Ketika Muak Untuk Mengungkapkan


"Bila saja tuhan masih memberinya kesempatan. Ia rela menggauli pendidikan walau dunia tlah berguncang. Ia rela memperjuangkan asa yang kini hampir terbuang, dengan setetes harapan. Ia rela menunggu jodoh yang tlah lama dinantikan, demi menebus harga diri, kualitas diri, penghidupan berarti, untuk anak cucunya nanti."
-Secuil kalimat darinya. Gadis terbuang di tengah sejuknya harapan

Ini kisah. Yah, hanya sebuah kisah.
Tentang seorang gadis yang sedang bertarung dengan keputus asaan. Entah pada akhirnya ia akan mengalah, atau justru akan mengalahkan. Seluruh tenaga, pikiran, dan waktu sudah dikerahkan semua demi mendapatkan sebuah harapan. Tapi harapan itu, terlihat semakin memudar dan mungkin sebentar lagi akan menghilang.

Saya pun merasa sedih, kenapa tuhan terlihat tak begitu andil dalam penyelesaian masalah ini. Saya pun bertanya-tanya, apakah tuhan telah menyiapkan sebuah rahasia? Yang mungkin menghabiskan jatah gagalnya sebelum ia menikah dan menua. Sungguh saya sangat bahagia bila itu benar yang menjadi alasan dibalik ketidakpedulian tuhan saat ini. Atau justru, memang tuhan benar-benar tak mau peduli dengannya. Lalu apa yang harus dilakukan? Menghentikan nafas ataukah lanjut dengan kesengsaraan?

Sungguh berat bila hidup tiada keridloaan di setiap gerak-geriknya. Sungguh sangat menderita, kawan! Yakinlah! Hidup semacam itu sungguh sangat menderita.

Dan tahukah kawan, kini gadis itu telah sedikit gila akibat stress yang berlebihan. Ia hanya merenung, menangisi, menuliskan seluruh kepahitan hidup ke dalam blog munafiknya. Iya, sungguh sangat munafik. Ia tak pernah jujur atas kisahnya. Ia hanya bahagia. Ia hanya terlihat baik-baik saja. Namun sejujurnya, ia ingin meninggalkan harapannya, karena ia merasa bahwa harapan itu telah lenyap oleh tuhannya.

Kisah ini sungguh lebay, bukan?
Sungguh sangat dramatis, kawan! Sunggah sangat menjengkelkan!
Saya pun merasa jenuh membaca sekawanan kisah yang begini mengerikan. Tapi apalah daya kawan, gadis itu benar, sungguh teramat malang. Seperti anak kucing yang terbuang.

Saya hanya berharap, ia tak lagi membicarakan keputus asaan. Saya hanya berharap, tuhan segera andil dalam penyelesaian. Hatiku sungguh perih dan sakit melihat gadis itu tak berdaya. Menanggung beban sendirian, menggadaikan harga diri yang selama ini ia banggakan. Sungguh mengerikan, kawan! Sangat memalukan. Ia sudah terlalu malu untuk dibicarakan.

Saya bosan!

Tapi dengarkanlah satu kali lagi, kawan. Saya hanya ingin memberi tahumu. Kenapa gadis itu sungguh teramat malang? Kenapa gadis itu sungguh menggenggam keputus asaan? Kenapa tak dibiarkan saja dirinya tinggal nama dan kenangan? Agar semua tahu, betapa besar ia berjuang untuk meraih secuil harapan. Agar semua sadar, betapa berharganya hidup mereka yang tak pernah sakit akan kemiskinan. Kenapa?

Itu karena, ia sudah kehilangan gelar sarjana. Ia telah kehilangan masa semangatnya menjadi mahasiswa. Ia tak lagi sekolah karena terbatas biaya. Untuk makan sehari saja, ia rela menggadaikan harga dirinya. Rela dibuli, dicaci, dihindari dan dipandang sebelah mata karena ia berani mempertahankan nafasnya dengan meminjam kemudian menggantinya secara pasti di kemudian hari.

Berbulan-bulan ia menunggu balasan dari puluhan lembaran yang ia sodorkan, dari puluhan file yang ia kirimkan. Tak satu pun yang memberi kabar bahwa ia telah diterima menjadi babu, menjadi bagian dari mereka.

Muak rasanya mendengarkan kisah gadis konyol seperti ini. Muak!

Beasiswa yang didapatkan lima tahun lalu hanya membuatnya gila. Program studi yang ia terima bukan sebuah impian, melainkan bius yang membuatnya semakin gila menjadi-jadi. Sungguh ia tak inginkan kuliah yang hanya berslogan "Yang penting sarjana!" Ia sungguh tak terima. Ia menginginkan pendidikan yang sesuai dengan passion-nya. Yang sesuai dengan cintanya, yang akan membuatnya bahagia bisa mengamalkan ilmunya. Tapi mungkin, inilah sebabnya tuhan sudah tak mau andil dalam menyelesaikan masalahnya. Ia tak pernah bersyukur atas skenario hidup yang tuhan tuliskan untuknya. Mungkin seperti itu. Iya, mungkin seperti itu alasan tuhan.

Bersyukurlah kawan, kalian bisa sekolah sampai ke tingkat sarjana. Bisa memilih sesuai program studimu. Bisa menikmati sesuai cintamu. Pergunakan keahlianmu untuk membantu mereka yang membutuhkan. Perbaiki kekuranganmu dengan melanjutkan apa yang sudah kau tentukan. Jangan salah pilih, dan jangan biarkan otakmu melemah karena tak sejalan. Perjuangkan skill mu, kawan! Perjuangkan! Tolong, jangan sia-siakan!

Saya tak pernah tahu kapan gadis itu akan pergi. Saya pun tak tahu, seberapa kuat ia menahan beban yang begitu berat. Saya hanya bisa menunggu waktu, menunggu apa yang sudah menjadi ketentuan. Setelah bertahun-tahun gadis itu memperjuangkan.

Mungkin saya akan bahagia, bila memang keputusan itu telah memberikan jawaban bahwa kesengsaraan telah tuhan ganti untuknya, menjadi sebuah pengharapan. Harapan yang diinginkannya sampai saat ini dan selama ini. Menjadi seorang sarjana yang dengan tulus cintanya ia bisa mengamalkan ilmu untuk mereka yang membutuhkannya. Hingga tiada lagi nama sebatang kara di punggung ibunya. Hingga tiada lagi orang yang merendahkan harga dirinya. Hingga tiada lagi anak cucu yang mewarisi kesengsaraannya. Dan hingga akhir hayat ia hidup bersama jodoh yang dicintainya. Itu yang akan membuat saya ikut bahagia. Semoga tuhan tidak menyesali perbuatannya, membiarkan gadis dan ibunya sama-sama sebatang kara hidup di belahan dunia yang berbeda. Dengan kondisi perih, pedih, dan kehilangan harga diri yang sama.

No comments:

Post a Comment

Hello guys! Thanks for reading this article.
For leaving your comment, please write on the box comment below, then click post/ publish!
Mohon memberikan komentar yang bersifat membangun ya!
Jangan SPAM, karena bakal dihapus secara otomatis. Thank you :)

Instagram