legowo seperti ini. Bukankah tiap manusia punya keistimewaan yang bisa ditukarkan dengan kepastian yang sempurna? Tapi kenapa aku tak punya keistimewaan apapun yang bisa diperjualbelikan untuk meraih kesempurnaan itu? You only live once, so make the most out of it being the best you can be. Semuanya bullshit, karena apa yang aku lakukan selama ini di mata orang lain selalu salah. Kondisi ini sungguh sangat keterlaluan dan membuatku tak bisa berbuat apa-apa selain menerima kepastian yang bangsat. 

Setelah ibu menderita dan terkapar hanya sebagai boneka yang cuma bisa mengedipkan mata di kamar tidur, aku harus ekstra turun tangan mengurus semuanya sendiri. Belanja ke pasar sendiri, cari uang sendiri, pergi kemana-mana sendiri, sampai menanggung fitnah sendiri yang bahkan sampai saat ini rasanya susah sekali buat dimaafkan. Fitnah yang pernah dilontarkan sahabat masa sekolah dulu, aku dipermalukan didepan satu angkatan yang padahal bukan aku pelakunya tapi seolah alam membenarkannya. what the hell guys,😢😢😢 kenapa aku sebagai orang miskin cuma bisa diam dan hanya bilang, bukan akuuu sambil disumpah di atas al-Qur'an dengan penuh jeritan di dalam hati menyumpah serapah alam bahwa memang bukan aku yang mengambil uang 200ribu yang ada dalam saku Rok panjangnya Halimah. Bangsat untuk yang kedua kalinya.

I dunno mereka semua yang menyaksikan di dalam kelas, apakah mereka menelan mentah-mentah fitnah yang menimpaku ataukah sebaliknya. Mimik mereka bermacam-macam hingga pandanganku berkunang-kunang dan hatiku hanya auto fokus pada Sang Pencipta Alam. Semoga Dia berkenan membalas perbuatan siapapun yang melanggar etika sebagai manusia yang tak memiliki rasa (ber-)peri-kemanusiaan. Sial, kenapa harus aku yang nerima ini semua? Di saat ibu dalam keadaan setengah pulih dari penyakit gilanya (hanya tak diketahui secara medis, bukan penyakit mental), aku begitu diuji dengan kebangsatan yang luar biasa merendahkan martabatku sebagai perempuan baik-baik.

Ditambah lagi lingkungan rumah yang kurang kondusif, menyudutkanku sebagai perempuan yang nggak berpotensi apa-apa. Padahal kalau lagi ikutan lomba mewakili sekolah, aku nggak perlu koar-koar alias pamer kan. Kenapa sih orang-orang begitu jahat? :'(

Kemarin kerja juga difitnah yang enggak-enggak, dibilang aku kerja sampingan jadi pelacur lah, pembokat simpenan lah, bodo amat lah. Terserah kalian semua. Pokoknya, hari ini aku mau mengucapkan selamat datang pada diriku yang baru. Yang nggak mau mikir aneh-aneh dan bodo amat sama ocehan orang. Sekarang bukan waktunya sepakat sama kepastian yang bangsat. Aku yakin masih ada keistimewaan yang aku punya dan aku yakin Tuhan tidak sejahat itu kepadaku juga kepada kehidupanku.

Thanks earth,

Comments

Contact Form

Name

Email *

Message *