Satu Malam Jadi Santri Legal


Dulu, ketika ditanya, "Mau melanjutkan sekolah di mana?"
Dengan serentak kami menjawab, "Di Pesantren, Pak/Bu!". Tanpa basa-basi kami sudah sok tahu bahwa pesantren adalah rumah selanjutnya yang akan kami singgahi setelah enam tahun menggerogoti ilmu di Madrasah Ibtidaiyah. Padahal faktanya belum pasti. Dulu, kami sering ketakutan. Takut azab ilahi, takut siksa neraka, takut semua hal-hal yang berdampak buruk, hingga terciptalah pemikiran kami bahwa pesantren adalah jalan yang tepat untuk penghidupan yang baik selanjutnya. Bisa diqiyaskan secara ugal-ugalan bahwa menjadi santri seperti halnya manusia tanpa dosa yang memiliki buroq (kendaraan nabi Muhammad selama Isra') untuk melanjutkan kehidupan abadinya di surga Allah setelah mengalami fase kehidupan di dunia fana'.

Yah, seperti itulah kiranya pemikiran kami. Tinggal di pesantren setelah lulus Madrasah Ibtidaiyah adalah dambaan setiap siswa yang pengen masuk surga, katanya. Anggap saja, selama belajar di Taman Kanak-kanak dan Madrasah Ibtidayah, kami hanyalah sebatas manusia yang hidup di alam dunia yang isinya penuh perjuangan (baru lahir, belajar ngaji, belajar agama yang cuma seuprit, belajar ini, belajar itu), jadi butuh kendaraan buroq untuk mencapai surga dengan cepat.

Tibalah saatnya saya mengikuti tes ujian masuk Madrasah lanjutan milik salah satu pesantren tersohor di desa seberang. Sebut saja Pondok Pesantren Qomaruddin. Salah satu pesantren yang terkenal salaf juga modern. Semasa itu, pengasuhnya masih Romo Kiyai Ahmad Muhammad al-Hanmad, putera ketiga dari KH. Moh. Sholeh Tsalis (pemangku pondok pesantren Qomaruddin sebelumnya yang memodernisasi sistem pendidikan dengan menawarkan sispen klasikal atau formal). Saya memilih Madrasah Tsanawiyah, karena selain menjadi sekolah menengah unggulan, ibu saya sangat menginginkan agar anak perempuan satu-satunya bisa studi lanjut ke Madrasah (sebelumnya juga dari Madrasah). Alasannya, biar bisa belajar agama secara mendalam. Secara, ibu dan ayah saya adalah orang yang fanatik banget soal keyakinan dan keimanan.

Dag dig dug, seminggu lamanya saya menunggu pengumuman kelolosan seleksi. Alhamdulillah, membuahkan hasil yang menggembirakan. Ibu semakin giat mencari rejeki halal. Saya pun begitu, sebagai siswi madrasah yang takut akan azab ilahi, saya selalu berharap bisa terus belajar di Madrasah agar puting beliung kehidupan buruk tidak akan terjadi. Masih teringat ketika guru madrasah saya bilang, "Adakalanya orang yang nanti hidup abadinya bahagia (di akhirat), bisa dilihat dari hiruk pikuk kehidupannya selama di dunia. Kalau dia hidup dengan kedamaian dan kebahagiaan, insyaallah di akhirat pun semacam itu." Saya sedikit tidak percaya, tapi bisa saja hal itu terjadi. Mungkin saja karena Allah selalu menyayanginya sampai ke akhirat nanti. Seperti halnya orang tua menyayangi anak-anaknya.

