Sakinah, Masihkah Kau Sanggup?

 

“Bawa ibumu pergi dari rumah itu, sejauh mungkin! Sudah keterlaluan mereka, sungguh biadab, seperti orang tak beragama. Berikan jamu ini pada ibumu, minumkanlah setiap pagi dan sore, oleskanlah setiap malam ke sekujur tubuhnya. Insyaallah, secepatnya membaik. Tak usah kau pikirkan soal biaya, saya ikhlas lillahi ta’ala. Berjuanglah demi masa depan kalian! Ibumu sangat menyayangimu. Ini modal untuk membayar hutang kalian, pergunakanlah sebaik mungkin.” Tungkasnya. 
 
Rumah kecil hasil penjualan keringat sembilan belas tahun yang lalu masih kokoh, tak ada yang berubah. Tak berlapis semen ataupun pasir. Balok-balok ris (batu) putih mengkilat tak bosan dihajar panasnya serngenge. Butir-butir kapurnya semakin rapuh dan rontok. Semua terlihat jelas sejak tak ada lagi rumah berdinding jati ataupun rotan di sekitarnya. Semua serba modern namun rumahnya masih sebegitu rupa. Beralaskan hitam pekatnya tanah ditengah modernisasi kehidupan. Dihuni tiga perempuan yang berupa-rupa watak.

Yang paling tua tak mau kalah membesarkan ego. Perempuan berusia hampir tujuh puluh tahun itu, Emak Rojo namanya. Jikalau angkat bicara semau-maunya, tak berperasaan. Bangga dengan dirinya yang sedari kecil tak berpendidikan. Anaknya begitu cerdas namun ia benci bahkan tak dianggapnya sebagai anak. Dalil yang dimuntahkan selalu sama, hidup perempuan tiada fungsi kecuali sebatas memiliki keturunan. Apalagi kaum miskin sepertinya, tiada guna selain menjadi babu kaum bangsawan. Hidupnya digantungkan pada orang kaya. Tak mau menyibukkan diri dengan usaha sendiri. Kekolotan membuat hidupnya panjang menerima kesengsaraan bahkan menjadi lupa diri.

Anaknya bernama Sakinah, menanggung beban pekerjaan sejak lulus madrasah ibtidaiyah (sekolah dasar). Mengusung padi, upah (hasil) pengerjaan sawah milik tetangga desa. Dipikulnya ngos-ngosan, berjalan mengarungi jarak berkilo-kilo meter. Macam pekerja rodi dari jajahan ibu kandungnya sendiri. Bertahun-tahun hidupnya sebegitu rupa. Trauma, stress, frustasi, dan pada akhirnya membulatkan tekat merantau ke kota dengan bekal otak dan semangat. Lima tahun kemudian ia pulang dengan membawa perubahan nasib. Dibangunnya rumah berdinding balok, putih mengkilat. Semua warga terkagum melihat kegigihan si bunga desa itu.


Yang paling muda, sebutlah Mulyana. Bernasib baik namun tak sebaik sinetron. Ayahnya kawin lagi, serupa dengan kakeknya. Kakeknya merupakan suami Emak, yang tiba-tiba mengaku trauma dengan kekolotan istrinya setelah sembilan tahun menikah. Seisi rumah serasa kena kutukan. Janda, lagi-lagi janda. Neneknya, Emak Rojo janda beranak tunggal, ibunya janda beranak tunggal. tak inginkan dirinya menjadi janda beranak tunggal seperti mereka.

***

Emak Rojo semakin hari semakin menjadi, tak beradab. Muka dan kupingnya setebal panci kuningan. Tak tanggung-tanggung jika ia menjelekkan anak sendiri. Sejak anaknya masih perawan, ia berani mempermalukannya didepan sanak sodara, handa tolan, tetangga kanan kiri hingga ke penjuru desa. Serupa musuh bebuyutan. Ada apa gerangan? Sungguh tak berperasaan. Memang sudah tabiatnya. Sejak kecil ia tak berpendidikan. Belajar agama pun malas. Merendahkan dirinya sendiri, sengaja meminta belas kasihan. Mungkin itulah satu-satunya alasan mengapa kupingnya begitu tebal ketika orang lain melontarkan petuah. Ajal pun tak berani mendekat, meski usianya hampir seabad.

