Seteguk Cerita Di balik Secangkir Kintamani

Asal muasal, faktor yang menjadikanku sebagai sosok perempuan si penggila kopi sampai sebegini sakaunya adalah buku, laptop, dan menulis. Tiga hal yang tak mungkin terpisahkan bagai kopi dan cangkirnya, bagai bunga dan tangkainya, bagai burung dan sayapnya dan bagai-bagai lain sejenisnya.

Mereka telah berhasil mempengaruhi kinerja otak yang begitu cepat, kinerja rasa yang begitu tepat untuk memilih, menikmati secangkir kopi dibanding meminum segelas es teh, jus, atau minuman segar lainnya. Sebenarnya tak ada yang perlu disalahkan, selama bermanfaat, tidak membahayakan dan tidak merugikan. Kenapa tidak?

Jika anda bertanya, Sejak kapan saya menyukai ‘ngopi’? jawaban yang paling tepat adalah sejak aku ditakdirkan untuk menyukai dan menikmati secangkir kopi, SMA. Saat dimana mata dituntut untuk begadang, disitulah kopi mulai jadi sahabat.

Kintamani at the first love…

Pada suatu siang yang panasnya amit-amit, di masa pertamanya saya menginjakkan diri di kota Ciputat, saat masih berstatus mahasiswa baru Filsafat dari kampus islam berstempel negeri, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Aku berkelana mengelilingi kota yang katanya runyam dikelilingi macam-macam kontrakan ini. Panas, padat, suntuk, dan harus benar-benar sabar menghadapi macet yang tak karu-karuan. “Oh my god!” kataku. Berulang kali mengelus dada. Maklum, saya adalah orang kampung, udik, katrok, kudet dan lain sejenisnya. Selain terkejut karena tak sebegitu parahnya keadaan kota kelahiran saya meski sering disebut kota industri, saya juga terharu. “Kenapa kota Ciputat begitu berantakan?” gerutuku.

Berhari-hari berlalu sejak status mahasiswa baru menghilang dari peradaban kampus, saya mulai menggemari kebiasaan seorang aktifis, “Cory, mau nongkrong nggak?” seketika aku menebak, pasti di warung kopi. Kebiasaan, anak muda di kota Gresik, tempat kelahiran saya doyan banget yang namanya ‘ngopi’. So, pertanyaan yang paling populer adalah “Mau nongkrong, nggak?” itu udah pasti aku jawab, “Oke, siap! Dua menit lagi meluncur”. Tak mau lama-lama berfikir, saya pun siap melangkahkan kaki berkilo-kilo meter [mungkin].

Well, waktu itu saya baru mulai berpetualang, menyelam sembari meminum air, mahasiswa sekaligus aktifis [baik intra maupun ekstra kampus]. Mungkin kalau kata mereka [bisa jadi mahasiswa kupu-kupu alias mahasiswa yang doyan banget sama kebiasaan sekedar kuliah-pulang-tidur-belajar-paginya kuliah lagi], kebiasaan nongkrong bukanlah cara yang tepat untuk memperbaiki kualitas hidup. Namun faktanya, banyak juga orang yang hidupnya penuh perdebatan [seperti halnya nongkrong] justru kualitas hidupnya bisa melebihi sekedar baik, atau bisa dibilang istimewa [sangat baik]. So, nongkrong juga bisa dijadikan forum diskusi atau sharing experiences yang tak terduga. Jadi jangan asal nge-jugde yang tidak baik ya. Nongkrong bareng justru sebagai pengganti baca buku. Nah loh? Alternatif juga kan, biar suasana baca buku sedikit berubah [sebagai pendengar positif dari hal-hal yang positif]. Nambah pengetahuan juga deh.

Picture: Source here
Berbicara tentang kopi, tempat ‘ngopi’ yang paling pertama saya singgahi selama di Ciputat adalah Warkop “Sahabat Kopi”. Do you know, where? Letaknya di kampung utan, jalan WR. Supratman, tepat banget di sebelah kiri raya jalan, dari arah kampus UIN Jakarta ke Bintaro. Kalau naik angkot-S10 dari kampus sekitar lima menit [kalau nggak macet]. It’s enjoy! Tempatnya enak banget, sumpah! Yah, dibanding warung kopi yang kelihatannya semerawut di tepi jalan, ‘Sahabat Kopi’ ala cafe, disitu lebih nyaman dan view nya lebih rapi.

Malam itu sedang diadakannya rapat konsolidasi menjelang konferensi cabang atau biasa disebut konfercab oleh salah satu organisasi yang saya tekuni sampai saat ini, sebut saja PMII. Tiba-tiba saya mendapati kebiasaan para aktivis yang justru membuatku lebih semangat dalam menghadapi keruwetan persoalan “Mau kuliah atau jadi gembel organisasi?”. Yass, N G O P I. Begitulah cara mereka menuangkan segala keintelektualannya dibalik penampilannya yang agak berantakan dan terlihat stupid. Sambil menyeruput seteguk kopi, otak rasanya digerus untuk mencetuskan slogan ke-Indonesia-an, ‘Saya pun bisa!’.

Sejak dinding retina menangkap sebuah bayangan papan bertuliskan ‘Daftar Menu’, saya pun bergegas mendekati si pelayan kemudian meneriakkan “Mas, pesan kopi kintamani satu ya! Di meja nomor dua. Makasih.” Sepuluh menit kemudian, keluarlah si waiter muda dengan membawa serangkaian sajian salah satu kopi arabika ini.