Kehidupan selanjutnya dimulai. Saya harus berperang demi pendidikan yang layak. Sekolah saya sudah cukup modern dan tidak terlalu salafi. Saya yakin pendidikan saya di lingkup pesantren akan balance (agama dan pengetahuan umumnya), juga menjadikan diri saya semakin tidak terkutuk seperti api neraka. Setelah beberapa minggu masuk sekolah, timbul pertanyaan dari salah satu teman, "Cory, kamu nggak jadi masuk pesantren?" Baru teringat, saya pernah berkeinginan untuk masuk pesantren tapi terlupakan. Saya terdiam. Selama ini saya asyik menikmati perjalanan angkutan umum dari satu desa ke desa seberang. Ibu pun sedang semangatnya mencari rejeki untuk anak sulung sekaligus bontotnya ini.

Satu semester terlupakan sampai ramadhan menjemput

Keinginan untuk tinggal di pesantren kandas. Ibu seringkali memendam rindu. Ia terlalu sibuk di pasar dan waktu yang diberikan cuma bisa siang sampai shubuh kembali. Terkadang saya pun memendam rasa iba, ingin rasanya membantu ibu berjualan, tapi apa daya saya harus sekolah. Gimana saya bisa tinggal di pesantren, ibu saja sendirian hanya bertemankan nenek yang acuh. Batin saya teriris, sementara saya juga ingin mendapatkan buroq seperti teman-teman saya yang jauh tinggal di pesantren luar daerah. Ku lupakan pertanyaan teman satu kelas saya, toh sama saja di Madrasah Tsanawiyah saya juga mendapat ilmu agama yang lumayan. Jadi kesempatan saya buat jadi hamba yang baik dan mendapatkan buroq masih ada.

Tak terasa, ramadhan tiba-tiba menjemput. Kami selalu riang mengingat kegiatan di sekolah semasa Madrasah Ibtidaiyah. Pesantren Kilat namanya. Kami diberi jadwal mengkaji ilmu agama dengan syarat menginap selama dua minggu di sekolah. Tapi sewaktu berbuka, kami selalu dikunjungi orang tua kami dengan berbagai buah tangan yang tersebut rantang lengkap dengan kurma, kolak, jajanan, nasi, lauk, dan sayurnya. Duh, sungguh nikmat sangat luar biasa. Berawal dari situ pula kami selalu berkeinginan untuk tinggal di pesantren. Alasannya satu, "Biar tahu bagaimana rasa dan nikmatnya merindu!"

Siang itu ibu tiba-tiba absen dari jualan. Alasanya ramadhan kurang satu hari lagi. Jadi ingin bermanja-manjaan dengan saya keluar desa. Akhirnya kami pergi ke Ramayana, anggap saja Mall di tengah-tengah pedesaan. Entah kenapa ibu membeli banyak barang terutama barang kebutuhan saya. Bukan curiga, tapi aneh. Saya hanya manut, toh yang bayarin juga ibu. Saya pikir buat keperluan ramadhan, tapi ngapain jauh-jauh amat? Beli di pasar kan juga bisa. Yasudah, yang penting saya dibelikan cokelat. Selalu begitu!

Sesampai di rumah ibu mengatakan bahwa saya harus tinggal di pesantren, biar selama bulan ramadhan saya bisa melakukan ibadah lebih. Kalau di pesantren semua kegiatan ada yang memandu. Ada juga kegiatan yang berbeda dari kegiatan selama ramadhan di rumah. Nderes kitab kuning, misalnya. Jadi jangan disia-siakan kesempatan ini. Biar dapat buroq, katanya sembari bercerita meyakinkan bahwa saya pasti jadi hamba kesayangan Allah.

Saya menyetujui keputusan ibu. Saya mengangguk. Siang sebelum ramadhan esok hari, tiba-tiba ada mobil sedan warna hitam yang saya kenal. Tenyata benar. Itu mobil milik ayah temanku, Hurriah. Rumahnya ada di dusun sebelah, ternyata sudah kongkalikong sama ibu. Kami diberangkatkan bareng ke pesantren, yang jauhnya cuma naik angkutan umum sekali selama dua puluh menit karena tidak pernah macet. Desa sebelah yang hanya dibatasi oleh aliran Bengawan Solo dengan panjang jembatan satu kilometer. Kali ini tidak akan ada yang muncul tiba-tiba saat berbuka, ini bukan pesantren kilat. Tapi pesantren beneran. Legal oleh pemerintah. Saya dan Hurriah masih riang gembira, karena ini memang keinginan kami sejak dulu, dan sempat terlupakan setelah lolos seleksi kemarin.