Anaknya semakin membatin, cucunya kecipratan benih sengsara. Emak Rojo tak mau tahu. Tak sedikit pun ia menginginkan sendirinya tersiksa. Bak memakan gaji buta. Anaknya kerja mati-matian, ia hanya lontang-lantung menginginkan ini dan itu, mengobral cerita palsu. “Siapa yang membiayai sekolah anaknya, yang memberikan uang belanja, kalau bukan uang saya hasil pemberian mereka yang mengasihani saya,” umbarnya dari mulut ke mulut. Batin semakin teriris. Kalau bukan ibu kandung sendiri, mungkin Sakinah sudah berteriak, “Itu Fitnah! Selama ini, hanya saya yang bekerja keras demi satu-satunya ibu dan anak, demi dia dan cucunya. Bukan hasil mencuri, menipu, ataupun pekerjaan gelap, apalagi belas kasihan. Selama saya masih punya harga diri, saya menjual tenaga saya sendiri, tak sudi saya menghidupi keluarga juga menyekolahkan anak hasil belas kasihan!”

Sepetak rumah Sakinah tlah menjadi saksi bisu kehidupannya yang penuh drama. Penuh skenario tuhan yang mengejutkan. Eksotis, penuh makna. Baik buruk terangkum jelas. Sakinah masih bersyukur bisa berteduh, meski sesungguhnya ia menginginkan untuk segera pindah. Hijrah dari rumah terkutuk sejauh-jauhnya. Tak inginkan diri dan anaknya sengsara. Namun serba salah. Tetangga mulai ikut-ikutan mencampuri urusan. Sanak keluarga menyumpah serapah. Mereka semakin berani melempar fitnah ke tubuh Sakinah. Menjadikan kambing hitam bahkan menambahkan dirinya ke dalam daftar, musuh bebuyutan. Sakinah masih mengkokohkan diri. Menjual tetesan keringat hingga tubuhnya kurus kering. Ia berusaha membuktikan bahwa dirinya bukan serendah apa yang mereka ucapkan. Namun usahanya sia-sia. Emak Rojo semakin berusaha meyakinkan mereka bahwa dirinya lah yang paling benar. Anaknya, bukan anaknya.

“Duh gusti, apa salah hambamu ini? Haruskah hamba menghentikan nafas biar Emak membuka hati, betapa sayangnya hamba pada Emak. Hamba tak pernah dendam atas kegagalan hamba bisa berpendidikan tinggi. Hamba sangat bersyukur atas ilmu agama yang telah hamba peroleh selama ini. Duh gusti, bukakan pintu hati Emak hamba, jadikanlah anak hamba menjadi anak yang sholihah, berbakti pada engkau dan hamba, berbakti untuk agama dan negara. Bermanfaat untuk orang-orang yang ada disekitarnya. Sesuai namanya, semoga menjadi anak yang engkau muliakan. Hamba mohon jagalah dia duh gusti. Jangan biarkan dia merasakan pahitnya apa yang sedang aku rasakan saat ini. Amin,” do’a Sakinah terdengar lirih. Malam yang sunyi, membuatnya larut ke dalam diri sang pencipta. Menyatukan dirinya untuk kesempurnaan. Ia tak pernah takut dibenci orang, selagi dirinya memang berlaku benar. Ia hidup untuk tuhan. Segalanya sudah diatur dalam skenario tuhan. Itu yang menjadi prinsip, mengapa ia masih terus bertahan.

Enam belas tahun ia menjanda, hatinya sudah tak bernafsu. Tak inginkan dirinya menikah lagi. Yang penting, anaknya bisa sekolah. Tak sebodoh dirinya, tak serendah dirinya. Tak inginkan Mulyana tuk menjadi janda sepertinya. Lelaki duda yang telah menikahinya tujuh belas tahun silam diceraikannya setelah dua bulan menikah. Itulah bapak kandung Mulyana. Ia tak pernah menyesali perceraiannya meski dirinya merasa ditipu. Lelaki yang katanya bujang, berperawakan tinggi, berpenghasilan tetap ternyata seorang duda yang ditinggal mati istrinya, berperawakan lebih pendek dari perawakannya, berpenghasilan tidak menentu dengan mengkambing hitamkan urusan agama. Tersebutlah nama lelaki itu dengan sebutan “kiyai” oleh warga sekitar.

