First Time of "Survei Sukabumi", Mitos Sial Pun Terjadi



Perjalanan yang sangat melelahkan hingga jiwa tak sanggup lagi kembali pada jasad yang selama ini mengagung-agungkan spritual dan spirit dalam perjalanan hidupnya. Sebutlah ia “Aku”. Aku yang telah menghianati dirinya sendiri. Yang telah menyengsarakan dirinya sendiri hingga pilu untuk menyatakan bahwa Aku adalah tajalli tuhan.

Empat tahun lamanya, Aku telah menjadi diri yang tak pantas disebut aku. Jatuh di lubang yang sama untuk kedua kalinya bahkan berkali-kali meski mata sudah menangkap jauh bayangan lubang itu sendiri. Kenapa? Aku tanya kenapa? Aku ataukah diriku? Yang mana harusnya aku menyebut aku? Tuhan sudah tak mengakui lagi bahwa aku memang diriku.

Hari ini, iya hari ini. Tahukah kawan? Nasib tak sebaik nasib yang diperkirakan. Luka tak sepantasnya luka untuk ditanyakan. Seorang perempuan dengan gaya berbeda dari gaya kaum proletar pada umumnya, melangkahkan kaki bahkan berlari sekencang-kencangnya demi sesuap nasi. Maaf, bukan berlari. Namun menunggangi barang bekas bermuatan mesin. Aktif, menyala-nyala, berapi-api, meluapkan suara yang begitu nyaring, kering kerontang, berusia puluhan tahun. Bukan pembawa sial, namun karma. Iya. Kharisma, begitulah orang-orang menamainya.

Pagi buta ia mengendarai kharisma dengan kecepatan enam puluh kilometer per jam dari peradaban kota Ciputat. Melaju, terus melaju hingga sampai di kota Parung. Iya, Parung Bogor. Tahukah kalian? Parung bisa pula kau sebut pintu. Jalan utama menuju kota hujan, Bogor. ‘Stop!’ begitulah teriakan lelaki paruh baya itu menuding-nuding. Dengan seragam berstempel ‘POLISI’ di belakangnya, ia mencari kesempatan. ‘Anda tidak lihat, bahwa anda telah melanggar lalu lintas?’ si Aku terdiam. Shock, kemungkinan begitu. Ia tercengang, baru sadar, ia telah melewati garis putih setelah lampu merah. ‘Astaghfirullahal’adzim’ katanya sembari menepukkan telapak tangannya pada si jidat yang secara kebetulan terhalang helm.

‘Minggir sini’ kata polisi umur setengah ko’it itu. Si Aku makin melongos, heran, kaget dan sebagainya. Daaan! Gerimis makin menjadi-jadi. Aku digiring bak kambing yang berlalu lalang. ‘Begini, tunjukkan STNK dan SIM anda!’ Aku merogoh tasnya, mengambil kotak kecil berwarna coklat. Dompet. Ditunjukkannya STNK. ‘SIM-nya mana neng?’ tanpa basa-basi lagi, ‘Yasudah begini saja. Mari ikut saya ke kantor!’ Aku sudah benar-benar linglung. Mereka berdua masuk pos berwarna biru putih itu.

‘Begini neng! Kalo anda melanggar lalu lintas, juga….’ Membuka surat tilang, ‘Emmm, anda dikenakan denda satu juta karena tidak memiliki sim juga. Dan serahkan KTP nya biar saya tulis datanya, dua minggu lagi anda ke pengadilan, siapkan sim anda biar bisa ditunjukkan dan bayar denda disana.’ Aku menggeleng. ‘Lha maunya gimana toh? Anda sudah melanggar, tapi ngga mau bayar denda? Anak saya saja ditilang POLISI lain tetep bayar!’ lelaki itu bicaranya makin tidak karuan, ‘Kecuali anda bisa bayar denda paling kecil; dua ratus lima puluh ribu ribu saja, anda teruskan perjalanan!’ Aku mulai termenung, ‘Tapi pak, uang saya saja tinggal seratus ribu. Saya mau melanjutkan perjalanan jauh, ke Cisaat. Bagaimana anda tega. Saya nggak mau dibawa-bawa ke pengadilan lah pak.’

