Sosok Ibu Pengganti Selama Gue Kuliah di Jurnalistik ­


Sosok Ibu Pengganti Selama Gue Kuliah di Jurnalistik ­– Sebelum kalian baca tulisan gue yang ini, harapan gue cuman satu, yaitu “kalian belom ngerasa bosen buat ngebaca”. Karena gue sadar bahwa kebanyakan, tulisan gue di blog ini berisi curhatan yang nggak penting buat hidup orang lain atau bisa lo bilang, “nggak ada ngaruhnya buat gue atau nggak ada untungnya buat gue”. Fine, meski begitu gue tetep nulis di blog ini, karena tujuan gue yang sesungguhnya bukan untuk pamer apalagi minta belas kasihan. Gue cuman pengen ngeluarin uneg-uneg doang atau sekedar mengucap terima kasih buat orang-orang yang pernah berpengaruh dalam perkembangan hidup gue. Dan kalo lo emang udah bosen sama tulisan gue di blog ini, gue nggak maksa lo buat baca dan silakan tutup tab browser lo masing-masing. Gue tetep lanjut bercerita.

Sebelumnya, gue pernah nulisin sedikit kisah “Suka Duka Selama Jadi Operator Warnet” dan kali ini gue akan bercerita tentang satu sosok perempuan yang sangat berpengaruh, bahkan bisa lo bilang sebagai pahlawan buat hidup gue. Menurut gue, beliau adalah sosok yang sangat berjiwa besar yang orang lain tak bisa melihatnya hanya dengan mata telanjang. 

Mrs Maria Ulfah semasa menjadi pelajar di Leiden University, Belanda

Mrs. Maria Ulfah (Maoel) Soegara, begitulah nama lengkapnya. Seorang dosen mata kuliah Bahasa Inggris yang mengajar di Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Istri dari salah seorang dosen Ilmu Politik, Mr. Robi Soegara yang juga mengajar di FISIP UIN Jakarta dan lama menjadi salah satu sosok pengamat politik di Indonesia.

Mr. and Mrs. Robi Soegara
Gue dan teman-teman biasa memanggilnya Mrs. Maul. Itu sapaan akrab kami selama berkumpul dalam suatu kegiatan organisasi ekstra maupun intra kampus. Gue pertama kali bertatap muka dengan beliau sewaktu gue main ke PPSDM (Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia) UIN Jakarta dan lebih sering ketemu selama gue berpartisipasi menjadi layouter beberapa buku cetakan LP2M UIN Jakarta. Semenjak di PPSDM itulah, gue menjadi agak sedikit akrab dengan beliau, padahal beliau nggak mengajar di fakultas gue. Jadi gue agak sedikit SKSD (Sok Kenal Sok Dekat) gitu.

Gue berani ngobrol panjang dengan beliau semenjak gue, kak Nadia (staff PPSDM), Mr. Imam Subchi dinner bareng di ABUBA Steak (setelah gue berhasil menyelesaikan pekerjaan pertama gue sebagai layouter book). Beliau mulai bertanya tentang pribadi gue dan entah kenapa, gue jadi berani buka mulut tentang apa yang gue keluhkan masa itu. Terutama tentang perkuliahan gue yang nggak karu-karuan, yang nggak sesuai ama passion lah, yang salah jurusan lah, yang bikin gue lupa ingatan lah, bikin gue patah semangat belajar lah, dst dst. Gue curhat panjang lebar dengan tujuan melahirkan kritik dan saran bagaimana baiknya kuliah gue selanjutnya. Sampai akhirnya gue sering ketemu dan konsultasi satu masalah itu.

Dan alhamdulillah, di awal tahun kemarin pikiran gue mulai terbuka dan berakhirlah satu masalah gue dengan konklusi mendaftar lagi menjadi mahasiswa baru Jurnalistik. Gue bersyukur banyak-banyak. I don’t care what the people says. Masing-masing orang memiliki harapan yang harus tetap diperjuangkan. Dan gue, sedang memperjuangkan pendidikan gue! Maka, mulai dari kemarin gue nggak bakal dengerin ocehan orang-orang yang bakal memutus dan membunuh harapan gue.

Mrs. Maria Ulfah dulunya adalah mahasiswi Sastra Inggris Strata 1 UIN Jakarta yang lanjut S2 di Leiden University, Belanda. Sepulang dari Belanda, beliau melanjutkan studi S2 nya lagi di Universitas Indonesia, Program Studi Ilmu Sastra, Fakultas Ilmu Budaya. Setelah itu, beliau mendampingi suaminya yang kuliah di RSIS NTU Singapore. Hingga akhirnya beliau memutuskan untuk mengajar di Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta sampai saat ini.

Waktu itu gue diminta ngebantu beliau buat ngoreksi hasil UAS dan bantu ngerekap (masukin dan jumlahin) nilai anak didiknya. Pertama kalinya gue ke rumah beliau yang ada di Sawangan-Depok, gue terpesona banget ngeliat rumah beliau yang berderetan dengan rumah saudara-saudaranya, entah sepupu, kakak, atau apanya gue belom tahu pasti, yang jelas waktu itu beliau bercerita bahwa satu cluster yang berisi enam rumah itu milik saudaranya semua. Gue sedikit ngiri di sana, batin gue mengalirkan air mata. Andai gue punya rumah dan keluarga. Ah, sudahlah!

