Susahnya Mengendalikan Emosi dan Akibatnya

5/08/2018, by Zeitschrift Cory

Source pict: merdeka.com
Emosi, emosi, dikit-dikit emosi. . .
Jadi stress nggak sih? Bangeeeet!

Pernahkah kalian merasa bahwa emosi kalian sedang tak terkendali? Atau pernahkah kalian melihat teman kalian yang emosinya meluap-luap macam tsunami? Kalau tidak pernah sama sekali berarti kalian beserta lingkungan adalah  sekumpulan orang-orang yang hebat. 

Jika kalian merasa pernah meluapkan emosi kalian, atau pernah melihat teman kalian sedang emosi, apa yang kalian rasakan? Sebenarnya, kenapa sih manusia itu butuh emosi? Haruskah emosi itu ada?

Listen, menurut buku psikologi yang saya baca, perbedaan antara perasaan dan emosi sangatlah besar. Ya, memang beda. Perasaan sendiri merupakan suatu keadaan di mana manusia itu menganggap ada sesuatu yang bersifat rohani dalam jiwa mereka, yang menimbulkan adanya "rasa". Itu secara universal. Sedang emosi adalah rasa yang tengah diekspresikan dengan sikap yang masih berhubungan dengan sebuah gelombang otak dan hal-hal biologis lainnya. Jadi, kalian sudah tau kan perbedaannya?

Emosi bikin sakit hati.

Pernah nggak sih kalian merasa bahwa setelah meluapkan emosi yang begitu menyeramkan seketika malu dan menyesal? Kalau saya sih yess! Memang, suatu keadaan di depan mata yang mana jika tidak sesuai dengan persepsi benar menurut kita bisa jadi menyebabkan emosi. Tapi, tidakkah bisa dikendalikan dengan hal-hal baik lainnya? Ya, cukup ngomong di hati saja misalnya.

Seperti contoh kecil:
Ketika saya pulang kerja part time, menjelang tengah malam, saya mendapati alat mandi saya hilang tanpa bekas. Tak lama kemudian muncullah wajah teman saya dengan wajah murung, lalu tanpa basa-basi sedikit pun dia menaruh alat mandi saya di depan kamar lalu meninggalkannya tanpa ada sepatah kata pun yang terucap dan tetap memperlihatkan wajah murung. Setelah saya mandi, saya mendapati shampoo saya yang habis, sabun mandi yang baru saya isi full ternyata tinggal setengah, sabun muka hilang dan tutup sikat giginya entah kemana. Tanpa basa-basi juga pun saya langsung misuh. "Cuk. .i. . mbok pikir aku babu mu opo, mbok pinteri sak karepmu." Tapi cuma dalam hati. Ya, begitulah emosi. Dicipta seketika saat diri ini merasa dikecawakan atau tersakiti.

Waktu itu, bisa jadi saya misuh di depan dia, memaki-maki dia, sebab mendapati hal-hal yang tidak saya inginkan, apalagi saya dalam kondisi lelah lalu seketika mendapatkan jamuan yang tidak mengenakkan. Tapi ternyata saya bisa sedikit mengendalikan emosi, ya meski dengan cara yang sedikit nyelekit, yaitu dikeluarkan dalam hati. Lagi-lagi, tetap saja ini emosi.

Bayangkan saja jika sampai terlontar dari mulut jahat saya, "Sudah minta tanpa izin, tidak minta maaf, dan tidak bilang terima kasih lagi. Mbok pikir aku supermarket gratisan?" Lalu adu bacot dan mungkin adu kekuatan fisik. Bisa saja saya melakukan hal itu. Tapi apa untungnya? Toh, emosi juga malah bikin kita sakit hati berlebih. Lelah hati, lelah pikiran, dan lelah fisik. Nggak enak toh? Rugi malu sudah dilihat sama teman-teman yang lain dan rugi juga sudah bikin sakit hati orang lain. Ya, akhirnya jadi sakit hati.

Mengendalikan emosi memang tidaklah gampang. Apalagi buat yang sudah terbiasa emosi, baginya mungkin sudah menjadi kebutuhan. Apa memang dibutuhkan? Ya, buat yang sudah terlatih emosi alias harus meluapkan segala amarahnya saat dirinya merasa tersakiti, saya rasa emosi memang dibutuhkan. Ibarat makan, jika sudah terbiasa makan nasi, ketika lapar; makan roti gandum yang lebih mengenyangkan pun tidak membuat dirinya merasa kenyang. Begitu pula emosi, jika belum diluapkan keseluruhan, rasanya masih ada yang kurang.

Jadilah kesedihan-kesedihan yang diakibatkan oleh emosinya, misal:

Ada satu kejadian di mana si A sebagai kakak kelas dan si B sebagai adik kelas. Nah si A ini (secara umur) bisa dibilang sudah dewasa, jauh lebih dewasa dari si B. Tapi karena si A sedang menjalankan peran sebagai kakak kelas yang ingin membaur di semua kalangan adik kelas, maka si A menyarankan si B untuk memanggil "nama" si A tanpa embel-embel kak. Bukan hanya untuk si B saja, melainkan ke semua adek-adek kelasnya. 

