Sebut Saja Delima


Sudah lama, si bunga layu dari tangkainya. Tak mungkin pula ia terbetahkan oleh panasnya api matahari yang terus-menerus menyulut dari sudut ke sudut merata, tanpa guyuran air walau seteguk. Sama halnya, tak mungkin pula ia terbetahkan oleh genangan air yang membanjir tanpa ada terpaan si dia, sang pemanas bumi abadi.

Hidup di salah satu musim yang berkepanjangan tidak menjadikan rasa bisa bergelut dengan bahagia. Semua butuh perbedaan yang saling melengkapi. Entah darimana asal-usulnya, manusia sanggup berfikir bagaimana cara agar dirinya mampu melengkapi dan menjadi pelengkap bersama alam yang terurai.

Sebut saja si "delima".

Delima, si perempuan tawar tak berbumbu asin, manis, dan asam kehidupan tiba-tiba dijatuhi pahit yang tak terduga. Ia pun terkejutnya setengah mati sebab baru pertama kali ia merasa satu macam rasa yang begitu aneh. Namun, betapa bahagianya karena sejak itu ia lebih bersahabat dengan suatu rasa yang bernama pahit tersebut.

Suatu ketika, si delima punya teman bernama "orange". Orange adalah sosok laki-laki yang hampir setiap hari dibumbuhi asam manis kehidupan. Laki-laki itu sama sekali belum pernah merasakan bahkan tidak tahu apa dan bagaimana rasa pahit itu. Delima pun mengajak orange ke suatu tempat dimana delima tidak bisa melakukan suatu hal apapun kecuali zuhud.

Betapa terkejutnya si orange yang tak tahu menahu soal delima, tiba-tiba disodorkan oleh sebuah kehampaan, kekosongan, ketiadaan, dan terkecuali sebuah aliran air yang mengalir jernih nan deras. Si orange pun dengan perlahan mulai bertanya, "Kamu hidup disini, sendirian?". Delima mengangguk berkali-kali, berharap tidak ada pertanyaan kedua yang harus dijawab dengan jawaban yang sama seperti "iya" atau sekedar anggukan sekali.

Dengan pelan si orange pun melontarkan pertanyaan kembali, "Apa kamu tak menginginkan untuk segera pindah dari sini?", dan kali ini si delima pun menggeleng. "Kamu, makan apa disini? Kamu pernah ke pasar? atau kamu?" Delima menggeleng berkali-kali, seperti jawaban awal kali, berharap tidak ada pertanyaan kedua yang harus dijawab dengan jawaban yang sama seperti "tidak" atau sekedar gelengen sekali.

Orange pun penasaran. Selama ini, mana betah ada seorang perempuan hidup sebatang kara dengan kondisi hampa, tak bergantung siapa-siapa. Apa si delima hanya sekedar cari muka, ataukah benar-benar perempuan ajaib?

"De-li-ma", katanya mengeja. "Mari ikut saya ke kota, biar hidupmu tak sebegini kosongnya. Saya akan mencarikanmu tempat tinggal dan pekerjaan." Dari lubuk hati yang paling dalam, si delima sebenar-benarnya ingin pergi dan tinggal di keramaian, ingin tahu ada rasa apa lagi selain rasa pahit kehidupan. Apa mungkin lebih aneh untuk dirasakan? Namun secepat kilat kepalanya merunduk, ia terdiam seribu bahasa. Kemudian meneteskan air mata.

Orange pun semakin bingung, dan entah harus berkata lain apa. Jangan-jangan delima menyesali pertanyaan yang harus dijawabnya dengan anggukan dan gelengan berkali-kali tadi. Entah mengapa, tiba-tiba delima menangis sesenggukan. "Oke, kalau kamu menangis begini. Saya anggap kamu setuju dengan tawaran saya, mari ikut saya ke kota." Orange pun menggeret tangannya yang beku. Sekuat tenaga ia menarik dan hampir napasnya tewas sebab lupa menyeruput oksigen kembali, sia-sia tak sedikit pun delima tak menggerakkan badan.

"Kamu masih nggak percaya revolusi? Hidup ini berputar, Ma. Jangan anggap kamu akan selalu berurusan dengan kehampaan begini. Semua akan berubah, dan pada menit ini, detik ini, kesempatan itu milik kamu. Tinggal kamu nya aja yang siap menerima atau tidak? Setelah ini, terserah kamu mau ngapain. Yang penting accept dulu kesempatan ini. Kalo nggak, kamu nggak akan tahu apa rasa selain rasa pahit yang kamu rasa selama ini." Orange meyakinkan sambil menepuk-nepuk telapak tangan yang digenggamnya.

Setelah mengusap butiran air mata yang menetes terakhir, delima mengangguk pelan. Pelukan seketika meluncur ke bentangan dada si orange. Anggukan yang berulang dan mungkin berarti "Yah, hidupku harus berubah" atau mungkin, "Yah, aku tak bisa hidup tanpamu. Karena kamulah satu-satunya orang yang berani membuatku menerima kenyataan bahwa hidup harus berevolusi."

bersambung...
Delima Episode 2

No comments:

Post a Comment

Hello guys! Thanks for reading this article.
For leaving your comment, please write on the box comment below, then click post/ publish!
Mohon memberikan komentar yang bersifat membangun ya!
Jangan SPAM, karena bakal dihapus secara otomatis. Thank you :)

Instagram

I'm Proud to be a part of :