Setengah jam sampai di lokasi. Kami masuk asrama pesantren putri. Semua administrasi sudah dilengkapi. Kami mendapat seperangkat buku (termasuk buku nderes/ kitab kuning), formulir pencetakan id card juga seragam pesantren. Duh, nikmatnya benar-benar terasa. Jadi gini ya rasanya jadi santri, baru masuk saja suasananya sudah berubah. Adem ayem di hati. Air mata ibu seolah mengalir deras. Tapi tak setetes pun keluar dari lubangnya. Saya jadi terharu, bisakah ibu hidup tanpa saya selama ramadhan? Kalau nanti betah bisa diteruskan sampai kelas tiga, katanya. Nanti ibu akan sering kesini, sanak famili juga banyak yang bermukim di sini, lanjutnya. Saya mengangguk.

Kamar Sayyidah Siti Khadijah

Setelah orang tua kami resmi melepas dan pulang ke kampung halaman, kami diantar mencari salah satu dari puluhan barisan ruang kamar bertuliskan serba Arab bercampur Inggris. Welcome to Sayyidah Fatimah's Room. Ahlan wa Sahlan (bil 'arabi) dst., dst.,. Begitulah contohnya. Kami ternganga, masih tidak percaya bahwa kami sudah legal menjadi santri. Sudah masuk dan mendapat atribut pesantren bagi kami dan santri seluruhnya adalah legal. Kami senyum-senyum sendiri, sepertinya kami akan betah sampai kelas tiga.

Ada sekitar delapan belas orang penghuni dalam satu kamar. Lemarinya raksasa, ruangannya lumayan luas. Cukuplah buat tidur berdempetan. Saya membawa boneka dari rumah, juga kasur lipat. Kata ibu biar tidak terlalu rindu dengan rumah, makanya diikutsertakan saya nyantri. Kami bersalaman saling menyebut nama. Semua ramah dan asyik. Kami jadi semakin betah. Diantaranya sudah ada yang SMA, kami jadi penasaran kisah apa yang akan diberikan untuk anak Madrasah Tsanawiyah seperti kami berdua. Dan tahukah, nama kamar kami adalah "Sayyidah Siti Khadijah" diambil dari nama zaujah Rasulullah SAW.

Malam pertama sekaligus terakhir

Malam tiba kami bercengkerama. Mempersiapkan sholat tarawih pertama, saya sangat bahagia layaknya sedang di surga. Beginikah rasanya jadi bidadari? Sungguh menyenangkan, hati semakin berbunga-bunga dengan konsep pemikiran semasa Madrasah Ibtidaiyah. Jadi muslimah yang dijanjikan surga. Menjadi santri ternyata lebih-lebih dari apa yang diperkirakan. Seru, punya teman lebih banyak, beragam suku, beragam daerah, beragam bahasa, beragam pengetahuan. Semua berbaur menjadi satu dengan tujuan yang sama. Menkaji pengetahuan agama Islam lebih dalam sekaligus mendapat kesempatan memiliki buroq kelak di hari hisab menuju akhirat.

