Biaya Hidup dan Kuliah di Jakarta

Sunday, October 14, 2018


Jadi, kemarin banyak banget cuitan yang gue dapat dari tetangga, teman lama, dan siapapun yang pernah jumpa dan kenal sama gue. Mereka rata-rata menanyakan hal yang sama yaitu, "Gue sibuk apa, kuliah di mana, kerja apa, bla bla bla." Dan yang ingin gue share di sini adalah menyoal biaya hidup dan kuliah di Jakarta, tempat di mana gue memang belajar, mengadu nasib, mencari hubungan dan merantau jauh sampai detik ini. Jadi, buat kalian yang masih nanya, gue di Jogja, apa di Malang, apa di Jakarta. Udah kejawab semua ya. Nggak usah julidin gue mulu, gue risih dengernya. Udah tau Kartu Tanda Mahasiswa gue kuliah di mana, masih aja nanya, kuliah apa kerja. Emosi gue. He he. Enggak, becanda. 

[ D I S C L A I M E R ] Biaya Hidup di Jakarta ini sebenarnya relatif ya, tergantung kalian tinggal di area mana dan gaya hidup kalian gimana. Di tulisan ini sebisa mungkin gue mencoba untuk menjelaskan secara umum, berapa sih biaya hidup sebagai seorang student (mahasiswa) di Jakarta itu, dan bagaimana perasaan sebagai seorang diaspora lintas provinsi yang hidup di negeri orang dengan bermacam-macam aturan yang berbeda. Let's get started!

Sebenarnya gue tinggal bukan di Jakarta kotanya. Tapi di kawasan kampus gue di mana orang melihat gue sebagai student. Ya, di pinggiran kota Jakarta Selatan, tapi masuk kawasan Tangerang, Banten. Bingung kan, kenapa gue sebut Jakarta? Dulu sih, katanya UIN Jakarta itu masuk kawasan Jakarta Selatan, tapi sekarang wilayahnya diambil alih oleh Tangerang Selatan, makanya alamat UIN Jakarta yang sekarang ya di Tangerang, bukan Jakarta. Tapi, tenang saja. Hidup di sini mah rata-rata sama. Beda dikit lah, itung-itung uang bensin, ongkos jalan.

Back to the topic. Gue tinggal di Jakarta ini sebenarnya udah lumayan lama. Dari awal gue kuliah tahun 2011 bulan September sampai sekarang tahun 2018 bulan Oktober. Dibilang bosan sih lumayan, gue homesick udah sering banget, kalau ditotalin bisa sampai 730 harian lebih. Sampai nangis-nangis, mimpi buruk, bengong sendiri, semua pernah gue alamin karena saking kangennya sama kota kelahiran. Tapi mau gimana lagi, perjuangan gue masih belum totalitas, jadi harus gue totalin sampe akhir. Hampir delapan tahun ternyata gue tinggal di sini. Sedih akutu sampai sekarang masih (jomblo) belom sepenuhnya sholehah.

Ngomongin soal biaya hidup, seperti yang udah gue jelasin di awal, sebenarnya relatif. Tergantung kalian tinggal di mana dan gaya hidup kalian kayak gimana, dan (plus) kalian berasal dari keluarga yang gimana, bisajadi kaya atau tidak. Kenapa? Karena status sosial menentukan betul bagaimana hidup seseorang di perantauan. Kalau kalian kaya, otomatis bilangnya murah. Kalau kalian (maaf) kurang beruntung, ya pasti bilangnya mahal. Kayak yang gue bilang, hidup ini mahal bila difikirkan. Jadi, nggak usah banyak pikiran biar nggak nambah beban. Ya, gue merupakan salah satu manusia yang hidup di perantauan dengan status sosial keluarga paling rendah. Jadi, kalian nggak usah baper kalo barusan gue bilang berasal dari keluarga yang kek mana.

Jaman gue kesini dulu, nggak semahal sekarang. Naik kereta cuma 50 ribu, makan dua kali bisa goceng, kos-kosan juga cuma tiga ratus ribu. Kalau jaman sekarang, naik kereta (paling murah) 150 ribu, makan sekali ceban, kos-kosan rata-rata satu jutaan. Mampus gila mamak kau! Kerja bagai quda dulu baru ke Jakarta. Hmm, tidaklah.