Sebetulnya, tak pernah ia permasalahkan siapa suaminya. Lagi-lagi sebab perempuan tua itu. Mencibir, mengolok, mengadu domba. Hingga suaminya sakit hati, “Tak sudi saya punya orang tua sepertimu. Lebih baik saya pulang ke rumah daripada diremehkan seperti ini, saya masih punya harga diri,” teriaknya menuding-nuding. Terkejutlah Sakinah hingga merobohkan tubuhnya di atas tanah. “Beginikah tabiat seorang kiyai? Bukankah ia panutan warga? Betapa malunya jika orang lain menyaksikannya sendiri,” hatinya membolak-balikkan pernyataan. Sejak itu, ia pun semakin yakin untuk menceraikan. Tak perlu lagi menambahkan satu orang bertabiat kotor dirumahnya. Ia trauma, tak inginkan hidup diri dan anaknya semakin sengsara jika keburukan masih dibiarkan terpelihara. Ia pun bersumpah, tak pernah kahwin lagi untuk yang kedua kali. Cukup sekali saja ia bersuami.

Sejak ia mengandung, kehidupannya semakin rumit, namun semakin unik. Setiap masalah yang datang berkelanjutan pasti dikejutkan dengan penyelesaian yang tak terlalu lama menunggu. Ia semakin semangat menjalani hidup. Tak inginkan dirinya pergi dari rumah yang katanya terkutuk itu. Diubahnya pola pekerjaan yang selama ini menggerus otak―dari seorang sekretaris kantor proyek―menjadi pengusaha bubur dan lontong di pelataran rumah. Warga mulai merangkul dan menyadarkan diri. Rumah kecil itu telah berubah menjadi surga. Kutukan seolah hilang dengan sendirinya. Emak Rojo merasa terusik. “Gara-gara kamu jualan bubur, rejeki Emak jadi mampet. Orang-orang sudah tak mau lagi membagikan uangnya, makanannya. Sudah puas kamu merusak hidup Emak, hah? Kualat kamu, durhaka kamu, Sakinah!” teriaknya mencabik-cabik lontong yang baru saja ditiriskan diatas pelanggrangan (simpulan kayu yang telah dibentangkan untuk mengentas lontong yang baru matang).

Sakinah mengucurkan air mata, mengelus-elus perutnya yang mulai membuncit. Berharap buah hati yang masih beberapa bulan di dalam rahim itu tidak mendengar sepatah kata pun dari ocehan buruk neneknya. Suasana cerah tiba-tiba sedikit mendung. Tak henti-hentinya perempuan tua itu mengolok. Tidak sadarkah bahwa orang yang selama ini ia jelek-jelekkan didepan semua orang hingga dibenci adalah darah dagingnya sendiri? Sungguh tak berperasaan.

Beberapa bulan berlalu, Sakinah melahirkan anak perempuan, begitu sempurnanya ia hidup. Betapa bersyukurnya meski hati perempuan tua (Emak Rojo) itu masih membeku. Ia pun tak lagi berjualan karena sudah cukup memiliki tabungan. Hasil penjualan yang selama ini mengalami fluktuasi pembeli, ia simpan baik-baik di kantong. Warga mulai terserang virus. Mempersatukan barisan, mengolok, mencaci, bahkan meluapkan kata-kata yang tak seharusnya diluapkan. Tiada faktor lain kecuali ulah ibunya sendiri. Sengaja berkomplotan dengan keponakan yang ternyata sedari dulu menginginkan Sakinah untuk mati. Anak bak tetangga, bak lawan yang harus ditumbangkan. Disebutkanlah anak durhaka, melawan orang tua, tak tahu diri, tak tahu terima kasih, memeras harta warisan orang tua, dan macam-macam lainnya.

***

Enam belas tahun lamanya sejak anak semata wayangnya dilahirkan, ia menghidupi keluarga dengan berjualan di pasar. Ia sangat bersyukur bisa menyekolahkan anaknya hingga SMA. Berjuang seorang diri melawan virus mematikan yang ternyata ibu kandung dan kemenakannya sendiri menjadi hal yang biasa. Ia tetap kokoh mempertahankan keluarga, hingga dipendamnya rasa sakit yang menyayat. “Sabar, sabar dan sabar!” katanya. Begitu kuat ibu dan kemenakannya itu berkoalisi, saling menjatuhkan Sakinah. Kemenakannya, sebutlah Markati, bersorak-sorai memamerkan hasil konsolidasi bersama Emak Sakinah.