Jujur, gue sebenernya nggak punya smartphone. Hari gini, lo nggak percaya? Yaudah tapi faktanya begitu. Gue asli pakai Nokia 6300 milik nyokap gue, yang direlain buat gue karena hape iPhone gue (hasil kerja keras sendiri selama di Kemendesa akhir tahun 2015 lalu) udah terjual untuk bayar kosan dan tes SBMPTN dan SPMB Mandiri 2016 kemarin. Alhasil, Mrs. Maul mesenin gue Grab Bike dari Sawangan dan bapaknya langsung nelpon gue, ngejemput di depan kampus. Setengah jam perjalanan, gue sampe di rumah beliau. 

Makanan udah disiapin, Wi-Fi dengan kecepatan super udah disuguhin, snack, kopi, segala macem semuanya berada di sekeliling gue. Tinggal pilih yang mana, terserah! Nangis nggak sih lo? Sehari itu gue berfantasi, tenggelam dalam rumah sendiri. Menganggap bahwa beliau adalah ibu kandung gue, yang sedang menjamu kedatangan gue, merindukan gue. Kami sedang berdua, seolah ibu dan anak. Gue sedang ngebantu ibu gue yang kelelahan sendiri, sibuk ngajar, sibuk ngurus ini dan itu. Dan lo tau? Itu semua cuman mimpi. Tepat pukul 23.30 tengah malam gue pulang, dipesenin Grab Bike lagi, disuruh hati-hati. Gue kembali lagi ke diri gue sendiri. Ya, gue anak dari seorang ibu nan jauh di sana, entah bagaimana kabarnya.

Gerimis tengah malam membuat gue semakin diperhatikan, ngerasa disayang, tak mau dilepas sendirian. Beliau membungkuskan tas laptop gue yang nantinya takut kehujanan atau kebasahan di perjalanan. Beliau pun memasangkan jaketnya buat gue, padahal gue udah pake jaket sendiri, supaya nggak masuk angin, katanya. Mata gue mulai berkaca-kaca. Gue menatap kedua mata beliau, dan tatapan baliknya sungguh membuat tulang keropos gue utuh kembali, seolah sedang menguatkan bahwa gue harus terus bertahan memperjuangkan hidup gue, impian gue yang tak seorang pun paham atas kelakuan gue selama ini. Dan gue mengangguk pada diri gue sendiri.

Tak lupa, sebelum gue keluar rumah, beliau memberikan sebungkus kenang-kenangan, berisi dua gantungan kunci dan cokelat dari Singapore. Anggap saja hadiah karena sudah membantu memasukkan nilai anak didik saya, mungkin begitulah maksudnya. Entah kenapa, gue nggak punya malu. Beliau siapa? Kenapa gue menganggapnya seperti ibu gue sendiri? Gue nyaman? Iya, bahkan terasa nyata. Tanpa sadar bahwa beliau adalah dosen gue, atasan gue, yang harus gue hormatin. Tapi kenapa, rasanya beda. Sudara dari bokap? Bukan! Saudara dari nyokap? Bukan juga! Tapi kenapa? Karena sikap beliaulah yang menjadikannya sosok ibu pengganti selama gue kuliah di Jurnalistik. 

Beliaulah yang memeluk gue disaat gue dikoyak-koyak sepi. Beliaulah yang hadir menguatkan gue di saat harapan gue hancur termakan waktu. Hingga terkadang gue malu saat bertatapan muka dengan beliau. Gue takut bakal ngerepotin, dan gue takut bakal ngecewain. Tapi sampai saat ini, beliau selalu membuat gue membuang rasa malu itu. I’m so sorry, Mrs.

Di semi akhir paragraf ini, gue mau bilang, “Thank you so much Mrs. Untuk segalanya, segala yang telah Mrs. Maul berikan. Yang telah Mrs. Maul korbankan untuk Cory. Akan selalu Cory ingat jasa yang telah Mrs. Maul berikan, sampai kapan pun. Sekali lagi terima kasih banyak, Mrs. Love you sampai bila-bila.” Teringat waktu itu, gue semalaman gelisah karena suatu hal, tiba-tiba setelah selesai sholat shubuh, wirid, dan do’a, hape gue berdering dan ternyata incoming call dari Mrs. Maul yang seketika memberikan kabar menggembirakan. Ya Allah, gue langsung sujud syukur sampai mata ini terasa berbinar-binar. Bahagia tak terkira. 

Duh Gusti, sembah nuwun sanget ingsun.. sembah nuwun ugi buat Mrs. Maul dan Mr. Robi. Sayang banget gue belom pernah foto bareng sama mereka. Insyaallah, di lain kesempatan dengan kisah yang berbeda. Nanti akan saya tulis kembali di blog ini.

No comments:

Post a Comment

Hello guys! Thanks for reading this article.
For leaving your comment, please write on the box comment below, then click post/ publish!
Mohon memberikan komentar yang bersifat membangun ya!
Jangan SPAM, karena bakal dihapus secara otomatis. Thank you :)

Instagram

I'm Proud to be a part of :