Sejarah Berkembangnya Jurnalistik di Indonesia


Sejarah Berkembangnya Jurnalistik di Indonesia - Dulu sebelum beredarnya surat kabar atau media yang sampai saat ini masih menjadi konsumsi dan kebutuhan banyak orang dalam memperoleh informasi, ternyata ilmu jurnalistik telah lahir pada akhir abad pertengahan, yang mana berita didatangkan dalam bentuk lagu dan cerita, dalam balada-balada yang disenandungkan para pengamen keliling. Seperti halnya kita mendengar pembacaan sebuah dongeng dari orang yang ada di sekeliling kita, namun hal tersebut adalah sebuah berita.

Dalam catatan lain pun telah disebutkan bahwa produk jurnalistik (secara tertulis) pertama kali muncul berupa surat edaran yang menyajikan peristiwa sosial politik dan diberi nama Acta Diurna yang terbit setiap hari di Roma Kuno (Romawi) pada 59 sebelum Masehi. Begitu pula di Cina, pada masa Dinasti Tang telah diterbitkan selebaran pendek yang disebut Pao atau laporan oleh pejabat pemerintahan dan berlangsung hingga akhir Dinasti Ching pada tahun 1911.

Richer Fawks membuat surat kabar yang bernama True en Countre yang hanya beredar terbatas di Eropa Tengah (Switzeland dan Inggris) pada abad ke-14. Kemudian menyusul di Belgia yang menerbitkan jurnal komersial yang diberi nama Courante Braden, juga di Inggris yang diberi nama jurnal Gazettes, dan juga di Jerman yang diberi nama jurnal Courantos pada permulaan abad ke-16.

Dan pada tahun 1450, Johan Gutenbuerg di kota Minz, Jerman membuat mesin cetak pertama kali di dunia. Dan dengan mesin inilah surat kabar pertama telah dilahirkan di Eropa pada tahun 1609 di kota Wolfenbuttel yang diberi nama Avisa Relation Order Zaitung dan resmi menjadi perbicangan di kafe-kafe Inggris juga kedai-kedai minum di Amerika mengenahi berita perkapalan, argumen politik, dan sebagainya.

Lalu pada tahun 1618, Casper Van Hibben di kota Amsterdam Belanda menerbitkan surat kabar Tijdighe Mijn Verathy de Qualteren dalam bahasa Belanda, Prancis, dan Inggris. Dan sejak itu, jurnalistik berkembang pesat hingga Amerika Serikat menerbitkan surat kabar untuk pertama kalinya pada tahun 1704 yang diberi nama The Boston News Letter.


Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi yang beredar hingga ke seluruh penjuru dunia, Indonesia pun merilis surat kabar untuk yang pertama kalinya pada masa pemerintahan Belanda Van Imhoff bulan Agustus 1744 yang diberi nama Bataviasche Nouvelles en Politique Raisonementen yang berisi kurang lebih untuk kepentingan perdagangan saja. Lalu pada Juni 1746, Bataviasche Nouvelles telah berhenti diterbitkan (resmi ditutup) sebab Van Imhoff diduga telah mempengaruhi pikiran pribumi Hindia-Belanda pada masa itu.

Kemudian pada tahun 1907, Indonesia melahirkan Pers Nasional yang diberi nama Medan Prijaji yang diterbitkan setiap minggunya. Sesuai dengan nama, surat kabar ini diterbitkan oleh golongan priyayi yang diketuai (pimpinan redaksi) oleh Raden Mas Tirtoadisuryo. Dan jelang abad ke-20, di Jakarta telah terbit surat kabar Taman Sari dibawah pimpinan F Wiggers dan Pemberita Betawi dibawah pimpinan J Hendrik. Selain itu juga, di Bandung telah terbit Pewarta Hindia yang dipimpin oleh Raden Ngabehi TA (sejak tahun 1894), dan di Semarang juga telah terbit Bintang Pagi dan Sinar Djawa.

Dan kini, setelah Indonesia merdeka, jurnalistik telah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Pers Indonesia bukan lagi menjadi alat perjuangan semata, namun juga sebagai lembaga bisnis dan perindustrian. 

No comments:

Post a Comment

Hello guys! Thanks for reading this article.
For leaving your comment, please write on the box comment below, then click post/ publish!
Mohon memberikan komentar yang bersifat membangun ya!
Jangan SPAM, karena bakal dihapus secara otomatis. Thank you :)

Instagram