Hello There !

I'm Cory. an Author and Blogger from Indonesia.
Makhluk spesies blogisius fiksidisaurus. Doyan makan bakso juga keliling kota. 🌿feed antigo: @lifeascory | Hidup di dua benua (lifeascory.com dan corywanderlust.com). For business inquiries, ✉️ coryandherjourney@gmail.com!
Cory Dori

What Read Next

Barangkali Ini Jodoh


Selamat pagi khalayak, semoga hati ini tak pernah lelah memendam perasaan bersalah hingga suatu hari nanti aku bisa menghapus kembali ingatan rasa bersalah itu dan menggantinya dengan sebuah kebenaran. Hari ini aku bersaksi bahwa tiada makhluk Tuhan yang begitu berputus asa selain merasakan kesakitan yang begitu luar biasa. Ibuku kini terbaring lemah di atas tanah yang hanya berlapiskan tikar plastik bertumpukan babut (karpet). Sudah dua tahun ini beliau menderita penyakit lumpuh sebelah yang tak bisa didiagnosa oleh dokter biasa. 

Semua itu pasalnya dikarenakan ada gangguan tak kasat mata yang katanya mengintai lama tubuh ibu untuk dirobohkan jasadnya dan diambil nyawanya secara paksa, ke alam yang bukan seharusnya di mana manusia itu kembali kepada Tuhan setelah meninggal dunia. Ibu dijadikan tumbal pesugihan, oleh siapa dan untuk siapa, aku tak mau tahu dan tak ingin tahu sebab siapapun orangnya pasti tak lagi mengakui kesalahan yang sudah ia perbuat kepada ibu.

Yang terpenting bagiku saat ini adalah kesembuhan ibu hingga tak ada lagi air mata yang mengalir di ujung mata kanan dan kiriku. Sudah cukup batinku saja yang menangis sekeras-kerasnya. Jangan sampai sapu tangan ini basah oleh ingus dan tangisan setiap hari.

Mungkin Inilah yang Dinamakan Jodoh

Aku mengikuti acara Maulidur Rosul yang ada di sekolahku. Tidak ada yang sedang ku pikirkan selain mencari cara bagaimana agar penyakit ibuku tidak lagi menggerogoti tubuh yang sudah tua dan ringkih itu. Bahagianya, alhamdulillah saat ini aku masuk kelas tiga Madrasah Aliyah yang (ada) di bawah naungan salah satu Pondok Pesantren termasyhur di kota kelahiranku. Tapi cerita ini, kembali kepada satu tahun yang lalu.

Aku duduk di barisan paling tengah di sebuah aula kecil berukuran sekitar 18m x 6m. Ketahuilah bahwa sekolah yang aku tempati saat ini masih terbilang minim siswa, jadi tak usah kau bayangkan betapa besar luas keseluruhan sekolahku yang hanya memiliki tiga kelas per-gradenya. Tapi bersyukur, masih lengkap dengan perpustakaan, ruang osis, ruang lab sains dan lab komputer. Bukan sekolah murahan, tapi kebanyakan anak abege di tempatku memang sangat jarang yang berani mengambil sekolah lanjutan berlabel "Madrasah Aliyah" swasta.

Aku menunduk sepanjang acara, berharap mendapat keberkahan dari setiap sholawat yang kami lantunkan bersama-sama. Pagi itu, sekitar pertengahan acara aku disapa sama kakak kelas. Sudah biasa, aku selalu lebih memilih tempat yang tenang berjauhan dari teman-teman sekelasku. Mending satu baris sama kakak kelas yang tidak aku kenal biar aku khusyu' berdoa, maksudku mungkin biar tak banyak ngobrol saat mengikuti acara ini. Kamu Riris kan? Sapanya penuh hati-hati. Aku tersentak menoleh ke samping di mana telingaku menangkap gelombang suara yang begitu lirih. Ku lihat dari dekat, senyum ramah penuh ikhlas menyapaku dengan penuh perhatian. Aku pun menjawabnya dengan satu anggukan dan senyuman. Aku kembali menunduk sambil melihat pesan yang ada di ponsel nexianku.

Ia pun terdiam lama karena melihatku acuh setelah itu. Kamu sedang ada masalah ya? Kalau boleh, kakak mau kok dengerin suara hati kamu. Suara lirih itu kembali lagi, seolah memaksaku untuk bercerita bagaimana keadaanku yang sebenarnya. Air mataku tiba-tiba jatuh, tak mungkin ku menceritakan masalah pribadiku kepada seseorang yang belom aku kenal sama sekali. Tapi melihat tutur kata dan perilaku kakak kelas perempuanku yang bernama Needa ini rasanya seperti menemukan saudara kandung yang terpisah lama. Ia terlihat baik sekali dengan tata bahasa yang begitu sopan dan lembut. Agak-agak ku ingin memeluk tubuhnya dengan erat.

Entah bagaimana menjelaskannya, kak Needa bisa memaksaku untuk berani mengugkapkan kata-kata. Ibu kakak juga mengalami hal yang sama dek, malah dulu dimasukkan ke keranda mayat. Kami sekeluarga sampai menjerit-jerit, tapi alhamdulillah sekarang sudah membaik dan sehat kembali. Kalau mau coba, barangkali kan jodoh, nanti kamu kakak antar ke tempatnya, karena rumah beliau tidak jauh dari rumah kakak. Aku pun mengangguk sambil berterima kasih sebanyak-banyaknya.


Comments

Contact Form

Name

Email *

Message *