Ketika Diri Mulai Men-Tuhankan Uang!

Kesedihan tak bisa diperkirakan, kapan ia datang dengan senonoh. Ketika hidup diperjuangkan, electron rasa mulai menerkam, mengaduk kegagalan yang sudah terbuang jauh..

Sore menggerus-nggerus pikiran, saat uang mulai menipis. Kadang perlu dipertanyakan "Heellaaau, ini tanggal berapa yah? Sudah sepuh kah ini tanggal? Kasihan banget ini, recehan gopek sama seribu koin ditinggal induknya". Saya meyakini hal konyol yang sering diucapkan orang Indonesia. Seringkali membuat definisi sendiri soal 'tanggal tua' yang katanya Miris melihat isi dompet.

Oke, sore ini aku benar-benar menerapkan definisi itu. Tapi? Sepertinya saya salah dalam penerapan. Ini belum tanggal tua, ini masih tanggal muda yang baru menginjakkan kaki di batas kesepuhan. Sejujurnya, sedaridulu saya tidak pernah menggubris definisi tanggal muda dan tanggal tua, bagiku sama saja. Melangkahkan kaki satu jengkal dari pintu gerbang asrama sama halnya menyantet diri sendiri biar buru-buru sakit, mengaduk-aduk perut yang semalaman sunyi dari kerakusan.

Tiada alasan untuk keluar asrama tanpa membawa selembar pun uang kertas paling tidak senilai lima ribu rupiah. Mata sudah berkunang-kunang, saya mulai modar-mandir didepan pintu kamar. Alhasil, teman sekamarku mulai curiga, mungkin dia su'udzon jangan-jangan saya terserang penyakit mendadak Schizophrenia, penyakit mental yang mengganggu kemampuan seseorang untuk memahami realitas. Gara-gara uang tak kunjung datang, saya menderita delusi pemikiran yang sudah merusak perilaku normal saya selama ini.

Begitulah definisi yang kemungkinan sudah diterjemahkan oleh pikiran teman sekamarku, Yani. Si penggila sampel gratis dari internet. Perempuan paling cantik seasrama. Bisa dikatakan dia adalah bule aspi. Whalah? Baiklah tak usah dipikirkan. Saya juga bule kok. Buletan benang wol. Juga keseringan tertular penyakit 'pencari sampel gratis' dari website-website resmi produk kecantikan. Tapi tetap saja muka saya ya begini-begini saja. Muka jowo semanis gulo. Hehe.

Oke, saya mulai terfikirkan untuk memakai pakaian lengkap. Seperti biasa, kaos pendek tanpa lengan, dibalut varsity jacket warna coklat tua, celana blue jeans sedikit gombreng, dan terakhir penutup kepala sekaligus pelengkap kecantikan saya. Wuih, jangan pada muntah ya. Oke, saya memakai kerudung warna purple segiempat paris.

Sempoyongan melawan bosan, tangan mulai gentayangan. Mengorek-orek tas levi's warna hitam yang sedang menggantung di paku kecil depan lemari. 'kresek kresek' dalam hati bertanya-tanya "apakah ini rupiah? ataukah selembar kertas kecil sumbangan dari mesin atm? ataukah?" Saya banyak menerka-nerka. Ku cabut keras-keras jari jemari yang sudah mencatut sesuatu yang telah ditemukannya didalam goa kecil itu.

Mata membeku dalam pandangan. Hati mulai mengucap, bisa jadi ia berteriak sekeras-kerasnya "Alhamdulillah duh gusti, inyong (saya) masih bisa makan hari ini". Gemetar hilang dalam sekejap. Selembar rupiah berwarna hijau kadang membuat orang terserang sakit jiwa. Seperti apa yang saya alami sore ini.

Kaki melangkah dengan cepatnya, mengalahkan superhero yang sedang berlari kencang menyelamatkan nyawa kekasihnya. Ku belikan sebungkus nasi di warteg depan, sekaligus es teh manis penetralisir dehidrasi di tenggorokan setelah beratus-ratus menit kering kerontang. Di genggaman tangan, lembaran rupiah sedang meringis. Sepertinya mereka bahagia sudah mendonasikan sebagian temannya sebagai barter pengisi perut. Seolah mereka sangat berjasa sudah menyelamatkan nyawaku hari ini. Mata mulai melirik-lirik sesuatu. Sudah seminggu saya kembali ke peraduan kota Ciputat, belum pernah sambang ke warung internet sekalipun.

Hati merayu-rayu "Coray, mampir yuk! dengerin musik lewat youtube. Cari info yuk! Kali aja ada beasiswa buat ngelanjutin kuliah" Sambil menyodorkan uang sepuluh ribu rupiah "Bang, paket tiga jam yak!" Dengan senyuman kangen, mungkin itu akibat sudah lama kami tak jumpa "Oke neng, di biling tujuh yak!" sambil menerima uang kembalian, empat ribu rupiah "Okei bang! Thank you."

Sambil duduk posisi kaki menyilang, jemariku menekan-nekan keyboard yang ada didepan komputer.
http://www.twitter.com - http://www.blogger.com - http://www.facebook.com - http://www.gmail.com

Saya bukan penggila media sosial, namun saya hanya sering menikmati betapa nikmat senikmat-nikmatnya menggunakan media sosial, dari mulai nulis status, upload foto, berimajinasi tentang penciptaan teknologi, dan yang paling penting adalah mencurahkan segala bualan-bualan sakit jiwa kedalam sebuah cerita yang mengalir hingga terciptanya mimpi untuk bisa menjadi seorang penulis yang bisa memotifasi para pejuang cinta secara universal. Apalah itu cinta? Tunggu coretan-coretan bersampul saya. Hehehe.

Back to the topic! Begitu bahagianya saat hati menerima kenyataan bahwa suatu hal bernama kejutan masih ada dan selalu menyejukkan. Saat uang menjadi penyelamat hidup yang amat jua mengejutkan, seakan tanpa sengaja bahwa diri ini tengah men-Tuhankan uang.

Uang menjadi dewa, menjadi segalanya, menjadi juru selamat penebus kebosanan, kesakitan, kekeringan, dan mulai dipuja-puja.Ah, sudahlah! Jangan terlalu dipikirkan. Saya hanya ingin berkisah sedikit pengalaman bahwa sebuah kejutan kadangkala sering membuat kita lupa diri.

No comments:

Post a Comment

Hello guys! Thanks for reading this article.
For leaving your comment, please write on the box comment below, then click post/ publish!
Mohon memberikan komentar yang bersifat membangun ya!
Jangan SPAM, karena bakal dihapus secara otomatis. Thank you :)

Instagram