Sedari dulu, Markati menginginkan dirinya untuk bisa berkoalisi dengan Emak Sakinah, menumbangkan si bunga desa. Namun tak kunjung hasil karena dirinya tak punyai apapun untuk menyuap si perempuan tua itu. Sebelum Sakinah mengkokohkan balok putih yang menjadikannya tempat berteduh, ternyata Markati sudah mati-matian membenci bahkan menfitnah Sakinah lebih dulu. Alhasil, usahanya sia-sia sebelum Emak Rojo berani berkoalisi. Setelah keinginan terpenuhi, ia semakin berani meludahi anak bibinya sendiri, “Gak punya malu kamu, masih berani tinggal disini? Mau merampas harta orang tua? Punya orang tua satu saja kamu terlantarkan, berani sekali kau injakkan kakimu di tanah kami. Pergi sana! Minggat yang jauh! Persetan kau bangkai, bawa anak harammu pergi! Susul bapakmu yang sudah membangkai di kuburan!”

Markati, orang paling terkenal di desa Tumbuh Ringin. Tiga dusun menyebutnya “si mulut buaya”. Kalimatnya lebih tajam dari terkaman binatang buas, si buaya itu. Dia adalah satu-satunya perempuan yang paling disebut-sebut ganas dan mematikan. Keenam anaknya dehidrasi makanan, kelaparan, meronta-ronta. Mereka hanya bisa makan jikalau suaminya mendapati proyek pekerjaan yang tak berstempel “halal”. Tak cukupkan uang selembar untuk diri dan anak-anaknya. Suami Markati tak pernah mendapati pekerjaan yang cocok, kadang menipu, menggelapkan uang, dan yang paling parah, membantu para dedengkot atau penguasa mengakhiri hidup paksa seseorang yang dianggapnya merusak atau musuh. Mereka sama-sama pemberani, dalam memburukkan tabiat.

Hingga suatu hari, terseranglah penyakit aneh dalam diri Sakinah hingga ia tak sanggup lagi berjualan. Markati tiba-tiba menjadi jutawan, sok dermawan, dan mengambil alih posisi orang-orang kaya di desanya. Rumah dibangunnya megah-megah, mobil di belinya serentak, tak tanggung-tanggung semua perabotan juga perhiasan emas berkilo-kilo gram dipamerkannya jelas-jelas. Pergilah dia dan suaminya mengunjungi ka’bah, katanya mensucikan diri dihadapan tuhan yang dipercayainya. Konon, satu kampung terkejutnya setengah pingsan. Satu per satu menjadi hormat dan tunduk, kemudian menyebutnya “Kaji Loman”. Hanya beberapa warga yang tak menggubris kekayaan yang dianggapnya mencurigakan itu.

Sakinah sakitnya semakin menjadi-jadi. Tubuhnya mengering. Beberapa anggota tubuhnya tak berfungsi. Emak Rojo semakin tak peduli. Ia lebih sering pulang ke rumah keponakannya itu. Fitnah yang diumbarkan semakin merajalela. Kini si Yana, anak Sakinah tumbuh remaja. Cantik seperti ibunya. Markati sakit hati karena anaknya sering dibilang “kemproh” (jorok) oleh teman lelakinya. Sedang Yana seringkali diantar pulang oleh teman lelaki yang prihatin dengan keadaan perempuan yang hanya bisa meneteskan air mata diatas empuknya amben (tempat tidur yang terbuat dari bambu) tua itu.

“Dulu memang bunga desa, sekarang cuma bunga amben. Membangkailah dia! Kualat sama orang tua yang melahirkannya dengan susah payah,” hasut Markati pada orang-orang kampung. Siapa yang tak percaya dengan isu anak durhaka. Emak Rojo memang sudah tua, giginya raib tak membekas, nada bicaranya melas seolah meyakinkan bahwa dirinya memang diterlantarkan anak kandungnya sendiri. “Lebih baik saya hidup sendiri,” lirihnya. Orang kampung menyumpah serapah, “Oh, pantas saja dia penyakitan. Kualat sama orang tua. Semoga saja hidupnya segera berakhir!” Sakinah hanya bisa berharap, Yana mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Berbulan-bulan lamanya Sakinah membusukkan diri diatas amben tua. Segala aktifitas hanya bisa dilakukan ketika anaknya pulang sekolah atau sedang di rumah. Tabungannya habis lantaran proses penyembuhan. Berkali-kali diusungnya ke rumah sakit bahkan berpindah tempat, semua dokter menjawab dengan kalimat yang sama, “Ibu hanya lelah, terlalu banyak pikiran, kurang berolah raga. Semua anggota tubuh berfungsi normal. Tak ada yang perlu dikeluhkan. Silahkan tebus obatnya di kasir!” singkatnya.