‘Lha terus maunya gimana? Ditilang nggak mau, bayar denda nggak mau. Udah sini KTP nya biar saya tulis saja datanya. Besok datang ke pengadilan. Bayar denda disana! Saya nggak mau ikut campur. Dibantu kok malah nggak mau. Kamu darimana? Dan mau kemana? Jam segini, hujan-hujan begini, perempuan keluyuran sendiri.’ Aku mulai lemas, ‘Dari Ciputat mau ke Cisaat pak. Ikutan survey, ini juga lagi cari duit pak. Tapi halal. Mengorbankan tenaga dan fikiran.’ Seperti kesamber petir, lelaki setengah baya itu tak berdaya mulutnya, ‘Begini loh, kalo pun tadi anda berhenti sebelum garis putih lampu merah, mungkin saya juga tidak akan nilang. Polisi tidak akan tahu kamu punya SIM apa nggak. Asal bisa mentaati lalu lintas. Pasti aman-aman saja. Sekarang begini saja. Kamu mau bayaar denda atau tidak? STNK masih ditangan saya. Kalo gratis saya ngga bisa kasih jaminan.’

Seketika aku menyodorkan uang selembar seratus ribuan, ‘Kalo mau ini saja pak yang saya punya. Silahkan diambil, tolong bebaskan saya. Biarkan saya melanjutkan perjalanan.’ Meraup uang dan meledakkan senyuman, ‘Yaudah, saya bantu kamu. Kasian. Anak perempuan berjuang sendirian, uangnya saya terima dan kamu silahkan melanjutkan perjalanan. Tapi hujannya gede deras begini, kamu masih mau lanjut? Sekarang jam lima sore, masih di Bogor. Nanti nyampek Cisaat paling jam delapan-an atau nggak jam sembilan-an. Kenapa nggak berangkat dari tadi pagi? Udah tau Bogor kota hujan, kenapa nggak bawa mantel?’ makin nerocos nggak jelas. Aku cuman bisa manggut-manggut. Apes! Kataku.

Hujan bagai badai tak henti-hentinya menyerang kota Bogor. Aku semakin khawatir dengan dirinya sendiri. Kemalaman, tak bisa mencapai target deadline survei. Diomelin, dicaci-maki, tak diizinkan untuk menginap. Apa nasib selanjutnya? Berantakan! Kecoak mati karena sengaja mendekati baygon cair, menanggung deritanya sendiri. Kenapa pula mendekati racun yang telah jelas sedang disemprotkan. Aku mulai menunggangi motor tua itu. Menerjang badai yang tak kunjung henti. Beratus-ratus kilometer. ‘Selamat Jalan Kota Bogor’ patung kujang dengan simbol celurit bergerigi mendongak keatas melambai-lambai.

‘Bru……bruaak! Dd…deepp…deepp.. Ppess…ppeess…Ngoook!’ Sekarat, mati, tak bernyawa. Motor sudah tak sanggup lagi menyalakan diri. Mesinnya tua, ngambek. Tak mau lagi mengembalikan nyawanya. Aku semakin panik. ‘Ya Allah!’ serunya. Menginjak-injak jeglengan. Kali aja mukjizat. Berharap hidup kembali. Hujan semakin deras. Basah kuyup. Semua mata tertuju padanya. Penjual gorengan, sate padang, konter, para peneduh melototkan mata, menfokuskan pandangan pada motor buntutnya itu. Seseorang berteriak, ‘Kenapa teh―teteh?’ aku meneteskan sebutir air dari kolong mata. Hujan, air mata tak nampak seperti wujud aslinya, ‘Mati bang, nggak tau kenapa.’ Seseorang menghampiri. Memncoba membantu, menyalakan motor buntut itu. Tetap saja gagal.

Aku semakin tak karuan. Perasaannya campur aduk. Ia hampir menyerah. Inikah aku? Inikah diriku? Pertanyaan yang konyol. Aku semakin tak berdaya. Tubuhnya lunglai. Lemas, seperti motor yang hendak dikuburkan itu. ‘Pak, gorengan lima ribu. Campur!’ ia duduk disamping penjual gorengan yang sudah sepuh. Logatnya tak asing lagi. Ternyata orang jawa. ‘Bapak orang jawa?’ – ‘Iya nduk, sampean jawa juga?’ – ‘Enjeh pak..’ – ‘Whalah, jawane ngendi?’ – ‘Surabaya pak, jawa timur. Njenengan pundi?’ – ‘Oh Surabaya.. bapak asli Purbalingga’ –Teeet!. Ia ingat tokoh ‘Pak Toha’ dalam novel ‘Edensor’ nya Andrea Hirata. ‘Namha sa-yhaa Thohaa, ashli Phur-balingghaa’. Ia terkekeh sendiri. Dimana-mana ada saja orang jawa.