Tapi entah kenapa, semenjak B merasa direpotkan si A, akhirnya si B sedikit songong (you know that?) alias ngelunjak nggak sopannya kepada si A. Entah karena temperamennya si B yang memang naik turun ataukah sebab si B nya yang kurang bisa mengendalikan emosi. Jadi setiap kekesalan yang terjadi sama si B secara personal, diungkapkan secara langsung ke sembarang orang, termasuk si A sebagai kakak kelasnya.

Kecewa dong? Pasti!
"Tau gini, tau gitu. . ." banyak yang disesali jadinya.

Begitulah kiranya isi hati emosi yang bisa saya tangkap dari si A. Karena si A ini kecewa, akhirnya si A sedih. Untuk mengetahui isi hati si B saja rasanya sudah gak netral lagi. Bawaannya su'udzon terus. Saya sebagai penulis pun sedikit geram mendengar kisah yang begini. Apalagi pernah suatu kejadian, si B nelpon si A karena kesal dengan masalah pribadinya (soal kerjaan), dia meluapkan amarahnya di telpon, dan memaki-maki si A, sampai si A terdiam dan hanya bisa diam, lalu berkata, iya. . baiklah. .  hati-hati di jalan. . Berasa si A adalah Kebon tempat ia mencurahkan segala bau beraknya yang seabrek.

Maksud saya gini, kenapa si B tidak mencoba intropeksi diri, padahal selama ini banyak teman-temannya sudah memberi masukan agar tidak terlalu emosional, tapi setiap kali saya lihat dengan mata telanjang, ia menjadi pendendam karena ada yang mengkritisi. Padahal semua demi kebaikan dia dan orang lain yang ada disekelilingnya.

Kalau saja emosinya bisa dikendalikan dengan baik, mungkin tiada lagi diri dan orang lain yang tersakiti. Baik yang disengaja maupun tidak. Baik yang terlihat maupun tak kasat mata (dirasa).

Dalam hadist pun sudah dijelaskan:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَوْصِنِيْ ، قَالَ : (( لَا تَغْضَبْ )). فَرَدَّدَ مِرَارًا ؛ قَالَ : (( لَا تَغْضَبْ )). رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa suatu saat ada seorang laki-laki yang datang kepada Rasulullah saw. untuk meminta nasihat. Beliau pun bersabda, “Lâ taghdhab (Jangan marah)!” Ketika pertanyaan itu diulangi, Beliau pun memberikan jawaban yang sama. (HR al-Bukhâri)

Dengan demikian, menahan marah merupakan akhlak terpuji yang diperintahkan. Sebagai balasannya, pelakunya dijanjikan mendapat pahala yang amat besar. Sahal bin Muadz, dari Anas al-Jahni, dari bapaknya, menuturkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:

مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ يَسْتَطِيعُ أَنْ يُنَفِّذَهُ دَعَاهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ فِي أَيِّ الْحُورِ شَاءَ

“Siapa saja yang menahan marah, padahal dia mampu melampiaskannya, maka Allah akan memanggilnya pada Hari Kiamat di atas kepala para makhluk hingga dipilihkan baginya bidadari yang dia sukai." (HR at-Tirmidzi, Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Kesimpulannya adalah, ketika kita merasa kecewa, merasa disakiti sama orang lain, mari mencoba membalas kejahatan orang tersebut dengan kebaikan. Siapa tahu, kebaikan yang kita beri bisa merubah satu tetes kejahatannya menjadi sebuah kebaikan pula (kepada kita dan orang lain). Jangan balas mereka dengan luapan emosi yang menggebu-nggebu, karena tidak akan ada manfaatnya. Coba kita pikir, jika kita emosi, justru malah merugikan diri kita sendiri. Sudah malu, dilabelin pemarah, dan parahnya lagi emosi bisa menjadi kebiasaan bahkan menjadi kebutuhan. Jadi makin susah terkendali. (na'udzubillah min syarri dzalik).

Tambahan Kultum, pelajaran hidup:

Jika kita masih belum mampu merubah diri kita dengan sempurna, cobalah membantu merubah orang lain, siapa tahu Allah akan merubah kejelekan sifat kita menjadi kebaikan yang akan terus bermanfaat bagi sesama.

Selamat menjalankan Ibadah Puasa, dan selamat mencoba mengendalikan emosi kita. Karena satu teriakan mematikan dari mulut kita sama halnya membunuh ribuan manusia tak berdosa. :")

Sebelum kita menyakiti diri dan perasaan orang lain, mari mencoba memposisikan diri kita sebagai mereka. Mungkinkah mereka tak merasa disakiti jika kita secara tidak sengaja menyakiti? #JelasAtiLoro

0 komentar

Hello guys! Thanks for reading this article.
For leaving your comment, please write on the box comment below, then click post/ publish!
Mohon memberikan komentar yang bersifat membangun ya!
Jangan meninggalkan link hidup, karena bakal dihapus secara otomatis. Thank you :)