Hello There !

I'm Cory. an Author and Blogger from Indonesia.
Makhluk spesies blogisius fiksidisaurus. Doyan makan bakso juga keliling kota. 🌿feed antigo: @lifeascory | Hidup di dua benua (lifeascory.com dan corywanderlust.com). For business inquiries, ✉️ coryandherjourney@gmail.com!
Cory Dori

What Read Next

Happy Birthday to me!


Kelahiran dan pertumbuhanku berlalu begitu cepat. Rasanya baru kemarin aku tumbuh gigi di sebagian gusiku, hari ini belasan tahun telah melewatiku hingga tersebutlah masa remajaku. Aku terkulai karena masih semuda ini aku sudah banyak melakukan kesalahan pada diriku sendiri. Bahkan aku mengecewakan banyak orang yang telah mengharapkanku (menjadi anak yang berbakti dan membanggakan).

Aku cuma gadis yang lemah dan tidak tahu terima kasih. Aku selalu menuntut untuk bahagia di samping remuknya perasaan ibuku. Aku selalu bertanya, kenapa ibu menceraikan ayahku. Andai kejadian menyakitkan itu tidak pernah terjadi, mungkin aku bisa seperti anak-anak normal lainnya. Yang bisa berinteraksi dengan mudahnya dengan siapapun tanpa harus menangis terlebih dahulu, tanpa harus ketakutan dan ragu. Aku seperti menelan panasnya bara api lalu seluruh tubuhku meleleh hingga tak tersisa tulang belulangnya. Sia-sia saja.

Jatuh Cinta

Seperti yang kalian tahu, aku bukanlah wanita cantik (menurut lelaki yang ada di sekelilingku) secara fisik. Warna kulitku sawo matang, bahkan terlihat seperti sawo busuk karena terlalu cokelat. Tetangga bahkan keluargaku sendiri pun sepakat kalau ada yang memanggilku dengan sebutan "oreo atau cokelat". Tinggi badanku tidak semampai seperti anak-anak perempuan lainnya di keluarga ibuku. Itu karena bapakku yang berani menurunkan genetika buruknya (secara umum) kepadaku. Aku sedih ketika ada yang meremehkanku bahwa aku tidak akan laku. Memangnya aku sedang dijual? 

Kalau bicara tentang perasaan, aku lebih sering sakit hati karena sejak aku dilahirkan, tidak ada seorang pun yang pernah memuji kecantikanku, bahkan aku selalu menjadi objek lelucon ketika guru-guru di sekolah sudah mulai bosan mengajar, dan mereka mulai bertanya kepada beberapa teman laki-laki di kelasku, apakah mereka mau memiliki pasangan sepertiku. Sebagian besar kalian sudah pasti tahu jawabannya, mereka menolakku secara kasar dan marah tak terkira sehingga teman-teman yang lainnya menertawakan kami seolah ada pertunjukan sirkus yang menumbalkan monster sepertiku. 

Aku tersenyum simpul dengan aliran darah yang begitu deras dan detang jantung yang begitu cepat. Sebegini hinanya diriku ketika warna kulitku terlihat lebih pekat dari yang mereka miliki? Aku bertanya keras pada perasaanku sendiri, sampai pada akhirnya aku meluapkan seluruh air mata pada ilalang kering yang terseret angin di sepanjang perjalanan pulangku menuju rumah.

Tapi sampai di penghujung kelas enam sekolah dasar, aku sedikit mendapat pujian dari salah satu keluarga ibuku, katanya kalau dilihat lebih dekat lagi, parasku memang manis, semanis senyumku yang diqiyaskan seperti bunga mawar merekah di tengah kemarau panjang. Aku menjadi bahagia, hingga pada akhirnya aku jatuh cinta pada diriku sendiri.

Mencintai Seorang Lelaki

Hari ini, tepatnya di usia yang ke tujuh belas tahun, tiba-tiba aku mengagumi seorang laki-laki. Satu dari milyaran manusia yang tercipta dari segala keajaiban tangan Allah Subhanahu wa Ta'ala dan membuatku gugup saat kali pertama diajaknya ngobrol berdua. Aku sungguh tak berani menatap kedua bola matanya dua kali. Satu kali pandangan saja sudah bikin jantung saya berdetak sangatlah cepat. Aku jadi bertanya sekali lagi pada ruang yang kosong tak berpenghuni, apakah aku masih pantas untuk dicintai seorang laki-laki? Apakah aku akan laku seperti barang dagangan yang disebutkan mereka?

Ternyata sampai hari ini, sejak peristiwa kelulusan masa MTs. ku, banyak yang memuji paras manisku, wajah bersihku, kulit putihku, raut muka baby face ku. Yang semua itu aku dapatkan secara instan dari beberapa produk kosmetik rekomendasi dari teman sekelasku masa sekolah dasar dulu. Aku merasa malu, ternyata menjadi orang berwajah cantik berparas manis seperti kata kebanyakan orang untukku akhir-akhir ini tidak membuatku lupa dengan masa lalu. Masih ada saja yang menghina dan melecehkanku secara terang-terangan.

Akhirnya ku tersadar, bahwa mencintai diri sendiri bukan melulu soal perubahan, tapi mengingat Allah atas segala perkara yang disampaikan melalui jalan kehidupan setiap makhluknya. Ku bersyukur, masih memiliki orang yang masih ku percaya dan mempercayaiku, ibu di segala aspek kasih sayangnya. Happy birthday, kampret. Kamu adalah yang terbaik, meski banyak kejadian buruk yang menimpamu atas kerja kerasmu yang buruk. Berubahlah ke arah yang lebih baik, sehingga tiada lagi ketakutan yang kau sampaikan saat kau terlihat membanggakan di mata orang lain.

Sweet Seventeen, 

Comments

Contact Form

Name

Email *

Message *