Di sajikannya rasa yang mengikat antara si penikmat kopi dan hasil rebusan kopi lokal itu sendiri. Harumnya mengibar-ngibar saat tutup cangkir dibuka. Kekentalan dan keasamannya medium, tidak terlalu sepat dan tidak terlalu pahit, rasa jeruk (lemony) atau floralnya sangat terasa. Begitu menyeruput, jiwa serasa ikut menikmati bagaimana seorang barista meracik kopi kintamani langsung dari perkebunannya-Bali. Srupuuuutt… Ide-ide cemerlang mulai berdatangan. Tak disangka, ternyata Indonesia begitu kaya akan rasa, termasuk kopi. “Edaaaan brooo!”

Setelah berjam-jam saling mendiskusikan acara tahunan itu, menjelang akhir pertemuan kami mulai mengupas pengetahuan yang mungkin belum pernah saya kupas sebelumnya.

“Cory, penggemar kopi juga?” tanya mas Koko, salah seorang kader senior yang sudah puluhan tahun mengabdikan dirinya pada ngopi dan organisasi.
“Iya mas. Sudah lima tahun ini, sejak saya menggeluti buku-buku di SMA.”
“Wah, hebat ya!"
Pujiannya membuat saya cengar-cengir.
"Sudah pernah mencicipi kopi lokal apa saja?”
“Kopi Jawa mas”
“Yang lain?”
“Toraja, Luwak sama Gayo, Udah itu aja”
“Apa yang bisa kamu rasakan saat menikmati kopi Jawa?”

“Karena saya asli orang jawa, saya merasa biasa saja. Hehe.” Sambil bercanda, saya meneruskan pembicaraan,”Yang jelas, kopi jawa itu lebih terasa gurih, seimbang, dan di akhir tegukan ada sedikit rasa rempah. Itulah, asal muasal saya menggilai kopi. Selain membuat mata lebih tahan melek 24 jam, saya pun tak merasa dirugikan dengan harga yang terjangkau. Cuma tiga ribu rupiah per bungkus kecil, mas.” Sembari menyeruput kintamani.

“Kamu tahu nggak, ada berapa macam kopi lokal di negeri kita ini?”

“Tahu dong, cuman belum semua yang bisa aku cicipi seperti kopi Mandailing, Lintong, Priangan, Kalosi, Flores Bajawa, dan Baliem/Wamena.”
“Lain kali, ikut saya ngopi di tempat tongkrongan biasa. Siap? Oh iya, kamu bisa design kan? Besok ada kerjaan buat kamu, lumayan buat tambahan bayar kosan.”
“Wah, terimakasih. Sangat siap mas. Iya bisa, terimakasih banyak mas.”
“Oh iya, gimana rasa kintamani nya?”
“Wis, mantap pokok’e mas.”

Tak sedikit ternyata, jasa penyedia kopi-kopi lokal untuk kaum proletar seperti saya. Dari sekedar tongkrongan atau warung kopi biasa hingga café-café mewah, semua bisa dijangkau dalam waktu berpuluh-puluh menit bahkan hanya beberapa menit dari kampus saya. Malam yang semakin melarut dalam ceriwisan para aktifis organisasi ekstra kampus, membuat saya semakin mengagumi kopi-kopi produksi negeri sendiri, akibat keseringan ‘ngopi’ bahkan sudah menjadi kebiasaan. Terkadang saya menyadari slogan para penikmat kopi, “Di balik secangkir kopi, ada barisan cerita yang terungkap, rejeki datang dengan berbagai alasan.” Mendapat tawaran pekerjaan menjadi designer misalnya. Hehehehe.

Dua tahun lamanya saya berbaur dengan para aktifis, saya pun seorang aktifis. Ngopi menjadi hal yang wajar bagi kami saat rapat, nongkrong, jalan-jalan bahkan acara besar pun tak terlepas. Lebih-lebih ‘saya’. Hanya ada dua perempuan diantara kami yang menggilai kopi. Sebut saja ‘Bang Galuh’ dengan nama lengkap Galuh Hayu Nastiti, mahasiswi Ilmu Hukum yang tinggal menghitung hari di-wisuda. Setiap pulang kuliah, ia hobi menyempatkan diri mampir ke warung kopi untuk segelas kopi toraja, yang mana keharuman dan asam kekhasannya terkadang membuatku sakau, ingin terus menikmati di setiap malam.

Jika ia malu memasuki warung kopi, ia tak tanggung-tanggung membeli kopi renceng. Saat melihat saya yang sedang menyibukkan mata di depan laptop, dengan konyol ia melempar, “Nih Cor, kopi buat teman sampai nanti shubuh.” sedikit menggelikan, namun sangat romantis. “Thanks bang!”

Untuk pekerjaan selain kuliah-organisasi, saya meluangkan waktu sebagai designer juga penulis amatiran. Sesering mungkin begadang hingga muka terlihat begajulan, entah mata panda lah, menyipit lah, semua membunuh kecerahan muka yang dulunya sebening embun. Demi sesuap nasi, semua hal positif bisa dilakoni. Yang penting ada kopi, disitulah hidupku lebih berarti. Karena kopi, aku bisa mengisahkan segala kejutan yang mungkin masih tersembunyi.

Ini ceritaku, mana ceritamu? :)
#DibalikSecangkirKopi @IniBaruHidup

No comments:

Post a Comment

Hello guys! Thanks for reading this article.
For leaving your comment, please write on the box comment below, then click post/ publish!
Mohon memberikan komentar yang bersifat membangun ya!
Jangan SPAM, karena bakal dihapus secara otomatis. Thank you :)

Instagram

I'm Proud to be a part of :