‘Arep ngendi toh nduk. Wis wengi ngene loh? Kasian, ana gadis kok sendirian wae. Ora ana kancane tah?’ logatnya sedikit berbeda dari logat jawa timuran. Setidaknya sama-sama paham, ‘Enggeh pak. Lagi ada survei ke Cisaat.’ Terkejut, ‘Whalah? Uadoh men nduk. Wani ora? Mending motor dititipkan saja ke bapak. Besok ambil lagi. Daripada pake motor sendirian, ngeri nduk, jalanannya sepi. Ini sudah isya’ loh.’ Oke, tak mau memperpanjang masalah, memang benar usulnya. Mending naik angkutan saja. Besok motornya di cek ke bengkel.

Uang tinggal lima puluh ribu rupiah, nasib bagaimana? Deadline survei tinggal satu hari lagi. Tak mungkin! Menyerah? Sudah banyak apesnya, tak mau sia-siakan waktu. Sudah basah, biarlah basah semuanya. Menyelam sambil meminum air, katanya. Usaha dulu, kalo memang besok harus mati, biarlah mati, itu takdir!

Aku melanjutkan perjalanan, fiks naik angkot. Tubuhnya basah, dingin. Semakin menderita akibat cuaca malam yang setiap hari memang selalu dingin. Pegunungan, itulah kota Sukabumi. Dari Ciawi ke Cisaat sama halnya Ciawi ke Ciputat. Berjam-jam. berkilo-kilo meter. Hampir sekarat. Lurus mencapai ribuan kilometer, ia sampai di polsek Cisaat. Tiga jam perjalanan. Jalannya berkelok-kelok, petang, tak karu-karuan. ‘Turun sini bang!’ Gemetaran, matanya berkunang-kunang sebab kehujanan. Bisa jadi ia masuk angin. Benar-benar parah. Sudah tak sanggup lagi bergerak, mulutnya.

Tertatih-tatih, ‘Bbb…baaang…Oj…jek, k…kke… gg…gu…nn…ung jaya yaa...’ tukang ojek merinding. Ini manusia apa bukan ya? Pikirnya. ‘Mari neng! Kemana atuh, maksudna mah bade ka rumah saha?’ aku terdiam, membeku. Tukang ojek meluruskan pandangannya kedepan. Siap-siap, kalo ditengah jalan tiba-tiba penumpangnya menghilang. Dan meninggalkan suara ketawa k-u-n-t-i-l-a-n-a-k. Aku, matanya mengantuk. Benar-benar kedinginan. Gemetarannya bak lindu―gempa―menyerang bumi. Berguncang makin dahsyat. Tubuh hendak jatuh dari motor. Ia berpegangan kuat. Memegang ransel yang berisi lembaran survei; wawancara, kaos indikator, dan laptop.

‘Ini sudah sampai di kelurahan Gunung Jaya neng. Bade ke rumahna saha’ neng?’ mencoba menggerakkan bibir, ‘Ke ketua er-te satu er-we dua ya pak!’ Alhamdulillah, ternyata manusia. Gumam si tukang ojek. Motor malaju menuju rumah bapak er-te. Saat ini pukul setengah sebelas malam. Bartamu ke rumah orang. Belum ada janji. Manusia apa bukan?

Tukang ojek, lelaki berumur sekitar empat puluhan luwes mengetukkan pintu. ‘Nuhun buk. Aya’ tamu di die’! nuhun dibukaken pintuna!’ televisi didalam masih menyala-nyala. Menderingkan lagu dangdut. Ternyata chanel indosiar mengungkap siapa yang bakal masuk ke final ‘Dangdut Academy 2015’. Perempuan dengan tinggi sekitar seratus lima puluh centimeter membukakan pintu. ‘Iya bapak, tamuna saha’ eta?’ Merinding, mungkin yang ia bayangkan adalah perampok berkedok manis, atau teroris yang pura-pura cari rumah orang. ‘Kalo mau cari bapak the besok aja nya’. Bapaknya masih pengajian. Ini sudah malam.’ Buru-buru menutup pintu. Aku berusaha sekuat tenaga menggerakkan bibir, ‘Saya Pramesti buk. Punten, malam-malam begini saya bertamu. Saya dari Ciputat, mahasiswa UIN Jakarta. Sedang mendapatkan tugas melakukan survey di desa Gunung Jaya. Kebetulan er-te satu er-we dua adalah er-te terpilih untuk sesi pemberkasan data dan wawancara. Izinkan saya nginep satu malam disini, boleh ibu?’

