Hello, there !

I’m Cory. I have a huge passion for blogging in general, but I love dabbling in photography and graphic design! I’m a major introvert, which is probably why blogging became such a big hobby of mine. Thanks for stopping by my blog!

for business inquiries,

@lifeascory

What Read Next ?

Pekerjaan Laknat Membuatku Bejat (Part 1)


"Jangan sekali-kali kau hidupi dirimu dengan uang haram kalau kamu mau hidupmu berkah". Ibuku terbata-bata mengucapkan satu kalimat itu berulang-ulang. Otakku merasa disemprot pestisida karena selama ini sudah berandai-andai mau ikut casting, biar bisa main film di layar lebar atau sekedar ftv bahagia. Bukan, bukan maksudku bekerja sebagai artis adalah haram, tapi yang ditakutkan ibuku adalah ketika aku dholim saat bekerja. Menambah kerja sampingan sebagai yang lain (na'udzubillah: jadi simpanan om om misalnya) karena pergaulan bebas. Mungkin uang yang saya dapat ada kalanya berupa uang haram. Itu yang ditakutkan.

Beberapa bulan yang lalu aku resmi melepas masa es em a, setelah satu tahun penuh yang akhirnya ibu juga resmi melepas jadwal terapinya. Aku bahagia, ibu sudah bisa gerak dan beraktifitas kembali. Ibu udah bisa melaksanakan kewajiban sholat lima waktunya dengan sempurna. Tapi sayangnya, semua harta benda yang kita punya ludes tak bersisa. Itu tandanya aku harus rela bekerja demi lancarnya kehidupan aku juga ibu selanjutnya. 

Sudah tujuh belas tahun kan? Nikahkan saja anakmu, biar tidak merepotkan. Kasian kamu kurus kering begitu. Begitulah kalimat yang seringkali ku dengar dari mulut para bajingan tidak tahu aturan bagaimana orang miskin harus bersikap. Sama-sama miskin tidak usah berkomentar, toh kita sama-sama tahu harapan apa yang sedang kita perjuangkan. Bagi yang kaya, kalimat itu ku jadikan sampah lalu ku bakar hingga menjadi abu. Bodo amat kau berucap sesuka hati kau.

Entah darimana asal-usulnya, tau-tau aku punya pikiran untuk main ke Surabaya, ke rumah Saudara jauh di Sukomanunggal 5 yang sering ku anggap seperti kakak kandungku sendiri. Sungguh berarti, karena dia seakan jadi sponsor utama gaya fashionku tiap kali main ke rumah. Dia selalu membawakanku baju bekas lungsuran dirinya yang masih bagus, t-shirt Ripcurl yang super famous, jaket R&B, slingbag dan totebag yang super keren, minyak wangi bibit yang selalu membuatku menjadi baby━karena bau bayi, dan itu semualah yang membuatku berani pergi ke kota sendiri demi mendapatkan pekerjaan selepas tamat sekolah.

Setelah beberapa hari menginap di sana, lowongan kerja pun berhasil ku dapatkan. Kerja apa saja, yang penting halal, aku oke aja mbak, tegasku. Lalu ku pakai seragam hitam putih ala anak SPG baru dengan rambut terurai sebahu lebih ke bawah sedikit, makeup tipis-tipis, dengan senyum menawan sedikit ku melangkahkan kaki ke salah satu resto di Pakuwon Trade Center alias PTC Surabaya. Tanpa banyak ditanya, aku langsung resmi diterima, oleh Pak Hendrik supervisorku waktu itu.


Besoknya, aku sudah mulai kerja dengan baju yang sama saat interview. Bedanya, kali ini rambutku harus disanggul. Alasannya biar tidak ribet dan tidak berpotensi masuk ke makanan. Karena ini resto milik orang china, takutnya nanti banyak komplainan, karena kata orang juga, punya bos orang china itu cerewet banget. Bisa ganas bisa baik hati sih, tapi pelit dan cerewetnya tak bisa dipisahkan apalagi dinafikan. Ini kata orang loh ya, bukan kata kambing apalagi kedelai eh keledai. Silakan diklarifikasi sendiri benar tidaknya.

Bayangkan saja ya, kerjaku dibagi menjadi dua shift. Ada shift pagi dan shift malam. Karena resto kami ada di dalam mall, jadi kalau shift pagi aku selalu berangkat jam setengah 9 atau jam 9 sebab jam 10 resto sudah harus standby. Aku yang masih berusia 17 tahun harus kerja satu tim sama beberapa orang laki yang sudah om-om semua, kecuali dwi dan kadek. Dan aku baru tahu kalau resto ini menyediakan makanan tidak halal aka menu pork dengan segala macam jenisnya. Oh god, aku langsung teringat satu kalimat yang dilontarkan ibuku waktu itu.

Apakah pekerjaan yang saat ini ku jalani menghasilkan uang haram? Secara, dalam islam, kalau kita terkena najis anjing walau dari air liurnya saja kita harus membasuh tujuh kali biar seluruh tubuh jadi suci, kalau perlu mandi plus keramas sekalian, syahadat lagi dan jangan sampai diulangi secara sengaja. Tapi di sini? Aku harus dihadapkan hukum haram secara tak kasat mata. Dengan rasa hormat aku meminta maaf, daging babi yang diolah menjadi makanan sebenarnya tidak cocok jadi bagian dari pekerjaanku. Kalau saja terkena noda makanan dalam tubuhku, bagaimana sholat lima waktuku?


Tidak lama kemudian, aku mendapat seragam resmi waitress. Mari bertolak dari hukum haram soal daging babi. Aku pikir, kalau saja pekerjaan ini tidak membuatku berbuat melewati batas, sepertinya Allah juga akan memaafkan dan memperbolehkan. Selama aku tidak memasukkan makanan itu ke dalam tubuhku. Baiklah, mari kita lihat kelaknatan apa yang sedang terjadi dalam pekerjaan ini? Soal hukum haram sudahlah ku pertimbangkan.

How old are you? tanya salah seorang om bule yang datang satu rombongan bersama pria china bercelana cingkrang. I'm seventeen yo, jawabku. No, no, no Jackson, pria china itu menyahut dari kejauhan. Dia terlalu muda, jangan cari masalah. Dia pun menghampiri Jackson yang sedang berdiri tepat di depanku. I'm so sorry, but i need so... Jackson memberontak, seolah dia sudah ketemu menu terbaik yang harus dia santap malam itu. 
....

Comments