Ikutan Mudik Gratis, Kece Nggak Sih?

Lebaraaaan. . . Horeee. . . Lebaraaan. . .!!
Pulang woy, pulaang!

Kisah "Saya" di Pertengahan Bulan Ramadhan, Menjelang Lebaran...

Sudah lama rasanya saya membaur dengan kota yang sering disumpah-sumpah dengan kemacetan, banjir, metropolitan, gaul, sumpek, sesak napas, ibukota kejam dan lain tetek mbengeknya yang masih muntah-muntah kalo kita ngedengerin (asli, parah jeleknya). Tiada lain kecuali menuntut ilmu disini. Ciputat, kota yang masih berbau dan bernuansa islam ini menjadi saksi bisu dimana saya dan teman-teman sering menjadi pasukan yang hobi kocak bareng, belanja ke pasar bareng, hang out bareng, gila bareng, belajar bareng, cari pacar bareng, dan semua-muanya serba bareng. Tak luput, cari barang gratisan pun bareng. Haha. .

Selama bulan ramadhan ini, kami selalu membiasakan sholat berjama'ah bareng, tadarus bareng (meski banyak yang ngantuk), buka bersama bareng, dan sahur bareng di asrama tercinta kami yang amat sangat eksklusif (hanya dihuni sebelas orang kurang satu) dan not expensive (hanya dua ratus ribu per bulan dengan include yang sangat luar biasa. Read: Fasilitasnya). Dan yang menjadikan saya amat sangat terkesan dengan kebersamaan kami di bulan ramadhan ini adalah mereka sangat mempercayakan saya sebagai 'chef' di setiap menjelang buka puasa ataupun menjelang sahur. (beileh, bangga amat :p) Lho ya? Saya ini pinter masak opo? Akhirnya, tuntutan untuk membuat menu ala kadarnya alias coba-coba, alhamdulillah hasilnya lumayan memuaskan (ada yang mendelik entah kekurangan garam atau sedang ketelan apa tau, ada juga yang senyum-senyum entah beneran enak atau cuma nyindir, ada juga yang manggut-manggut entah pasrah atau memang doyan), aku selalu percaya diri. Pokok'e makan! Hahaha. . Mereka pun tak pernah berkomentar. Katanya, "alhamdulillah kita masih bisa makan, di syukuri aja. ." Nah lo?

Oke, hari-hari berlalu dengan tawa yang sumringah, mereka saling memamerkan baju baru.

"Eh bro, gue abis beli baju di ITC Cempaka Mas loh. Ajib maaan. Muahal banget. Sumpah, gue nyeseeel." sambil nelen keringet.

Kalo ada yang bilang begitu, kami semua tergelak sampai perut mules. Kenapa? Tiada lain yang berduka (karena menyesal) semacam itu, selain Mpok Ujoh semata. Hahaha *Peace ya, Mpok :D*
Kami berbeda-beda tetapi tetap satu keluarga kok.
Habis ngetawain, kami minta ma'af dong! Hehe.

"Cor, lu jadinya pulang kampung tanggal berapa?" salah satu anggota 'aspibellek' sedang mengintrogasi saya.
"Emm, belum tau sih. Masih betah disini. He-he. ."
"Gila lu, kasian lah emak lu di rumah sendirian. Masa lebaran lu kagak mau pulang berooo?"

"Mau sih mau brooo, tapi gue belum pegang tiket buat pulkam ini. . Mau naik kereta, semua-muanya udah ludes, mau naik bus mahalnya gak sesuai budget, mau naik pesawat innalillah kebangetan mahalnya. Ah, belum tau lah. . nunggu takdir saja lah. ."
Sekali-kalinya, saya dialog pake bahasa "Lu-Gua, Lu-Gue"
"A-e-laah Coor! lu mah gitu orangnya. . ."
"Iya, emang begini adanya. Kenapa? Nggak suka?"
Mulai ribut. Adu bacot. Lebih bijak yang mana? Saya atau dia?

Oke, ribut dibatalkan sebab sedang menjalankan puasa.
"Bukan gitu berooo, gue cuman ngasih tau. Lu usaha kek buat dapet tiket pulang kampung. ."
"Iyee Selaaaw broo, gue masih ada kerjaan nih. ." Ups, yang cuma berstatus freelancer lagi pamer.
"Beileh, lu lebih mentingin kerjaan daripada orang tua? Setahun sekali Cor, pikirin!"

Saya tergelak. "Oke, gue udah mikir mateng-mateng sampek otak gue angus. Gue bakal pulkam naik bus gratis. Puaaaaass?"
"Whaaaats?"
"Eleeh. . . biasa aja kelees. ."
"Emang ada ya naik bus gratis? Ngacoo lu Cor!"
"Emm-beer, gue lagi ngaco! Ya ada lah. Jangankan bus, kereta aja gratis maan."
*rasanya pengen gue tabok tuh muka. Hahaha. Ngeselin banget* Bercanda, maan!!
"Terus?"
"Iya, nanti gue ke Jasa Raharja, kalo nggak ya ke PBNU, kalo nggak ya ke PAN kek, PKB kek. Bisa lah pokoknya. Selaw. . ."

Empat superhero yang selama ini saya jadikan list menjelang lebaran memang sangat-sangat useful. Teringat saat itu, waktu pertama kali saya mengantri demi mendapatkan selembar tiket mudik gratis di kantor Partai Amanat Nasional, TB Simatupang. Semua makhluk tuhan yang bernama manusia baik dari semua kalangan dengan berbagai macam rupa rela berkumpul, mengantri, desak-desakan demi bisa mengikuti 'mudik gratis'.

"Cor, jadinya lu naik apa besok?"
"Kemana? pulkam?"
"Iyaa."
"Bus lah."
"Mudik gratis lagi?"
"Iya lah, mumpung masih ada. Why not?"
"Gak sumpek apa, ikutan mudik gratis begitu? campur baur dan nggak terjamin."

"Eh eh eh, kata siapa nggak terjamin? Sama aja kok. Bedanya cuman bayar atau enggaknya aja. Jangankan naik bus, kalau udah waktunya mudik begini naik pesawat berbaur sama siapa pun, oke aja tuh. Apalagi gratis, bro!"

(mulai kehabisan bahan tulisan, dan artinya cerita konyol ini cukup sampai disini, hahaha)

Hari ini, saya merasa sedikit ganjal. Mungkin karena penghuni asrama semakin berkurang. Kemarin tanggal 05 Juli, si Wira kembali ke kampung halaman bersama adik lelakinya ke kota Bungo, Jambi. Disusul si Ala, tanggal 07 Juli balik ke kampung halaman ke Lampung. Sekarang hanya tinggal kami ber-enam di asrama, ada Ujoh (Bekasi), Yani (Sukabumi), Yeyet (Serang), Anzu (Pemalang), Umi (Gresik), dan saya. Kangen kebersamaan kami selama bulan ramadhan ini. Huhu. . .

So, buat kalian yang suka memburu tiket 'mudik gratis' menjelang lebaran, nggak usah malu-malu deh buat ngungkapin jawaban saat ditanya "Mau mudik naik apa?".

Ngapain sih pake malu kalau dapat gratisan. Mudik gratis? Oke-oke aja tuh. . .
*coretan gendeng di tengah pikiran lagi gendeng, hufft-

No comments:

Post a Comment

Hello guys! Thanks for reading this article.
For leaving your comment, please write on the box comment below, then click post/ publish!
Mohon memberikan komentar yang bersifat membangun ya!
Jangan SPAM, karena bakal dihapus secara otomatis. Thank you :)

Instagram