Mungkin, ia masih menjalankan salah satu fungsi hatinya [tidak tega] yang sebenarnya tidak patut untuk diumbar-umbarkan buat orang asing. Siapa aku? Kenal aja belum. Merintih, sayup-sayup, sempoyongan, gemetaran. Memeluk ransel yang lumayan berat. ‘Yaudah, masuk atuh neng. Di luar dingin!’ perempuan itu sungguh sangat mulia. Sebutlah namanya Ibu Nanang Damami, istri dari ketua er-te satu er-we dua kelurahan Gunung Jaya.

Tiba-tiba gerobak lewat dengan suara kentongan mangkuk. ‘Ting ting ting ting! Baakksooo, bakksooo..’ Hangat, menghangatkan. Itulah yang dicari. Aku secepat kilat meraup dompet, ‘Bang, baksonya satu bungkus. Nggak pake mi, ngga pake saos, ngga pake kecap, tapi pake sambel. Yang pedes ya bang. Kalo ada lontong, pake satu bang!’ Tukang bakso tersenyum gurih. Mungkin dia paham bahwa aku adalah pendatang, bisa juga penyelundup. Imigran gelap, dari kota ke desa.

Perempuan tadi mencari-cari. Dimanakah aku? Dia menyiapkan ‘air putih anget’, berharap gemetaranku sedikit menguap. Bakso siap disantap, aku bergegas duduk. Ia belum kuat, rapuh karena tubuhnya penuh air. Air yang diserapnya sejak tiga jam yang lalu dari dua baju yang dipakainya rangkap menempel kuat. Jari-jemarinya mati, mungkin hanya sekedar pingsan.

‘Bu, punten. Bisa pinjam mangkok sama sendoknya. Buat makan bakso. Punten deui buk, saya cuman beli satu bungkus.’ Perempuan itu tersenyum, ‘Iya neng, bentar ibu ambilkan.’ Seraya menyodorkan mangkok, ‘Tidak apa-apa, yang penting eneng makan dulu. Nanti tidurnya di kamar sini ya. Atau langsung ke kamar saja, biar bisa langsung istirahat. Ketemu bapaknya besok pagi saja, biar enak ngobrolnya.’ Aku tersenyum, ‘Oh gitu. Baik ibu, terimakasih banyak ya bu. Punten sanget sudah merepotkan.’

Kamar tidur dengan ranjang yang feminim. Selimutnya motif pink flower, bedcovernya pink juga. Ada satu boneka ‘doraemon’ segede anak kecil bertubuh bulet, gemuk. Tapi? Aku lebih suka tidur di lantai. Atau ada karpetnya? Yess! Katanya. Karpet bulu sedikit keras berwarna cokelat membentang disamping ranjang. Ini yang lebih disuka. Tidur dibawah, pake selimut. Hmm, syurga! Katanya lagi.

Malam ini, makan bakso di negeri orang, di kamar orang, di rumah orang. Tak satu pun yang dikenal. Dasar penyelundup! Surveyor amatiran! Tak punya apa-apa. Berani pula numpang nginep di rumah yang jelas-jelas bukan sodara atau tetek mbengeknya. Aku tertidur pulas, sembari mengenakan selimut dan baju ganti. Pusing tujuh keliling. Macam mana survei besok, kalo badan kurang fit begini? Motor orang pun rusak! Jalan kaki? Serius? Desa segede ini dengan rumah yang jaraknya berjauhan begini, nekat jalan kaki. Mau cari mati? Ngojek? Duit abis gara-gara ditilang polisi sama benerin motor part I (Parung).

No comments:

Post a Comment

Hello guys! Thanks for reading this article.
For leaving your comment, please write on the box comment below, then click post/ publish!
Mohon memberikan komentar yang bersifat membangun ya!
Jangan SPAM, karena bakal dihapus secara otomatis. Thank you :)

Instagram