Kalau kamu tinggal di Jakarta bagian kotanya pasti biaya hidupnya lebih mahal lagi, makanya gue sangat bersyukur bisa tinggal di pinggiran kota begini. Selain karena kampus gue di pinggiran, gue juga nyaman tinggal di lingkungan agamis seperti Ciputat ini. Jangan heran makanya, kalau di Ciputat masih lihat cewek cowok pakai busana muslim muslimah, karena lingkungan di sini amat sangat kondusif bagi muslimah kayak gue. Biaya hidupnya juga biasa aja, tidak terlalu mahal apalagi buat orang borjuis, bisa menggaya di sini. Beli nasi ayam 15 ribu aja udah kayak beli permen satu biji. Sok kaya. Ha ha.

Nih ya, buat kalian yang masih dalam mimpi kering, pengen merantau ke Jakarta, khususnya warga Jawa Timur. Gue saranin ambil daerah Ciputat, Pamulang, Cirendeu, Pondok Cabe, Parung dan sekitarnya. Karena biaya hidup di sini lumayan rendah dibanding Jakarta kota. Di sini kalian masih dapat kontrakan seharga 900 ribu per dua petak. Kalau di Jakarta, satu petak aja satu juta. Gimana mau hidup irit, yekan? Niat merantau mau beradu nasib biar sukses malah bangkrut di jalan karena biaya hidup mahal. Mending nyangkul tanah di rumah, nabur biji cabe.

Terus ya, buat kalian yang mau kuliah di Jakarta. Gue saranin cari teman yang bisa membawa pengaruh baik deh buat kehidupan kalian, karena yang selama ini gue rasakan di sini, salah bergaul bisa bikin potensi kita luntur sejak kali pertama berteman loh. Yaiyalah, dia bawa pengaruh buruk bagi kita, gimana gak ilang kan passion dan skill bawaan kita. Dan juga bisa bikin kalian terpengaruh gaya hidup yang bakal kalian jalani. Ini yang bikin gawat. Hati-hati saja, jangan sampai dapat gelar Social Climber secara cuma-cuma dari netijen yang maha bejat mulutnya. Ya, kita kudu pinter-pinter menjaga diri, memanage uang, mengatur waktu, menjalani kehidupan, belajar sungguh-sungguh, biar kita gak sia-sia jauh merantau.

Oke next, di sini gue mau itung-itungan. Hasil dari itung-itungan gue, tercatat bahwa biaya hidup + kuliah di Jakarta itu lumayan mahal. Setahun (2 Semester) bisa mencapai Seratus Juta (100,000,000) Rupiah. Nggak percaya? Lihat aja selengkapnya di video ini:


Jadi, menurut ramalan gue. Semakin berjalannya detik, menit, jam suit, hari, bulan, dan tahun di kehidupan manusia serakah seperti kita ini, gaya hidup akan semakin norak sekali. Biaya hidupnya juga akan semakin mahal, makin jadi borjuis, dan makin gak tahu diri. Ya, semoga aja kita selalu diberikan kesehatan, kemudahan, kekuatan, dan keberkahan oleh-Nya. Amin :")

Jika ada yang kurang jelas, atau perlu dipertanyakan dan didiskusikan, silakan tinggalkan komentar, Inshaallah akan gue jawab as soon as possible . Thank you :")

You Might Also Like

4 komentar

  1. Harus pinter2 hemat uang ya,..
    Apakagi dollar naik otomatis naik harga pun ikut pada naik...
    Saya juga merasakan hal sama saat kuliah dulu. Makan nasi sama goreng bawang pake kecap udah kerasa enak bgt wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaps. Bener banget. Yang bego ngatur uang bisa rugi diatur uang. Secara, manusia diberi ego serakah. Kalo sama uang aja bego, mau jadi apa nantinya? Dunia makin sadis bung. Makan sehari sekali aja udah syukur. Wkwkwk *apasih

      Delete
  2. Benar sekali bahwa pertemanan sangat membawa pengaruh yang besar dalam keseharian. Artikelnya bermanfaat kak 👏

    ReplyDelete

Hello guys! Thanks for reading this article.
For leaving your comment, please write on the box comment below, then click post/ publish!
Mohon memberikan komentar yang bersifat membangun ya!
Jangan meninggalkan link hidup, karena bakal dihapus secara otomatis. Thank you :)

Featured Post

Si Anet Ingin Hijrah, Berpetualang Keliling Dunia

Facebook Fanpage

My Youtube Channel