***

Sepanjang tahun, penyakit tanpa nama itu diajaknya berteman. Hingga suatu ketika anaknya keluyuran, pergi buta pulang buta. Sesekali menengok ibunya hanya untuk menyuapkan nasi, meminumkan obat. Suara Sakinah yang sudah lama tenggelam kini sedikit bermunculan, “Yana kemana sa.. sa.. ja.. ka.. mu, Nak? Ibu sen.. di.. ri.. an..” kucuran air mata mulai membanjir. Semakin hari semenjak Yana meninggalkan rumah, ia semakin berusaha menggerakkan tubuhnya. Walhasil, tangannya bisa digerakkan, begitu pula kaki dan kepalanya. Betapa terkejutnya, Yana pulang dalam keadaan lusuh melihat ibunya duduk melakukan sembahyang. “Mukjizat Allah, luar biasa!” katanya.

“Ibu, SPP sekolah Yana sudah nunggak selama enam bulan. Besok, sebelum ujian akhir sekolah, ujian akhir nasional, juga kelulusan sekolah semua tunggakan harus dilunasi. Kira-kira ibu masih ada uang untuk itu? untuk membeli obat ibu juga.”

Sakinah terdiam.

“Antar ibu ke rumah umik sekarang, nak.”

Sejak itu, hutang Sakinah semakin membabi buta lantaran penyembuhan diri sekaligus membiayai anaknya hingga lulus sekolah. Mendengar keprihatinan itu, Emak Rojo melolong-lolong, mencari kesempatan mengumbar fitnah bahwa Sakinah telah memeras harta gono-gini bahkan mencuri uang simpanannya. “Sungguh biadab anak itu, kualat dia! Bertahun-tahun menyengsarakan hidup orang tua,” umbarnya.

Semua warga terhasut hingga tak seorang pun mau peduli. “Hutangmu dimana-mana, tak punya malu kau masih meminta pertolongan kesini? Kalau aku pinjamkan, kapan kamu mau bayar? anakmu saja kahwinkan dengan orang kaya, biar hidupmu tidak terlunta seperti ini,” kata seorang warga yang dulunya pernah menjadi sahabat karib saat berjualan di pasar.

Ingin rasanya ia mengakhiri hidup. Sejak kecil nasibnya sebegitu buruk. Selalu ditimpa kegelisahan yang menguras hebat sumber air mata. Ia masih berusaha memulihkan tubuh agar anaknya tak terlunta.

Suatu malam, ia dan anaknya tidur di kamar, tiba-tiba ada yang menggedor pintu keras sekali. Yana berlarian, dilihatnya tak nampak seorang pun di luar sana. “Siapa?” tak seorang pun menjawab. Hening, merinding. Yana kembali ke kamar. Dilihatnya, Sakinah membujur kaku, diam, dan tak bersuara. Betapa paniknya gadis itu. Ia menangis sekeras-kerasnya. Nafas ibunya sekilas menghilang, sekilas nampak. Malam tidak memberikan solusi apapun. Ia menunggu pagi, siapa tahu ada keajaiban.

Berumunan orang mengelilingi tempat tidur Sakinah. Tak lain adalah teman sekolah anaknya. Mereka prihatin kala Yana meliburkan diri dari sekolah.

“Penyakit ibumu sangat aneh. Bagaimana jika kita bawa saja ke desa seberang, rumah Ki ageng Sapto. Mudah-mudahan ada kesembuhan setelahnya.”