Sholat tarawih telah lewat, saya dan Hurriah mulai memejamkan mata. Karena ini adalah malam pertama kami, ingin rasanya menikmati tidur bersama belasan santriwati dengan damai. Baru setengah jam menghirup tidur, terdengar suara tangisan yang menyesakkan. Saya terbangun, melihat kanan kiri hampa. Semua terlelap pada kasur lantainya masing-masing. Baru tersadar, Hurriyah tidak ada di samping saya. Dimana? Ternyata di kamar mandi dengan muka sembab menakutkan. Ia ingin pulang, katanya. Hatinya terasa dibolak-balik sejak tidur tadi. Serasa ada yang menghantui. Suara-suara aneh mulai ricuh di telinganya. Ia tidak betah. "Pondok ini ada hantunya!" ungkapnya. Saya jadi ikutan merinding. "Jangan ngomong gitu ah, kamu salah denger kali." Dia semakin berontak, seolah saya menuduhnya berbohong. Jadi serba salah.

Kabur dari pesantren tetap dinyatakan Santri

Maklum saja, dia memang anak orang kaya. Sudah terbiasa hidup bersama dengan adik dan kedua orang tuanya. Yasudah, saya mengalah. Saya cuma bisa mengangguk. "Pokoknya besok aku mau pulang!" sambil terisak-isak dia berteriak. Anehnya tak satu pun penghuni kamar kami terbangun. Entah memang sudah sangat terlelap ataukah memang ada hal lain. Saya ajak dia masuk kedalam kamar. Hurriah akhirnya manut. Setelah lelah menangis dia terlelap duluan. Entah kenapa jadi saya yang gundah, serasa ada yang berdiri di pojok kamar, serasa ada yang berlalu lalang di luar kamar. Saya jadi merinding. Untuk mencegah ketakutan, akhirnya saya memejamkan mata. Biar lupa apa yang barusan terjadi.

Malah saya yang tidak bisa tidur. Ingin rasanya pulang. Teringat ibu yang sedang di rumah, berjualan, siapa yang bantu-bantu? Biasanya saya stay disampingnya selama ramadhan. Sudah terbiasa, saat ramadhan kami selalu bercengkerama bersama. Nenek meninggalkan sikap acuhnya dan kami mulai berbaur dengan rasa kebersamaan. Saya jadi rindu, air mata mulai mengalir sampai ke pilingan. Terbayang air yang tersimpan di wajah ibu siang tadi. Ingin sekali memeluk punggungnya erat-erat. Sambil merem saya menangis. Ingin saya mengucap, "Tak kan pernah ku tinggalkan engkau, wahai ibu! Meski dekat sekalipun."

Hati sudah sedikit tenang, saya terlelap. Saya tinggalkan semua lamunan. Saya tak ingin bermimpi apapun. Sampai shubuh tiba, saya terbangun. Sahur dan sholat berjama'ah. Setelah nderes kitab kuning, saya dan Hurriah diam-diam menyelinap ke pintu samping pesantren lalu pulang ke rumah naik angkutan umum seperti biasanya.

Setelah sampai rumah, ibu tak nampak. Saya pergi ke pasar ternyata tokonya tutup. Saya tanya ke beberapa temannya, ternyata ia pergi ke pesantren. Baru sehari ternyata ibu sudah merindu, hati saya semakin teriris. Begitu kehilangannya ibu selama saya berpergian. Akankah saya tega melihat ibu sebatang kara? Sejak itu, saya tak pernah meninggalkan ibu dalam waktu yang relatif lama. Karena sayalah satu-satunya orang yang bisa membuatnya tetap semangat dan tersenyum.
 
Meski cuma semalam, saya masih bisa disebut santri toh? Kan nama saya sudah terdaftar di buku santriwati pondok pesantren Qomaruddin sejak pendaftaran siang itu. Yah, semoga saja begitu dan berkah ilmunya. Hehe.

Begitulah kisah dan kenangan saya selama "Satu Malam Jadi Santri Legal."
Bagaimana kisah nyantri kalian?

No comments:

Post a Comment

Hello guys! Thanks for reading this article.
For leaving your comment, please write on the box comment below, then click post/ publish!
Mohon memberikan komentar yang bersifat membangun ya!
Jangan SPAM, karena bakal dihapus secara otomatis. Thank you :)

Instagram

I'm Proud to be a part of :