Konon, Ki Ageng Sapto adalah sosok terpandang di seluruh penjuru baik desa maupun kota. Kesaktiannya tak tertandingi. Bukan ilmu hitam, bukan ilmu santet. Semua hasil dari usaha, tarekat, wirid, dan mengamalkan ajaran agama yang dipercayainya. Ia membuka rumah pengobatan. Namun hanya orang-orang tertentu saja yang bisa ia layani. Orang yang benar-benar berhati mulia. Jikalau ada tamu yang berpura-pura merendahkan diri, memuliakan hatinya, tak segan-segan ia menolak sebab ilmunya bisa mengungkap apa yang sedang dipikirkan seseorang.
“Bagaimana bisa, saya tak memiliki sepeser pun uang di kantong. Semua raib karena biaya sekolah. Itu pun hasil dari meminjam, hutang yang sampai sekarang belum terbayarkan. Sebagian lagi saya tukarkan dengan obat jalan.”
“Percayalah, tuhan pasti membantu.”

Berangkatlah mereka pada suatu desa yang sangat jarang sekali penghuni. Jarak dari satu rumah ke rumah lain sangatlah jauh, hingga sampailah pada satu rumah yang bentuknya sangat kuno, masih berbahan dasar rotan di lilit-lilit rumput jepang. Di depan pintu tertulis huruf bergandengan tangan, bertuliskan “Ayatul Kursi”. Jauh sebelum kedatangan mereka, Ki Ageng Sapto sudah tahu bahwa tamu kali ini benar-benar membutuhkan pertolongan.

Saat pintu berdinding bambu itu diketuk, keluarlah sosok laki-laki berjenggot rapi, berperawakan tinggi, bersih, tersenyum ramah, memakai pakaian serba putih dan bersorban.

“Bawa ibumu masuk, ceritakan semuanya di dalam.”

Diceritakanlah panjang lebar apa maksud dan tujuan mereka datang kesitu. Bagaimana penyakit ibunya bermula dan menjamur ditubuhnya. Lelaki itu manggut-manggut. Seolah paham secara runtut apa yang telah terjadi.

“Astaghfirullah, sungguh kejam sekali,” ucapnya sambil menggelengkan kepala. Tangannya bertindak seperti orang yang hendak berkelahi. ‘Wussssshhh...’ Angin berhembus kecil, suasana menjadi mistis. Ibunya masih membeku tak berdaya.

“Bawa ibumu pergi dari rumah itu, sejauh mungkin! Sudah keterlaluan mereka, sungguh biadab, seperti orang tak beragama. Berikan jamu ini pada ibumu, minumkanlah setiap pagi dan sore, oleskanlah setiap malam ke sekujur tubuhnya. Insyaallah, secepatnya membaik. Tak usah kau pikirkan soal biaya, saya ikhlas lillahi ta’ala. Berjuanglah demi masa depan kalian! Ibumu sangat menyayangimu. Ini modal untuk membayar hutang kalian, pergunakanlah sebaik mungkin.” Tungkasnya.

“Kira-kira, apa penyakit yang mengendap di ibu saya Ki?”
“Tumbal, santet. Terkutuk!”
“Astaghfirullah, kira-kira siapa yang tega melakukan semua ini Ki?”
“Kamu sudah tahu jawabannya.”
Yana menangis haru, kemudian kembalilah mereka ke rumah.

***
Sebulan berlalu, keadaan Sakinah benar-benar pulih kembali. Markati dikabarkan sekarat di rumah sakit. Matanya lekas keluar. Tubuhnya kejang-kejang. Hartanya terkuras namun tiada habis. Rumor ‘pesugihan’ tiba-tiba marak. Emak Rojo mendadak lemas, energinya berkurang. Berhari-hari tak keluar kamar.Yana menemuinya sekedar memberikan makanan. Seperti karma, datang tak diundang. Susana berubah total.

Warga terheran-heran, tersadar dari asap penghasutan. Ternyata masih ada dan tega, keluarga yang telah mempermalukan darahnya sendiri, membuang aliran darah yang telah membuatnya hidup. Emak Rojo, sedikit demi sedikit mulai tersadar. Bulan berganti bulan, ia mulai merangkul kembali keluarga kecilnya. Sakinah mulai berjualan sejak tubuhnya mulai membaik. Tak di sangka dendam Markati masih dipegang anaknya, siap di lemparin ke muka Sakinah, tak henti-hentinya mereka berusaha merobohkan keluarga yang sedang berjuang demi penghidupan yang lebih baik itu.

No comments:

Post a Comment

Hello guys! Thanks for reading this article.
For leaving your comment, please write on the box comment below, then click post/ publish!
Mohon memberikan komentar yang bersifat membangun ya!
Jangan SPAM, karena bakal dihapus secara otomatis. Thank you :)

Instagram